Kompleks-Kompleks Makam Leluhur
Rabu, 19 April 2023 M/ 28 Ramadhan 1444 H
Nisan merupakan sebuah tanda. Tanda bahwa ada orang yang meninggal dan dikuburkan di tempat tersebut. Selain itu, nisan juga merupakan sebuah tanda yang memberikan informasi banyak hal kepada yang masih hidup. Pertama, nisan selayaknya menjadi penanda bahwa semua orang yang masih hidup dan diberikan kesempatan untuk bernafas juga akan mendapatkan giliran seperti mereka yang berada di bawah nisan tersebut.
Kedua, nisan juga memberikan sinyal tentang mereka yang sudah mendahului agar tetap diingat baik dengan cara mengirimkan doa dan menjaga serta memelihara tempat mereka dimakamkan. Semakin erat hubungan yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, seharusnya semakin kuat pula dorongan dan ikatan untuk mendoakan dan memelihara makamnya. Jika hubungan tersebut adalah hubungan spritual baik itu agama atau kelimuan maka kemampuan dan kesadaran kita tak akan ada tanpa kehadiran mereka. Dan jika hubungan tersebut adalah hubungan darah, maka eksistensi kita hari ini oleh karena eksistensi mereka sebelumnya.
Ketiga, nisan menceritakan kehidupan mereka yang dimakamkan di tempat tersebut, baik sebagai individu atau kolektif. Nisan menunjukkan pernah adanya kehidupan di dekat, di sekitar atau sebuah tempat. Nisan juga bisa memperlihatkan pola atau tingkat keberagaman, status, tingkat kehidupan dan lain sebagainya dari mereka yang telah dimakamkan. Oleh karena itu, dikatakan juga bahwa nisan bukan sekedar catatan sejarah tetapi juga merupakan sebuah laporan status dan dapat memperlihatkan perkembangan sebuah komunitas tertentu.
Dengan dasar tiga hal tersebut, sesederhana apapun sebuah makam seharusnya memunculkan kesadaran untuk tetap mengingat dan memeliharanya dengan baik. Memang bahwa semakin sederhana sebuah nisan semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ragam sebuah makam semakin banyak ia berbicara. Itu sebabnya, bangunan makam dengan segala perniknya akan memberikan informasi lebih banyak dibandingkan sebuah makam tanpa bangunan atau hiasan.
Jika makam tersebut bukanlah sebuah bangunan, nisannya yang akan berbicara, tempatnya yang akan memberikan informasi, susunannya yang menunjukkan suatu hal, atau kompleksnya yang menginformasikan sesuatu. Yang jelas bahwa ia tidak sepi dari pelajaran untuk kita yang masih hidup sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi dan memeliharanya.
Bagi keluarga besar Mantang Batukliang yang mempunyai satu trah keturunan, makam atau kompleks makam bukan hal biasa. Mereka yang telah berlalu eranya, mereka yang telah mendahului, mereka yang meninggalkan banyak informasi yang jelas dan samar, adalah nenek moyang yang diberikan kesempatan untuk berada pada satu tempat dengan sanak saudara terdekat bahkan setelah mereka meninggal. Mereka secara gamblang meninggalkan pesan nyata agar anak cucunya selalu akur, selalu bersilaturahmi dan berkomunikasi, serta selalu mengingat bahwa kematian hanya persoalan waktu, dengan cara mengunjungi dan seharusnya juga memeliharanya.
Itulah alasan sederhana mengapa keluarga besar Mantang perlu untuk terus mengingat nenek moyangnya. Dalam perjalanan kehidupan, para nenek moyang tersebut meninggalkan harta benda dan status sosial, dan untuk nilai yang tak terhingga mereka meninggalkan adab dan nilai budaya berupa tingkah laku, bahasa dan kesantunan yang masih harus terus dikaji, dikembangkan dan dilestarikan bagi generasi-generasi selanjutnya.
Selain itu, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, nisan-nisan dan kompleks makam yang ada juga meninggalkan informasi yang tidak sedikit. Walaupun memang masih miskin informasi mengenai hal tersebut tetapi jelas terlihat bahwa tanda yang ada bukanlah tanpa nilai dan informasi. Harapannya, semoga generasi nanti bisa mempelajari dan memberikan informasi yang lebih rigid dari peninggalan-peninggalan nisan tersebut.
Contoh Ragam Hias Nisan Makam Panti
Nenek moyang keluarga besar Mantang paling tidak berada pada empat kompleks makam. Pertama, kompleks makam Panti yang konon dulu dikenal dengan makam Bunut Telu. Di tempat ini dimakamkan generasi pertama setelah Arya Banjar Getas, yaitu generasi Raden Ronton dan Raden Juruh beserta beberapa generasi setelahnya. Tidak jauh dari makam ini diperkirakan merupakan tempat pemukiman baru yang diinisiasi oleh Raden Juruh setelah pembagian oleh ayahandanya, yaitu mendapatkan wilayah di bagian utara sampai lereng Rinjani. Pada sebelah barat dari kompleks makam merupakan makam dari nenek moyang yang menurunkan Pedaleman Puyung. Maklum saja bahwa nantinya Raden Juruh menurukan juga keluarga yang kini bertempat tinggal di Pedaleman Puyung.
Contoh Ragam Hias Nisan Makam Genteng Tunjang
Kedua, bergerak terus ke utara, terdapat sebuah gundukan kecil di wilayah Genteng Tunjang. Di kelilingi persawahan, luas makam itu memang tidak terlalu luas. Di sini dimakamkan Raden Sabit, Raden Babit, Raden Ayot dan Raden Gilian serta beberapa lainnya dari anggota keluarga lainnya. Raden Sabit dan Raden babit menurunkan keluarga besar Mantang, sedangkan Raden Ayot dan Raden Gilian menurunkan keluarga Pesinggrahan.
Contoh Ragam Hias Nisan Makam Montong Batu
Ketiga, terus lagi lebih ke utara tepatnya pada arah timur laut dari kompleks makam Genteng Tunjang, terdapat kompleks makam Montong Batu. Ini merupakan kompleks makam turunan Raden Sabit dan Raden Babit ketika bermukim di Peresak Batukliang. Beberapa generasi dar turunan ini bermukim hampir seratus tahun disana. Paling tidak ada tiga kompleks makam di makam Montong Batu, kompleks paling selatan, tengah dan paling utara. Makam keluarga ada pada kompleks paling selatan dan kompleks tengah, sementara yang paling utara adalah masyarakat umum, dan sejak beberapa puluh tahun silam kembali dijadikan makam umum oleh masyarakat sekitar. Era tiga bersaudara, Raden Pakah, Raden Lage, dan Raden Egum, merupakan awal mula kompleks makam ini. Dua yang pertama, Raden Pakah dan Raden Lage, dimakamkan di Montong Batu, sementara Raden Egum dimakamkan di Gubuk Makam Lantan.
Keempat, kompleks makam di Mantang. Di sebelah timur dari simpang jalan terdapat sebuah gunungan atau bukit, dulu dikenal dengan nama gunung Mantang. Itulah tempat yang dijadikan sebagai pemakaman umum kini oleh masyarakat Mantang. Tempat ini dijadikan sebagai pemakaman dimulai sejak rombongan Mamiq Ginawang menempati daerah ini sebagai pilihan terakhir untuk bertempat tinggal. Dari generasi beliau ke bawah, sampai sekarang, dimakamkan di tempat ini. Tidak ada pembeda dengan masyarakat lainnya dalam pemakaman, hanya saja keluarga besar menempati bagian atas dari bukit tersebut untuk dimakamkan, sedangkan yang lainnya berada di bawah sekitarnya.
Pada tiga kompleks makam, yaitu kompleks makam Panti, Genteng Tunjang dan Montong Batu, nisan-nisan yang terdapat di tempat tersebut sudah cukup berumur. Maklum saja karena era beliau-beliau tersebut sudah ratusan tahun dari sekarang. Dalam sejarahnya, nisan memang hanyalah penanda akan adanya orang yang meninggal, namun pada penanda tersebut kemudian diberikan sentuhan ragam hias atau ornamen. Elemen tersebut memang sengaja dihadirkan untuk memperindah ruang kosong pada sebuah nisan yang kemudian menjadi karya seni artifisial yang menarik dan indah.
Menurut para ahli, nisan di Indonesia dipengaruhi oleh dua wilayah besar, yaitu Jawa dan Melayu. Nanti pada masa Islam terjadi percampuran kaligrafi dengan unsur lokal yang terlihat pada ragam hias floralistik. Nisan-nisan di tiga kompleks makam di atas banyak yang menggunakan ragam hias floralistik dan pola geometri yang tentunya bisa memberikan informasi secara keilmuan.
Bagi generasi sekarang dan nanti kompleks makam tersebut merupakan sebuah pekerjaan rumah yang besar. Pekerjaan rumah itu berupa mengkaji kembali berbagai nilai peninggalan para leluhur, mengkaji kompleks-kompleks pemakaman tersebut secara keilmuan, memelihara dan menceritakan kembali berbagai peninggalan dan perjalanan hidup para pendahulu untuk menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya, dan yang terakhir, menyambangi secara berkala kompleks makam tersebut untuk mengingat para pendahulu dan mengingat juga perjalanan akhir kita sendiri.









Komentar
Posting Komentar