Mengkaji Awal Mula Tata Ruang Mantang

 Jumat, 31 Maret 2023 M/ 09 Ramadhan 1444 M

Batukliang yang baru, yang nantinya dikenal dengan nama Mantang, merupakan sebuah daerah yang posisinya cukup strategis secara geografis. Mantang bisa dikatakan berada di tengah-tengah pulau Lombok, nilai strategis ini ditambah lagi dengan adanya jalan membentang dari barat ke timur tepat di tengah pulau. Jadi, Mantang berada di tengah dengan posisi yang semakin mudah menjangkau daerah mana pun di pulau Lombok. Jarak yang di tempuh ke pusat pemerintahan di Mataram atau Cakranegara yang letaknya di bagian barat, hampir sama jaraknya dengan ke Selong atau Pancor yang menjadi pusat di Lombok bagian timur. Untuk ke selatan, menjangkau Praya jauh lebih dekat daripada ke Mataram atau ke Pancor. Sementara ke utara, perjalanan satu hari sudah sampai di titik-titik penting gunung Rinjani.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut mungkin menjadi salah satu alasan ditetapkannya Mantang sebagai pelabuhan terakhir untuk ditempati setelah menjajaki beberapa tempat seperti Bujak, Jurang Sate dan Penyawisan. Maka dimulailah babakan baru bagi rombongan yang dipimpin oleh Mamiq Ginawang, yang nantinya dikenal dengan nama Ilang Masjid, untuk segera berbenah dan membangun daerah baru yang mereka tempati.

Jalan besar yang membentang dari ujung barat ke ujung timur pulau Lombok menghubungkan banyak titik-titik pusat kekuasaan, terutama pada masa penguasaan Bali. Kini jalan tersebut menjadi jalan negara utama yang menghubungkan Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Hal ini sedikit berbeda dengan yang menuju Praya ke arah selatan. Walaupun jalan itu kini sudah menjadi persimpangan jalan utama negara , namun dulunya merupakan sekedar jalan setapak. Begitu juga dengan jalan setapak yang menuju ke arah utara. Untuk keperluan tulisan ini dan untuk lebih mudah memberikan gambaran lokasi, persimpangan kecil ini, yaitu jalan besar dari barat ke timur dan jalan kecil dari utara ke selatan, disebut saja sebagai jalan simpang empat.

Jika datang dari arah barat, sebelum sampai jalan simpang empat, di sebelah utara ada sebuah stamplat. Stamplat adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu ‘staan’ yang berarti berdiri , dan ‘plaats’ yang berarti tempat. Jadi, ‘staanplaats’ berarti tempat berdiri. Dalam bahasa serapan ke bahasa Sasak dan juga dalam bahasa Indonesia kata ini menjadi ‘stamplat‘. Stamplat artinya tempat pemberhentian baik itu motor, mobil, kapal atau pesawat, yang mungkin saja saat itu lebih sering dengan cara berdiri. Di Mantang, stamplat ini berada di pinggir jalan dan sering disatukan dengan aktifitas pasar. Yaitu sebelum pasar beraktifitas di sebelah timur. Dengan luas sekitar 7-10 are, area stamplat menjadi tempat yang cukup luas untuk menunggu sehingga seiring waktu juga ditempati untuk berdagang. Utara stamplat adalah masjid dengan parit kecil sebagai pembatasnya. Lalu setelahnya adalah pemukiman warga dengan tembok tebal yang memanjang di pinggir jalan setapak yang mengarah ke utara

Di sebelah selatannya adalah kantor distrik dengan pohon beringin besar berada di sampingnya. Inilah kantor yang menjadi pusat pemerintahan dari distrik Batukliang. Di belakang kantor ini adalah tembok tebal dan tinggi dengan gerbang besar menuju kompleks pedaleman. Pedaleman adalah istilah wilayah yang ditempati oleh keluarga menak (bangsawan), terutama yang identik dengan mereka yang memegang jabatan atau kekuasaan. Selain itu, ada juga yang mengertikan pedaleman sebagai wilayah bagi mereka yang siap sedia dan patut untuk memegang untuk menjadi pemimpin. Pada masa dulu, kepemimpinan dipegang oleh keluarga menak dan untuk memperlihatkan mereka yang siap menjadi pemimpin, mereka akan menempati wilayah pedaleman.

Gerbang di dekat kantor distrik tersebut merupakan jalan masuk menuju kompleks pedaleman. Begitu memasuki wilayah tersebut akan langsung disuguhkan hamparan halaman luas dengan beberapa pohon leci yang tumbuh menjulang. Pohon ini sudah tua dan besar serta masih berdiri tegak sampai sekarang. Lalu setelah itu, ada beberapa rumah yang merupakan tempat tinggal dari keluarga menak. Beberapa rumah ini masih ada yang tersisa kini walaupun dengan kondisi yang tidak baik-baik saja.

Terus bergerak ke selatan dari kompleks tempat tinggal menak ini ada sebuah rumah kecil menghadap ke selatan. Rumah ini menghadap ke deretan 4-5 kolam yang memanjang dari timur ke barat dan berjejer ke selatan. Kolam-kolam ini merupakan kolam ikan dengan taman kecil di sekitarnya. Sekarang wilayah ini menjadi pemukiman penduduk dengan tetap mempertahankan sejarah awalnya, yaitu taman.

Sedikit bergerak ke barat dari jejeran kolam, tempatnya merupakan dataran yang lebih tinggi. Tempat ini lebih seperti hamparan tanah lapang. Di kenal dengan nama alun-alun, tempat ini sering dijadikan sebagai tempat untuk diadakannya pertunjukan atau perlombaan. Tempat ini merupakan arena menonton berbagai bentuk hiburan yang sampai pada masa-masa tahun 1960-an masih langka. Pertunjukan seperti akrobat atau sirkus, perlombaan silat, atau berbagai petunjukan kesenian seperti Penginang Robek, Cupak Gerantang, wayang dan sebagainya.

Alun-alun selalu menjadi tempat yang meninggalkan kesan bagi mereka yang ikut menikmati masa-masa diadakannya berbagai macam pertunjukan tadi. Nanti alun-alun ini didirikan sebuah sekolah dasar (sekarang sekolah dasar no. 02 Mantang), dan wilayah sekitarnya menjadi pemukiman warga. Oleh karena ditempati pada masa belakangan, pemukiman itu dikenal dengan nama Gubuk Baru (kampung baru). Pada beberapa tahun terakhir, untuk wilayah dulu tempat diadakannya pertunjukan dikembalikan namanya menjadi pemukiman Alun-Alun.

Kembali ke simpang jalan. Di sudut simpang jalan sebelah selatan ada sebuah pohon beringin besar dan tinggi yang kadang dijadikan tempat untuk duduk-duduk atau berjualan. Lalu setelah itu tembok yang bersambung dari arah barat dan terus berbelok ke selatan. Ke arah selatan, sekitar 100-200 meter dari simpang jalan, terdapat daerah yang nantinya ditempati oleh orang-orang Hindu Bali. Sebelum mereka menempati tempat tersebut, daerah tersebut merupakan sebuah bendungan atau waduk kecil (bahasa Sasak: embung). Ketika daerah tersebut menjadi pemukiman Hindu Bali maka disebut sebagai Gubuk Embung (kampung waduk/bendungan).

Setelah simpang jalan, di sebelah utara ada sedikit pemukiman dan sebelah selatannya pun demikian namun lebih banyak hamparan sawahnya. Belakangan di utara dan selatan ini menjadi tempat orang-orang China untuk berjualan. Di sebelah selatan, pada sepanjang jalan ke timur nanti akan menjadi wilayah kampung Ceret dan Jantuk.

Sementara di sebelah utaranya, di sepanjang jalannya, adalah tembok dengan sebuah gerbang di tengahnya. Sebuah gerbang juga ada pada tembok yang memanjang ke arah utara, yaitu di sepanjang pinggir jalan setapak yang menuju utara. Gerbang ini adalah jalan masuk menuju keluarga menak yang kedua.

Pada masa yang lebih belakang, sudut simpang jalang sebelah utara ini nanti, setelah menjadi tempat kopra, menjadi pusat pasar sebagai perluasan dari para pedagang yang ada di stamplat dan seiring ramainya perdagangan di wilayah Mantang dan sekitarnya.

Tata ruang di Mantang ini menunjukkan pola sebagai pusat kekuasaan di wilayahnya, yaitu Batukliang. Dalam skala yang lebih, pola ini tidak berbeda jauh dengan pola pusat kekuasaan yang lebih besar seperti kerajaan. Dalam beberapa studi, pola yang digunakan di Mantang ini adalah pola yang lazim digunakan pada masa kerajaan-kerajaan Islam.

Beberapa dari ciri dari hal tersebut adalah sebagai berikut. Mengikuti letak masjid yang terletak di pinggir jalan dan simpang jalan, di Mantang juga demikian. Tepatnya, masjid di letakkan di samping stamplat dan pasar. Masjid melambangkan pusat spiritual, pusat kegiatan keagamaan. Di sini lah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti pengajian, tadarusan, peringatan hari-hari besar seperti maulidi nabi, nuzulul quran, israq miqraj, hari raya dan sebagainya. Masjid harus diletakkan dekat dengan pusat kekuasaan untuk menunjukkan bersatunya agama dan kekuasaan. Bahwa pemimpin haruslah juga orang yang peduli dan memahami serta mendukung pelaksanaan agama. bahwa pemimpin haruslah orang yang mementingkan unsur spiritualitas sebagai sebuah keseimbangan alam.

Selanjutnya, kegiatan ekonomi. Ini ditandai dengan keberadaan pasar atau pusat kegiatan ekonomi lainnya yang berada tidak jauh dari pusat keagamaan dan politik. Stamplat dan pasar serta munculnya toko-toko yang dipelopori oleh orang-orang China di Mantang menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi memang dipusatkan di sekitar simpang jalan yang tidak jauh dari masjid.

Lalu yang terakhir adalah kantor distrik dan pedaleman di sebelah selatan. Dua titik ini merupakan pusat kegiatan politik. Di sinilah dinamika kekuasaan berputar secara dinamis baik rotasi, transformasi maupun eksekusi berbagai kebijakan pada masa itu.

Dengan demikian, pusat agama, pusat ekonomi dan pusat politik bersatu dalam menggerakkan roda kekuasaan dalam ranahnya sebagai wakil untuk mengatur rakyat secara adil dan seimbang. Secara singkat, itulah makna beberapa titik simpul dari ruang yang ditata sedemikian rupa pada masa-masa awal Mantang. Dan orang yang paling berperan dalam hal ini adalah Mamiq Ginawang atau Ilang Masjid. Sebagaimana diketahui bahwa pola kepemimpinan saat itu masih bersifat terpusat sehingga bisa dipastikan tidak ada kebijakan yang dikeluarkan tanpa intervensi penguasa saat itu.


Komentar

Postingan Populer