Kerajaan Benua Batukliang

 Sabtu, 15 April 2023 M/ 24 Ramadhan 1444 H

Menurut sebuah riwayat, raja Selaparang mempunyai seorang putera yang digadang akan menggantikannya sebagai raja. Sebagaimana tradisi masa itu, sang calon raja harus digembleng untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang luas sebagai bekalnya dalam memerintah kelak. Maka dikirimlah sang putera raja ke kerajaan Benua. Kerajaan Benua terkenal dengan rajanya yang berwawasan luas dan penuh kebijaksanaan sehingga banyak dari anggota kerajaan lain mengirim anggota keluarganya belajar ke kerajaan Benua.

Sebelum berangkat, sang raja berpesan agar puteranya tidak mengaku sebagai putera raja namun sebagai rakyat biasa. Demikianlah, putera raja tersebut belajar di Benua dengan pekerjaan sehari-harinya sebagai perawat kuda (pekatik jaran). Tahun demi tahun berlalu, dan oleh karena kondisi kerajaan sang raja memerintahkan untuk menjemput puteranya untuk segera menggantikannya sebagai raja. Singkat cerita, para utusan raja memberitahukan maksud kedatangannya kepada raja Benua yang membuat sang raja  terkejut. Lebih-lebih lagi setelah mengetahui ternyata sang perawat kuda adalah seorang putera mahkota kerajaan Selaparang. Dengan segala hormat sang putera raja dilepas kepulangannya ke Selaparang.

Makam Datu Benua (tampak dalam)

Begitulah secuplik cerita mengenai kebijaksanaan dan wawasan sang raja Benua. Wilayah Kerajaan Benua berada di wilayah Batukliang dan Batukliang Utara sekarang, sebuah kerajaan kecil di bawah lereng Rinjani. Secara silsiah konon kerajaan ini terhubung dengan hampir semua kerajaan-kerajaan di Lombok yang sebenarnya berasal dari satu trah sehingga komunikasi dan interaksi antar kerajaan terus terjalin sebagaimana cerita di awal tadi.

Adapun yang dikenal sebagai Datu Benua atau dalam silsilah dikenal juga sebagai Dewa Betara Benua Mantang adalah generasi setelah kerajaan tersebut resmi memeluk Islam bersama rakyat semuanya. Diceritakan bahwa Sayyid Abdurrahman seorang mubalig dari tanah Arab yang melakukan dakwah Islam ke kerajaan Benua. Setelah kerajaan tersebut menerima Islam, sang Sayyid diangkat menjadi penghulu kerajaan sampai beliau meninggal di Benua. Makam beliau ada di pojok barat daya di kompleks makam Datu Benua di Dasan Lekong, desa Selebung kecamatan Batukliang Utara.

Datu Benua mempunyai 8 orang putra dan 1 orang putri. Putri beliau inilah yang lebih dikenal dengan Dende Benua, seorang putri yang dikenal kecantikannya dan rambutnya yang sangat panjang. Menurut cerita turun temurun, Dende Benua mempunyai rambut yang harus dipikul oleh puluhan orang dan menghabiskan 40 buah kelapa untuk mengkeramasinya. Setiap dikeramasi maka rambut sang putri akan dijemur di atas tanaman merambat yang sampai sekarang masih banyak dijumpai di sekitar sumur (lengkoq Benue). Lengkoq Benua adalah sebuah sumur kecil yang dipercayai masih bertuah terutama untuk melancarkan hajat atau untuk kesuksesan menuntut ilmu.

Makam Datu Benua (tampak luar)

Pada masa dakwahnya Sayyid Abdurrahman, ada sekelompok tetua kerajaan yang enggan menerima Islam. Mereka dengan anggota keluarganya lalu melarikan diri dan bertempat tinggal di Tebangoq Lombok Utara. Mereka sampai kini masih mempertahankan tradisi dan kepercayaan tersebut.

Pada masa keruntuhannya, banyak dari patih dan prajurit yang menyebar ke Mesoran, Lendang Are, Kemaliq Pakem dan Kubur Leduk, selain juga tinggal di sekitar wilayah yang diperkirakan sebagai lokasi kerajaan, yaitu di sekitar kompleks makam Datu Benue di Dasan Lekong. Sedangkan keluarga kerajaan ada yang ke Bungkaung Lombok bagian barat, Lendang Are, Lenek Lombok Timur, Puyung, Mertaq Wareng. Sebagian lagi menetap di wilayah yang kini menjadi desa Mantang.

Pada masa Congah Praya melawan penguasa Bali, salah satu keturunan kerajaan Benua yaitu Mamiq Dikawat ikut aktif dalam peperangan tersebut dan menjadi pemimpin pasukan dari Batukliang. Sedangkan cucu belau, Haji Lalu Usman merupakan mantan kepala distrik Batukliang yang juga aktif dalam penyebaran syiar Islam karena beliau, sebelum menjadi kepala distrik, menuntut ilmu ke Mekkah. Beliau dengan saudaranya Hajah Baiq Salmah merupakan dua orang keturunan kerajaan Benua yang tersisa di Mantang. Anak turunan merekalah yang meneruskan jejak kiprah nenek moyangnya pada masa sekarang di Batukliang, tempat dimana kerajaan Benua berada.


Komentar

Postingan Populer