Tuan Guru dan Guru Terakhir

 Selasa, 11 April 2023 M/ 20 Ramadhan 1444 H

Pada era kedistrikan, pusat-pusat wilayah distrik menjadi magnit bagi banyak orang dari berbagai daerah dan dengan berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini berkait kelindan dan saling berinteraksi sehingga menyusun dan membentuk warna tersendiri bagi eksistensi Mantang hingga sampai saat ini. Salah satu dari berbagai kepentingan tersebut adalah penyebaran Islam dan pelaksanaan ajaran Islam.

Islam masuk ke Lombok pada masa yang lebih belakang dari Islam yang ada di Melayu dan Jawa, walaupun hal ini tidak berarti Islam belum sampai ke Lombok ketika Islam berkembang di daerah-daerah tersebut. Di Lombok sendiri para ahli memang terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan Islam. Corak umumnya, Islam di Lombok mempunyai corak Jawa dan Melayu yang cukup kental sehingga diperkirakan Islam datang pada masa awalnya dari daerah-daerah tersebut.

Islamisasi Lombok oleh Jawa diceritakan langsung dalam babad Lombok dengan cukup panjang. Sunan Prapen dengan rombongannya melakukan penyebaran Islam atas perintah Sunan Giri ke wilayah timur mulai dari Bali, Lombok dan Sumbawa. Corak Islam Jawa ini paling terlihat dalam bentuk Islam yang mengakomodir budaya lokal dan pelaksanaan ajaran yang fleksibel.

Untuk Islam corak Melayu sepertinya datang dari Sulawesi dan masuk dari arah timur, yaitu pulau Sumbawa. Sebagaimana diketahui, Sulawesi mendapatkan pengaruh Islam dari para penyebar Islam Melayu, yaitu ketika para pendakwah tersebut bergerak ke luar pulau Sumatera untuk menyebarkan Islam. Dari sanalah Islam berkembang ke Kalimantan dan Sulawesi. Dan Sulawesi, khususnya kerajaan Goa, memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Sumbawa. Beberapa kerajaan yang ada di pulau ini merupakan bagian dari kerajaan di Sulawesi tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Islam di Sumbawa bercorak kuat Islam Sulawesi dan Melayu.

Pulau Lombok mempunyai kedekatan historis dengan pulau Sumbawa, bahkan berinteraksi aktif-intensif sebelum Islam datang. Maka ketika Islam datang dari Sulawesi dan Sumbawa, secara mulus melaju ke Lombok dari arah timur. Corak Melayu sangat kental pada beberapa kegiatan budaya di Lombok seperti pembacaan naskah dan ritual-ritual lainnya.

Geliat Islam di Lombok baru terlihat jelas pada abad ke XVII dan XVIII, yaitu dengan adanya proses Islamisasi seperti yang diceritakan dalam beberapa naskah. Sejak saat itu Islam terus berkembang di era kerajaan dan menjalar pesat ke masyarakat. Pola penerimaan ini cukup unik dan eksklusif dengan adanya corak Islam yang berpusat di Lombok bagian utara, yaitu Wetu Telu. Terlepas dari kontroversinya, seharusnya corak apapun dalam pelaksanaan Islam tidak dibenturkan sehingga memunculkan gesekan dan konflik di masyarakat.

Pada abad XIX ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh agama yang menyebarkan Islam secara lebih intens dan pelaksanaan ajaran agama yang lebih komprehensif. Peran tokoh agama memang ada sejak masa kerajaan, yaitu dengan pentingnya jabatan penghulu kerajaan. Namun peran yang lebih signifikan terlihat ketika tokoh-tokoh agama lahir dari dan berinteraksi dengan masyarakat. Tokoh-tokoh ini bahkan nantinya menjadi kelas sosial tertentu dengan hak-hak istimewa karena status mereka sebagai tokoh agama.

Penyebutan untuk tokoh agama di Lombok adalah Guru dan Tuan Guru. Ketika ritual haji merupakan hal yang langka dan sulit, Guru mempunyai posisi penting dalam masyarakat. Mereka mengawal kegiatan pelaksaan ajaran Islam di masyarakat hampir pada semua hal. Mereka punya peran sentral dalam pelaksanaan sholat, kegiatan ritual lainnya seperti pengajian, maulid, pemakaman dan sebagainya, dan bahkan juga pada hal keseharian seperti pemotongan ternak dan penamaan nama bayi.

Sebutan ‘Tuan” merupakan sebutan bagi mereka yang telah melaksanakan rukun Islam ke lima, menunaikan ibadah haji ke Mekkah Madinah. Nantinya, sama seperti Guru, Tuan juga menjadi status sosial yang memperoleh perlakuan khusus dari masyarakat. Walaupun orang tersebut sebelum menunaikan haji bukanlah seorang Guru, ketika pulang dari Mekah Madinah orang tersebut biasanya akan dinisbahkan untuk mengambil sebagian dari tugas-tugas Guru. Sementara bagi mereka yang sebelumnya merupakan Guru, ketika sudah menunaikan ibadah haji akan disebut sebagai Tuan Guru. Jadi, sebutan Tuan Guru adalah gelar bagi mereka yang menjadi tokoh agama dan telah menunaikan ibadah haji.

Para Guru dan Tuan Guru inilah yang berperan penting dalam penyebaran Islam dan pelaksanaan ajaran Islam di Lombok saat itu. Di Mantang, bahkan sejak masa-masa awal, terdapat para penyebar Islam. Sebut saja dua tokoh Arab Sayyid Abdurrahman al-Habsyi dan Sayyid  Muhammad as-Syegaf serta Tuan Guru Muhammad Said. Mereka ini adalah generasi awal dalam menyebarkan dan mengajarkan ajaran Islam di Mantang. Dua orang pertama berasal dari Yaman, sedangkan yang ketiga adalah asli Banjarmasin.

Tuan Guru Muhamad Thayyib, H. L Usman dan beberapa tokoh Mantang lainnya

Selain itu, pada masa belakangan ada juga Tuan Guru Muhammad Thayyib yang merupakan putera dari Tuan Guru Muhammad Said. Selain bergelut di masyarakat, Tuan Guru Muhammad Thayyib juga merupakan tokoh awal di kementrian agama Lombok Tengah.  Setelah itu, ada juga Tan Guru Muhammad Akar yang terkenal dengan ajarah Tarekatnya. Jamaah beliau bahkan tersebar luas sampai di luar Mantang Batukliang.

Untuk Guru, ada juga Guru yang berperan penting pada masa itu. Pada generasi terakhir, terdapat Guru Rajab dan Guru Asan yang cukup terkenal di tengah masyarakat Mantang. Mereka cukup aktif terutama dalam memimpin dan membimbing masyarakat. Mereka juga sekaligus merupakan generasi terakhir dari Guru di Mantang, sebab setelah itu gelar tersebut tidak lagi digunakan sampai sekarang. Gelar tokoh agama ini sekarang sudah punah. Hal yang kemungkinan menjadi hilangnya gelar ini adalah perkembangan kondisi secara umum di mana ritual haji sudah semakin mudah. Tingkat pendidikan dan pengetahuan agama masyarakat juga semakin meningkat sehingga peran-peran Guru banyak diambil oleh mereka. Dan gelar Guru hanya tinggal kenangan.


Komentar

Postingan Populer