Menengok Beberapa Infrastruktur Mantang

Minggu, 16 April 2023 M/ 25 Ramadhan 1444 H

Berbicara mengenai infrastruktur awal saat Mantang sedang berbenah di awal perpindahan sampai beberapa puluh tahun setelahnya tidaklah mengalami banyak kemajuan. Saat itu penguasaan Belanda atas Lombok tidaklah memberikan pengaruh besar pada infrastruktur di desa-desa atau wilayah yang lebih dalam. Walaupun tidak terlalu pesat wilayah afdeeling dan onderafdeeling mendapatkan sedikit perhatian lebih daripada wilayah lainnya. Sedangkan wilayah di bawahnya seperti berjalan di tempat bahkan hampir pada semua bidang.

Di Mantang pun demikian, bisa dikatakan bahwa peninggalan Belanda hanya ada di kompleks Pedaleman dan kantor distrik saja. Pada kompleks Pedaleman paling tidak ada empat bangunan, yaitu bale beleq (rumah besar) yang kini sudah menjadi sarang burung Walet, rumah di sebelahnya yang  menghadap utara namun tidak terlalu dirawat dan sudah banyak mengalami perubahan, sebuah rumah kayu menghadap timur yang kini sudah tidak ada, dan sebuah lagi adalah bangunan kayu menghadap barat yang kini masih berdiri dan masih ditempati. Dan yang terakhir, kantor distrik yang dulu pernah menjadi sekolah, kantor desa, puskesmas dan akhirnya dirubuhkan untuk dibangun kompleks eks puskesmas.

Praktis hanya 5 bangunan ini yang baunya belandanya cukup kental, di luar itu tidaklah banyak. Pola seperti ini sepertinya berlaku di semua tempat di Lombok, kecuali fasilitas-fasilitas umum seperti jalan, waduk, tanggul air, terminal, bangunan pemerintahan dan itu pun tetap saja tidak banyak jika dihitung pada angka tahun mereka berada di Lombok.

Salah Satu Bangunan Belanda Yang Tersisa

Pada sisi lain memang harus ‘dimaklumi’ bahwa konteks Belanda di sini adalah mengambil keuntungan, bukan mengerjakan proyek. Hitungan pada kisaran angka 50 tahun tidaklah terlalu dalam konteks penguasaan, apalagi jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di luar Lombok.

Selain itu ada stamplat dan masjid yang menjadi pusat ekonomi dan pusat ibadah masyarakat. Dua tempat ini merupakan sebuah kemestian yang tentunya diinisiasi oleh masyarakat sendiri karena hal tersebut merupakan sebuah kebutuhan. Selain itu, ada juga beberapa bangunan sederhana di sekitar simpang jalan yang merupakan toko atau warung sederhana.

Jalan pun demikian, jika melihat peta-peta Belanda sebelum kedatangan mereka ke Lombok, terlihat bahwa jalan utama yang menghubungkan daerah pusat di Ampenan, Mataram, dan Cakranegara menuju Lombok bagian timur dibuat pada masa penguasaan Bali. Pada jalan ini, awalnya hanya beberapa ratus meter di sekitar kompleks Pedaleman yang kondisi baik, baru pada masa belakangan terus diperbaiki sampai pada masa penguasaan Belanda. Itu pun dengan tetap memberikan perhatian lebih pada jalan di kompleks Pedaleman tersebut. Pola ini tetap dipertahankan pada masa penguasaan Belanda karena mereka menggunakan penguasa-penguasa lokal untuk mempertahannkan dan memperteguh kekuasaannya.

Bangunan Sekolah Desa (Volksschool) yang ada di Mantang pada tahun 1912 hanyalah bangunan sederhana yang lebih menyerupai bangunan darurat. Letaknya di sebelah kiri pada jalan yang menuju Praya, beberapa puluh meter dari simpang jalan Mantang. Nanti, ketika sudah menjadi Sekolah Rakyat bangunan berpindah ke sebelah barat, yaitu di eks bangunan kantor Pendidikan dan Kebudayaan yang sekarang menjadi UPT.

SMP (Sekolah Menengah Pertama) baru berdiri hampir setengah abad setelah didirikannya Sekolah Desa, yaitu didirikan di bagian barat. Tanah Hajah Baiq Zohriah seluas 80 are dibeli dengan harga Rp. 150. 000 sebagai lokasi pendirian sekolah tersebut. Untuk memperlancar bangunan dan proses belajar yang sudah lebih awal dimulai, setiap Kliang (kepala Dusun) diminta untuk mengeluarkan 3 pohon kelapa yang akan digunakan untuk bangunan dan pembayaran honor guru.

Begitu sekilas mengenai beberapa infrastruktur awal dan pendirian SR-SMP pertama di Mantang. Selain itu, ada juga infrastruktur lain namun dibuat jauh kemudian oleh pemerintah. Misalnya pembuat waduk Guleliat yang dibuat pada tahun 1960-an. Waduk ini berlokasi di desa yang kini masuk wilayah kecamatan Batukliang Utara, yang dulunya merupakan wilayah desa Mantang. Menurut L. Wirame, yang masa itu menjabat sebagai Kepala Desa Mantang, dalam pembuatan waduk tersebut dikerahkan 500 orang pekerja setiap harinya. Lalu masyarakat dari dusun Langgalawe ditugaskan sebagai ran (petugas masak) yang melayani konsumsi para pekerja. Beliau sendiri selaku kepala desa tinggal di sana memantau proyek tersebut selama tiga bulan bersama istri beliau.

Dan menjelang akhir masa jabatan L. Wirame, dibangun juga sebuah lapangan di bagian utara, tepatnya di Otak Desa. Lapangan ini dibangun pada tahun 1972. Lapangan pada masa Orde Baru memang sangat dibutuhkan, terutama untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat massif dan membutuhkan kehadiran orang banyak. Begitu juga dengan kegiatan kampanye, perayaan atau pasar rakyat yang masa itu sering diadakan.

Lalu setelah itu dibangun infrastruktur pendukung lain secara bertahap pada tahun-tahun yang berbeda, baik itu lembaga pendidikan, kantor-kantor dan sebagainya.


Komentar

Postingan Populer