Tuan Guru yang Sering di Mantang
Rabu, 12 April 2023 M/ 21 Ramadhan 1444 H
Pada saat Islamisasi dan bimbingan pelaksanaan ajaran Islam di Lombok, terutama setelah era kerajaan, dilakukan dengan cara menyambangi berbagai tempat atau daerah oleh para Guru atau Tuan Guru. Mereka berjalan kaki, berkuda atau menggunakan dokar dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pada awal abad ke XIX, ketika pamor dan peran Tuan Guru mulai muncul di masyarakat, belum lazim adanya pengajian yang dihadiri oleh banyak jamaah seperti sekarang. Mereka pada masa itu merupakan Tuan Guru pelopor yang berlelah-lelah terjun ke masyarakat. Mengajar dan membimbing tanpa pamrih agar masyarakat bisa lebih memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan cara yang lebih baik.
Belum ada lembaga sekolah atau pondok pesantren yang mengelola orang untuk belajar agama. Belum juga ada panitia pengajian yang mengorganisir kegiatan Tuan Guru. Semuanya dilakukan secara sederhana namun penuh keikhlasan, hal ini terlihat dari penerimaan dan penghormat masyarakat pada tokoh agama mereka. Hal ini sedikit berbeda dengan beberapa guru tarekat yang saat itu juga sudah ada. Mereka mendatangi para Mursyid dan melakukan kegiatan secara beramai-ramai. Itulah juga sebabnya para guru tarekat pada masa penguasaan Bali atau Belanda lebih berperan, yaitu karena mereka lebih terorganisir sehingga memudahkan para guru tarekat mengorganisir massa.
Untuk lebih mengefektifkan dakwahnya, para tuan guru mendatangi tempat-tempat yang penduduknya ramai, tempat-tempat yang menjadi pusat, serta mendatangi orang-orang yang masih dipandang dan dihormati oleh masyarakat. Dan pada era Belanda sejak akhir abad XIX sampai era kemerdekaan bahkan sampai era Orde Baru, tempat yang paling efektif tersebut adalah pusat-pusat kedistrikan, yang notabene juga terdapat kompleks Pedaleman.
Pada masa awal di Mantang, selain beberapa tokoh agama seperti Habib Abdurrahman dan Datoq Said yang memang menetap di Mantang, juga di datangi oleh tokoh agama lainnya. Tuan Guru Haji Abdul Madjid, ayahanda dari pahlawan nasional Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pada masa itu sering datang berdakwah. Beliau mempunyai beberapa masakan kesukaan yang akan selalu disiapkan jika beliau datang. Kedatangan beliau ke salah satu rumah di Mantang, akan dengan cepat diketahui oleh masyarakat lainnya. Dan tidak lama kemudian masyarakat akan berdatangan mendatangi rumah tersebut. Di sana tuan guru akan menyampaikan beberapa hal atau menanyakan beberapa hal terkait dengan persoalan agama. Begitulah kesederhanaan dakwah saat itu sebagaimana yang dituturkan oleh beberapa saksi. Tuan guru-tuan guru yang lain masa itu pun begitu.
Pada masa selanjutnya, ada Tuan Guru Lopan atau Datoq Lopan. Seorang tokoh agama yang dikenal akan karomahnya dan merupakan salah satu murid dari imam Masjidil Haram asal Lombok Tuan Guru Umar Kelayu. Nama beliau adalah Tuan Guru Haji Muhammad Saleh lahir di sebuah tempat bernama Lopan. Beliau berdakwah setiap hari ke berbagai tempat, kecuali hari Jumat. Pada hari Jumat beliau beliau fokus beribadah dan menerima tamu.
Karomah beliau bisa dilihat sampai hari ini, makamnya tidak pernah sepi setiap hari, sebagaimana dulu beliau berdakwah setiap hari. Karomah beliau juga masih menjadi tutur pitutur di kalangan masyarakat sampai hari ini. Beliau tidak sekali ke Mantang, bahkan jika akan pergi ke suatu tempat hampir pasti menyempatkan diri mampir atau menginap di Mantang. Beliau dekat dengan tokoh-tokoh Mantang saat itu, pada awal abad XX. Salah satunya adalah Haji Lalu Usman, mantan kepala distrik yang sebelumnya menempuh studi ke Mekkah. Rumah beliau ada di utara masjid, rumah tersebut nantinya berpindah ke saudara beliau Hajjah Baiq Salmah, dan kemudian berpindah lagi ke Lalu Wirame mantan kepala desa Mantang era tahun 1940-an.
Suatu hari, seperti biasanya, beliau mampir dan mengutarakan maksudnya untuk menginap karena besok akan berdakwah ke bagian barat Lombok. pada malam harinya, ketika akan tidur, beliau berpesan untuk dibangunkan jika belum bangun sendiri. Lalu beliau pun tidur dengan menggulungkan dirinya pada sebuah tikar pandan, jadi hanya terlihat seperti gulungan tikar saja. Saat waktu Subuh tiba, tidak ada tanda-tanda beliau akan bangun tapi Haji Lalu Usman ragu untuk membangunkannya karena teringat akan pesan beliau. Pada saat akan terbit matahari tuan rumah lalu memberanikan diri membangunkannya namun ternyata gulungan tikar tersebut kosong. Pada saat matahari beranjak naik, barulah gulungan tikar tersebut bergerak-gerak. Dengan terburu-buru beliau bangun dan kemudian berangkat dengan kuda bersama seorang penuntun kudanya. Konon ceritanya, beliau sholat Subuh di Masjidil Haram.
Tuan Guru Ahmad Tretetet
Lalu masa selanjutnya, ada Tuan Guru Haji Ahmad atau yang lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Tretetet. Beliau adalah putera dari tokoh kharismatik imam besar Masjdil Haram Tuan Guru Umar Kelayu dan seorang puteri bangsawan dari Jawa Timur. Beliau dikenal karena karomahnya dan gayanya yang nyentrik. Dakwahnya dilakukan di banyak tempat, berpindah dari hari ke hari, dan dengan cara yang tidak biasa. Jika bertemu beliau, masyarakat berbondong-bondong minta didoakan. Konon secara sporadis dan acak beliau akan meminta sebuah barang dihalalkan, memberikan orang sebuah barang, mendatangi sebuah rumah atau mengatakan sesuatu. Dan dari perilaku tersebut akan terlihat karomah beliau.
Tuan Guru Tretetet juga sering ke Mantang. Sama seperti Datoq Lopan, beliau juga sering mampir dan tinggal di Mantang. Mungkin karena seringnya atau karena rasa nyamannya, beliau kadang meninggalkan barang pribadi beliau di Mantang. Bahkan ketika beliau sudah meninggal, masih tertinggal sebuah jas yang sering beliau pakai semasa hidup. Jas itu masih ada sampai sekarang.
Selain beberapa tokoh tadi, masih banyak tokoh-tokoh agama lainnya yang juga ke Mantang walaupun dengan intensitas yang berbeda. Bagaimanapun, sebagai pusat kedistrikan, Mantang tentu akan menjadi tempat potensial untuk melakukan dakwah. Resonansinya akan semakin kuat dan gemanya akan sampai jauh jika melakukan dakwah di wilayah pusat seperti mantang.



Komentar
Posting Komentar