Olahan Khas Mantang: Pala, Lobe-Lobe dan Kursus Pastur
Kamis, 13 April 2023 M/ 22 Ramadhan 1444 H
Berbicara mengenai buah yang khas di Mantang, maka akan terbayang nama dua buah, yaitu Pala dan Lobe-Lobe. Mantang dalam arti bukan sebatas geografis-administratif kekiniannya, tapi lebih sebagai Mantang dalam arti wilayah pemerintahan secara historis. Dibandingkan dengan beberapa buah lainnya, dua buah ini memang cukup menonjol untuk dijadikan sebagai buah khas dan identitas dari Mantang.
Hal yang lain, jika buah-buah lain mungkin juga akan terdapat di daerah lain, sementara tidak demikian dengan buah Pala dan Lobe-Lobe. Pohon Pala dan Lobe-Lobe tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Ia bisa tumbuh di dataran dengan ketinggian tertentu sehingga tidak banyak tempat di Lombok yang bisa menjadi tempat tumbuhnya Pala dan Lobe-Lobe. Paling tidak hanya di tempat seperti sekitar wilayah Mantang, Tete Batu atau yang sejenisnya.
Buah Pala
Pala (Myristica Fragrans) merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku. Pala sudah terkenal sejak lama, bahkan bisa ditelusuri sampai abad VI ketika sudah ada di pasaran Byzantium. Di masa keemasan Islam, ilmuwan seperti Ibnu Sina mendeskripsika Pala sebagai ‘Jansi Ban’ atau buah ‘biji Banda’.
Pala merupakan tanaman rempah yang menjadi salah satu daya tarik kedatangan bangsa-bangsa luar ke Indonesia, terutama Indonesia Timur. Sampai sekarang Pala masih banyak dijumpai di Maluku, Papua dan Sulawesi, dan sekaligus menjadi sentra pala terbesar di Indonesia.
Belum diketahui asal mula Pala bisa tumbuh di Lombok, walaupun hanya di beberapa titik saja. Apakah pohon ini sudah ada sejak lama, atau di bawa dan ditanam pada masa belakangan. Di Mantang, pada tahun 1980-an Pala masih bisa dijumpai dengan mudah di halaman-halaman rumah penduduk dan buahnya diolah menjadi konsumsi rumahan sehari-hari.
Lain Pala, lain lagi Lobe-Lobe. Lobe-Lobe (Flacourtia Inermis) memang bukan jenis rempah yang dicari banyak orang. Lobe-Lobe justru sejenis tanaman liar yang cepat tumbuh dan berkembang di kebun atau hutan, apalagi di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Itu sebabnya Lobe-Lobe banyak di temui di Mantang karena daerahnya yang berada di dataran cukup tinggi.
Buah Lobe-Lobe
Selain di Indonesia, Lobe-Lobe juga bisa ditemukan tumbuh di Filipina, Thailand dan India. Sedangkan di Indonesia, Lobe-Lobe bisa tumbuh dibanyak tempat sehingga penyebutannya juga berbeda-beda sesuai daerah masing-masing. Lobe-Lobe, begitu disebut dalam bahasa Sasak. Bahasa Indonesianya Lobi-Lobi. Ada yang menyebutnya Lubi-lubi (Minangkabau), Lobi-Lobi (Lampung), Balakko (Batak), Tomu-Tomu (Seram), Tombi-Tombi (Halmahera).
Kata ‘Lobe-Lobe’ sendiri ternyata adalah kosakata dalam bahasa Bugis dan Makassar Sulawesi Selatan. Artinya, buah berukuran kecil. Orang Sasak juga menyebut buah ini sama dengan di Sulawesi, yaitu Lobe-Lobe. Kesamaan penyebutan ini mempunyai akar sejarah sejak pertama orang Sasak mengenal Lobe-Lobe.
Pada tahun 1930-an ada seorang Bali beragama Kristen yang tinggal di desa Teratak sekarang, dulu termasuk desa Mantang. Namanya Dewe Gde. Pada tahun 1936 Dewe Gde berangkat ke Sulawesi untuk kursus pastur. Pulang dari Sulawesi Dewe Gde membawa sebuah kalender yang kental unsur kristenisasinya. Pada setiap orang Dewe Gde menjelaskan lembar demi lembar kalender tersebut. Pada bagian muka, kalender berwarna hitam pekat, pada lembar selanjutnya, ada garis kuning, pada lembar yang lainnya seperti ada pancaharan cahaya. Menurut penjelasan Dewe Gde, hitam mendeskripsikan kehidupan manusia yang mash dalam kebodohan dan belum mendapatan pencerahan, garis kuning menunjukkan jalan setapak yang harus dilewati, dan terakhir Yesus Kristus turun ke dunia menyelamatkan umat manusia.
Selain kalender, Dewe Gde juga mempunyai sebuah Kitab Injil berbahasa Sasak. Pada masa itu, buku merupakan hal langka dan harganya mahal, sedangkan Dewe Gde sudah mempunyai sebuah Injil dalam bahasa Sasak. Tentu itu adalah barang langkan bahkan sampai sekarang.
Sepulang dari Sulawesi, Dewe Gde juga membawa pohon Lobe-Lobe yang ia tanam di depan rumahnya. Diperkiran, inilah Lobe-Lobe pertama di Lombok. Dibawa oleh seorang pastur Kristen Bali yang menjani kursus pastur di Sulawesi. Pada tahun 1950-an akhir, pohon Lobe-Lobe tersebut sudah lumayan besar dan mempunyai buah yang besar. Menurut para saksi, buahnya lebih besar daripada Lobe-Lobe yang kebanyakan ada sekarang. Mungkin karena itu adalah pohon indukan yag asli dibawa dari daerah asalnya.
Di Mantang, Lobe-Lobe dan Pala diolah menjadi manisan dan sirup selain juga dijual buahnya langsung. Untuk buah Pala bahkan sampai detail buahnya dijual secara terpisah. Buah yang masih muda dan agak tua dijual buahnya. Ketika sudah tua Pala akan terbelah dan mengeluarkan biji yang kemudian terjatuh. Bijinya juga bisa dijual dengan harga cukup mahal, sama seperti urat merah yang membungkus bijinya, ini juga dijual terpisah dengan harga yang terkadang lebih mahal dari buah itu sendiri.
Dua buah ini sudah lama menjadi konsumsi sebelum seperti sekarang diolah dengan banyak cara kemudia dijual. Keluarga Mantang yang ada di Mantang I, II, atau III hampir semua bisa membuat olehan Pala dan Lobe-Lobe yang biasa dijadikan kue cemilan. Pembuatan kue memang cukup lazim dilakukan tanpa harus menunggu datangnya Hari Raya atau Maulidan. Dulu, ketika pada masa akhir penguasaannya di Lombok, bahkan orang Belanda sendiri yang sering mengajarkan cara pembuatan kue. Tidal mengherankan jika generasi selanjutanya banyak yang suka membuat berbagai macam kue.
Pala dan Lobe-Lobe juga demikian, diolah menjadi manisan dan sirup untuk dikonsumsi. Pada masa belakangan olahan ini juga dijual dan bahkan dikembangkan menjadi aneka bentuk lainnya. Olahan dari dua buah ini tidak banyak dikembangkan di luar Mantang karena selain pohonnya yang tidak banyak tumbuh, juga karena tidak banyak yang bisa mengolahnya bahkan sampai sekarang. Sekarang, Mantang terus menyusut luas wilayahnya karena sudah mekar menjadi desa-desa sendiri. Jadi pohon Pala dan Lobe-Lobe sekarang sudah banyak tumbuh di desa-desa sekitar, namun tetap saja untuk pengolahannya tidak banyak dikembangkan oleh mereka yang di luar Mantang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika beberapa pihak cenderung menjadikan olahan Pala dan Lobe-Lobe ini dijadikan sebagai ikon khas Mantang, terutama karena beberapa hal di atas tadi. Sekarang, sebagaimana daerah-daerah lain yang banyak pohon Lobe-Lobenya seperti di Maluku dan Sulawesi, Lobe-Lobe tidak hanay menjadi manisan dan sirup, tetapi juga bisa dibuat menjadi selai, jeli, permen, asinan dan lain sebagainya.
Selain sebagai kue cemilan atau olahan seperti tadi, Lobe-Lobe juga bisa dijadikan sebagai obat herbal, terutama bagi mereka yang mempunya penyakit gangguan pencernaan. Buah Lobe-Lobe yang masih muda dan rasanya pekat bisa dicoba untuk dikonsumsi sebagai obat pencernaan. Jika tidak, maka daunnya yang direbus dan dibiarkan sampai mendidih untuk dikonsumsi 3-4 kali sehari. Untuk daun ini, selain sebagai obat gangguan percernaan, juga dipercaya bisa mengobati penyakit datang bulan yang tidak teratur



Komentar
Posting Komentar