Rinjani, Dewi Anjani dan Keluarga Mantang
Jumat, 14 April 2023 M/ 23 Ramadhan 1444 H
Ada seorang MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) ditanya mengenai kesannya selama mendaki banyak gunung di Indonesia. Dia mengatakan, gunung Rinjani yang paling lengkap. Yaitu dari segi ketinggian, jalur dan keindahannya. Ada gunung yang tinggi namun tidak menyajikan pemandangan yang eksotik, ada yang punya pemandangan indah namun ketinggiannya kurang, dan ada juga jalurnya kurang menantang. Rinjani menjawab semuanya.
Di Indonesia banyak orang yang mengenal Rinjani karena keindahannya. Di dunia, Rinjani mulai dikenal luas ketika sebuah penelitian menemukan bahwa ada lapisan tanah di kutub yang ternyata berasal dari gunung Rinjani dan diperkirakan bahwa lapisan tanah tersebut adalah sisa dari letusan dahsyat gunung tersebut. Letusan gunung yang lebih dahsyat dari gunung Kratakau dan Tambora ini yang menyisakan puncak-puncak gunung Rinjani, gunung Layur, gunung Kondoq dan kawah yang membentuk danau Segara Anak sekarang. Begitu dahsyatnya letusan tersebut hingga bisa menyisakan lapisan tanah di kutub.
Dalam sumber lokal memang dijelaskan adanya letusan gunung dahsyat yang mengakibatkan banyaknya korban dan porak-porandanya masyarakat Lombok. Gunung itu bernama Samalas. Diduga akibat dari letusan tersebut, ikut juga terkubur beberapa kerajaan dan peradabannya.
Mengupas Rinjani memang tidak ada habisnya. Ia menjadi magnit bagi para sejarawan, ahli arkeologi dan geologi, pemerhati flora-fauna, para wisatawan, para penarawang gaib, ahli spritual dan lain sebagainya. Kini Rinjani sudah menjadi geopark dunia, dengan Taman Nasioanal Gunung Rinjani (TNGR) sebagai penyangganya.
Pemandangan Rinjani dan Gunung Baru Rinjani
Bagi masyarakat Sasak, Rinjani mempunyai posisi sentral dalam membangun kehidupan budaya, dalam berinteraksi dengan alam, dan dalam mengolah nilai-nilai kehidupan. Dan bahkan Rinjani dianggap sebagai ‘pasek gumi’ (pasak dunia) yang menjadi simbol keselarasan, ketentraman dan kemamanan. Dan di gunung Rinjani pula, diyakini hidup seorang puteri bernama Dewi Anjani.
Dewi Anjani adalah perwujudan dari kepercayaan masyarakat itu sendiri dengan segala kontroversi dan ragam ceritanya. Hampir semua masyarakat Sasak meyakini akan kebenaran keberadaan sang Dewi di gunung Rinjani. Banyak versi yang menceritakan asal mula dari Dewi Anjani. Ada yang mengatakan bahwa beliau merupakan seorang puteri dari penyebar Islam di Lombok yang bernama Gaus Abdul Rozak. Makam Gaus Abdul Rozak ada di Lombok Utara. Ada juga yang berpendapat bahwa Dewi Anjani merupakan seorang puteri dari Raja Tuan dan Dewi Mas yang bertapa dan kemudian diangkat menjadi ratu jin di gunung Rinjani. Dewi Anjani mempunyai seorang saudara kembar bernama Raden Putera Janjak. Selain itu, ada versi juga yang mengatakan bahwa Dewi Anjani merupakan penghuni gunung Rinjani ketika Lombok masih hutan belantara. Belialah asal mula dari masyarakat Lombok yang kemudian menyebar ke berbagai empat di seantero pulau.
Cerita demi cerita memang tak ada habisnya mengenai sang puteri. Dan Mantang mempunyai kisah tersendiri mengenai Dewi Anjani. Bagi keluarga yang ada di Mantang I, II dan III, Dewi Anjani bukalah sosok asing karena ia hidup dalam cerita yang belum lama berlalu. Dewi Anjani dianggap sebagai bagian dari keluarga Mantang secara keseluruhan.
Adalah Raden Gde atau Mamiq Wiranom diceritakan menikah dengan Dewi Anjani. Dari pernikahan ini melahirkan seorang putera bernama Muhammad. Raden Gde hanya 2 dan/atau 3 generasi dari generasi yang ada sekarang di Mantang. Beliau merupakan seorang mantan kepala distrik yang meninggal pada tahun 1948.
Cerita-cerita tentang Dewi Anjani begitu hidup di Mantang, bahkan cerita-cerita tersebut mengenai kehidupan sehari-hari atau kehidupan rumah tangga dalam sebuah keluarga. Dewi Anjani di Mantang menjadi seorang istri dari salah satu keluarga, yang tentu saja tetap diyakini sebagai ‘penguasa gunung’ dengan segala cerita yang ada. Cerita-cerita ini tidak hanya dialami oleh keluarga Mantang, tetapi bahkan juga oleh mereka yang di luar keluarga. Cerita-cerita ini begitu banyak sehingga perlu ruang khusus untuk menuliskan cerita-cerita tersebut.
Di sini hanya akan diceritakan satu cerita yang diceritakan langsung oleh pelaku dan berasal dari luar keluarga Mantang. Cerita ini mengenai putera Dewi Anjani dan Raden Gde yang bernama Muhammad ketika akan disunat. Ketika itu diadakan sebuah pesta besar untuk merayakannya. Bagi masyarakat Sasak, upacara sunatan merupakan bagian dari siklus kehidupan yang harus dirayakan. Menurut narasumber, pada hari sunatan ia dan 40-an temannya diminta untuk memikul sebuah juli (istilah Sasak untuk tandu besar/berukir) dari arah timur, ± 1 Km dari simpang jalan Mantang. Pada saat berangkat juli tersebut sangat lah ringan karena diangkat oleh sedemikian banyak orang, tetapi ketika sampai di belokan bukit tempat pemakaman Mantang sekarang, juli tersebut menjadi begitu berat. Ia menceritakan bahunya begitu berat menahan hingga kayu serasa menggesek tulang bahunya, padahal pemikulnya 40-an orang. Tandu tersebut dibawa ke kompleks Pedaleman dekat kantor Distrik Mantang Batukliang, tempat acara sunatan berlangsung.
Ketika beranjak dewasa Muhammad berangkat menunaikan ibadah haji, dan sampai kini masih tinggal bersama ibunya. Begitu kata beberapa anggota keluarga yang, menurutnya, sempat bertemu dengan dua orang tersebut.


Komentar
Posting Komentar