Publikasi Buku: Era Kertas dan Era Digital

 20 Maret 2023



Pertemuan ke : 30

Waktu              : 17 Maret 2023

Tema          : Usaha Penerbitan Buku

Narasumber    : Mukminin, S.Pd

Moderator      : Muliadi, M.Pd

 

"Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala"

Sayyid Qutb


Salam sejahtera dan salam keselamatan teruntuk bagi kita semua

Dan akhirnya...

Itulah dua kata yang ingin saya tulis sekitar dua bulan yang lalu untuk kesempatan kali ini. Dan akhirnya tercapai. Alhamdulilah

30 pertemuan usai sudah, dan selanjutnya adalah tantangan yang tidak kalah besarnya, yaitu terus menulis. semoga

Pada pertemuan terakhir kemarin diawali dengan ungkapan luar biasa dari Sayyid Qutb mengenai arti pentingnya menulis. Tulisan, kata Sayyid Qutb, bisa menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala. Menulis, kata Pramoedya dan Kartini, berarti menjaga eksistensi kita dalam sejarah manusia.

Menulis itu adalah dokumentasi ide dan gagasan sehingga perlu didokumentasikan untuk dibaca, dipahami, dikritisi dan dikembangkan. Dokumentasi tulisan sama usianya dengan huruf itu sendiri karena seiring ditemukannya huruf, sejak itu pula manusia mendokumentasikan tulisannya. Jika pada awalnya dokumentasi itu ada pada batu, tembok, gua dan tulang, maka revolusi dokumentasi tulisan baru terjadi sejak ditemukannya kertas. Dan dengan ditemukannya kertas, dimulailah sejarah buku seperti yang dikenal sekarang.



Dalam perjalanannya, buku mewarnai sejarah manusia dengan berperan penting dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban baik sebagai pengawal keilmuan atau sebagai bagian dari aktifitas kehidupan manusia.

Pada pertemuan terakhir ini, hal kedua ini lah yang akan dibahas, yaitu buku sebagai bagian dari aktifitas manusia. Seperti yang dikatakan sejarawan dan sosiolog muslim Ibnu Khaldun, aktifitas manusia berkembang sesuai perkembangan kebudayaan itu sendiri. Pada masa sekarang misalnya, bisnis air mineral tidak pernah terbayangkan beberapa puluh tahun lalu. Air bisa didapatkan dimana-mana. Namun sekarang, air mineral menjadi bisnis yang menggiurkan dan tentunya tidak bisa didapatkan secara gratis. Begitu juga buku, hari ini buku tidak an sich mengenai ilmu, ide atau gagasan saja tetapi juga mengenai berbagai jaringan dan proses penerbitannya yang melibatkan begitu banyak orang. Maka buku, sama seperti air mineral tadi, juga adalah salah satu bentuk bisnis atau usaha yang penting dalam kehidupan manusia sekarang.

Inilah tema pembahasan pertemuan ke 30 ini. Temanya adalah “Usaha Penerbitan Buku”. Narasumbernya adalah bapak Mukminin, S.Pd, seorang yang kenyang dengan asam garamnya dunia penerbitan buku. Sedangkan moderatornya adalah bapak Muliadi, M. Pd.

Jika revolusi dokumentasi buku pertama dimulai sejak ditemukannya kertas, maka revolusi dokumentasi buku kedua terjadi sejak ditemukannya mesin cetak modern pada abad ke-15 oleh Johannes Gutenberg. Dengan mesin cetak, buku semakin mengokohkan dirinya menjadi salah satu usaha yang menarik dan potensial. Dan setelah itu, terjadi lagi revolusi dokumentasi buku ketiga, yaitu sejak ditemukan internet dan perkembangan dunia digital seperti sekarang ini. Setelah 500 tahun lebih kertas mendominasi dunia buku, maka pada era digital ini dunia buku hadir juga dalam dunia maya dan memberikan kemudahan dan kenyamanan tersendiri bagi penggunanya. Dan sejarah pun berulang kembali, usaha buku juga akhirnya harus bergeser atau melebarkan sayapnya dengan mengikuti perkembangan tersebut sehingga usaha buku tidak hanya terkait dengan kertas tetapi juga terkait dengan dunia maya.



Saat ini, penerbitan buku sudah sangat beragam baik secara fisik (kertas) atau di dunia maya. Ragam ini berhubungan dengan proses, tampilan, penerbitan dan sebagainya. Berikut beberapa  buku yang sekarang banyak beredar:

1. E-book

E-book atau buku elektronik adalah inovasi paling terkenal dalam penerbitan buku. E-book memberikan pengalaman membaca yang mudah, cepat, dan murah, serta tidak membutuhkan tempat penyimpanan yang besar seperti buku fisik. Banyak penerbit dan penulis telah beralih ke penerbitan e-book sebagai alternatif atau tambahan dari penerbitan buku fisik tradisional.

E-book memungkinkan pembaca untuk membaca buku di perangkat elektronik seperti tablet, smartphone, atau e-reader. Ini memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam membaca buku, karena pembaca dapat membawa banyak buku dalam satu perangkat, serta dapat memperbesar atau memperkecil ukuran huruf sesuai dengan preferensi mereka

2. Self-Publishing

Self-publishing atau penerbitan mandiri semakin populer sebagai inovasi dalam penerbitan buku. Dengan self-publishing, penulis dapat menerbitkan buku mereka tanpa perlu melewati penerbit tradisional. Hal ini memungkinkan penulis untuk mempertahankan kontrol penuh atas karya mereka dan mengambil sebagian besar keuntungan dari penjualan buku mereka.

Self-publishing memungkinkan penulis untuk menerbitkan buku mereka sendiri tanpa melalui penerbit tradisional. Ini memberikan kendali penuh bagi penulis dalam mengatur isi, desain, dan pemasaran buku mereka. Dengan adanya platform self-publishing seperti Amazon KDP atau Smashwords, penulis dapat mengunggah buku mereka secara online dan mendapatkan pembaca secara global.

3. Print on Demand

Print on demand (POD) adalah teknologi yang memungkinkan cetak buku secara cepat dan efisien sesuai permintaan, sehingga mengurangi biaya produksi dan stok yang tidak terjual. Dengan POD, penerbit dan penulis dapat mencetak dan mengirimkan buku ke konsumen tanpa perlu mencetak sejumlah besar buku sebelumnya.

Print on Demand (POD) merupakan metode pencetakan buku yang memungkinkan buku dicetak hanya ketika diperlukan, tanpa harus dicetak dalam jumlah besar sebelumnya. Ini mengurangi risiko penerbit dalam memproduksi buku yang mungkin tidak laku di pasaran dan memberikan fleksibilitas bagi penulis dan penerbit dalam memperbarui dan memperbaiki isi buku.

4. Augmented Reality

Augmented reality (AR) adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk melihat dunia fisik mereka di layar komputer atau perangkat seluler, sambil menambahkan elemen digital ke dalam pengalaman mereka. Dalam konteks penerbitan buku, AR dapat digunakan untuk membuat buku yang lebih interaktif dan menarik, misalnya dengan menambahkan video atau animasi ke dalam halaman buku.

5. Audio book

Audio book atau buku audio adalah inovasi penerbitan buku yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan buku daripada membacanya. Audio book semakin populer di kalangan orang-orang yang tidak memiliki waktu untuk membaca buku secara tradisional, seperti saat berkendara atau berolahraga.

Audiobook merupakan versi buku yang dibacakan dan direkam dalam bentuk suara. Ini memberikan pengalaman mendengarkan yang unik bagi pembaca dan dapat menjadi alternatif bagi mereka yang kesulitan membaca atau tidak memiliki waktu luang yang cukup. Audiobook juga memungkinkan pembaca untuk membaca sambil melakukan kegiatan lain seperti berkendara, memasak, atau berolahraga.

Inovasi dalam penerbitan buku terus berkembang dengan cepat, memungkinkan penerbit dan penulis untuk mencapai lebih banyak pembaca, menghemat biaya produksi, dan menciptakan buku yang lebih interaktif dan menarik. E-book, self-publishing, print on demand, augmented reality, dan audio book adalah beberapa inovasi yang telah mempercepat evolusi penerbitan buku dalam beberapa tahun terakhir. Dengan adanya inovasi ini, pembaca sekarang memiliki lebih banyak pilihan dalam cara mereka membaca, menulis, dan mengonsumsi buku.

Buku yang akan diterbitkan kriterianya tentu berbeda-beda, tergantung kecenderungan penulis dan penerbitnya, namun sebelum sampai penerbit secara proses hampir sama semuanya yaitu mulai dari mendapatkan ide sampai menerbitkannya. Umumnya tahapan tersebut adalah:

1. Prawriting

Tahap awal penulis mencari ide dengan peka terhadap sekitar (Pay attention)

Penulis harus kreatif menangkap fenomena yang terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan.

Penulis banyak membaca buku

2. Drafting

Penulis mulai membuat Draf

(outline buku/ daftar isi buku) sesuai dengan apa yang disukai

(passion): artikel, cerpen, puisi, novel dll.

3. Revisi

Setelah itu revisi naskah (tulisan mana yang baik dicantumkan, naskah mana yang perlu dibuang, naskah mana yang perlu ditambahkan)

4. Editting/ Swasunting

Penulis melakukan pengeditan. Hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat sebelum masuk penerbit (PUEBBI).

5. Publikasi

Jika tulisan yang berupa naskah buku sudah siap maka selanjutnya memasuki tahap publikasi atau penerbitan buku

Ketika akan dipublikasi atau diterbitkan, naskah yang sudah jadi tersebut akan dilengkapi dengan beberapa kelengkapan lainnya seperti kata pengantar, daftar isi dan sebagainya. Syarat-syarat ini bentuknya sedikit berbeda satu penerbit dengan penerbit lainnya. Sebagai contoh, pada penerbit yang dimiliki oleh nara sumber (Kamila Press Lamongan), naskah yang ditawarkan berupa:

1. kirimkan naskah lengkap berupa:Judul, Kata Pengantar, Daftar Isi, Naskah, Daftar Pustaka, Biodata penulis beserta photo, dan sinopsis

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf Arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file

Dengan demikian, naskah tersebut sudah masuk ke penerbit. Namun sebagai sebuah usaha, penerbitan naskah yang dikirimkan tentu mempunyai kendala tersendiri. Sebagaimana dibahas dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, persoalan daya tarik, penulis, pemasaran, kecenderungan pasar, dan jaringan menjadi beberapa hal yang sering menjadi kendalam dalam usaha penerbitan buku. Dan hal juga yang tidak kalah jadi sandungan adalah mendapatkan ISBN (International Standart Book Number/ Nomor Buku Standar Internasional), dalam hal ini harus mengajukannya ke lembaga yang ditunjuk oleh lembaga internasional sebagai wakilnya di Indonesia. Yaitu Perpusnas (Perpustakaan Nasional)

Untuk mengajukan nomor Buku Ber-ISBN, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

1. Penerbit harus mempunyai Link Berbayar: Syarat ini merupakan aturan baru yang diberlakukan mulai September 2022. Penerbit harus memiliki link berbayar untuk mengajukan nomor ISBN.

2. Mengirimkan data lengkap ke Web Perpustakaan Nasional: Penerbit harus mengirimkan data lengkap ke Web Perpustakaan Nasional. Data tersebut meliputi:

a. Cover buku: Penerbit harus mengirimkan cover buku dalam format digital.

b. Permohonan ISBN Buku: Permohonan ini harus dilakukan oleh penanggung jawab penerbit (Direktur).

c. Surat Pernyataan Keaslian Karya: Penerbit harus menyertakan surat pernyataan keaslian karya yang bermaterai 10.000 dan ditandatangani oleh penulis. Surat pernyataan tersebut juga harus diketahui oleh penanggung jawab penerbit dan disertai dengan stempel penerbit.

d. Naskah buku yang sudah dilayout dalam format PDF: Penerbit harus mengirimkan naskah buku yang sudah dilayout dalam format PDF yang lengkap dan utuh. Satu buku harus diberi watermark seperti ini dan nama judul buku dan penerbit.

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas buku yang diterbitkan, penerbit harus memastikan bahwa naskah buku yang diterima telah dilengkapi dengan watermark dan dipastikan keaslian karyanya. Meskipun beberapa masalah muncul di sepanjang proses pengajuan nomor Buku Ber-ISBN, namun dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, diharapkan dapat mempercepat dan memudahkan proses pengajuan tersebut. Jika penerbit ingin memperoleh nomor ISBN untuk bukunya, maka syarat-syarat tersebut harus dipenuhi dengan baik dan benar. Hal ini akan membantu meningkatkan kredibilitas buku dan penerbit di mata pembaca dan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi penerbit untuk mematuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh Web Perpustakaan Nasional.

Demikian selintas dan sekilas gambaran mengenai usaha penerbitan buku.

The last but not least..semoga semua 30 resume pada KBMN gelombang 28 ini bernilai manfaat dan berkelanjutan. Amiin

See U..


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer