Mantang Peraq Api: Sebuah Tawaran

 Jumat, 07 April 2023 M/ 16 Ramadhan 1444 H

1. Pendahuluan

Tulisan sederhana ini bertujuan untuk memberikan secara global gambaran tentang beberapa alternatif peristiwa atau sudut pandang yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk menentukan hari jadi Desa Mantang. Beberapa sumber yang dijadikan sandaran adalah beberapa sumber babad seperti babad Praya, babad Sakra, ataupun babad Pusaka Lombok.Beberapa tulisan seperti buku karangan Lalu Azhar, Alfons van der Kraan,Monografi Provinsi NTB, Sejarah Daerah NTB ataupun buku Anak Agung Ktut Agung serta beberapa sumber lain menjadi lahan mencari informasi data yang dibutuhkan. Selain itu, digunakan juga beberapa dokumen Belanda berupa Koran ataupun staatsblad sekedar sebagai pembanding. Terakhir, cerita-cerita lisan yang menjadi memori kolektif masyarakat, walaupun tidak seberapa jumlahnya, turut memperkaya pertimbangan dan perbandingan informasi yang ada.

Tidak seutuhnya rentetan peristiwa dan analisanya diuraikan disini oleh karena waktu yang sempit dan ruang yang terbatas, oleh karena itu tulisan ini sangat terbuka untuk ditelusuri lebih lanjut dan dikritisi dengan sumber-sumber yang lebih variatif

2. Landasan teori se-alakedarnya

Sejarah lokal adalah sejarah mengenai orang, tempat, institusi dan komunitas yang berada di sekitar kita. Sejarah lokal dekat dengan masyarakat karena merupakan bagian penting dari sejarah mereka sendiri. Wilayah, institusi, dan orang-orang yang mempunyai peran adalah juga bagian dari diri kita sendiri. Oleh karena itu upaya rekonstruksi sejarah lokal ini adalah sebuah upaya membangun kembali gambaran mengenai daerah kita sendiri pada masa lalu.

  Bukti-bukti sejarah lokal yang dibutuhkan sama dengan bukti sejarah pada umumnya namun sifatnya jauh lebih spesifik dan detail karena wilayah kerjanya yang terbatas dan kadang sering diabaikan secara dokumentasi administratif, visual dan formal.Sumber-sumber tertulis sezaman dan orisinil dijadikan sebagai sumber primer baik itu catatan lokal, dokumentasi resmi dan lain sebagainya. Sedangkan buku, artikel atau tulisan yang bersumber pada sumber primer dijadikan sebagai sumber sekunder. Rekaman memori kolektif dalam bentuk cerita lisan juga sangat diperlukan karena seringkali terjadi pengabaian atau kadang tidak ter-cover oleh sumber-sumber teks.Hal ini bisa terkait dengan tahun pernikahan, kelahiran, silsilah, terjadinya peperangan, tahun wafat dan sebagainya. Dan terakhir adalah bukti fisik, selain dalam bentuk bangunan, jalan, peta, dan photo, tempat itu sendiri juga sebenarnya adalah bukti fisik yang tidak kalah pentingnya.

Terkait dengan penentuan hari jadi sebuah daerah hal-hal tersebut diatas sangat diperlukan untuk mendukung validitas dan keakuratan waktu yang akan ditetapkan. Oleh karena itu pada dasarnya penentuan hari jadi sebuah wilayah itu tidaklah sembarangan. Waktu yang ditetapkan tidaklah hanya terkait dengan siapa yang pertama dan waktu yang pasti karena untuk sampai pada hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Waktu tersebut seharusnya juga mempunyai makna mendalam bagi masyarakat itu sendiri karena harus dikaitkan dengan kekinian masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk menjaga solidaritas, menyatukan hati, serta momentum penyemangat untuk meraih kemakmuran dan kesejahteraan.

Oleh karen itu, berbagai wilayah di Indonesia biasanya menggunakan tiga aspek dalam penentuan hari jadi wilayahnya. Pertama, aspek legal formal, yakni besluit (keputusan) Belanda atau surat keputusan pemerintah resmi. Aspek ini merupakan cara pandang konvensional dan formal administratif. Kedua, aspek ideologis. Cara pandang ini tertuju untuk membangun rasa solidaritas kultural sehingga muncul rasa bangga dan heroisme masyarakat. Ketiga, aspek perhitungan/waktu tertua. Yaitu adanya waktu atau perhitungan yang disebutkan pada rentang waktu terlama atau tertua.

3. Gambaran fakta secara umum

a. Kondisi umum

Memasuki dekade kedua abad XIX kekuasaan Karang Asem di Lombok mulai mendapatkan goyangan secara perlahan dan terus menguat pada tahun-tahun berikutnya. Dalam rentang waktu tersebut terjadi perlawanan Sakra (1820-an), perang Mataram-Singasari (1830-an), perang Praya I (1840-an), perang Kalijaga (1850-an). Guncangan ini semakin menguat setelah perpindahan pusat kekuasaan Mataram ke Cakranegara (1860-an) dan kemudian mencapai klimaksnya pada akhir abad tersebut (1894) yang ditandai dengan kehancuran kerajaan, keruntuhan kekuasaan dan dibuangnya keluarga elit kerajaan ke Jawa.

Klimaks ini bermula dari perlawanan Praya di bawah Guru Bangkol pada 8 Agustus 1891 M/1 Muharam 1310 H). Perlawanan ini mengakibatkan Praya sebagai musuh bersama (common enemy) Sasak dan Bali karena saat itu hampir semua daerah tunduk dibawah kekuasaan Karang Asem. Namun setelah sekian lama peperangan Praya tidak bisa ditaklukkan dan Karang Asem justru melakukan blunder dengan melakukan teror atas daerah-daerah penting pendukungnya di Timuq Juring, inilah yang menjadi pemicu munculnya persatuan kekuatan Sasak. Bersatunya Sasak ini berada dibawah pimpinan Praya, Batukliang, Sakra, Masbagiq, Rarang, Kopang, dan Pringgabaya. Merekalah yang menabuh genderang perang atas nama rakyat Sasak terhadap kekuasan Karang Asem pada hari Jumat 14 Jumadil Akhir1310 H/ awal Januari 1892 M. Penyerangan ke berbagai kantong-kantong kekuatan Bali dilakukan sampai pertengahan tahun itu yang kemudian dibalas oleh Karang Asem dengan penyerbuan ke daerah-daerah penting di Timuq Juring seperti Batukliang, Kopang, Rarang dan sebagainya. Kondisi saling serang, mereda untuk istirahat dan memperbaiki ekonomi, dan kemudian saling serang kembali terus berlangsung ditahun-tahun berikutnya sampai kemudian datangnya intervensi Belanda di penghujung tahun 1894.

Runtuhnya kekuasaan Karang Asem pada akhir tahun 1894 membawa Belanda menjadi penguasa selanjutnya di Lombok. Langkah pertama Belanda adalah menjadikan Lombok sebagai afdeling (bagian) dari residen Bali-Lombok yang beribukota di Singaraja. Sedangkan Lombok dibagi menjadi dua onderafdeling yaitu Lombok Timur beribukota di Sisiq dan Lombok Barat beribukota di Ampenan. Berdasarkan kesepakatan dengan para pimpinan Perang Praya II pada tanggal 27 April 1895, maka onderafdeling Lombok Timur terdiri dari 7 distrik yaitu Praya, Batukliang, Kopang, Rarang, Masbagiq, Sakra, dan Pringgabaya. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Staatblad (Stb) no. 183/1895 tanggal 31 Agustus. Baru dengan Staatblad (Stb) no. 248/1898 dan Skp Gub.Jendral no. 19/1898 tanggal 27 Agustus 1898 Lombok kemudian dibagi menjadi tiga onderafdeling, yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Sedangkan pemerintahan dibawah distrik disebut dengan onderdistrict yang mungkin seperti kekuasaan desa, dan membawahi beberapa kepala kampung (kliang).

b. Kondisi lokal

Pada masa yang bersamaan Batukliang sebagai salah satu titik-titik kekuasaan di Lombok bagian timur (timuq juring/east border) juga ikut berdinamika sejalan dengan kondisi yang sedang mewarnai Lombok saat itu. Dipimpin oleh para penglingsir dan berlokasi di Presaq Batukliang, Batukliang hampir tidak pernah absen dalam gejolak kekuasaan baik terkait kebijakan kerajaan Karang Asem, perlawanan Sakra, Perang Praya I atau Perang Lombok yang akhirnya menggulingkan kekuasaan Bali.

Sebelum Lombok secara bulat dikuasai Karang Asem (paruh pertama abad XIX), Batukliang dan daerah lainnya di Lombok masih sedikit independen dan aman karena masyarakat masih bisa bersatu dan masih ada pemimpin-pemimpin tegas-berwibawa. Di Batukliang saat itu dipimpin, salah satunya, oleh Raden Sinarsa.Namun setelah Lombok dikuasai secara penuh (paruh kedua abad XIX), yakni ditandai dengan kemenangan kerajaan Mataram atas Singasari, kekuatan di Lombok menjadi terpecah belah dengan adanya politik adu domba antar daerah dan disingkirkannya pemimpin-pemimpin berpengaruh saat itu. Raden Sumintang sebagai pemimpin Batukliang masa itu akhirnya terbunuh dan Batukliang dalam genggaman penuh kekuasaan Bali.

Riak-riak konflik terus terjadi namun masih bisa teratasi, gejolak besar baru terjadi setelah Praya mengawalinya pada bulan Agustus tahun 1891. Atas perintah kerajaan, hampir semua daerah di Lombok termasuk Batukliang melakukan penggempuran atas Praya. Peta kekuatan kemudian berubah ketika pada akhir tahun itu daerah-daerah yang ada di Timuq Juring berbalik membela Praya, lalu terbentuklah dua kekuata besar: kekuatan Sasak dan kekuatan Bali.

Pembalikan kekuatan ini membuat Karang Asem murka sehingga secara halus menghabisi pemimpin-pemimpin Sasak berpengaruh pada sekitar tanggal 18 September 1891. Pada saat inilah Mamiq Wirate/Jro Buru/ilang Cakra dan anaknya L. Diwaje, menjadi korban tipu daya Karang Asem. Kepemimpinan Batukliang lalu dilanjutkan oleh anaknya, Mamiq Ginawang.

Siasat Bali menghabisi para pemimpin Sasak ini semakin menyulutkan kemarahan rakyat Sasak sehingga minggu-minggu terakhir bulan September sampai akhir tahun 1891 di berbagai daerah terjadi pembunuhan, pembakaran dan pengusiran orang Bali termasuk di Batukliang. Pertempuran terjadi di Batukliang karena orang-orang Bali melawan dengan sengit, inilah yang kemudian hari dikenal dengan congah Batukliang.

Karang Asem kemudian melakukan penyerangan ke berbagai daerah Timuq Juring. Batukliang diserbu dan ditaklukkan pada tanggal 7 September 1892. Banyak korban dari kedua belah pihak, daerah tempat pertempuran dibakar dan kemudian ditinggalkan (rarut). Jadilah daerah tersebut sebagai ‘peresaq’. Pada masa inilah diperkirakan terjadinya perpindahan Batukliang yang dimotori oleh Mamiq Ginawang dan keluarga untuk mencari tempat tinggal yang baru. Daerah baru Batukliang yang ditempati berada di sebelah barat Batukliang lama, tepatnya beberapa kilometer ke arah barat daya. Daerah ini kemudian dikenal dengan nama Mantang.

Seiring dengan penguasaan Belanda atas Lombok yang membagi onderafdeling Lombok Timur menjadi beberapa distrik, maka ditetapkanlah Mamiq Ginawang sebagai kepala distrik Batukliang pada tahun 1895

4. Analisa sederhana

Penyerangan Guru Bangkol ke Pakukeling terjadi pada bulan Agustus tahun 1891 disepakati hampir semua sumber sejarah baik sumber-sumber babad atau buku-buku sejarah, begitu juga dengan bulan hijriyahnya yakni pada bulan Muharam. Ada sedikit perbedaan pada tanggal tanggalnya namun itu hanya dalam hitungan hari. Logika sejarah yang dibangun setelah penyerangan itu juga hampir seragam bahwa terjadi pengepungan Praya oleh Karang Asem, kecurigaan Karang Asem atas tokoh Sasak yang berbalik membela Praya, lalu kemudian terjadi pemanggilan atas tokoh-tokoh tersebut.

Pemanggilan ini berujung pada terbunuhnya Mamiq Wirate/Ilang Cakra. Alfons van der Kraan mengutip sumber Belanda mengatakan itu terjadi pada bulan September, L. Azhar membangun logika bahwa itu terjadi enam bulan setelah penyerangan Praya, sedangkan babad Sakra menceritakan bahwa Mamiq Wirate ditahan di Cakra setelah dibawa dari Puyung. Namun yang pasti, pemanggilan dan penahanan itu menjadi pemicu penyerangan kantong-kantong pertahanan Bali dan bersatunya kekuatan Sasak.

Babad-babad menceritakan titik balik bersatunya Sasak ini. Yakni ada yang mengatakan dimulai pada hari Jumat 14 Jumadil Akhir, ada yang mengatakan malam Sabtu tanggal 16, dan diprakarsai oleh Sakra, Kopang, Praya, Batukliang dll. Jika penyerangan Praya dimulai pada bulan Muharam bertepatan dengan bulan Agustus 1891, maka Jumadil Akhir itu bertepatan dengan dengan bulan Januari 1892. Hal ini sejalan dengan sumber van der Kraan yang menceritakan adanya pertemuan delapan tokoh Sasak pada awal tahun 1892 yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya distrik pada masa penguasaan Belanda. Delapan tokoh inilah yang memegang peranan penting sepanjang tahun 1892 dan tahun-tahun setelahnya.

Pertengahan akhir tahun 1892, tepatnya bulan September, serangan Karang Asem ke Timuq Juring membuat Batukliang porak-poranda dan hampir tidak menyisakan bangunan dan orang karena tempat tersebut dibumihanguskan dan orang-orangnya pergi mengungsi. Pengungsian ini masih dalam suasana perang sehingga tidak jelas tempatnya dan belum menentukan tempat tinggal permanennya. Bulan-bulan selanjutnya ketegangan sedikit mereda sambil mengumpulkan tenaga dan bahan makanan untuk keperluan masyarakat. Sumber lisan yang tersedia mengenai hal ini menguatkan adanya perpindahan tersebut, yakni dengan lahirnya BaiqSuti/Hj. Rakmah (wafat tahun 1989) pada saat Batukliang berada di Bujak. Beberapa pilihan tempat setelah itu adalah Jurang Sate dan Penyawisan namun posisi Mantang sekaranglah yang menjadi keputusan akhir.

Sepanjang tahun 1893 dan 1894 tidak banyak terjadi perubahan kecuali pada akhir tahun 1894 ketika Belanda menyerang Puri Kawi dan runtuhnya kekuasaan Karang Asem di Cakranegara. Setelah itu Lombok diwarnai oleh penguasaan Belanda secara politik maupun sosial budaya. Dalam hal ini, yang paling nampak adalah ketika Belanda membagi Lombok sesuai dengan perjanjian Arya Banjar Getas, yakni menjadi Timuq Juring dan Bat Juring (Lombok Timur dan Lombok Barat), lalu membagi Timuq Juring sesuai kesepakatan pertemuan awal 1892 menjadi beberapa distrik.

Sebutan distrik ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kekuasaan perkanggo pada masa sebelumnya. Waktu itu perkanggo dijabat oleh tokoh-tokoh Sasak yang berada dibawah pungggawa yang dijabat oleh orang Bali. Daerah-daerah yang dikuasai oleh perkanggo inilah yang diistilahkan dengan ‘desa’ dalam sumber-sumber babad, jadi wilayahnya sangat luas. Batas-batas masing-masing wilayah menjadi salah satu pembahasan tokoh-tokoh Sasak pada pertemuan awal 1892 yang kemudian diakomodir Belanda menjadi distrik-distrik. Pada dataran ini sesungguhnya ‘desa’ itulah yang kemudian menjadi distrik dan sekaligus identik menjadi onderdistrict (desa) diwilayah tersebut, misalnya kecamatan Kopang; desa Kopang, kecamatan Sakra; desaSakra dll.

Dalam kasus Batukliang sedikit berbeda, yakni Ketika perpindahan daerah dari Batukliang lama ke Batukliang baru wilayah desanya menjadi Mantang sedangkan distriknya tetap bernama Batukliang. Walaupun demikian kedua nama ini menjadi identik karena Batukliang adalah Mantang dan Mantang adalah Batukliang, hal ini dibuktikan dengan penyebutannya di masyarakat dan dari beberapa sumber Belanda.

5. Sebuah tawaran

Melihat beberapa pemaparan di atas, jika dibenturkan dengan beberapa tawaran landasan teori sebelumnya, terdapat beberapa alternatif waktu yang bisa menjadi pilihan. Beberapa diantaranya adalah pemanggilan tokoh-tokoh Sasak (18 September 1891), bersatunya kekuatan Sasak (awal tahun 1892), pertemuan tokoh-tokoh (awal tahun 1892), penyerangan, pembakaran dan perpindahan Batukliang (7 September 1892), pembagian wilayah masa kekuasaan Belanda menjadi afdeling-onderafdeling-district-onderdistrict (31 Agustus 1895). Melihat waktu-waktu tersebut tidak satupun yang bisa mewakili secara mandiri untuk bisa dijadikan hari jadi jika dibenturkan dengan tiga unsur dalam landasan teori.

18 September 1891 adalah pemanggilan yang berujung pada terbunuhnya Mamiq Wirate, tentu ini tidak ideologis dan etis serta tidak ada unsur formilnya jika dijadikan sebagai rujukan. Bersatunya kekuatan Sasak dan pertemuan tokoh terjadi pada awal tahun 1892, peristiwa ini sangat global karena bukan hanya Batukliang yang terlibat, selain itu tidak ada waktu lebih spesifik yang bisa menjadi pedoman. 7 Septembet 1892 adalah terjadinya penyerangan Karang Asem yang mengakibatkan kekalahan dan perpindahan Batukliang, angka tahunnya merujuk pada terjadinya beberapa hal penting dalam sejarah Lombok dan Batukliang khususnya namun tanggal dan bulannya merupakan waktu terjadinya kekalahan dan terjadinya pembakaran, sehingga unsur ideologis-etisnya tidaklah mengena. Terakhir, 31 Agustus 1895 yakni pembagian wilayah administratif oleh Belanda. Secara unsur administrasi pemerintahan waktu inilah yang paling tepat, namun untuk tahunnya sebelum tahun 1895 Mantang sudah ada dan eksis sebagai salah satu pusat kekuatan politik.

 Oleh karena itu,melihat beberapa pertimbangan di atas, satu tawaran yang muncul untuk penentuan hari jadi Mantang adalah menjadikan tahun 1892 sebagai tahunnya dan 31 Agustus sebagai tanggal dan bulannya. 1892 adalah tahun bersatunya kekuatan Sasak, pertemuan tokoh-tokoh Sasak yang menjadi cikal bakal wilayah kedistrikan, serta tahun terjadinya penyerangan dan awal perpindahan dari Batukliang. Sedangkan 31 Agustus menandai keberadaan Batukliang/Mantang secara formal administratif, dan karena sejak saat itu pula Batukliang/Mantang eksis secara formal dan terstruktur secara pemerintahan.


Komentar

Postingan Populer