Datoq Said dan Sekolah Pertama di Mantang
Kamis, 06 April 2023 M/ 15 Ramadhan 1444 H
Secara hitungan tahun Belanda datang ke Lombok pada tahun 1894. Kedatangan ini menjadikannya berhadap-hadapan dengan kerajaan Karang Asem yang berujung dengan keruntuhan kerajaan tersebut. Lalu dimulailah era Belanda di Lombok. Keberadaan mereka di Lombok berakhir seiring dengan menyerahnya Sekutu pada tahun 1942. Artinya, Belanda di Lombok sekitar ± 48 tahun.
Selama hampir setengah abad tersebut, pada setengah masa pertamanya di Lombok Belanda tidak memberikan perhatian pada pendidikan. Belanda sibuk dengan mengelola pemerintahan, mengkondusifkan situasi dan mengambil keuntungan dari rakyat. Sementara pada setengah masa keduanya Belanda tetap dengan hal yang sama, hanya saja sedikit memberikan perhatian pada pendidikan. Inipun karena diharapkan keuntungannya bagi mereka, dan dibandingkan dengan perhatiannya pada hal yang lain, bidang pendidikan ini hanya secuil saja dari apa yang mereka kerjakan selama berada di Lombok.
Sebagai gambaran, seperti yang dituturkan van Der Kraan, bahwa sebelum tahun 1920 kurang dari 2 % penduduk Lombok mendapatkan pendidikan, dan baru pada diakhir penguasaan mereka pada tahun 1942 presentase tersebut meningkat menjadi hanya 7% dari total jumlah penduduk usia sekolah yang memperolehnya. Demikianlah, pendidikan menjadi hal yang begitu langka bagi masyarakat saat itu.
Awalnya, yaitu pada tahun 1912, Belanda memutuskan membuat beberapa sekolah di Lombok. Tujuan idelanya adalah untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat, namun tentunya hal tersebut untuk melanggengkan kekuasaanya saat itu. Hal itu terutama untuk melahirkan pekerja-pekerja pribumi di berbagai instansi pemerintahan serta kebutuhan para pemilik modal yang menjalankan berbagai usaha di daerah. Sekolah yang pertama kali dibangun sebanyak delapan (8) buah, yaitu: tiga (3) buah sekolah gubernemen di Mataram, Praya, dan Selong; empat (4) buah sejenis sekolah subsidi di Pringgabaya, Masbagik, Labuhan Haji dan Kopang; serta sebuah (1) sekolah desa di Mantang.
Baru pada tahun 1923 dibangun sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Mataram. Sekolah ini merupakan sekolah dasar bagi pribumi dengan masa belajar tujuh (7) tahun. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda. Walaupun sekolah ini ditujukan untuk pribumi namun bukan untuk masyarakat umum, karena pribumi yang bisa bersekolah di sini hanyalah yang keturunan bangsawan dan keturunan tokoh terkemuka saja, itu pun harus melalui seleksi oleh Asisten Residen. Bagi mereka yang telah lulus HIS bisa melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). MULO adalah sekolah lanjutan pertama yang ditempuh selama tiga (3) tahun. Bagi lulusan mereka harus menemuh MULO di Jawa dan Makasar karena tidak ada jenjang tersebut di Lombok
Beberapa tahun setelah didirikannya HIS, dibuatlah sebuah sekolah Schakel School di Selong. Sekolah ini merupakan sekolah peralihan yang ditempuh selama 5 tahun dan diperuntukkan bagi mereka yang selesai di sekolah desa (Volksschool). Dalam beberapa kasus di Jawa, sekolah jenis ini tidak menarik perhatian masyarakat dan biasanya didirikan di wilayah yang di bawahnya terdapat beberapa sekolah desa.
Selain Schakelschool, bagi lulusan sekolah desa bisa melanjutkan ke sekolah lanjutan (Vervlogschool) selama dua (2) tahun. Namun sekolah ini tidak diperuntukkan bagi semua lulusan karena yang akan diterima adalah yang berprestasi saja. Setelah mendirikan beberapa sekolah desa pada tahun 1912, sekolah desa yang ada di ibukota Onderafdeeling (Mataram, Praya dan Selong) dirubah menjadi Vervlogshool pada tahun 1918. Sekolah lanjutan ini bukanlah sekolah naik jenjang ke sekolah menengah seperti MULO yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu, jadi hanya sekedar melanjutkan pada jenjnag dasar saja. Sedangkan untuk yang jenjang sekolah menengah seperti MULO (setara SMP) di Lombok saat itu tidak ada. Bagi mereka yang selesai di Vervlogschool bisa melanjutkan ke Normaalschool yang ada di Makasar. Normaalschool sejenis sekolah guru pada masa itu.
Untuk Sekolah Desa (Volksschool) adalah sekolah yang pertama kali didirikan Belanda pada tahun 1912, termasuk di Mantang. Sekolah Desa ini adalah sekolah yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dengan masa belajar selama tiga (3) tahun. Pada dasarnya, tujuan didirikan sekolah ini adalah untuk mengajarkan anak untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, juga bertujuan untuk menyebarkan buah pikiran dan pengetahuan serta kesadaran akan perlunya pendidikan yang ujungnya adalah untuk memperteguh eksistensi kekuasaan Belanda. Pada praktiknya, terjadi tidak hanya ada di Lombok, pendidikan tersebut kemudian dijadikan alat untuk menyebarkan/ memperdalam ajaran agama, nasionalisme dan kesadaran akan pentingnya arti kemerdekaan.
Sekolah Desa di Mantang pun demikian, dan tokoh kunci hal tersebut adalah Datoq Said. Beliau yang beberapa waktu sebelumnya memang sengaja didatangkan untuk menjadi pilar proses pendidikan memanfaatkan hal tersebut secara maksimal. Tidak hanya mengajarkan sesuai arahan pemerintah Belanda saat itu, beliau juga mengajarkan ajaran agama serta membuka pengajian dan menjadi rujukan masyarakat dalam masalah-masalah agama. Sebagai satu-satunya sekolah di Batukliang dan wilayah sekitarnya, dan beliau sebagai tokoh sentralnya, tidak mengherankan jika nanti murid-murid beliau tersebar di berbagai tempat di Batukliang dan wilayah sekitarnya. Nantinya, putra beliau Tuan Guru Haji Muhammad Thayyib, meneruskan kegiatan tersebut untuk menjadi tokoh agama panutan masyarakat.
Pada saat sekolah formal para murid diajarkan membaca, menulis dan berhitung beliau juga menyelinginya dengan pelajaran budaya dan agama. jika pengetahuan agama beliau tidak diragukan lagi, sebenarnya begitu juga dengan pemahaman budayanya. Walaupun beliau adalah orang Banjar, tetapi berkat kecerdasan dan pengalamannya di Lombok, beliau menguasai banyak hal terkait dengan budaya Lombok. Di luar waktu tersebut, beliau sibuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat terutama dalam memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan agama yang ada di tengah masyarakat. Rumah beliau selalu terbuka bagi siapapun. Letak rumah beliau saat itu ada di sekitar kantor pos Mantang sekarang, posisinya tepat di seberang Pedaleman. Oleh karena beliau mumpuni dalam bidang agama namun juga sekaligus memegang jabatan sebagai kepala sekolah, maka di tengah masyarakat beliau lebih dikenal sebagai Tuan Guru Sekolah.
Datoq Said mengemban amanah menjadi pemimpin di Volksschool tersebut cukup lama. Pada tahun 1940 ketika beberapa intelektual Belanda sedang mengumpulkan cerita-cerita lisan yang masih beredar di tengah masyarakat, beliau menjadi salah sorang yang direkomendasikan untuk menjadi narasumber atau kontributor. Saat itu beliau masih menjadi kepala sekolah di Mantang. Artinya, sudah 30-an tahun beliau memegang jabatan tersebut sejak pertama kali sekolah dibuka pada tahun 1912.
Dijadikannya beliau sebagai salah satu narasumber menunjukkan pemahaman beliau mengenai budaya dianggap tidak bisa diremehkan. Cerita-cerita lisan yang beliau tuturkan sampai sekarang masih tersimpan di Lieden Belanda. Oleh karena kegiatan tersebut bermaksud mengumpulkan cerita dan tradisi lisan Sasak yang masih ada, maka beliau menceritakan mengenai hal tersebut. Di antara cerita/ tradisi lisan yang beliau ceritakan adalah Kiai Lobaq lawan léaq, pinje panje, kedok sekurin, gagak memaling rarit, teruna belok, begang dait bébék, bakéq lawan godék, asal kemanokan kekelék dait kekuwo, dan batéq beléq.
Selain cerita lisan yang penuh dengan pelajaran, beliau juga menceritakan sejenis petuah-petuah ajaran agama yang disebut ‘peringetan’. Peringetan ini berisi nasehat ataupun peringatan bagi masyarakat, sebagai contoh berikut salah satu kutipan dari peringetan yang beliau ceritakan:
Peringetan: Dening sekeno jatina/ sendugaq nina patut gati/ beguru dalem sekolah/ adeqna cceket ngajah diriq/gen angkunna nganak bejari/ ngajah anak addeqna patut/adeqna tetu jari toaq/tesebut siq anak bai/ ndeqna toaq si umurna sino doang (Peringatan: memang begitu sebenarnya/yang seharus patut bagi semua perempuan/yaitu menuntut ilmu di sekolah/ agar ia bisa mengajar dirinya/karena nanti ia akan mempunyai anak/ mengajarkan anak agar menjadi patut/ agar ia benar-benar bisa dituakan/ disebut begitu oleh anak cucunya/ tidak hanya tua karena umurnya saja).
Lalu ada juga yang bentuknya adalah menceritakan keyakinan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Salah satu yang beliau ceritakan adalah cerita ‘bakéq’:
Bakeq: ling logat dengan, sendugaq gawah toaq, batu-batu beléq, penembukan (pengempokan) aiq, sino selapuqna tetauq bebalé isiq bakéq atawa jim. Bakéq rimpes laloq ngetemuqan dengan. Embé taoq dengan pepees ketemuq paranna simbit. Isiq dengan pada takut leq bakéq, sangkaq lamun dengan gen nyédaq gawah jari rau, atawa naékang aiq, gen munik, ndéqna bau ndéqne méta belian (duhung) suruqna bebangar. Maksud pembangar sino, nyuruq bakéqna mirik bebalé, adéqna ndaq temah tebalun siq lolon kayuq siq tebadung, atawa bakat siq batéq kandik si terantekkan. Keranaq lamun araq bakéq tendiq siq lolon kayuq si gemana terebaq, pedas angkunna sili. Dengan siq berebaq beterus sakit. Sakitna sino teparan dingin isiq bakéq. Kadang-kadang lamunna salaq tumpuna, awinana maté.
Terong kuning leq Bebuaq/beli tambah jari kadu/ ngeno ling logat dengan toaq/ laguq nane langah sadu
(Menurut cerita orang, di seluruh hutan belantara, batu-batu besar, sumber-sumber mata air, semua ditempati sebagai rumahnya bakéq atau jin. Bakéq sering membuat sakit orang. Di tempat orang bisa sakit itu, biasanya dianggap angker. Orang-orang akhirnya takut pada bakéq, sehingga jika orang membabat hutan menjadi ladang, mengalirkan air, membuat tempat baru, harus mencari belian (sejenis dukun) untuk melakukan bangaran (tradisi minta izin atau meminta pindah). Maksud dari yang melakukan bangaran adalah meminta bakéq minggir agar tidak terkena jika ada pohon yang ditebang, atau terkena parang-kapak jika sedang digunakan. Sebab, jika ada bakéq tertimpa atau terkena saat pohon ditebang, jelas sekali tandanya ia marah. Orang yang menebang tersebut akanlangsung sakit, disebut sakitnya karena bakéq. Terkadang, jika salah cara mengobatinya, ia akan mati)
Lalu ceritanya ditutup oleh sebuah pantun Sasak, yang artinya: terong kuning di Bebuaq/ beli pacul untuk dipakai/begitu;ah tuturan orang tua/namun kini jarang dipercayai



Komentar
Posting Komentar