Para Kepala Bintang

Senen, 10 April 2023 M/ 19 Ramadhan 1444 H

Penghargaan diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa. Ini berlaku hampir di semua tempat di dunia, baik itu negara, kerajaan atau pun lembaga-lembaga lainnya. Dari dulu sampai sekarang. Bedanya, jenis dan bentuknya. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa oleh sebuah instansi. Kepada mereka diberikan penghargaan sesuai dengan jasa atau nilai yang dicapainya.

Pada masa Belanda di Indonesia juga demikian. Penghargaan diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa baik terutama dari kalangan Eropa, kalangan militer dan kalangan pemerintahan. Penghargaan ini berupa diberikan medali sebagai tanda jasa lengkap dengan beberapa perlakuan yang melekat pada medali yang diberikannya.

Sejak tahun 1871, selain kepada kaum militer dan pemerintahan Eropa, penghargaan juga diberikan kepada kaum sipil yang non Eropa. Yaitu mereka yang menjadi aparatur negara atau orang yang dianggap berjasa dari kalangan non militer-non Eropa. Penghargaan itu berupa Medaille voor Burgerlijke Verdienste (MBV)/ medali penghargaan kepada kaum sipil. Medali yang diberikan ini berupa sebuah medali berukuran 50 mm x 50 mm berbentuk bintang sudut 12 dan berbentuk bundar. MBV dibedakan menjadi Bronzen (perunggu), zilveren (perak), gouden (emas), kalus dengan twibbon emas. 

Pada tahun 1893 MBV diganti menjadi Ster voor Trouw en Verdiensten (STV)/ bintang tanda jasa. Sedangkan medali yang diberikan berubah menjadi bronzen ster (bintang perunggu), zilveren ster (bintang perak), kleine gouden ster (bintang emas kecil), groote gouden ster (bintang emas besar). Sebenarnya perubahan ini lebih pada perubahan istilah dan beberapa detailnya, garis besarnya tidak mengalami perubahan signifikan. Dan bagi mereka yang mendapatkan bintang tersebut, diberikan lengkap dengan boks medali dan oorkonde (piagam).

Di Lombok beberapa tokoh juga pernah mendapatkan bintang penghargaan dari Belanda tersebut, tentu dalam konteksnya masing-masing. Dan di antara mereka adalah berasal dari Mantang Batukliang.

Pada generasi awal di Mantang, Lombok memasuki era penguasaan Belanda. Secara administrasi pemerintahan Belanda membagi wilayah menjadi Lombok masuk ke dalam residen Bali-Lombok. Lombok sebagai afdeeling yang dibagi menjadi tiga onder-afdeeling yang Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah. Masing-masing onder-afdeeling ini dibagai menjadi beberapa distrct yang dipimpin oleh districthoofd (kepala distrik). Sedangkan di bawahnya adalah onder-distrik (desa) dengan seorang onder-districthoofd (kepala desa) sebagai pemimpinnya.

Bentuk De Zilveren Ster yang diberikan kepada Mamiq Ginawang

Bentuk piagam dari De Zilveren ster

Dalam kerangka itulah bebera tokoh Mantang Batukliang mendapatkan bintang penghargaan dari Belanda. Pertama, Mamiq Ginawang. Sebagaimana diberitakan koran De Locomotif pada tanggal 18 April 1906, diberikan bintang penghargaan berupa De Zilveren Ster kepada Mamiq Ginawang sebagai districthoofd Batukliang. Hal yang sama juga diberikan kepada Lalu Darmadji selaku kepala distrik Praya dan Mamiq Mustiadji selaku kepala distrik Kopang.

Bentuk De Bronzen Sternyang diberikan kepada Mamiq Darmawe

Bentuk piagam De Bronzen Ster

Kedua, Mamiq Darmawe. Beliau merupakan kepada desa Mantang pertama dengan masa pemerintahan terlama. Beliau menjadi kepala desa sekitar 30-an tahun. Dan pada masa-masa akhir jabatannya, beliau mendapatkan bintang perhargaan dari Belanda. Sebagaimana keterangan yang ada pada koleksi Univesitas Leiden bahwa beliau mendapatkan penghargaan De bronzen ster pada tahun 1929. Saat itu, rombongan Controleur (Kontrolir) Lombok Tengah L. C Heyting datang ke Mantang menyerahkan bintang penghargaan tersebut.

Bentuk De Kleine Gouden Ster yang diberikan kepada Mamiq Wiranom

Dan yang ketiga, Mamiq Wiranom atau Raden Gde. Beliau saat itu menjabat sebagai kepala distrik Batukliang dan mendapatkan bintang penghargaan De kleine gouden ster. Pada koran De locomotief tanggal 02 Sepetember 1947 dijelaskan bahwa penganugerahan bintang tersebut diberikan serentak dengan para pejabat dari berbagai pihak di bawah kekuasaan Belanda. Yaitu yang berasal dari beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi, Timor dan Sunda Kecil. Jabatan mereka juga beragam, yakni mulai dari kepala distrik, asisten residen, kepala kantor jaksa, kantor pajak dan sebagainya.


Komentar

Postingan Populer