Mantang Metropolis: Komunitas Arab

 Selasa, 04 April 2023 M/ 13 Ramadhan 1444 H

Jika hari ini melihat-lihat kompleks pertokoan di kota-kota besar, selain penduduk asli, dipastikan ada orang Cina, Arab dan India di antara pedagang atau pemilik toko-toko tersebut. Orang-orang Cina hampir bisa dipastikan tidak membuka toko tekstil, sebagaimana orang-orang India yang kecil kemungkinan membuat toko kelontong. Begitu juga dengan orang Arab, jarang mereka terlihat membuka toserba atau kebutuhan pokok.

Orang India cenderung membuka toko tekstil, orang Arab menjual wewangian, kitab atau sejenisnya. Sedangkan sisanya adalah orang Cina. Memang begitu dari sejak sebelumnya. Mereka cenderung mengikuti pola yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya. Hal ini terutama terkait dengan pola perdagangan, jaringan dan pola pemasaran. Sedangkan model yang digunakan tentunya sama, yaitu memanfaatkan kondisi umum saat itu di Lombok, yaitu abad XIX yang memang sedang marak dengan perdagangan antar wilayah. Sama dengan Cina, orang Arab pun melakukan penetrasi luas dan dalam. Walaupun dalam kadar yang sedikit kurang, orang India pun demikian.

Ketika perdagangan dunia internasional masih menggunakan jalur sutera (silk road), Arab sudah lama terlibat dalam mengarungi jalur tersebut baik melalui jalur darat atau jalur laut. Puncaknya, orang Arab sampai pada tempat-tempat yang tidak pernah dibayangkan pendahulunya ketika kawasan tersebut mengenal Islam dan menyebarkannya ke tempat-tempat yang jauh. Perdagangan dan dakwah menjadi dua sisi pada sekeping mata uang. Tidak terpisahkan.

Di Lombok, komunitas Arab terdeteksi paling tidak pada tahun 1830-an, yaitu dengan gencarnya aktifitas Labuan Haji di Lombok Timur sebagai pelabuhan yang penting terutama untuk aktivitas keagamaan. Maka tidak mengherankan jika J. P Freijss melaporkan bahwa pada tahun 1855, ketika terjadinya perlawanan dari desa Kalijaga, orang-orang Arab setempat ikut memberikan perlawanan sengit terhadap penguasa Bali. Bahkan di pihak penguasa Bali sendiri juga mengangkat orang Arab sebagai pejabat syahbandar di Ampenan, yaitu Sayid Abdullah. Syahbandar merupakan jabatan penting karena ia yang akan berhubungan dengan para pedagang luar dari berbagai negara, serta ia pula yang akan menentukan barang yang boleh masuk dan keluar ke/dari Lombok.

Mengingat besarnya peran orang Arab dalam beberapa hal tersebut, yang kemudian juga peran mereka dalam islamisasi, maka sangat mungkin mereka sudah ada jauh sebelum itu di Lombok. Perannya dalam bidang keagamaan, ekonomi dan politik cukup menonjol. Banyak cerita-cerita lisan di Lombok yang menceritakan hal tersebut terutama. 

Di Batu Layar, Lombok Barat, yang makamnya masih ramai dikunjungi sampai sekarang merupakan makam seorang penyebar Islam awal di Lombok. Ada versi yang mengatakan beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW. Ada juga yang mengatakan bahwa makam tersebut adalah makam seorang tokoh Islam yang bernama Sayid Duhri al Haddad al Hamdrami. Mungkin saja versi ini merujuk pada orang yang sama. Di makam Wali Nyatok lain lagi. Makam yang hanya boleh diziarahi pada hari Rabu ini, konon juga adalah orang Arab yang bernama Abdullah al Haddad. Beliau menyebarkan Islam di bagian selatan Lombok.

Di beberapa kerajaan Lombok juga disebutkan peran orang Arab, baik di kerajaan Selaparang atau kerajaan lainnya. Di sekitar Batukliang sekarang, dulu berdiri kerajaan Benua. Menurut cerita lisan, ada seorang Arab bernama Sayid Abdurrahman yang dijadikan sebagai penghulu kerajaan. Beliau juga yang awal mula menyiarkan Islam ke kerajaan tersebut. Mereka yang tidak menerima Islam pergi ke Lombok Utara, ke Tebangoq, dan komuntas mereka masih ada sampai sekarang. 

Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al Habsyi

Di Batukliang lama, Peresaq, jejak orang Arab pun sudah terlihat walaupun peran mereka tidak terlalu besar, namun aling tidak menunjukkan sebaran komunitas Arab telah menjangkau daerah yang luas waktu itu. Sedangkan Batukliang-Mantang, jejak orang Arab terlihat semakin jelas dan justru menjadi bagian dari Mantang. Tersebutlah seorang Arab Yaman bernama Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Habsyi. Seorang alim, tawaduk dan pandai bergaul serta pengalaman luas dalam berdagang. Beliau melakukan perdagangan ke berbagai tempat sebelum akhirnya memutuskan membuka rumah toko di Singapura. Rumah toko adalah tempat tinggal pedagang yang juga sekaligus menjadi tempat untuk menjual berbagai barang. Rumah toko lazim digunakan saat itu terutama bagi para pedagang yang membutuhkan tinggal dalam waktu lama, dan biasanya hanya pedagang besar yang bisa melakukannya.

Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Habsyi atau di masyarakat lebih dikenal dengan nama Habib Durahman tidak sendiri melakukan perdagangan. Banyak dari keluarga beliau yang melakukan perdagangan di tempat-tempat lain. Di Indonesia juga demikian, nanti ada anggota keluarga beliau yang berdagang dan berdakwah di Banjarmasin Kalimantan. Salah satunya menikah dengan keluarga kerajaan Banjar. Makam beliau ada di kompleks makam kerajaan di Banjarmasin. Begitu penuturan dari salah satu putri beliau.

Anak turunan bangsawan Banjar yang terhubung ke kerajaan berarti masih mempunyai hubungan keluarga dengan putra putri dari salah satu keluarga Habib Durahman tadi. Oleh karena itu, masih menurut putri beliau yang pernah ke makam tersebut di Banjarmasin, keluarga Banjar di Mantang masih mempunyai ikatan keluarga dengan keturunan Arab yang ada di Mantang. Hanya saja hal tersebut tidak lagi diceritakan secara detail sehingga anak cucu pada generasi yang lebih belakang tidak lagi mengetahui hubungan tersebut.

Kedatangan Habib Durahman ke Mantang jelas pada abad XIX, yaitu ketika arus perdagangan di Lombok sedang mencapai puncaknya. Di Mantang beliau menikah dengan Baiq Suti atau Hj Baiq Rakmah, salah satu putri dari Ilang Masjid, tokoh pelopor keberadaan Mantang. Pernikahan ini saat itu tentu memunculkan kehebohan karena belum lazim dilakukan. Bahkan, menurut cerita, sebelum pernikahan tersebut disetujui, Habib Durahman dan Baiq Suti tinggal dulu di Praya. Yaitu di rumah Datu Tuan atau Lalu Wirentanus. Beberapa waktu kemudian barulah mereka tinggal di Mantang.

Pernikahan ini tentunya bukan lah sekedar untuk menjalin hubungan suami dan istri. Pernikahan ini juga merupakan bagian dari dakwah karena setelah itu Habib Durahman aktif memberikan pemahaman keagamaan di Mantang. Nanti, istri beliau juga ikut aktif membantu suami beliau dengan mengajarkan ngaji pada anak-anak, memberikan pengajian kepada ibu-ibu atau mendatangkan tokoh untuk berceramah di jamaah beliau.

Pada saat pembangunan masjid Mantang, yaitu pembangunan masjid yang kedua, Habib Durahman bersama dengan Tuan Guru Haji Muhammad Said berperan dalam menentukan arah kiblat dari masjid yang akan dibangun. Berdua mereka bahu membahu mengawal praktek pemahaman agama Islam di wilayah Mantang awal yang baru menampakkan eksistensinya.

Demikianlah, Habib Durahman berkiprah di Mantang saat itu. Yaitu kiprah salah satu keturunan Rasulullah SAW yang nantinya dilanjutkan oleh anak turunan beliau. Anak turunan Habib Durahman sudah menjadi komunitas sendiri di Mantang karena jumlahnya sudah semakin banyak. Kini anak turunan beliau bahkan sudah menyebar tidak hanya di Batukliang dan sekitarnya, tetapi juga sudah sampai ke berbagai tempat di Lombok Tengah, Lombok Barat dan sebagainya.


Komentar

Postingan Populer