Kampung di Mantang dan Cerita di Baliknya
Minggu, 02 April 2023 M/ 11 Ramadhan 1444 H
Simpang empat Mantang menjadi semacam lokus bagi daerah sekitar. Di sekitar persimpangan ini berkumpul titik pusat bagi kegiatan agama, ekonomi dan pemerintahan pada wilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, tempat ini identik dengan Mantang. Belum disebut ke Mantang jika belum berada di sekitar persimpangan. Pada skala yang lebih luas, Mantang menjadi identitas bagi daerah-daerah yang sekitar wilayah tersebut.
Fenomena ini masih berlangsung sampai hari ini. Bagi orang-orang yang dirantau atau berada di luar mendapatkan pertanyaan mengenai asal, seringkali menyebut Mantang untuk menyebut asal mereka walaupun pada faktanya mereka berasal dari daerah yang jauh dari Mantang. Hal ini terjadi karena Mantang sebagai identitas dan lebih mudah dikenali. Dan pada skala yang lebih kecil pun demikian, jika Mantang menjadi identitas bagi wilayah sekitarnya, maka simpang jalan di Mantang menjadi identitas bagi Mantang itu sendiri. Itu sebabnya, jika ke pergi ke Mantang maka itu berarti akan pergi ke simpang jalan itu. Hal ini bahkan berlaku bagi mereka yang tinggal tidak jauh dari Mantang, kecuali bagi warga yang tinggal di sekitar simpang jalan tersebut.
Warga yang tinggal di sekitar simpang ini terbagi menjadi menjadi beberapa kampung atau dusun. Untuk rombongan Mamiq Ginawang yang memindahkan Batukliang ke Mantang terkonsentrasi pada tiga titik. Pertama, di wilayah yang kini menjadi Mantang I. Mantang I adalah Pedaleman, pusat pemerintahan pada masa kedistrikan. Pedaleman kini menjadi konsentrasi tempat tinggal dari anak turunan Raden Pakah. Sebagai gambaran, oleh karena simpang jalan Mantang membentang dari timur-barat dan selatan-utara, posisi Pedaleman berada di sudut arah barat daya. Penyebutan Mantang I sebenarnya lebih sebagai nama secara administrasi saja karena pada faktanya, wilayah tersebut tetap saja disebut sebagai Pedaleman. Selain itu Pedaleman, yang termasuk Mantang I adalah Taman dan Batu Malang. Taman sebelumnya adalah sedikit taman dan susunan kolam yang kini menjadi pemukiman dengan tetap bernama Taman. Tempat ini berbatasan dengan Pedaleman di sebelah selatan. Untuk sebelah tenggara, Pedaleman berbatasan langsung dengan Batu Malang. Pemukiman ini tidak jauh beda usianya dengan Pedaleman karena penghuninya dulunya bekerja di Pedaleman untuk kesehariannya, baik itu untuk penjaga, bersih-bersih atau untuk membantu kegiatan-kegiatan lainnya.
Pohon rajumas
Kedua, Mantang II. Nama kampung ini adalah Rajumas. Disebut demikian karena, menurut cerita, dulunya tempat tersebut banyak pohon rajumas. Pohon rajumas (duabanga moluccana) merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh dan banyak manfaat baik dari sisi ekonomi, ekologi atau bahkan baik sebagai tanaman konservasi. Pohon rajumas di Jawa dikenal dengan pohon ‘takir’, atau ‘taker’ di Madura. Rajumas ditempati oleh anak turunan dari Raden Lage. Posisinya ada di sudut arah timur laut pada simpang jalan Mantang.
Ketiga, Mantang III. Mantang III terdiri beberapa kampung, yaitu Dayen Masjid, Gunung, Tempo dan Pademare. Di Mantang III, yaitu pada kampung Gunung dan Tempo, merupakan konsentrasi dari anak turunan Raden Egum. Sedangkan di Dayen Masjid lebih bersifat campuran dari anak turunan Raden Pakah atau Raden Lage. Mengenai hal ini, Mantang III memang lebih bersifat heterogen. Kalau di Pedaleman dan Rajumas memang juga ada dari anak turunan keluarga yang lain tetapi secara jumlah tidak seberapa. Sementara di Dayen Masjid, selain anak turunan Raden Pakah dan Raden Lage, ada juga dari keluarga Panti dan sebagainya, dan bahkan di kampung Pademara itu dihuni oleh warga yang bukan turunan keluarga. Mantang III berada di utara masjid Mantang, sementara masjid letaknya tepat di sudut arah barat laut dari simpang jalan.
Itulah tiga titik dari anak turunan rombongan Mamiq Ginawang yang kini berada di Mantang. Selain tiga titik itu ada juga beberapa kampung lainnya. Berikut beberapa penjelasan mengenai hal tersebut.
Di samping barat dari Mantang I, ada kampung Gubuk Baru (kampung baru). Kampung ini muncul pada masa belakangan dibandingkan dengan kampung-kampung lainnya, itulah sebabnya disebut sebagai Gubuk Baru. Kampung ini menempati wilayah eks alun-alun. Penamaan seperti itu merupakan hal yang biasa dilakukan di Lombok, yaitu memberikan nama dengan cara sederhana walaupun dengan istilah yang berbeda-beda. Ada tempat bernama Jerowaru. ‘Jero’ itu penyebutan lain untuk sebuah kampung, sedangkan ‘waru’ berarti baru, jadi Jerowaru itu berarti kampung baru, sama dengan Gubuk Baru. Ada tempat namanya Aiq Bukaq, ‘aiq’ artinya air, ‘bukaq’ artinya terbuka. Dinamakan demikian karena Aiq Bukaq penuh dengan mata air dan kaya dengan air. Adalagi tempat bernama ‘Gunung Amuk’, karena dulu di wilayah yang berada di dataran tinggi itu tempat orang berkelahi atau berkonflik. Dan begitu seterusnya.
Pada sudut tenggara dari simpang jalan Mantang terdapat beberapa kampung. Kampung yang langsung berada di sudut tersebut adalah kampung Ceret. Sama seperti bahasa Indonesia, ceret dalam bahasa Sasak juga berarti sejenis poci yang biasanya terbuat dari logam atau tanah liat yang digunakan untuk mendidihkan dan/atau menyajikan air. Nama kampung ini memang terkait dengan perabot tersebut karena dulunya warga di tempat ini seringkali memegang atau membawa ceret, terutama jika terkait dengan aktifitas yang berada di Pedaleman. Antara Pedaleman dan Ceret hanya dipisahkan oleh jalan di simpang jalan yang menuju arah selatan.
Selatan Ceret, dipisahkan oleh jalan kecil, terdapat kampung Banjar Metu. Kampung ini mayoritas warga Hindu. Secara istilah, Banjar Metu berarti ‘kelompok’ yang keluar. Oleh karena nama ini muncul tidak terlalu, belum ditelusuri asal mula penamaan tersebut. Apakah hal tersebut dengan warga di Banar Metu merupakan warga yang terdiri dari banjar-bajar asalnya yang kemudian keluar dan membentuk kampung di tempat tersebut, belum diketahui secara pasti. Hanya saja, kampung ini sebelum itu lebih dikenal dengan nama Gubuk Embung (gubuk: kampung, embung: waduk). Disebut demikian karena daerah tersebut sebelum ditempati merupakan sebuah waduk dengan tanah rawa.
Sementara itu, untuk di sebelah timur Ceret terdapat kampung Jantuk. Tidak ada batas yang jelas antara Ceret dan Jantuk selain dengan deretan rumah yang sudah diketahui secara turun temurun. Jantuk merupakan pengambilan dari nama daerah asalnya, tidak diketahui secara pasti arti dari kata tersebut. Pola penamaan dengan menggunakan nama asal seperti ini juga lazim digunakan di Lombok. Nama Kembang Kerang di barat Mantang misalnya, nama tersebut terkait dengan asal muasal warganya yang banyak berasal dari Kembang Kerang di Lombok Timur atau Sumbawa. Begitu juga dengan Jantuk, yaitu mengambil nama daerah asalnya dari Jantuk di Lombok Timur dan Sumbawa. Sampai sekarang bahasa yang digunakan juga berbeda dengan bahasa Sasak pada umumnya karena bahasa yang digunakan lebih cenderung ke bahasa Sumbawa.
Bergerak ke sebelah utara. Utara dari kampung Rajumas adalah kampung Kabar. Sama dengan Jantuk, Kabar juga mengadopsi dana daerah asalnya Kabar Lombok Timur. Kedatangan mereka ke Mantang terkait dengan adanya perkawinan keluarga Mantang, Lalu Masud, dengan keluarga dari keluarga menak Sakra di Lombok Timur. Pada masa itu, perkawinan seperti itu selalu diiringi dengan membawa sejumlah orang dari tempat pihak perempuan untuk membantu memenuhi berbagai keperluan di tempatnya yang baru. Konon, menurut cerita turun temurun, sejumlah orang yang ikut dari Sakra tersebut berasal dari Kabar-Sakre. Ketika mereka menempati utara Rajumas, maka dinamakanlah tempat tersebut dengan nama Kabar. Sampai sekarang, pada beberapa kasus orang, ada yang masih tersambung dengan keluarga yang ada di Lombok Timur.
Terakhir, daerah barat masjid. Tepat di depan masjid adalah makam dari Mamiq Ginawang, salah satu istri beliau dan beberapa makam keluarga lainnya. Di depan kompleks makam ini ada beberapa rumah keluarga yang masih ada sampai sekarang. Setelah itu, di baratnya lagi ada kampung Seganteng. Sama seperti Jantuk dan Kabar, Seganteng mengambil nama dari daerah asalnya, yaitu Seganteng di Lombok Barat.
Beberapa ratus meter dari kampung Seganteng, terdapat kampung Sengkol. Pola penamaan Sengkol mirip dengan Kabar, hanya saja waktunya yang jaraknya cukup jauh. Menurut cerita turun temurun, Sengkol diambil dari nama Sengkol di Lombok bagian selatan. Konon, Raden Egum akan menikahi salah satu putri bangsawan dari Sengkol. Ketika pernikahan itu terjadi maka mereka yang ikut pada rombongan yang mengikuti putri bangsawan tersebut diberikan tempat di Sengkol sekarang, bahkan sebuah dataran tinggi seperti bukit di daerah tersebut disebut dengan nama gunung Sengkol.
Sekarang Sengkol tidak lagi masuk wilayah Mantang. Hal ini terkait dengan standar batas wilayah yang diberikan pemerintah. Dulu, tugu batas Mantang berada persis berada di barat Sengkol. Namun sejarah selalu menyisakan bukti walaupun tidak selalu sejelas mata memandang. Walaupun Sengkol sudah tidak lagi menjadi wilayah Mantang, tetap saja sampai sekarang disebut sebagai Sengkol Mantang. Kelak, beberapa generasi berikutnya mungkin sudah tidak akan menyebutnya demikian. Dan jika tidak dituliskan dan diceritakan maka akan menguap begitu saja dari perjalanan sejarah.
Demikian sedikit gambaran mengenai awal mula beberapa kampung yang berada di sekitar simpang jalan Mantang. Waktu terus berjalan dan kondisi terus berubah. Pada tiga titik yang merupakan turunan dari rombongan Mamiq Ginawang terjadi banyak perubahan, namun secara geografis warga yang menempatinya tidak ada perubahan signifikan. Tiga titik tersebut masih ditempati oleh mayoritas keturunan keluarga awal.
Di kampung-kampung lain juga mengalami perubahan. Secara geografis tempat-tempat ini lebih terbuka pada pendatang dari wilayah lain, sehingga kini juga ditempati oleh mereka yang tidak ada hubungannya dengan sejarah asal muasal nama kampung tersebut. Semua proses ini membentuk Mantang kini, dan semuanya adalah orang Mantang.



Komentar
Posting Komentar