Berlebaran di Lombok

Rabu, 26-29 April 2023 M/ 05-08 Syawal 1444 H

Selamat Idul Fitri 1444 H !

Tidak terasa hari raya Idul Fitri telah berlalu tiga hari. Nanti, tidak terasa hari telah berlalu sebulan. Dan jika dipanjangkan umur, tidak terasa bertemu bulan Ramadhan. Begitulah, hari terus berganti dan waktu terus berjalan. Beberapa puluh tahun terakhir ini memang sering sekali terdengar orang mengomentari waktu yang begitu cepat berlalu.

Waktu memang unik dan istimewa. Ia berjalan tanpa mempedulikan apapun. Berjalan ‘kejam’ tanpa memandang bulu. Ia berlalu bagi yang tak mempedulikannya dan bermanfaat bagi yang mempergunakannya. Ada sebuah pepatah Arab yang mengatakan: “Waktu itu seperti pedang. Jika engkau tidak memotongnya, maka ia yang akan memotongmu”. Artinya, alternatifnya memang hanya ada dua, memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin atau menyesalinya karena tidak mempergunakannya dan ia tak pernah kembali.

Di lain sisi, cepatnya waktu berlalu disinyalir merupakan sebuah tanda akan dekatnya hari Kiamat. Tidak terasa, dan tidak terasa. Bulan Ramadhan berlalu, tidak terasa sudah mau datang lagi. Hari Jumat berlalu, tidak terasa sudah mau Jumatan lagi. Begitu seterusnya. Dan tentunya, ini merupakan sebuah refleksi bagi semua orang untuk semakin efektif menggunakan waktu memperbaiki diri, berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Salah satu cara untuk memanfaatkan waktu adalah dengan menggunakannya untuk menjalin silaturahmi dengan handai tolan, karib kerabat dan sanak keluarga. Beberapa riwayat hadits mengatakan bahwa dengan silaturahmi akan memanjangkan umur dan juga melancarkan rezeki, dua hal berharga yang sangat diinginkan banyak orang.

Silaturahmi ala Lombok

Di Lombok, ada budaya ‘ngayo’. Ngayo adalah silaturahmi mempergunakan waktu santai atau juga sengaja meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah sanak saudara walau hanya sekedar bicara santai dan menanyakan kabar. Waktu ngayo sangat fleksibel, kapan pun sesuai kebiasaan dan tidak dianggap mengganggu tuan rumah. Bisa pagi saat setelah sarapan, menjelang siang sebelum waktu Dhuhur, bisa juga untuk mengisi waktu sore atau nanti setelah Magrib sebelum waktu tidur.

Budaya ngayo menjadi saluran masyarakat untuk tetap berinteraksi, mengakses informasi, mempererat jalinan emosi, tukar menukar ide gagasan atau bisa juga sekedar menjadi saluran untuk keluar dari kepenatan dari persoalan keseharian kemasyarakatan.

Namun kini, ngayo agak jarang dilakukan. Masyarakat tergerus dengan kesibukannya, terikat dengan teknologi komunikasi dan informasi, serta terkurung dalam aktifitas rutin yang kadang seperti tak berujung. Jarang lagi orang meluangkan waktu untuk sekedar duduk ditemani kopi dan singkong rebus mengobrol kegiatan masyarakat atau saling menceritakan perkembangan anak masing-masing. Orang hanya bertemu pada kegiatan tertentu saja, seperti pertemuan arisan, kegiatan resepsi, layatan orang meninggal atau mungkin ketika halal bihalal saja.



Jika ngayo merupakan tradisi silaturahmi yang sangat fleksibel, ada juga tradisi silaturahmi masyarakat Lombok yang dilakukan pada waktu tertentu, salah satunya adalah saat hari raya Idul Fitri. Pada tahap pertama, bersalaman dengan semua anggota masyarakat di masjid. Di sini akan dipertemukan sanak keluarga yang jarang hadir, sanak saudara antar kampung dan masyarakat secara umum. Setelah itu, bertemu dengan keluarga inti atau keluarga dekat sambil sarapan atau mengobrol santai. Dan biasanya sambil merencanakan tujuan silaturahmi selanjutnya. Urutan silaturahminya adalah para sepuh atau yang dituakan, keluarga yang sakit, dan/atau warga sekitar yang belum bertemu. Tahap kedua, bersilaturahmi dengan keluarga yang rumahnya agak jauh dan juga ke keluarga istri, jika sudah menikah. Hal ini juga disela oleh tamu atau keluarga yang datang ke rumah.

Bersilaturahmi, bertamu atau kedatangan tamu biasanya ramai akan dilakukan pada minggu pertama bulan Syawal, tepatnya 6 hari setelah hari raya Idul Fitri. 6 hari ini juga menjadi waktu untuk berpuasa 6 hari bulan Syawal yang dianjurkan baginda Nabi Muhammad SAW. Tradisi di Lombok, setelah enam hari itu atau tepatnya tanggal 8 Syawal disebut sebagai Lebaran Topat. Topat secara letterlijk diartikan sebagai ketupat sehingga pada hari itu menu wajib bersantap dengan keluarga adalah ketupat, yaitu untuk menemai hidangan lebaran lainnya. Selain itu, topat juga diartikan sebagai tobat, kembali. Bertobat atas dosa dan kembali pada kondisi suci. Di sini masyarakat merayakannya dengan berkumpul bersama keluarga di rumah atau bersantai di tepi pantai, mandi di kolam atau mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya. Jadi, Lebaran Topat adalah lebaran kedua. Oleh karena itu, berbagai rutinitas atau kegiatan normal lainnya biasanya akan dilakukan setelah Lebaran Topat.

Maka tidak mengherankan jika 6 hari setelah Idul Fitri di Lombok warga masih banyak yang hilir mudik, jalan masih lumayan ramai, dan rumah-rumah masih kedatangan tamu. Puncaknya pada hari ke 8 Syawal tadi, waktu untuk Lebaran Topat. Pada hari itu keramaian akan terpusat di jalan dan tempat-tempat wisata. Tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan, hanya menikmati suasana dan makan bersama.

Ziarah Makam

Ziarah makam merupakan salah satu rutinitas masyarakat Lombok. ini adalah bagian dari tradisi yang sudah melekat lama pada diri masyarakat Sasak. Leluhur dan para tetua mempunyai tempat tersendiri, dan dipercayai mempunyai kaitan erat dengan mereka yang masih hidup. Selain dalam bentuk selametan tahunan atau haul, interaksi dengan mereka yang sudah meninggal juga dilakukan dengan ziarah makam. Yaitu mendatangi makam mereka.

Jika makam leluhur akan diziarahi 2-3 kali dalam setahun, tidak demikian dengan mereka yang menjadi tetua dalam bidang agama, khususnya mereka yang dianggap derajat keagamaannya tinggi. Mungkin karena kewaliannya, mungkin karena jasanya dalam bidang agama atau mungkin karena hal-hal lain sehingga ia dihormati dengan menziarahi makamnya. Selain itu, makam-makam para tokoh tadi juga dijadikan sebagai sandaran rasa syukur dan media interaksi atas sebuah harapan. Maka, jadilah makam beberapa tokoh agama ramai dikunjungi masyarakat baik datang karena ingin berzikir, sudah lulus kerja, mau masuk sekolah, karena ada niat hajat sesuatu dan lain sebagainya. Selain itu, makam yang cukup rutin dikunjungi adalah makam keluarga dekat terutama orang tua. Ada yang ziarah tiap hari Jumat atau ada juga yang sekali dalam sebulan. Sedangkan dalam momentum tahunan, masyarakat Lombok akan ramai ziarah makam pada akhir bulan Ramadhan sampai hari raya Idul Fitri.

Dalam setahun, masyarakat Lombok terhitung cukup sering ke Lombok. Hal ini belum termasuk pondok pesantren, anak-anak sekolah, jamaah pengajian, atau kelompok-kelompok lainnya yang secara rutin juga melakukan ziarah ke beberapa makam.

Pada akhir puasa sampai hari raya Idul Fitri menjadi waktu yang agak berbeda. Pada waktu tersebut, ziarah makam juga berbeda. Waktunya pun juga tidak sama seperti yang lain. Ziarah makam pada momen tersebut dilakukan pada tengah malam, sebelum sahur pada saat bulan Ramadhan atau jauh sebelum Subuh pada hari raya Idul Fitri. Dulu masyarakat membawa obor atau lampu petromaks ke makam sebagai penerang, sekarang membawa lampu LED. Ini adalah pemandangan yang indah. Kompleks makam yang biasanya gelap atau hanya dengan pencahayaan temaram, dipenuhi oleh cahaya lampu di hampir seluruh tempat di kompleks makam. Selain suara binatang-binatang malam, terdengar pula mereka yang sedang bersih-bersih dan ditemani dengan lantunan ayat-ayat al-Quran dari mereka yang sedang ziarah makam.

Puncaknya adalah nanti pada sebelum Subuh pada hari raya Idul Fitri, dan dilanjutkan lagi pada saat setelah sholat Subuh. Kompleks makam menjadi tempat pertemuan antar generasi dari dan dengan mereka yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Makam-makam menjadi begitu bersih dan asri serta hangat dengan jejeran keluarga yang membaca surat Yasin dan lantunan doa. Mereka pun menutupnya dengan interaksi sederhana dengan yang sudah meninggal berupa taburan bunga rampai dan basuhan muka dari ceret kecil yang sengaja dibawa dari rumah.

Sederhana memang, namun itulah bentuk keterikatan dan komunikasi dengan mereka yang menjadi bagian dari sejarah hidup mereka sendiri. Mengingat mereka adalah mengingat kejati-dirian, mengingat mereka adalah mengingat esensi dan eksistensi sebuah perjalanan kehidupan. Pada momen hari Idul Fitri hal tersebut menjadi begitu istimewa.

Itulah sekelumit kegiatan masyarakat Lombok dalam menyambut hari lebaran terutama terkait dengan silaturahmi dan ziarah makam. Mungkin hal tersebut tidak seragam terjadi di seantero pulau Lombok, namun tentu esensinya tidak jauh berbeda.

Tidak terasa, hari ini, satu minggu hari raya Idul Fitri telah berlalu. Dan di Lombok,hari ini disebut sebagai Lebaran Topat. Sejak kemarin ibu-ibu sibuk menyiapkan untuk hidangan di hari H. Ketupat dan pasukannya bwrjejer di dapur aejak pagi tadi. Dari luar, terdengar jelas suara takbir bergema dari beberapa masjid sekitar. Dan ketika menelusuri jalan, beberapa masjid sudah penuh dengan jamaah dan hidangannya. Sambil selametan, tahlilan dan doa warga berkumpul di masjid menikmati sajian ketupat dengan berbagai sajian. Dan usai menikmati hidangan dan berbincamg-bincang, suara takbir pun bergema mengantar warga pulang ke rumah masing-masing. Gema takbir pada hari Lebaran Topat ini seperti tidak banyak dilestarikan atau dijaga di berbagai tempat di indonesia.

Selamat Lebaran Topat....


Komentar

Postingan Populer