Tokoh Batukliang: Dari Ilang Masjid Sampai Ilang Masbagik

 Kamis 30 Maret 2023 M/ 08 Ramadhan 1444 H

Sirna ilang kertaning bhumi (telah hilang kemakmuran bumi). Kata ini yang teringat pertama kali ketika akan menulis tema kali ini. Kalimat tersebut adalah merupakan sebuah sengkalan atau penanda waktu yang terkenal dalam tradisi lisan Jawa. Kalimat tersebut merujuk pada angka tahun penting dalam sejarah Jawa sebelum Islam datang. Sengkalan tersebut di baca menjadi: Sirna (0), ilang (0), kertaning (4) bhumi (1), lalu kemudian dibalik. Ditemukanlah angka 1400 yang diyakini bertahun saka. Oleh karena umum dipahami bahwa perbedaan tahun saka dengan tahun masehi 78 tahun, maka diperkirakan tahun itu merujuk pada tahun 1478.

Terjadi beberapa tafsiran mengenai apa yang terjadi pada tahun 1478. Namun yang pasti bahwa tahun tersebut merupakan era terakhir atau era keruntuhan dari kerajaan Majapahit. Di Lombok sengkalan ini dikenal dengan nama candresengkala dengan pola yang hampir sama dengan sengkalan di Jawa tersebut. Bahwa dalam kitab Kotaragama disebutkan pentingnya penggunaan candrasengkala dalam upacara, pembuatan bangunan, mengeluarkan keputusan dan sebagainya.

Kaitan dengan tema kali ini adalah kata ‘ilang’. ‘Ilang’ artinya hilang atau musnah. Kata ilang ini masih digunakan hingga saat ini di beberapa tempat di Lombok, terutama pada penyebutan orang-orang tertentu. Kata ini sebenarnya menunjukkan bahwa orang atau tokoh tersebut sudah meninggal, sama seperti penggunaan kata almarhum. Selain kata ‘ilang’, digunakan juga kata ‘pedare’ dan ‘malaikat’ untuk menyebut orang yang sudah meninggal. ‘Pedare’ digunakan secara umum pada siapa saja, sedangkan ‘malaikat’ digunakan pada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Sedangkan ‘ilang’ digunakan pada tokoh yang dianggap berpengaruh dan penggunaan kata tersebut melekat menjadi nama lain dari namanya sendiri. Sayangnya, penggunakan kata-kata ini sudah hampir musnah, dan bahkan generasi kini tidak terlalu mengenal istilah tersebut dan penggunaannya.

Mengenai penggunaan kata ‘ilang’, di Mantang Batukliang ada beberapa tokoh yang lazim disebut dengan menggunakan kata tersebut. Pertama, Ilang Cakre. Ilang cakre adalah Raden Buru yang merupakan pemimpin Batukliang. Beliau beserta putranya Lalu Diwaje menjadi korban propaganda penguasa Bali dan terbunuh di Cakra. Itulah sebabnya beliau dikenal dengan nama Ilang Cakra. Tempat terbunuhnya Ilang Cakra disembunyikan oleh penguasa Bali, namun ketika peristiwa itu terjadi ada yang mengintip dan mengintainya. Tempat tersebut lalu ditandainya dengan pecahan botol kaca.

Hal tersebut lalu disampaikan kepada para tokoh Batukliang, dan dikemudian hari jasad Ilang Cakra yang sudah berupa tulang dipindahkan ke kubur Batukliang di Montong Batu. Menurut cerita turun temurun, informan tersebut berasal dari Seganteng. Dengan dasar itu beberapa orang diberikan tempat untuk bertempat tinggal di bagian utara Batukliang, lalu tempat tersebut diberikan nama Seganteng sampai hari ini (sekarang Seganteng masuk wilayah kecamatan Batukliang Utara).

Kedua, Ilang Masbagik. Ilang Masbagik adalah Lalu Miraje. Mantan kepala distrik Masbagik dan kepala distrik Mantang. Setelah meninggal, beliau lebih dikenal dengan Ilang Masbagik. Lalu Miraje merupakan orang yang sangat menguasai wawasan mengenai adat dan budaya sehingga pada masa hidupnya beliau menjadi sumber referensi bagi banyak orang dalam hal adat dan budaya. Selain itu beliau juga pawai dalam ilmu pemerintahan. Beliau menjadi kepala distrik setelah kemerdekaan, tepatnya sebelum dilaksanakannya pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955. Jauh sebelum pemilu dilaksanakan, pada waktu itu, suasana politik di Indonesia sudah mulai memanas, tidak terkecuali Lombok. Pemilu yang menggunakan sistem multipartai menyebabkan menjamurnya partai-partai. Namun secara umum, partai-partai tersebut berada dalam gerbong nasionalis, sosialis, komunis dan agama.

Di Lombok, partai-partai tersebut pun berebut untuk mendapatkan perhatian masyarakat. Jumlah cabang partai di Lombok ± 33, sebanyak partai yang ada di pusat. Selain partai-partai yang memang berada dalam lingkup nasional tersebut seperti PNI (Partai Nasional Indonesia), PSI (Partai Sosialis Indonesia), Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan NU (Nahdatul Ulama), ada juga didirikan partai-partai lokal. Di Lombok, salah satunya, berdirilah PUIL (Partai Umat Islam Lombok) dengan Saleh Sungkar sebagai nahkodanya. Partai ini mendapatkan perhatian masyarakat dan berkembang dengan pesat. Namun sayangnya, sebelum pemilu pertama tersebut terlaksana Saleh Sungkar tiba-tiba menghilang.

Menghilangnya tokoh PUIL ini tentu menghebohkan masyarakat dan pejabat karena beliau waktu itu sedang naik daun dan banyak mendapatkan dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama. Oleh karena didasarkan pada kondisi politik saat itu, maka ditangkaplah beberapa pejabat yang dicurigai terlibat dalam menghilangnya Saleh Sungkar. Mereka yang ditangkap adalah Lalu Abdurrahman, Lalu Darwisah, Mamiq Fadelah, Lalu Srinata, dan Lalu Miraje. Saat itu Lalu Miraje masih menjadi kepala distrik Masbagik.

Lalu Miraje dan tokoh-tokoh lain yang ditangkap tersebut diasingkan dan ditempatkan di tangsi polisi di Gianyar, Bali. Ketika berada di Bali, Lalu Abdurahman meninggal dunia karena sakit, sedangkan empat lainnya baru dibebaskan pada tahun 1953. Pembebasan tokoh-tokoh tersebut dikarenakan mereka dinyatakan tidak bersalah dalam kasus menghilangnya Saleh Sungkar. Diceritakan, ketika pada tahun 1953 itu tokoh-tokoh tersebut bebas dan akan dipulangkan ke Lombok melalui pelabuhan Ampenan. Pada hari kedatangan mereka, puluhan ribu masyarakat datang menyambut kedatangan pemimpin mereka, yang mereka tahu tidak bersalah. Mengetahui rakyat yang begitu antusias menyambut kedatangan empat tokoh tersebut, pemerintah menganggapnya akan membahayakan bagi ‘keamanan’ Lombok. Oleh karena itu, atas perintah Gubernur Sunda Kecil di Singaraja keempat tokoh tersebut ditangkap kembali dan dibawa ke Singaraja.

Pada saat Lalu Miraje diasingkan di Bali, sejarah kembali berulang. Dulu, di Batukliang lama, ketika terjadi kekacauan ataupun situasi sedang rawan dan genting, anak turunan Raden Egum selalu berada di garis depan untuk mengamankan situasi. Mereka dengan sukarela membela dan membantu saudara-saudara mereka dari turunan Raden Pakah dan Raden Lage. Begitu juga ketika Lalu Miraje diasingkan di Bali, ada seorang anak turunan Raden Egum bernama Mamiq Ruminsih yang selalu pulang pergi menjenguk, mengantarkan keperluan atau sekedar memberi surat kepada Lalu Miraje. Mungkin hal ini terlihat kecil dan sepele, tetapi begitulah cara sejarah bekerja untuk memberikan pelajaran pada manusia dan mengingatkan kembali hal-hal yang sudah mulai dilupakan.

Ketiga, Ilang Selebung. Selebung adalah nama sebuah tempat di utara Mantang. Pada tahun 1970-an Selebung mekar dan lepas dari Mantang, kemudian menjadi desa Selebung. Selebung merupakan tempat tinggal dari Lalu Hasbullah, mantan distrik ketiga Batukliang. Beliau menjadi kepala distrik pada masa penjajahan Belanda. Beliau adalah sosok yang aktif dan berani, serta dikenal mempunyai jiwa kepimpinan yang tinggi. Sayangnya, beliau meninggal dalam masa yang masih relatif muda, yakni berusia sekitar 40-an/ 50-an tahun. Dan setelah itu belia dikenal dengan nama Ilang Selebung.

Ilang Selebung ketika perundingan di Makasar bersama raja-raja Indonesia Timur

Ilang Selebung meninggal tahung 1938 setelah memimpin distrik Batukliang Mantang cukup lama. Selama kepemimpinan beliau Batukliang tidak banyak gejolak dan masyarakat dalam keadaan aman. Ilang Selebung dibalik kelembutannya mempunyai sikap yang tegas dan berani, bahkan terhadap termasuk pihak Belanda sekalipun. Pada masa itu, ketika Belanda mengontrol semua bidang kehidupan pejabat dan rakyat, melawan Belanda berarti mencari mati. Suatu saat beliau pernah berdebat dengan pejabat Belanda sehingga terjadi perdebatan yang begitu sengit. Tensi perdebatan semakin tinggi dan pejabat Belanda tersebut tetap bersikeras, sehingga dengan emosi Ilang Selebung menampar pejabat tersebut. Peristiwa tersebut lalu dilaporkan ke atasannya, namun syukurnya setelah diketahui duduk persoalannya masalah tersebut tidak menjadi persoalan yang berat.

Sikap tegas dan berani dari Ilang Selebung ini justru membuat Belanda simpati. Jabatan beliau bukan diturunkan tetapi bahkan akan diangkat menjadi pejabat yang lebih tinggi. Suatu waktu, beliau pernah menceritakan rencana pemerintah Belanda yang akan mengangkatnya menjadi pejabat tersebut kepada kakak beliau yang bernama Baiq Suti (Hj. Rakmah), namun sebelum rencana tersebut terlaksana beliau lebih dahulu meninggal.

Dua tahun sebelum beliau meninggal, yaitu tahun 1936, Ilang Selebung melakukan sebuah perjalanan ke Makasar, Sulawesi. Keberangkatan ke Makasar tersebut dalam rangka melakukan perundingan bersama raja-raja dari Indonesia Timur. Dalam dokumen yang ada di keluarga, beliau bersama dengan raja dari Bima, Makasar dan lain sebagainya dalam perundingan itu. Ilang Selebung ke Makasar bersama keponakan beliau yang bernama Lalu Husen alias Mamiq Ibah, yang dalam acara di Makasar tersebut, menurut cerita Mamiq Ibah, dipanggil sebagai raja muda. Dalam acara tersebut setiap tamu harus melewati karpet merah menuju tempat berlangsungnya perundingan. Karpet merah, saat itu, tentu adalah barang mewah yang menunjukkan pentingnya siapa yang hadir dan pentingnya acara yang digelar.

Kegiatan-kegiatan semisal tadi, sepertinya, sering dilakukan oleh Ilang Selebung sebagai respon beliau melakukan diplomasi dalam menyikapi berbagai perkembangan politik saat itu. Hal ini menunjukkan bagaimana kepiawaiannya dalam merespon kondisi saat itu yang dinamis. Bagaimanapun, dalam sejarah nasional pada tahun 1930-an ditandai dengan berkembangnya berbagai pergerakan nasional dan tumbuh suburnya kesadaran akan nasionalisme. Pihak Belanda sendiri masih bergulat dengan pengaruh Politik Etis yang dilakukan dengan setengah hati, tetapi sangat berpengaruh dalam tumbuhnya nasionalisme di Indonesia. Selain ke Makasar, Ilang Selebung juga melakukan pertemuan di Bali dan Surabaya dengan agenda-agenda diplomasi tersebut.

Keempat, Ilang Masjid. Beliau adalah tokoh kunci perpindahan Batukliang ke Batukliang Mantang sekarang. Adalah juga salah satu dari pemimpin perang dalam Congah Praya/ Perang Lombok pada tahuan 1891-1894. Adalah juga kepala distrik pertama Batukliang ketika Lombok dikuasai oleh Belanda. Nama asli beliau, menurut sebuah pendapat, adalah Lalu Singarse. Ketika beliau mempunyai anak, sebagaimana lazim terjadi dalam tradisi Sasak, maka nama panggilannya adalah Mamiq Ginawang. Ginawang merupakan nama dari anak pertama beliau. Dalam sumber-sumber Belanda beliau juga disebut Djero Ginawang, Raden Ginawang, atau juga Raden Gde Djero Ginawang.

Sebagai pioner dari terbentuknya Mantang, beliau sangat berjasa dalam pembentukan awal. Dan hal pertama yang beliau dirikan di Mantang adalah Masjid. Dan makam beliau ada di depan masjid Mantang sekarang. Semasa hidupnya, beliau memang selalu dekat dengan masjid. Bahkan ada sebuah cerita yang terkesan tidak terlalu disebarkan, jika beliau dikenal juga dengan nama wali pituq (wali tujuh). Banyak juga orang bercerita, bahkan pelakunya masih banyak yang hidup, jika makam beliau yang di depan masjid Mantang tersebut sering memancarkan nyala hijau terang yang memancar ke atas. Terlepas dari benar tidaknya hal tersebut, satu hal yang pasti adalah ketaatan beliau dalam melaksanakan ajaran agama. beliau adalah orang yang merendah dan tindih dalam perilaku kesehariannya. Setiap hari menghabiskan waktu berjamaah di masjid

Suatu hari, beliau tidak hadir dalam sholat Subuh berjamaah di Masjid. Hal yang tidak biasa beliau lakukan jika tidak dalam keadaan udzur yang sangat. Salam satu keluarga beliau yang juga tetap aktif di masjid, seusai sholat Subuh berkunjung ke rumah beliau yang berada sekitar 100 meter ke arah barat laut dari masjid. Beliau ditemukan meninggal dalam keadaan sujud.


Komentar

Postingan Populer