Wilayah Itu Bernama Mantang

 23 Maret 2023 M/ 01 Ramadhan 1444 H. 1403

Mantang adalah nama sebuah desa yang menjadi pusat pemerintahan kecamatan. Saat ini Mantang merupakan salah satu desa di antara 10 desa di kecamatan Batukliang, kabupaten Lombok Tengah provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara geografis luas wilayah desa Mantang sekitar ± 368. 110 Ha dengan jumlah penduduk ± 12. 231 jiwa dengan ± 3. 852 Kepala Keluarga. Secara administrasi pemerintahan, desa Mantang dibagi menjadi 21 dusun. Dusun-dusun tersebut adalah Mantang I, Mantang II, Mantang III, Ceret, Kabar, Seganteng, Jantuk, Gubuk Baru, Alun-Alun, Kelanjuh Daye, Tampeng, Keren, Banjar Metu, Otak Desa Timuq, Otak Desa Bat, Tenten, Perapen, Tundung, Riris, Pengadok, dan Tojang Bereng.

Jika mencari peta Lombok di Google Maps, maka akan muncul seperti ini:


Titik biru itu lah lokasi Mantang. Jadi posisinya cukup strategis, berada di tengah-tengah pulau Lombok. Mantang juga berada di jalur penghubung antara Lombok bagian barat dan Lombok bagian timur.

Nama Mantang sebagai desa tidak bisa dipisahkan dari nama Batukliang sebagai kecamatan. Dua nama ini adalah identik karena bersama menjalani sejarah panjang selama ratusan tahun sebelumnya. Secara selintas, tidak ada yang istimewa dengan desa Mantang. Sebuah desa di sebuah kecamatan dan kabupaten yang di Nusa Tenggara Barat tidak menonjol baik pada sisi tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, prestasi, sumber daya alam dan lain sebagainya. Secara sekilas pula, tentu tidak ada yang bisa dikaji dan diteliti dari Mantang karena pada kesehariannya tidak ubahnya desa-desa lain di Lombok. Atau bahkan mungkin merupakan sebuah desa yang tidak terlalu pesat perkembangannya dibandingkan dengan desa-desa lain di Lombok.

Mengenai perkembangan Mantang yang tidak terlalu pesat ini ada ungkapan dari beberapa orang yang dulu pernah lama tinggal di Mantang dan kini bertempat tinggal di berbagai tempat yang jauh. Orang-orang tersebut ada yang akar keluarganya di Mantang lalu kemudian keluar untuk bertempat tinggal, atau ada juga yang dulu tinggal karena bekerja, sekolah atau hal lainnya lalu kemudian kembali ke tempat asalnya. Sesekali waktu orang-orang tadi datang ke Mantang, baik untuk mengasah kembali jalinan kekeluargaan atau sekedar kembali merajut cerita yang sudah menjadi bagian sejarah hidup mereka. Bagi yang datang setiap beberapa bulan sekali, tentu tidak akan melihat kemandegan itu. Tetapi bagi mereka yang datang dalam hitungan tahun tentu akan merasakan bahwa selalu tidak ada yang berubah dari Mantang. Selalu seperti yang dulu. Dan dari sinilah muncul sebuah ungkapan: “Tidak bisa tersesat di Mantang”. Mantang tetap saja seperti itu, perempatannya, toko-toko sederhana yang berjejer, lampu-lampu temaramnya, rumah-rumah warganya, tampilan orang-orangnya, keramahan warganya, ke-konservatifan-nya, daya hayalnya, kecerdasan tersembunyinya, keunikan tutur bahasanya dan lain sebagainya. Memang tidak mungkin tidak berubah, tetapi bahwa perubahan itu begitu lamban sehingga membuat ungkapan tadi lahir dari mereka yang datang ke Mantang.

Ada seorang pejabat provinsi yang dulu pernah tinggal di Mantang sekitar tahun 1970-an, dan datang ke Mantang tahun 2000-an. Dan menurutnya, suasananya masih sama, tidak banyak yang berubah seperti ketika ia masih berada di Mantang dulu. Sebagai sebuah memori dan romantisme memang menarik, tetapi untuk sebuah keberlangsungan, keberlanjutan dan kemajuan perlu harus dibenahi dan terus diperbaiki karena perubahan adalah tanda kehidupan. Perubahan memberikan efek dinamis pada hampir semua sisi dari eksistensi sebuah wujud. Sejarah secara panjang menceritakan dan memberikan contoh mengenai arti pentingnya perubahan yang dinamis. Entah berapa banyak suku, lembaga, bahasa dan bahkan negara/kerajaan yang ditelan sejarah karena tidak lagi beradaptasi dan tidak menerima perubahan. Beradaptasi dan menerima perubahan artinya menyesuaikan, menjaga, melestarikan, mengkreasikan, mengembangkan, dan/ atau menyelaraskan dengan kondisi. Sebuah bahasa misalnya, jika tidak digunakan, dikembangkan dan dilestarikan, maka ia akan punah dengan sendirinya. Sebagai sebuah gambaran, menurut rilis pada 21 Februari 2019 UNESCO mengungkapkan bahwa sekitar 2. 500 bahasa di dunia terancam punah, termasuk 100 bahasa daerah di Indonesia. UNESCO juga menyebutkan bahwa sebanyak 200 bahasa mengalami kepunahan dalam 30 tahun terakhir dan 607 bahasa dalam status tidak aman.

Mantang juga begitu, juga dari sisi bahasa misalnya, dulu penggunaan bahasa Sasak halus menjadi hal lumrah dalam keseharian sehingga kosakata begitu melimpah dan masyarakat tidak kesulitan untuk menggunakannya dalam berbahasa. Kini, bahasa halus keseharian tersebut masih digunakan namun dalam intensitas dan ruang lingkup yang terbatas, akibatnya banyak kosakata yang hilang dan tentu akan mengalami kesulitan untuk mendapatkannya kembali. Ini hanyalah sebuah contoh sebuah sisi dari Mantang yang jika tidak terus dikembangkan dan dilestarikan maka akan hilang dengan sendirinya ditelan sejarah. Sejarah tidak melihat siapa kita, namun mempertimbangkan apa yang dikerjakan dan usaha yang dilakukan.

Kelambanan Mantang ini ada yang mengkaitkannya dengan nama Mantang itu sendiri. Dalam bahasa Sasak, ‘kemantangan’ artinya tidak bisa melakukan apapun karena kekenyangan. Jadi, ‘mantang’ identik dengan tidak melakukan sesuatu dan malas untuk berbuat. Dan itulah sebabnya Mantang sebagai sebuah desa lamban dalam perkembangannya. Pendapat ini tidak pada posisi untuk diperdebatkan atau dicari benar salahnya karena korelasi antara nama sebuah wilayah dan perjalanan wilayah tersebut tidak selalu berbanding lurus. Desa Mekar Bersatu misalnya, secara istilah bisa diartikan sebagai sebuah desa yang mengalami pemekaran dengan dasar beberapa unsur masyarakat yang bersatu untuk mekar. Namun bisa juga diartikan sebagai sebuah desa yang harapannya akan menjadi mekar dan bersatu sehingga bisa menjadi desa yang maju. Namun tentunya desa tersebut tidak akan maju begitu saja, dan tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa bersatu, dan bahkan jika tidak diusahakan dengan baik, tidak dirawat dan dijaga maka bersatu bisa saja hanyalah sebuah angan-angan tak sampai. Ada juga nama tempat, Montong Gamang. Montong artinya tempat yang agak tinggi, gamang merupakan nama jenis pohon yang daunnya sering digunakan untuk pakan sapi. Diduga kuat tempat tersebut dulunya penuh dengan jenis pohon tersebut. Pola penamaan ini lazim di Lombok, misalnya juga dengan nama-nama sejenis seperti Montong Kecial (kecial: nama jenis burung), Montong Godek (godek: kera), Gunung Amuk (amuk: mengamuk) dan sebagainya..

Kata ‘mantang’ sendiri sebenarnya agak sulit atau sejauh ini belum pernah ditemukan penggunaannya dalam bahasa keseharian bahasa Sasak, jika memang kata tersebut merupakan asal dari kata ‘kemantangan’. Dan bahkan kata ‘kemantangan’ juga demikian, hanya saja kata ‘kemantangan’ sering diceritakan berarti kenyang yang sangat. Ada kemungkinan kata ‘kemantangan’ berdiri sendiri dan bukan berasal dari kata ‘mantang’. Mengenai hal ini, almarhum Haji Lalu Wirame, mantan ketua Majelis Adat Sidikare Batukliang dan mantan kepala desa Mantang selama 30-an tahun pernah menceritakan bahwa kata ‘kemantangan’ artinya sudah bergeser. Dulunya, ‘kemantangan’ disematkan pada mereka yang kenyang dengan ilmu dan wawasan serta dengan hal tersebut ia mendapatkan kehormatan, wibawa dan kedudukan. Perubahan makna seperti ini merupakan hal biasa dalam perjalanan sebuah kata dalam perkembangan ilmu bahasa.

Lalu bagaimana dengan kata ‘mantang’? ada cerita populer di kalangan masyarakat mengenai asal mula nama desa Mantang. Yaitu bermula pada masa penguasaan Bali atas Lombok sering terjadi peperangan antara masyarakat Lombok dengan penguasa kerajaan Hindu Karang Asem pada saat itu. Perlawanan tersebut beragam bentuknya, ada yang berupa penyatuan beberapa golongan, ada yang dalam skala lebih luas dengan diorganisir pemuka masyarakat, ada yang besar-besaran, dan ada pula yang sporadis berupa kelompok-kelompok kecil atau bahkan perorangan. Sepanjang penguasaan Bali, masyarakat Sasak terus melakukan penolakan dan perlawanan dalam beragam bentuknya tadi.

Masa-masa itulah di sekitar area bawah gunung Mantang, yang kini menjadi TPU (Tempat Pemakaman Umum), ditemukan orang meninggal (mayat) dengan posisi terlentang membentang di jalan. Orang tersebut merupakan orang Bali, entah rakyat biasa, utusan atau prajurit, yang dibunuh dan mayatnya dibiarkan terlentang di sana. Terlentang dalam bahasa Sasak disebut ‘mentang’, dan dari sinilah nama Mantang bermula. Maka wilayah tersebut kini dikenal dengan nama Mantang.

Namun penamaan tersebut bukanlah awal mula dari keberadaan desa Mantang. Sebelumnya wilayah ini sudah ditinggali walaupun waktunya tidak terlalu jauh dengan kejadian di gunung Mantang tersebut. Disebutkan bahwa, sebagaimana sering diceritakan para sesepuh Mantang, bahwa sebelum dikenal dengan Mantang namanya adalah Samarkaton (samar: tidak jelas/ samar-samar, katon: tampak/ kelihatan/ jelas). Filosofi dari nama ini adalah terkait dengan peran Mantang dalam berbagai kondisi Lombok saat itu. Mantang mempunyai peran penting namun tidak selalu menampakkan diri, mempunyai andil besar namun tidak harus ada di depan, dan sering berada dalam posisi-posisi kunci yang dampaknya bagi perjalanan sejarah Lombok.

Nama Samarkaton sepertinya tidak terlalu lama digunakan, sama juga dengan nama Puspakarma. Ada seorang tokoh dari wilayah Bun Jeruk yang menceritakan bahwa menurut cerita turun temurun dari nenek moyangnya, Mantang dulu pernah bernama Puspakarma. Kedua nama ini tidak lama digunakan, dan mungkin saja merupakan proses singkat dari penamaan wilayah ini sampai akhirnya kemudian ditetapkan bernama Mantang.

Sebagai sebuah wilayah yang terlibat dalam berbagai kejadian penting sejarah Lombok dan merupakan hasil dari sejarah panjang perjalanan sejarah itu sendiri, Mantang - Batukliang menjadi menarik untuk ditelusuri dan dituliskan. Bagaimanapun, sebuah tempat yang dulunya menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya selalu menjadi daya tarik bagi berbagai kepentingan saat itu dan juga kini. Saat itu, wilayah tersebut akan menjadi penting karena menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan lebih dinamis. Dan kini, wilayah tersebut menjadi menarik dan mempunyai daya tarik karena menyimpan berbagai proses masa lalu yang penting serta menyimpan potensi-potensi besar yang selalu berada dalam persimpangan. Yaitu persimpangan tergerus dengan romantisme masa lalu atau bangkit menjadi lebih baik dengan potensi yang ada. Dan itulah uniknya Mantang


Komentar

Postingan Populer