Mantang Metropolis: Awal Mula Komunitas Banjar
Rabu, 05 April 2023 M/ 14 Ramadhan 1444 H
Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan perdagangan antar pulau yang begitu ramai baik oleh penduduk lokal ataupun dari luar kawasan. Secara internal, penduduk di kawasan ini telah membangun jalur laut yang begitu erat sejak lama. Kawasan antar pulau ini tidak ubahnya seperti sebuah kampung dengan deretan rumah-rumah di sekitarnya. Adalah biasa perjalanan antar pulau untuk berkunjung dan untuk menjelajahi tempat-tempat baru, sebagaimana juga mereka terbiasa untuk berdagang atau urusan politik.
Ketika dulu ditemukan deretan pohon-pohon asem di beberapa pesisir pantai benua Australia, orang kemudian mempertanyakan mengenai pohon tersebut. Pohon yang tidak ditemukan tumbuh di tempat lain pada benua tersebut. Banyak asumsi bermunculan mengenai tumbuhnya pohon tersebut di sepanjang pesisir. Namun sebenarnya, titik simpul dari hal tersebut adalah mengenai kawasan jalur laut di kawasan tersebut.
Benua Australia berdekatan dengan kawasan Asia Tenggara sekarang. Tempat tersebut tidak terlalu jauh dari deretan pulau-pulau nusa tenggara. Tidak mengherankan jika benua tersebut sudah lama disinggahi oleh para pedagang dari kawasan tersebut. Bahkan orang-orang Bugis sudah terbiasa melakukan perdagangan ke tempat tersebut, dan merekalah yang disinyalir punya andil besar terhadap tumbuhnya banyak pohon asem di pesisir Australia tersebut.
Begitu juga dengan tempat-tempat lain seperti ke Thailand, Vietnam dan sekitarnya. Tempat-tempat ini hanyalah menjadi kunjungan rutin berkala untuk disinggahi oleh pedagang atau pihak lain dari kawasan Asia Tenggara. Maka dengan demikian, terjalin hubungan yang tak terpisahkan antar mereka di kawasan sehingga tercipta sebuah kawasan aktif dengan tingkat interaksi yang cukup tinggi.
Memahami kawasan ini dalam sudut pandang di atas, menjadi tidak mengherankan akan adanya kesamaan bahasa dan budaya di berbagai tempat di kawasan. Tentunya, pesisir menjadi daerah paling aktif dan strategis karena menjadi pintu masuk ke wilayah yang lebih dalam.
Pada abad XIX, ketika arus perdagangan antar wilayah cukup tinggi, menjadi hal lumrah jika pola yang sudah terbentuk lama di kawasan menjadi begitu semakin intens dan jangkauan penetrasinya semakin jauh ke dalam. Dan pada masa inilah seorang bernama Haji Muhammad Said aktif melakukan perdagangan antar wilayah di kawasan Asia Tenggara.
Haji Muhamad Said, nanti dikenal dengan nama Tuan Guru Haji Muhamad Said atau Tuan Guru Sekolah atau Datoq Said, lahir di Martapura Banjarmasin Kalimantan pada tahun 1290 H/ 1871 M. Sejak umur 20-an tahun beliau sudah aktif melakukan perdagangan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh orang-orang seumur beliau kala itu. Ada yang hanya berdagang di sekitar wilayahnya, ada yang mengambil barang di tempat lain dan menjualnya di daerahnya, dan ada juga yang pergi membeli barang ke tempat lain dan menjualnya ke berbagai daerah.
Datoq Said juga demikian. Beliau memilih melakukan perdagangan yang sedang digandrungi saat itu, yaitu membeli barang di sebuah daerah dan kemudian menjualnya ke berbagai daerah. Di daerah-daerah tersebut bukan sekedar menjual barang, juga akan dibeli barang yang akan laku di tempat yang lain, dan begitu seterusnya. Selain di sekitar Kalimantan, beliau juga berdagang dan mencari barang ke Thailand, Vietnam, dan Singapura.
Pada pusat-pusat perdagangan akan tersedia berbagai barang yang akan dibawa ke berbagai tempat tadi. Tidak hanya itu, dengan adanya interaksi antar pedagang maka akan diketahui informasi tentang berbagai hal yang terkait dengan kebutuhan perdagangan atau hal pendukung lainnya seperti perkembangan politik, kondisi masyarakat dan sebagainya. Maka, apa yang dibutuhkan di sebuah daerah, apa yang melimpah di sebuah wilayah, atau apa yang terjadi di sebuah tempat, akan menjadi konsumsi publik dalam konteks interaksi ekonomi tersebut.
Singapura sebagai pusat perdagangan masa itu menjadi sumber barang dan sumber informasi, sehingga tempat tersebut menjadi surga para pedagang bukan hanya di kawasan tetapi bahkan perdagangan dunia. Menurut cerita, di tempat inilah Datoq Said mendapatkan informasi mengenai pulau Lombok yang ramai perdagangannya, dan di tempat tersebut banyak tersedia keris-keris yang bilah dan warangkanya berlapis emas. Maklum saja, pada penghujung abad XIX tersebut Lombok baru saja usai Perang Lombok dan kerajaan Karang Asem baru saja runtuh. Mungkin saja, senjata-senja tersebut berlimpah dan banyak dijual usai perang. Selain itu, keris Lombok memang dikenal bagus karena materialnya dari bahan-bahan berkualitas. Menurut beberapa sumber, orang-orang Lombok mampu berlayar sampai ke Madagaskar untuk mencari bahan-bahan keris yang bagus.
Datoq Said tertarik dengan hal tersebut. Maka berlayarlah beliau ke timur dengan kapal, kapal tersebut bernama Bataktratak. Perjalanan ke timur ini tidak langsung ke Lombok, tetapi beliau melakukan perjalanan dagang ke Sumbawa, Bima bahkan sampai Ende di Flores. Menurut cerita turun temurun dari anak turunan beliau, Datoq Said bahkan menikah dengan seorang putri raja yang bernama Nooita. Dari Nooita, Datoq Said memperoleh seorang putra bernama Anang Abdul Kadir, namun sayang Abdul Kadir meninggal waktu masih kecil dan ibunya meninggal saat melahirkan.
Pada awal kedatangan beliau ke Ende, beliau menghadap ke penguasa di sana. Mungkin seorang raja lokal di wilayah tersebut. Hal ini sudah menjadi sejenis tradisi di banyak tempat di dunia, tidak terkecuali di kawasan Asia Tenggara, termasuk Ende Flores. Ini juga merupakan sebuah salam penghormatan dan sekaligus izin untuk memasuki wilayah yang baru, lebih-lebih dengan maksud untuk berdagang.
Maka demikianlah, Datoq Said datang menghadap penguasa tersebut dan membawa beberapa hadiah. Raja pun senang menerimanya, dan diadakanlah acara untuk menyambut kedatangan Datoq Said dan rombongannya. Pada malam penyambutan tersebut Datoq Said tidak lupa menunjukkan kebolehannya bermain sulap, rakyat pun banyak yang terhibur. Dan pada acara-acara seperti itu, sudah merupakan tradisi di Ende saat, disediakannya minuman-minuman keras lokal. Di beberapa daerah di Indonesia pun demikian, penyajian minuman keras sebagai bentuk penghormatan dan ucapan selamat datang pada tamu atau pendatang. Namun Datoq Said dan rombongan tidak meminumnya sehingga mereka semua tetap tersadar. Orang-orang dalam acara terebut banyak yang mabuk berat, termasuk sang raja. Dan dalam ketidaksadarannya sang raja mengucapkan kata-kata yang membuang Datoq Said dan rombongannya khawatir. Sang raja dalam mabuknya mempertanyakan asal muasal para pedagang dan menganggap dirinya telah dibohongi sehingga berencana akan membunug rombongan tersebut ketika sedang tidur. Ucapan raja ini membuat gundah rombongan Datoq Said sehingga beliau memutuskan meninggalkan tempat tersebut menuju pelabuhan.
Tidak lama berselang, raja mengetahu hal tersebut dan memerintahkan prajuritnya untuk mengejar rombongan. Prajurit yang mengejar tersebut jumlahnya ± 100 orang dengan menggunakan kuda-kuda yang kualitasnya terkenal di kawasan. Kuda-kuda Flores memang sejak dulu dikenal lincah, gesit dan kuat walaupun tubuhnya tidak terlalu besar. Kerajaan-kerajaan di Jawa bahkan secara khusus mendatangkan kuda-kuda Flores untuk kebutuhan perang prajuritnya.
Jarak antara kerajaan dan pelabuhan sekitar melewati empat bukit, tidak terlalu jauh untuk ukuran alam Flores yang penuh dengan deretan perbukitan. Datoq Said dan rombongan terus memacu kudanya ke arah pelabuhan, namun para prajurit yang lebih menguasai medan dan menggunakan kuda yang lebih baik, sehingga mereka sudah berada di belakang rombongan. Syukurnya, sebelum benar-benar terkejar Datoq Said dan rombongan sudah berhasil berada di atas kapal. Tetapi para prajurit tidak menyerah, mereka terus mengejar dan bahkan akan masuk ke kapal yang posisinya masih di pinggir pantai.
Saat itu hari sudah beranjak malam, dan dalam kegelapan para prajurit hampir saja bisa menaiki kapal. Melihat hal tersebut, Datoq Said bermaksud menghalau para prajurit tersebut. Beliau mengambil obor yang ada di kapal, memasukkan minyak tanah ke mulut, lalu disemburkan ke api di obor mengarah ke para prajurit yang berada di bawah kapal. Api itu seolah-olah terlihat seperti keluar dari mulut beliau. Melihat hal tersebut para prajurit langsung berhenti dan bersujud secara serentak ke Datoq Said. Ternyata, ada sebuah kepercayaan di Ende jika bertemu dengan orang yang bisa keluar api dari mulutnya maka orang tersebut harus dihormati karena akan membawa kerajaan menjadi aman dan makmur. Prajurit-prajurit tersebut bahkan menyerah dan meminta Datoq Said untuk kembali ke kerajaan. Dan setelah diadakan pembicaraan, disepakatilah untuk Datoq Said dan rombongan akan kembali ke kerajaan, sedangkan kapal dan nakhodanya diminta untuk kembali ke Banjarmasin
Setelah beberapa lama di Ende, beliau mendapatkan kabar bahwa salah satu keluarganya sakit keras. Beliau pun memutuskan untuk pulang ke Banjarmasin, meninggalkan istrinya, Nooita, yang saat itu sedang hamil tua. Perjalanan ke Banjarmasin harus melalui beberapa pelabuhan termasuk pelabuhan Ampenan di Lombok. Pada saat beliau di pelabuhan Ampenan, dimulailah sebuah perjalanan hidup Datoq Said yang mungkin beliau sendiri tidak pernah pikirkan.
Komunitas Banjar di Mantang
Di Ampenan beliau bertemu dengan seorang pejabat Belanda yang dulu pernah bertugas di Banjarmasin. Mereka saling kenal dengan baik. Saat itu pejabat Belanda tersebut sedang membawa beberapa guru yang akan ditempatkan mengajar di Lombok, hanya saja sayangnya seorang ibu guru dari Medan yang beragama Kristen dan akan ditempatkan di Pringgabaya meninggal di dalam kapal selama perjalanan. Oleh pejabat Belanda tersebut, karena mengetahui kecerdasan Datoq Said yang sudah lama dikenalnya, posisi guru dari Medan yang meninggal itu ditawarkan untuk digantikan oleh Datoq Said. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya tawaran tersebut di terima dan tinggallah beliau mengajar untuk beberapa lama di Pringgabaya.
Setelah tinggal di Pringgabaya, Datoq Said kemudian menetap di Ampenan. Saat itu ada rencana dari pihak Belanda untuk mengeluarkan kebijakan pendirian sekolah-sekolah di Lombok. Pada saat yang tidak jauh berbeda, pada suatu waktu, keluarga menak Mantang Batukliang yang menjadi penguasa wilayah saat itu bertemu dengan keluarga menak yang ada di Pringgabaya. Salah satu pembicaraan adalah mengenai rencana kebijakan Belanda dalam hal pendidikan tersebut. Oleh keluarga menak Pringgabaya, diceritakanlah seorang bernama Haji Muhammad Said yang sekarang berada di Ampenan dalam hal kecerdasan dan keluasan ilmu umum/agamanya, serta kepiawaiannya dalam mengajar. Keluarga menak Batukliang sangat tertarik dengan hal tersebut.
Menindaklanjuti informasi dari Pringgabaya, keluarga menak Batukliang berangkat ke Ampenan dan meminta Datoq Said untuk tinggal dan bersedia mengelola sekolah jika rencana kebijakan Belanda benar-benar akan diwujudkan. Demikianlah, perjalanan hidup mengantarkan Datoq Said untuk berlabuh di Mantang. Di Tempat ini beliau mengamalkan keluasan ilmunya, memberikan pemahaman agama kepada masyarakat, dan nantinya akan menjadi pengelola pertama dari lembaga pendidikan pertama yang didirikan di Mantang pada tahun 1912. Datoq Said Meninggal di Mantang pada tahun 1961.
Dengan demikian, dengan keputusan Datoq Said bersedia tinggal dan berkiprah di Mantang, maka dimulai pula perjalanan keluarga besar Banjar di Mantang. Mereka tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Mantang pada masa-masa awal tersebut. Dan selanjutnya, anak turunan Datoq Said terus memberikan kontribusinya dan menjadi bagian penting dari Mantang sampai saat ini.



Komentar
Posting Komentar