Ilang Masjid Pelopor Mantang

 Sabtu, 01 April 2023 M/ 10 Ramadhan 1444 H

Titik balik bersatunya pemimpin-pemimpin Sasak melawan penguasa Bali merupakan sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Lombok. Peristiwa ini menandai sebuah kebersamaan yang menjadi kerinduan panjang masyarakat Lombok sejak lama. Bagaimanapun, harus diakui bahwa 100-an tahun sebelumnya masing-masing wilayah berjalan sendiri-sendiri dengan berbagai kepentingan yang justru terkadang bertolak belakang satu sama lainnya. Persoalan kesejarahan dan kepentingan kelompok mengalahkan sebuah kekuatan yang seharusnya justru akan membawa ke tatanan yang lebih baik. Persoalan sejarah perlu ditelisik dan diuji kebenarannya tetapi tidak untuk menjadikan kekinian manusia lebih buruk dan terperosok dalam konflik tak berkesudahan. Kepentingan kelompok pun demikian, kelompok-kelompok yang ada harus dimajukan dan disejahterakan tetapi dengan menginjak dan merendahkan kelompok yang lain.

Ketika Congah Praya yang didengungkan Guru Bangkol dan tokoh-tokoh Praya lainya, kondisi masyarakat masih terpecah dalam kelompok-kelompok. Inilah yang mengakibatkan jatuhnya korban dengan terbunuhnya beberapa tokoh Sasak akibat adanya propaganda penguasa Bali. Raden Buru atau Ilang Cakra beserta putranya Lalu Diwaje dari Batukliang menjadi salah satu korban dari kondisi tersebut.

Lalu terjadilah peristiwa titik balik tersebut. Tokoh-tokoh Sasak berkumpul, bertemu menyatukan sila berbicara menyamakan sikap. Bersama mengangkat senjata melawan penguasa Bali. Terjadilah beberapa kali pertemuan sampai akhirnya menyepakati tokoh-toko dari Praya, Batukliang, Kopang, Masbagik, Rarang, dan Pringgabaya menjadi pemimpin peperangan.

Batukliang, setelah meninggalnya Raden Buru dan putranya Lalu Diwaje, digantikan oleh Mamiq Ginawang. Raden Buru mempunyai empat orang putra putri. Putranya adalah Lalu Diwaje dan Mamiq Ginawang, sedangkan yang putri adalah Baiq Setrasih atau Mamiq Kertasih Bini, menikah ke Pesinggrahan; dan Baiq Setraji atau Jero Gunung, menikah ke Pedaleman Kopang. Jadi setelah Lalu Diwaje tidak ada, maka tidak ada pilihan dari Mamiq Ginawang selain harus mengambil kepemimpinan yang ditinggalkan oleh ayahanda dan saudara tertuanya.

Mamiq Ginawang memimpin Batukliang sejak tahun 1891, yakni saat kondisi global Lombok sedang bersitegang dengan penguasa Bali. Pada saat seperti itu, masyarakat sangat membutuhkan pemimpin agar penyikapan terhadap setiap perkembangan menjadi jelas dan terarah. Pemimpin tidak harus sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna. Pemimpin dengan berbagai kekurangannya harus didukung, karena dengan dukungan itu pemerintahan akan menjadi kuat. Mamiq Ginawang naik menjadi pemimpin dengan didukung oleh semua pihak. Tokoh-tokoh Batukliang yang lain mendukung dan siap menjalankan apapun perintah pemimpin. Begitu pun sebaliknya, Mamiq Ginawang mendengarkan dan menghargai berbagai aspirasi dan keinginan masyarakat.

Pada saat itu, propaganda penguasa Bali masih tetap berjalan. Pada awal-awal kepemimpinannya Mamiq Ginawang juga mendapatkan hal tersebut dan diminta untuk ikut menghadiri pertemuan dengan penguasa Bali di Cakranegara. Tokoh-tokoh Batukliang mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk meminta agar Mamiq Ginawang tidak melayani hal tersebut. Mamiq Ginawang menurut apalagi peristiwa ayahanda dan saudara tertuanya belum sepenuhnya hilang dari ingatan beliau. Lalu untuk mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan maka diutus Haji Muse untuk berjaga jika ada kabar mengenai kedatangan penguasa Bali. Tempat berjaga Haji Muse ini berada di timur pekuburan Mantang yang sekarang. Suatu hari, pada saat berjaga Haji Muse bertemu dengan utusan penguasa Bali yang akan meminta Mamiq Ginawang ke Cakranegara. Utusan tersebut kemudian dibunuh oleh Haji Muse dan mayatnya dibiarkan terlentang di tengah jalan. Menurut sebuah versi, inilah awal mulanya disebut sebagai Mantang. Yaitu mayit tersebut terlentang (bahasa Sasak: mentang) di tengah jalan, dan tempat berjaga Haji Muse tersebut disebut dengan nama Tenten (tempat menunggu). Tenten masih menjadi nama kampung di timur pekuburan Mantang sampai sekarang.

Ilang Masjid dan Mamiq Dikawat
Pemimpin perang dan pemimpin pasukan Batukliang

Tahun-tahun pertama kepemimpinan Mamiq Ginawang disibukkan dengan memimpin peperangan bersama pemimpin yang lain. Sesuai kesepakatan, masing-masing pasukan akan bergabung dengan pasukan dari wilayah lain untuk menyerang penguasa Bali. Pasukan Batukliang bergabung dengan pasukan Kopang, Rarang dan Masbagik menyerang perbatasan di wilayah Pringgarata dan Sintung. Pemimpin pasukan Batukliang adalah Mamiq Dikawat, ipar dari Mamiq Ginawang. Mamiq Dikawat menikahi salah satu dari putri Lalu Karim. Mamiq Dikawat ini merupakan kakek dari Haji Lalu Usman, mantan asisten distrik Pringgarata dan mantan kepala distrik Batukliang.

Selain itu, Mamiq Ginawang juga disibukkan untuk tetap selalu berkoordinasi dan berkonsolidasi dengan pemimpin-pepimpin perang lainnya, dan tentunya juga dengan panglima perang saat itu yaitu Tuan Guru Haji Ali Batu. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Mamiq Ginawang, ada beberapa hal yang menarik dari diangkatnya Tuan Guru Haji Ali Batu menjadi panglima perang dalam Congah Praya. Pertama, peran penting tokoh agama. saat itu Tuan Guru Ali Batu mempunyai peran penting mengikat hubungan antar pemimpin Lombok yang sebelumnya cenderung berjalan sendiri-sendiri. Akhir abad XIX di Lombok merupakan awal dari kemunculan tuan guru (tokoh agama) mendapatkan panggung dalam konteks tatanan masyarakat. Artinya, tuan guru mulai menjadi status sosial yang diperhitungkan karena semakin mendapatkan peran besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini terutama terkait dengan pesatnya perkembangan tarekat di masyarakat Lombok. Pada masa selanjutnya, peran tuan guru bahkan melampaui peran para bangsawan yang masa sebelumnya merupakan golongan masyarakat dengan sederet hak istimewa. Peran tuan guru semakin menguat seiring dengan meredupnya peran bangsawan di tengah-tengah masyarakat.

Tuan Guru Haji Ali Batu menjadi penghubung dan pengikat dari para tokoh-tokoh Sasak sehingga berbagai kendala yang selama ini menjadi aral antar tokoh bisa dihilangkan. Selain itu, hubungan mereka bukan sekedar sebagai tokoh agama atau hubungan pemimpin perang dan panglima. Mamiq Ginawang misalnya, Tuan Guru Haji Ali Batu merupakan mursyid beliau dalam tarekat. dan kemungkinan juga begitu dengan tokoh yang lain.

Kedua, munculnya fanatisme agama. perang melawan penguasa Bali digaungkan sebagai perang melawan kafir. Jadi, itu merupakan sebuah perang jihad fi sabilillah, atau dikenal dengan perang sabil. Imbalan dari perang sabil adalah syurga. Sejak awal hal tersebut telah digaungkan, dan ini mencapai puncaknya ketika sang panglima perang meninggal dunia. Diceritakan, Tuan Guru Haji Ali Batu berperang di garda depan memimpin pasukan. Beliau tidak mempan dengan berbagai senjata, bahkan tidak mempan ditembak. Namun pada sebuah kesempatan, beliau dibombardir dengan tembakan dan terjatuh dari kudanya. Posisi terjatuh inilah yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Jenazah beliau diangkat ke atas kuda, dan kuda yang sudah jinak tersebut membawa jenazah beliau menuju Sakra, tempat tinggal beliau. Pada sepanjang perjalanan, di titik keramaian dan titik pusat pemerintahan, rakyat menyaksikan jenazah beliau. Berita ini menyebar ke seantero Lombok dan menyulut semangat rakyat untuk berperang semakin besar.

ketiga, pola keberagamaan masyarakat Lombok. Peran tokoh agama dan fanatisme agama merupakan simpul dari peristiwa titik balik bersatunya Sasak. Hal ini menunjukkan bahwa di atas berbagai perbedaan, gejolak dan gesekan kepentingan, agama menjadi penyatu masyarakat Sasak. Pola yang menjadikan agama di atas segalanya merupakan sebuah potensi besar bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan di masa-masa yang akan datang.

Kembali ke Mamiq Ginawang. Dari beberapa konsolidasi dilakukan dengan pemimpin-pemimpin Sasak, salah satu keputusan yang penting adalah mengirim surat ke pihak Belanda di Singaraja. Keputusan ini diambil setelah perdebatan sengit, dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya disimpulkan untuk melakukan hal tersebut. Surat tersebut ditandatangani oleh Jero Mustiaji (Kopang), Mamiq Bangkol (Praya), Mamiq Nursasih (Sakra), Mamiq Ginawang (Batukliang), Raden Ratmawe (Rarang), Mamiq Wiranom (Pringgabaya) dan Raden Melaya Kusuma (Masbagik). Surat tersebut ditulis di rumah Mamiq Mustiaji Kopang.

Sebagai tindak lanjut dari surat yang dilayangkan tersebut, Mamiq Ginawang dan tokoh-tokoh lainnya bertemu dengan Liefrink sebagai utusan Belanda di Labuhan Haji. Dan beberapa pertemuan juga dilakukan pada kesempatan lainnya, termasuk pertemuan pada awal tahun 1892 yang membahas kondisi terkini saat itu. Singkatnya, Belanda akhirnya datang ke Lombok pada tahun 1894. Kedatangan Belanda ini menjadi awal mula petaka bagi kerajaan Asem yang mengakibatkan keruntuhan kerajaan dan diasingkannya keluarga kerajaan.

Seperti kekhawatiran Guru Bangkol, dalam salah satu perdebatan antar tokoh sebelum mengirim surat ke Belanda dulu, bahwa justru dengan sikap itu akan membawa penjajah baru. Dan itulah yang terjadi setelah keruntuhan penguasa Bali. Hanya saja, penjajahan itu bermula dari sebuah undangan sehingga proses transisi tersebut tidak terlalu terasa. Gejolak baru terjadi justru setelah ketidakadilan dirasakan menyengsarakan orang banyak.

Setelah penguasa Bali runtuh, Belanda lalu membagi wilayah Lombok menjadi Lombok Barat dan Lombok Timur. Lombok Timur terdiri dari 7 distrik yaitu Praya, Batukliang, Kopang, Rarang, Masbagiq, Sakra, dan Pringgabaya. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Staatblad (Stb) no. 183/1895 tanggal 31 Agustus. Dengan pembagian ini, maka dimulailah era kedistrikan di Lombok sampai nanti dirubah menjadi kecamatan pada masa Orde Baru. Keputusan dalam Staatblad tersebut juga mengangkat kepala-kepala distrik di wilayah tersebut. Dan di Batukliang Mamiq Ginawang sebagai kepala distrik pertama, yaitu pada tahun 1895. Beliau menjadi kepala distrik Batukliang paling tidak sampai tahun 1914/1915, sebelum nanti digantikan oleh putra beliau.

Selama memimpin Batukliang, baik dari masa-masa awal menggantikan ayahandanya sampai menjadi kepala distrik, Mamiq Ginawang seringkali dihadapkan pada kondisi-kondisi yang mengharuskannya mengambil kebijakan-kebijakan penting dalam kondisi tidak biasa. Perang misalnya, adalah kondisi genting. sebuah kondisi yang mengharuskan diambilnya keputusan karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan dalam kondisi yang sulit diprediksi. Keterlibatan beliau dalam Congah Praya dan konsolidasi dengan tokoh-tokoh Sasak lainnya, serta keputusan ikut menandatangani surat ke Singaraja, merupakan hal yang tidak gampang serta harus disikapi. Keputusan penting lain yang diambil oleh Mamiq Ginawang dalam kondisi yang tidak mudah adalah memindahkan Batukliang ke tempat lain. Keputusan ini menjadi tidak gampang ditengah gejolak perang dan penjajahan Belanda. Keputusan yang akhirnya mengantarkan Batukliang menempati daerah Mantang sekarang.

Persoalan pun tidak selesai begitu saja. Menempati tempat baru berarti harus menata dan mengatur semuanya dari awal, mulai dari menata ruang, mendirikan bangunan sampai mengatur pemerintahan. Dan inilah yang dilakukan Mamiq Ginawang di daerah yang baru tersebut. Sebagai pijakan awal, beliau menentukan tempat dan mendirikan sebuah masjid. Ketika beliau meninggal, di depan masjid itulah beliau dimakamkan. Lalu beliau lebih dikenal sebagai Ilang Masjid.


Komentar

Postingan Populer