Masjid Mantang Masa-Masa Mula
Sabtu, 08 April 2023 M/ 17 Ramadhan 1444 H
Kata ‘masjid’ merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab. Asal katanya adalah fi’il madhi (kata kerja dasar lampau) ‘sajada’ yang berarti sujud. Sedangkan kata ‘masjid’ merupakan isim makan (nama menunjuk tempat) dari kata dasar tadi, sehingga kata ‘masjid’ secara etimologinya berarti tempat bersujud. Sedangkan secara umum masjid dipahami sebagai tempat beribadahnya umat Islam.
Pada garis besarnya, masjid merupakan sebuah bangunan yang memiliki ruang bujur sangkar atau persegi panjang. Ruang ini ditutup oleh atap baik itu berbentuk limasan tunggal, limasan bersusun, atau bentuk lainnya yang lebih modern untuk memperkuat ukuran ruang di bawahnya. Di Indonesia, sebelum adanya arsitektur modern masjid seperti sekarang, atap susun masjid biasanya berjumlah ganjil.
Masjid Mantang pun demikian. Yaitu menampakkan ciri-ciri masjid pada awal yang masih bercorak tradisional. Walaupun demikian, masjid ini sebenarnya adalah bangunan masjid kedua yang dibangun karena bangunan masjid yang pertama dibangun pada saat kedatangan rombongan Mamiq Ginawang pada akhir abad XIX. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa rombongan tersebut membangun masjid dulu sebelum membangun infrastruktur yang lain. Hanya saja bagaimana gambaran masjid tersebut tidak didapatkan informasi yang lebih jelas, tapi yang jelas bahwa masjid tersebut bisa disebut sebagai ‘masjid darurat’. Yaitu dalam pengertian masjid sederhana tanpa rancang bangun yang lebih matang dari sisi proses pembuatannya. Itulah sebabnya masjid ini diperkirakan hanya bertahan 10-20 tahun saja untuk kemudian diganti dengan bangunan baru. Ini adalah hitungan matematis usia bangunan yang biasa digunakan di masyarakat mengingat bahannya adalah bahan alam seperti kayu, bambu dan ilalang. Untuk ilalang lazimnya diganti 10 tahun sekali pada masa itu.
Bangunan masjid yang kedua dibangun dengan perencanaan lebih matang. Menurut cerita, seorang Cina bernama Ciq Ajik lah yang menjadi depan dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau memang merupakan seorang yang ahli bangunan sehingga beberapa bangunan masa itu merupakan goresan tangan beliau. Sayangnya, dokumentasi photo dari masjid ini belum didapatkan. Harapannya semoga masih terselip di antara album photo masyarakat yang suatu saat bisa dipublikasikan.
Masjid ini berbahan batu bata, begitu juga dengan dua tembok yang mengelilinginya. Ukurannya tidak terlalu besar, dengan teras di samping kiri-kanan dan belakangnya. Atapnya bersusun tiga dengan langgar dari kayu-kayu berukir yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi udara. Sementara jendela dan pintunya berbentuk setengah lingkaran ditambah dengan kusen-kusen kayu yang membentuknya. Pada teras bagian tenggara terdapat sebuah beduk besar yang digunakan untuk menandai datangnya waktu sholat atau penanda-penanda yang lain. Beduk ini cukup besar, sebagai gambarannya bahwa bahan kulit dari beduk ini adalah bahan kulit dari seekor banteng besar. Fondasi masjid ini cukup tinggi, dengan tangga cukup banyak yang mengarah ke utara, selatan dan timur.
Pada sebelah timur, 1-2 meter setelah tangga terdapat dua kolam memanjang ke arah timur-barat. Terdapat tangga yang mengarah ke bawah kolam. Kolam di depan masjid merupakan salah satu ciri dari masjid tradisional. Kolam ini, selain berfungsi untuk wudhu, juga berfungsi untuk mandi. Filosofi sederhananya, setiap orang yang masuk masjid harus dalam keadaan bersih dan suci. Pada masa dulu, masyarakat berkegiatan di ladang, sawah, hutan atau kegiatan seperti di pasar, pinggir jalan dan sebagainya. Datangnya waktu sholat masyarakat langsung ke masjid dari tempat kerja sehingga mereka membutuhkan tempat untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan sejenis selokan atau kolam kecil persis setelah tangga masjid paling bawah, itu juga berfungsi untuk membersihkan kaki setiap orang yang naik ke masjid.
Pada bagian selatan masjid Mantang, selatan kolam sebelah selatan, ada tempat sedikit menjorok ke dalam dengan beberapa pancoran. Ini adalah saluran air yang terkait dengan kolam yang berfungsi untuk ruang bagi masyarakat melakukan hal yang lebih privasi seperti buang air kecil atau besar. Di sekitar pancoran dan kolam ada beberapa jenis pohon seperti pohon sawo, agel, rambutan dan sebagainya.
Setelah itu, di antara dua kolam ada jalan yang menuju gerbang atau gapura pertama. Gapura ini adalah gapura batu bata yang beratapkan ijuk. Gapura merupakan arsitektur yang didapat dari pengaruh Hindu-Budha. Oleh karena itu, jika dua sisi gapura dibuat bersusun atau berjenjang maka akan terlihat seperti candi yang terbelah. Dalam perkembangannya, gapura secara umum mempunyai dua corak. Pertama, gapura yang bagian atasnya tertutup, biasanya bagian atasnya dibuat bersusun atau berjenjang. Gapura ini mirip seperti candi dari bagian depan atau belakang. Model ini di Jawa disebut sebagai kori agung. Kedua, gapura yang terbuka bagian atasnya, yang jika setiap sisi dibuat bersusun dan berjenjang akan mirip seperti candi terbelah. Itulah sebabnya, model ini disebut sebagai gapura belah.
Begitu keluar dari gapura pertama, terdapat sebidang tanah lapang yang ditumbuhi rumput dan dikelilingi tembok. Tidak terdapat pohon di bagian ini, hanya sebuah tanah lapang. Tempat ini biasanya akan berfungsi ketika pelaksanaan pengajian atau perayaan hari besar Islam, baik untuk menampung jamaah atau menaruh berbagai fasilitas dari kegiatan yang sedang diadakan. Lalu setelah itu ada gapura yang kedua, arah untuk keluar dari area masjid.
Pada beberapa masjid lama atau juga masjid-masjid kraton juga terdapat beberapa hal tadi. Bangunan masjid, kolam, sumber air, gapura satu, tanah lapang, dan gapura keluar. Biasanya, gapura pertama yang ada di area masjid berbentuk gapura belah, sedangkan gapura kedua akan berbentuk kori agung/ gapura tutup. Di Mantang, kedua gapura tersebut adalah gapura tutup. Hal ini disebabkan gapuranya sederhana dan beratap ijuk, bukan bersusun atau berjenjang.
Lalu sebelah barat masjid. Seperti masjid umumnya, pada bagian depannya terdapat bagian menonjol di tengah. Yaitu mimbar sebagai tempat imam memimpin sholat, dan jika lebih besar, sekaligus sebagai tempat khatib pada hari Jum’at. Bagian depan masjid juga sering dihubungkan dengan adanya makam. Pada masjid-masjid awal, makam selalu menjadi bagian dari masjid, walaupun di Indonesia keberadaan makam ini tidak direncanakan secara khusus. Walaupun tidak direncanakan secara khusus seperti di Mesir, Turki atau Iran, masjid dengan makam di depannya ini ada di seluruh tempat di Indonesia yang masih bisa dijumpai sampai hari ini.
Masjid Mantang pun demikian. Di depannya terdapat kompleks makam. Itu adalah makam dari Mamiq Ginawang atau Ilang Masjid, pemimpin rombongan perpindahan sekaligus sebagai pendiri dan pewakif dari area masjid Mantang sekarang. Selain beliau, dimakamkan juga beberapa anggota keluarga dalam jumlah puluhan.
Bangunan masjid kedua ini bertahan cukup lama, hampir setengah abad. Lalu bangunan ketiga dibangun sekitar tahun 1960-an akhir atau 1970-an awal untuk selanjutnya dilakukan beberapa kali pembongkaran. Saat ini pun demikian, sudah hampir setahun Mantang sedang dalam hajat membangun masjid baru karena populasi yang terus meningkat sehingga masjid lama terasa semakin sempit terutama pada perayaan hari-hari besar. Semoga hajat baik ini dilancarkan dan diberkahi serta bermanfaat bagi segenap umat. Amiin...



Liputan yang menarik..
BalasHapus