Sidikare Batukliang

Jumat, 21 April 2023 M/ 30 Ramadhan 1444 H

Di Mantang terdapat sebuah lembaga yang bernama Sidikare, atau sering disebut dengan Sidikare Batukliang. Sidikare terbentuk pada era kedistrikan untuk menampung berbagai kegiatan dan kebutuhan masyarakat secara umum. Istilah Sidikare menunjukkan kentalnya pengaruh Bali di mana hal tersebut juga dikenal di Karangasem.

Harus diakui jika Sidikare mengadopsi, minimal istilahnya, dari Bali. Pelaksanaannya jauh berbeda terutama dikaitkan dengan aneka aktivitas yang didasarkan pada keyakinan. Hal yang tentunya  tidak mungkin sama karena fondasi kepercayaannya sangat berbeda.

Sidikare Batukliang merupakan kumpulan anggota keluarga besar Mantang di mana pun berada. Dalam perkembangan kemudian dimasukkan juga menjadi Sidikare saudara-saudara yang ada di Mertak Wareng atau yang ada di Kelanjuh Daye misalnya. Disini terlihat Sidakare menjadi sebuah lembaga yang unik. Pada satu sisi Sidikare merupakan lembaga yang terdiri dari kerabat dengan asal-usul sama, namun secara tersirat juga memberikan ruang untuk bergabungnya mereka yang bukan dari genealogis yang sama. Inilah yang oleh seorang antropolog dari Swedia bernama Ingela Gerdin dianggap merupakan sebuah keunikan. Menurutnya, keunikan Sidikare tersebut menyebabkannya tidak gampang dan tidak sederhana ubtuk bisa dimasukkan ke dalam kategori kekerabatan atau sejenisnya sebagaimana lazim dikenal dalam ilmu antropologi.

Pada satu sisi Sidikare memperlihatkan dirinya sebagai lembaga kekerabatan dengan asal-usul yang sama, namun pada sisi lain juga menyiratkan adanya peluang anggota dari asal-usul yang berbeda walaupun pada batasan tertentu. Artinya, walaupun peluang itu ada tetapi semua orang bisa berada di dalamnya.

Rajutan dalam Sidikare, mengutip Ingela Gerdin, adalah what make us tied (apa yang membuat kita terikat). Itulah kesepakatan, aturan dan pemahaman yang sama dalam menjalankan Sidikare. Hubungan terikat (tied) inilah yang membentuk identitas individu dan kelompok yang diperkuat dengan kedekatan kekerabatan, kesamaan dusun, cabang kelompok. Oleh karena itu Sidikare menjadi penting dalam menentukan tempat seorang dalam lingkungan sosial dan ritualnya.

Salah Satu Rangkaian Dalam Prosesi Pernikahan

Sidikare Batukliang biasanya membagi ranah kerja menjadi dua bagian, gawe urip (kegiatan terkait yang masih hidup) dan gawe pati (kegiatan terkait kematian). Dua bagian ini sebenarnya adalah rangkaian siklus kehidupan dalam budaya Sasak. Siklus tersebut mulai dari kelahiran (sembeq-boreh/ pengobatan, besoq tian/tujuh bulanan kehamilan, peraq api/pemberian nama bayi), sunatan, midang (perkenalan dengan lawan jenis), merarik (menikah dan prosesinya,  tanggung jawab, bermasyarakat), dan terakhir kematian (belangar/hadir di tempat duka, betalet/pemakaman, nelu-mituq-nyiwaq/hari ketiga-tujuh-sembilan, pelayaran/prosesi sedekah bagi almarhum, nyiu/hari ke-1000, ngehol/haul tahunan dan sebagainya), dan setelah itu kembali pada siklus kelahiran dan seterusnya seperti pada tahap pertama.

Dua gawe (kegiatan) tadi konteksnya adalah bermasyarakat dan terhubung dengan nenek moyang. Oleh karena itu kegiatan dalam Sidikare tidak terlepas dari melestarikan tradisi, mengembangkan nilai positif dari leluhur, memajukan potensi anggota dan menyejahterakannya agar bisa menjadi masyarakat yang lebih baik. Artinya, ruang lingkup Sidikare cukup luas yang selalu bergerak dalam dua bandul yang terus bergerak, yaitu hasil masa lalu dan proses kekinian. Sidikare akan terus berada pada proses menyerap dan menyaring kelampauan sambil terus berkreasi dan mencari solusi dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Oleh karena itu, agar tetap berada pada jalur dan tetap eksis, sebagaimana tawaran dari Gerdin, maka Sidikare perlu memperhatikan dua hal: 

Pertama, memperjelas inklusi/ekslusi (proses memasukkan dan mengeluarkan anggota). Memang hampir secara otomatis Sidikare akan dikaitkan dengan hubungan kekerabatan namun aturan yang jelas harus menjadi pilihan agar pelaksanaan kesepakatan berjalan baik. Harus diingat juga bahwa Sidikare membuka celah dari anggota yang bukan dari satu genealogis.

Kedua, sidikare harus terus menerus diperkuat dengan pelaksanaan dua bandul yang terus bergerak tadi. Bagaimanapun, hal ini akan menjaga hubungan dengan nenek moyang, mempererat hubungan antar anggota dan menjaga eksistensi lembaga.

Hari ini Sidikare Batukliang masih ada. Anggota keluarga yang ada di lain tempat seperti di Mataram, Praya dan sebagainya juga masih terhubung. Dalam gawe urip seperti prosesi pernikahan dan dalam gawe pati merupakan ajang pertemuan dan interaksi satu sama lain. Untuk hal lainnya, Sidikare Batukliang perlu terus berbenah agar beberapa konsep selama ini dan diperkaya dengan konsep serta tawaran Ingela Gerdin di atas bisa berjalan lebih maksimal. Selain itu, diperlukan juga penggalian potensi anggota yang lebih intens agar potensi anggota bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi zaman. Tidak ada salahnya Sidikare Batukliang memberikan ruang untuk pengembangan keterampilan, pengembangan ekonomi dan teknologi atau hal lainnya terkait dengan potensi anggota yang ada. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer