Menelusuri Jejak Kepala Desa dan Kepala Distrik Batukliang

Senen, 17 April 2023 M/ 26 Ramadhan 1444 H

Salah satu kelebihan Belanda dibanding negara-negara Eropa lainnya adalah ketelitian dan kerapiannya dalam mencatat dan mendokumentasikan banyak hal. Ketika ia berkuasa di Indonesia sekian lama, Belanda sudah mempunyai sistem yang cukup mapan untuk mendokumentasi berbagai peristiwa yang dihadapinya di berbagai daerah. Hal-hal kecil saja seperti kasus pencurian, perkelahian, atau penangkapan biasanya dicatat dengan cukup detail, apalagi catatan mengenai jabatan, peristiwa politik dan administrasi pemerintahan lainnya yang jelas-jelas akan menguntungkan keberlangsungan penguasaannya di Indonesia. Terkadang waktu yang singkat dan keterbatasan lainnya yang membuat hal-hal tersebut terlewatkan namun tentu ini tidak terlalu signifikan.

Terlepas dari berbagai hal negatif yang dilakukan dan ditinggalkan Belanda, tradisi dokumentasi ini sangat membantu untuk meneropong kembali berbagai hal yang terjadi masa-masa itu untuk dibaca dan ditelaah sebagai pelajaran dalam konteks kekiniannya. Begitu juga untuk melihat para tokoh yang menjadi pejabat seperti yang dibahas sekarang ini, yaitu jabatan kepala distrik Batukliang, kepala desa atau desa apa saja yang ada. Walaupun Belanda ke Lombok pada beberapa dasawarsa sebelum kekalahannya oleh Jepang, tetap saja mereka melakukan proses dokumentasi tersebut walaupun, mungkin, tidak sedetail daerah lain yang sudah lebih mapan.

Tulisan ini belum berdasar pada hasil dokumentasi Belanda itu, hanya beberapa saja yang didapatkan. Sisanya lebih mengandalkan cerita-cerita lisan sehingga tidak lah semuanya diceritakan secara berurutan.

Untuk Batukliang, sebagaimana tercantum dalam Staatblad (Stb) no. 183/1895 tanggal 31 Agustus, jelas tercantum Mamiq Ginawang diangkat sebagai kepala distrik Batukliang pertama. Beliau memerintah cukup lama karena sampai tahun 1914 beliau masih menjabat sebagai kepala distrik Batukliang. Hal ini tertuang dalan Regerings-Almanaak voor Nederlandsche Indie, buku catatan mengenai para pejabat yang dikeluarkan setiap tahunnya. Kemungkin itu merupakan tahun terakhir atau beberapa tahun setelahnya menjabat sebagai kepala distrik. Jabatan tersebut lalu dilanjutkan oleh putra beliau Mamiq Wiranom. Pada masa itu dan beberapa waktu kedepannya jabatan kepala distrik sebenarnya diwariskan secara turun temurun. Walaupun hal ini bukan merupakan ketetapan resmi, namun pada praktiknya hal tersebut lah yang berlaku. Belum diketahui secara pasti berapa lama beliau menjabat namun diperkirakan selama 8 atau 9 tahun, untuk kemudian digantikan oleh adik beliau Lalu Hasbullah. Lalu Hasbullah menjabat cukup lama karena beliau diangkat sebagai kepala distrik pada usia yang cukup belia. Menurut cerita yang didapatkan, Lalu Dolah dijadikan sebagai jaminan atas kemampuannya untuk memimpin Batukliang. Pada masa beliau terjadi beberapa kali pengerahan massa untuk pembangunan beberapa infrastruktur. Beliau juga melakukan lawatan ke beberapa daerah, serta pernah melakukan perundingan ke Makasar pada tahun 1936.

Setelah meninggalnya Lalu Hasbullah pada tahun 1938, jabatan kepala distrik kembali dijabat oleh Mamiq Wiranom untuk 10 tahun kemudian. Mamiq Wiranom meninggal pada tahun 1948. Pada masa jabatan kedua ini Mamiq Wiranom mendapatkan anugerah Bintang Belanda, sebagaimana juga ayahanda Mamiq Ginawang pada masa sebelumnya mendapatkan bintang dari Belanda.

Mamiq Wiranom digantikan oleh adiknya Lalu Miraje. Sebelum menjabat kepala distrik Batukliang, Sakra dan juga Masbagik, Lalu Miraje menjabat sebagai sedahan di Batukliang. Beliau dikenal terutama setelah kasus Saleh Sungkar dimana beliau dan beberapa tokoh Lombok lainnya ditangkap karena diduga terlibat dalam pembunuhan. Beliau dan tokoh-tokoh tersebut ditangkap dan ditempatkan di Bali.

Sepeninggal Lalu Miraje, jabatan kepala distrik dijabat tidak lagi secara turun temurun, walaupun tetap dijabat oleh beberapa keluarga. Setelah itu ada Haji Lalu Anwar, Haji Lalu Usman, dan beberapa waktu kemudian Lalu Ginawang. Di antara beliau-beliau itu jabatan kepala distrik oleh pejabat dari berbagai daerah seperti Lalu Arif (Kopang), Raden Kertapati (Dayen Gunung), Lalu Muhir (Dasan Lekong-Lotim), Lalu Suriade (Lotim) dan lain sebagainya. Dan setelah itu berakhirlah era kedistrikan.

Penganugerahan Bintang Untuk Kepala Desa Mantang

Di bawah kedistrikan terdapat beberapa desa atau disebut onder-district. Desa ini di kepalai oleh seorang kepala desa. Kepala desa Mantang pertama adalah Mamiq Darmawe atau dikenal juga dengan nama Kepala Bintang. Disebut demikian karena beliau mendapatkan anugerah Bintang dari Belanda pada tahun 1929, yaitu beberapa tahun sebelum mengakhiri tugasnya sebagai kepala desa. Setelah itu kepala desa dijabat oleh Haji Lalu Masud. Pada masa beliau terbentuk desa Barebali dan diangkatlah Haji Lalu Umar, yang waktu itu sebagai sedahan/sekdes Mantang, menjadi kepala desa pertamanya. Haji Lalu Masud lalu digantikan oleh Lalu Wirame pada tahun 1943 setelah sekitar 11-12 tahun menjadi kepala desa. Lalu Wirame merupakan salah satu kepala desa Mantang terlama karena beliau memegang jabatan tersebut sampai tahun 1973. Pada masa beliau, seiring dengan pesatnya pembangunan masa Orde Baru, dibangun beberapa infrastruktur pendukung di Mantang. Setelah Lalu Wirame, Mantang kemudian dipimpin oleh Lalu Juruh ABG yang sebelumnya sukses sebagai kepala desa Peresak dengan membawanya menjadi salah satu desa terbaik di Lombok.

Masa beliau-beliau menjadi kepala desa, kantor desa belum lah menetap. Pada masa Mamiq Darmawe, rumah beliau yang di Rajumas (Mantang II) sekaligus menjadi kantor desa. Tidak jauh dari rumah Mamiq Darmawe terdapat rumah Haji Lalu Masud. Rumah beliau pun demikian, sekaligus menjadi kantor desa sebelum kemudian dipindahkan ke pinggir jalan di tempat puskesmas Mantang sekarang. Lalu pada masa selanjutnya kantor desa pindah lagi ke rumah di belakang eks puskesmas. Setelah itu, kantor desa lebih menetap terutama setelah dijabat Lalu Muhammad Tamrin, Hadits, Lalu Jaswadi Putera, Idhar dan sebagainya.


Komentar

Postingan Populer