Raden Gde Sang Presiden
Kamis, 20 April 2023 M/ 29 Ramadhan 1444 H
Jika hari ini diminta menyebutkan nama-nama kepala negara Indonesia sejak proklamasi Indonesia, maka orang akan cenderung menyebut 7 nama kepala negara. Yaitu Soekarno, Soeharto, Habibi, Gusdur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Dalam mata pelajaran sampai mata kuliah demikian juga, padahal dalam perjalanan sejarah kepala negara Indonesia ada 9 orang. Terdapat 2 tokoh yang sering dilupakan, yaitu Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assat.
Syafruddin Prawiranegara meruapakan kepala pemerintahan dari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang beribukota di Bukit Tinggi Sumatera. Beliau mengambil alih pemerintahan Indonesia ketika terjadi kelumpuhan pemerintahan terjadi di Yogyakarta setelah terjadinya agresi militer dan ditangkapnya pucuk pimpinan negara oleh Belanda. Logisnya, setelah kelumpuhan dan ketiadaan pemimpin tersebut maka secara otomatis negara Indonesia secara hukum dianggap bubar dan berstatus tak bertuan. Itulah yang diinginkan Belanda sebagai strateginya merebut kembali Indonesia. Namun perjalan sejarah berkata lain, dengan adanya pemerintahan yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara tersebut, Indonesia tetap ada dan diakui oleh dunia. Pemerintahan Darurat ini berlangsung dari tanggal 22 Desember 1948 sampai tanggal 13 Juli 1949.
Lain Syafruddin lain pula Mr. Assaat. Mr. Assaat merupakan presiden Republik Indonesia ketika berlakunya Republik Indonesia Serikat. Pada saat itu Soekarno sendiri yang akhirnya menyerahkan mandat dan melantik Mr. Assaat sebagai presiden Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Jabatan ini berakhir ketika sudah tidak berlakunya RIS dan dikembalikan lagi pada tanggal 15 Agustus 1950.
Secara waktu, Syafruddin Prawiranegara memegang tampuk pemerintahan selama hampir 6 bulan dan Mr. Assaat menjadi presiden sekitar selama 7 bulanan. Namun persoalaannya bukan terletak pada lama jabatannya, tetapi lebih pada eksistensinya sebagai kepala negara. Oleh karena itu, memang harus diakui bahwa kedua tokoh tersebut benar sebagai bagian dari rentetan kepala negara dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Logika yang sama juga terjadi pada Republik Maluku Selatan. Sebuah negara yang diproklamirkan Sumoukil pada tahun 1950. Harus diakui bahwa negara tersebut eksis karena diproklamirkan, hanya saja ia memproklamirkannya di sebuah negara yang sudah diakui dan sah sehingga tindakan tersebut adalah ilegal. Wajar saja jika kemudian tindakan tersebut dianggap makar dan harus ditumpas.
Mamiq Wiranom atau Raden Gde Presiden Negara Lombok
Eksistensi, itu yang menjadi benang merah dari beberapa peristiwa di atas yang harus dijadikan sebagai bagian dari sejarah penting perjalanan bangsa. Di Lombok, hal yang sama terjadi. Yaitu adanya sebuah pemerintahan yang membentuk pemerintahan lengkap dengan kepala negaranya seperti yang dilakukan oleh Syafruddin Prawiranegara, Mr. Assaat dan Sumoukil. Jika Syafrudin dan Mr. Assaat membentuk pemerintahan independen sebagai bentuk penyelamatan kontinuitas eksistensi Indonesia, maka di Lombok dibentuk sebuah pemerintahan independen untuk meneguhkan Lombok sebagai sebuah negara. Tepatnya, setelah penyerahan Belanda dan sebelum kedatangan Jepang, pada bulan Maret 1942 diproklamirkan berdirinya sebuah Negara Lombok. Negara Lombok disepakati berdirinya setelah pertemuan para tokoh Lombok di Mantang Batukliang dengan mencermati kondisi politik yang tidak jelas saat itu. Belanda sudah menyerah pada Jepang, sementara Jepang tidak ada. Terjadi kekosongan ‘pemimpin’ saat itu sehingga dianggap tepat untuk membentuk pemerintahan sendiri yang independen, yang bernama Negara Lombok.
Musyawarah para tokoh tersebut menyepakati Mamiq Wiranom atau Raden Gde sebagai presiden Negara Lombok dengan sekaligus mengangkat beberapa kepala daerah di beberapa wilayah. Bertindak sebagai sekretaris pertemuan tersebut adalah Lalu Srinate, nanti beliau menjadi Bupati pertama Lombok Tengah. Proklamasi berdirinya Negara Lombok ini juga diliput oleh koran-koran saat itu.
Mamiq Wiranom adalah putera dari Mamiq Ginawang yang merupakan salah satu pemimpin Congah Praya. Mamiq Wiranom diangkat menjadi kepala distrik menggantikan ayahandanya pada dasawarsa kedua di abad XX. Kepemimpinan beliau sudah nampak sebelum diproklamasikannya Negara Lombok. Suatu saat beliau akan beliau akan memutuskan untuk berhenti menjadi kepala distrik, masyarakat Langgalawe justru mendatangi beliau untuk mempertahankan posisi tersebut, atau jika tidak lebih baik mati. Beliau disayangi dan dekat dengan masyarakat. Tidak berbeda dengan beliau adalah adiknya Lalu Hasbullah yang juga dikenal dekat dengan masyarakat serta punya kharisma tinggi.
Setelah Mamiq Wiranom tidak lagi menjadi kepala distrik, beliau digantikan oleh adiknya Lalu Hasbullah tadi. Nanti, sepeninggal Lalu Hasbullah pada tahun 1938, Mamiq Wiranom kembali menjadi kepala distrik Batukliang. Pada masa memangku jabatan kedua kalinya, yaitu dari tahun 1938 sampai 1948, beliau bersama tokoh-tokoh Sasak lainnya memproklamasikan berdirinya Negara Lombok.
Negara Lombok bertahan hanya 2-3 bulan dan kemudian terhenti karena kedatangan Jepang pada bulan Mei. Walaupun hanya seusia jagung namun eksistensi terbentuknya Negara Lombok terebut merupakan sebuah tahapan sejarah yang cukup visioner. Pada saat itu, ketika kondisi politik tak menentu dan kondisi kehidupan secara umum belum jelas, menginisiasi sebuah musyawarah dan menyepakati berdirinya sebuah negara adalah hal yang luar biasa. Itu merupakan sebuah ide kreatif independen yang bernas dalam menyikapi permasalahan saat itu.
Para tokoh Negara Lombok tersebut tentu saja tidak berdaya menghadapi kekuatan Jepang. Lagipula, mengingat keterbatasan saat itu, 2-3 bulan adalah waktu yang pendek untuk menyepakati dan mengkoordinasikan hal-hal lain terkait terbentuknya negara tersebut. Akan tetapi, melakukan sebuah terobosan dengan ide besar untuk membangun wilayah sendiri seperti itu tidak gampang. Dan itulah semangat yang patut dicontoh dari para tokoh tersebut.
Hari ini, tidak mungkin mendirikan atau meneruskan kembali ide Negara Lombok tersebut, karena kita akan sama seperti Sumoukil tadi. Kita juga tidak dalam posisi pemerintahan darurat seperti yang dialami Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat di atas. Hal yang bisa dilanjutkan adalah meneruskan dan mengeksplor ide-ide besar untuk mengembangkan wilayah sendiri seperti yang mereka contohkan, mempelajari dan mengambil pelajaran dari perjalanan para tokoh tersebut, serta menceritakan kepada generasi selanjutnya tentang pendahulu mereka yang hidup dengan ide-ide besar dan visioner.



Komentar
Posting Komentar