Mantang Metropolis: Komunitas Cina
Senen, 03 April 2023 M/ 12 Ramadhan 1444 H
Metropolis terdiri dari dua kata, meter (ibu) dan polis (kota). Secara etimologi metropolis bisa diartikan sebagai kota atau daerah yang terpenting atau menjadi pusat dari kegiatan perdagangan, industri dan pemerintahan. Dengan demikian, dalam arti yang paling sederhana, Mantang bisa dikatakan sebagai metropolis. Yaitu sebagai wilayah pusat untuk kegiatan dari wilayah sekitarnya terutama untuk bidang ekonomi, sosial dan pemerintahan.
Untuk di bagian tengah ke utara sampai lereng Rinjani, memang Mantang menjadi pusat saat itu. Paling tidak ada dua hal yang menjadi pendukung daya tariknya: pertama, Mantang adalah daerah baru. Baru muncul dan ditempati dalam waktu yang tidak terlalu lama. Daerah baru selalu menjadi menarik karena tentunya banyak keperluan wilayah dan daerah yang belum lengkap sehingga akan menjadi peluang banyak orang. Kedua, sebagai pusat pemerintahan. Yaitu pusat wilayah Batukliang yang cukup luas. Sebagai pusat, tentunya Mantang akan menampung banyak orang dengan banyak kepentingan dan keperluan. Ketiga, arus perdagangan pada abad XIX. Pada abad ini jalur perdagangan di, ke dan melalui Lombok sedang mengalami kemajuan sehingga arus kedatangan orang dan keluar masuk barang mengalami peningkatan. Ketiga hal ini adalah paduan seksi dari banyak sudut pandang sehingga tempat-tempat strategis seperti Mantang akan menjadi magnit untuk didatangi oleh orang-orang dari berbagai tempat. Orang-orang tersebut tidak hanya dari sekitar Batukliang dan Lombok, tetapi dari tempat-tempat yang jauh seperti dari Bugis, Sumbawa, Bali, atau bahkan ada yang berasal dari luar negeri.
Dengan daya dukung dari beberapa hal tadi, Mantang baru pun bergeliat. Selain aktifitas pemerintahan yang sudah berjalan sebelumnya, aktifitas sosial ekonomi pun beranjak memperlihatkan tunas kehidupannya. Peluang-peluang di bidang ekonomi dalam skala yang lebih besar diambil oleh mereka yang punya jaringan, modal dan pengalaman lebih sehingga penduduk setempat yang miskin jaringan atau pengalaman sulit untuk mengambilnya. Sejak masa awal Mantang, orang-orang Cina sudah mengambil alih potensi ini. Mereka menyediakan hampir semua kebutuhan dari hal kecil sampai besar, dari kebutuhan harian sampai berkala, dari barang sederhana sampai mewah.
Abad XIX ditandai dengan tumbuhnya Singapura sebagai pusat perdagangan strategis di semenanjung malaka. Singapura berada pada jalur yang mempertemukan timur dan barat sehingga menjadi arena bertemunya barang-barang dari daerah tersebut. Maka jadilah Singapura bukan saja sebagai tempat bertemunya barang dari berbagai tempat, tetapi juga menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai tempat. Pola umum yang digunakan saat itu adalah membeli barang yang dibutuhkan di daerah dan membawa barang-barang di daerah yang laku dijual di Singapura. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya Singapura pada saat itu.
Jauh sebelum Singapura menjadi pusat perdagangan, kawasan Asia Tenggara merupakan sebuah gugusan kawasan yang menjadi jalur hilir mudik antar daerah. Artinya, jalur laut dan darat sudah terbentuk sebelumnya yang digunakan masyarakat untuk memenuhi berbagai keperluannya. Hanya saja, kemunculan Singapura menjadikan kawasan ini menjadi semakin ramai dengan daya penetrasi yang menyentuh wilayah-wilayah semakin jauh ke dalam.
Sederhananya, jalur dan pola yang sudah terbentuk lama tersebut mempermudah arus keluar masuk barang. Dengan kondisi itu, orang-orang Cina, Arab dan berbagai kelompok yang memang sebelumnya melakukan perdagangan mempunyai daya penetrasi lebih selain tekad yang kuat, jaringan yang ada dan modal yang mendukung. Maka eksistensi orang Cina dan Arab bisa ditemukan bahkan di wilayah-wilayah yang belum disentuh banyak orang.
Ilustrasi toko Cina zaman dulu
Arus perdagangan global, regional dan lokal yang ramai mempermudah didapatkan hampir semua jenis barang. Oleh karenanya terjadi arus silang barang, dan juga nantinya dalam kadar tertentu terjadi arus silang budaya, pada jalur yang dituju, dilalui, dan ditempati. Tentu hal ini memperkaya khazanah masing-masing daerah.
Memang tidak banyak toko Cina di Mantang, hanya ada beberapa saja. Namun toko tersebut sudah cukup lengkap menyediakan barang kebutuhan semua lapisan masyarakat. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan mereka di datang, yang jelas tidak lama setelah Mantang ada mereka juga sudah ada. Pada setelah kemerdekaan, tahun 1950-an, ditemukan ada beberapa toko Cina. Toko ini berada di sebelah timur simpang jalan. Untuk di sebelah selatan jalan ada toko Nyonya Yam dan suaminya Lee Huan. Mereka disana bersama dua orang putranya yang bernama Lau Cin Yau dan Lau Cin yan. Nanti, setelah besar, anaknya pindah ke Cakranegara karena kondisi yang dirasa sudah tidak kondusif lagi terutama setelah peristiwa 1965/1966. Di sana mereka berdagang. Beberapa teman kecilnya di Mantang bertemu dengan mereka puluhan tahun kemudian di Cakranegara. Waktu itu, beberapa keluarga Mantang ada yang sudah menetap dan bekerja di Mataram. Mereka lah yang menceritakan kedua putra Nyonya Yam dan Lee Huan tersebut.
Di sebelah utara jalan ada juga sebuah toko. Pemiliknya biasa dipanggil dengan See/Shee. Tidak jauh dari sana ada juga toko dari orang Cina yang bernama Lee Yong. Dua toko ini sama dengan toko seberangnya, menyediakan hampir semua kebutuhan. Jika menggunakan gambaran toko sekarang, mereka merupakan toko kelontong yang menyediakan sembako, tetapi juga sekaligus sejenis supermarket yang menyediakan barang atau alat rumah tangga, pakaian dan kebutuhan lainnya.
Model pembayarannya tidak selalu harus menggunakan uang, bisa juga menggunakan model barter terutama dengan barang-barang yang dianggap laku di tempat lain. Pola ini dianggap saling menguntungkan karena pembeli mendapatkan keinginannya dan penjual memperoleh barang yang bisa dijual kembali. Barang-barang yang dibutuhkan tidak selalu ada, bisa dipesan dan dalam jangka waktu tertentu baru barang tersebut ada. Barang yang dipesan kriterianya hampir tidak terbatas karena nanti akan dipesankan atau dicari pada pasar yang lebih besar. Nanti akan terlihat bahwa dengan ramainya arus perdagangan waktu itu, ada orang-orang yang berdagang dengan waktu yang sangat fleksibel di tempat yang sangat beragam. Keberadaan mereka ditentukan oleh kondisi barang dan keperluan mereka.
Selain nama-nama Cina tersebut di atas, ada juga nama Ciq Ajik. Tidak diketahui nama aslinya, hanya demikianlah dia dikenal dan disebut oleh beberapa generasi setelahnya. Keluarga sering menyebutnya demikian karena dua hal. Pertama, Ciq Ajik, menurut cerita yang ada, berjasa besar dalam membangun masjid Mantang dan beberapa bangunan yang ada di Pedaleman. Cerita ini didapatkan dari generasi-generasi pertama Mantang yang pada dekade kedua abad XIX masih berumur belasan tahun, bahkan ada yang ikut bekerja mengangkut pasir pada saat awal pembangunan masjid.
Anak turunan Ciq Ajik masih ada sampai sekarang. Dan bahkan sejarah pun berulang kembali, yakni dalam pembangunan kembali masjid Mantang yang ke 4 atau 5 dan sekarang masih dalam proses pengerjaan, salah satu anak turunan Ciq Ajik berperan besar karena dia sebagai ketua pembangunan masjid. Sedangkan pemilik toko atau anak turunannya seperti Lee Huan, Lee Yuong dan lain-lain memilih berpindah ke lokasi lain terutama setelah peristiwa Gestapu pada pertengahan 1960-an. Saat itu muncul kebencian terhadap orang Cina karena identik dengan sosialisme/komunisme yang menjadi dalang peritiwa Gestapu. Ciq Ajik sendiri berada dalam posisi aman karena selain dekat dengan penduduk setempat, ia dan keluarganya sudah memeluk Islam.



Komentar
Posting Komentar