Prestasi Menulis dan Kegagalan J. K Rowling

 


Pertemuan ke: 21



Tema: Melejitkan Prestasi Dengan Menulis

Waktu: Jum’at, 24 Februari 2023

Narasumber: Rita Wati, S. Kom

Moderator: Helwiyah, S. Pd, M. M


Salam sejahtera semua dan semoga keselamatan bersama kita

Ada sebuah cerita yang sering diceritakan mengenai seorang J. K Rowling, salah seorang penulis terkaya di dunia saat ini. Namanya melejit dengan buku novel Harry Potter yang begitu mengguncang dunia, baik dengan terbitan buku cetaknya atau dengan suksesnya diangkat ke layar lebar. Sebelum itu, J. K Rowling mungkin tidak berbeda dengan sebagian dari kita baik secara ekonomi atau karirnya. Lalu, hidup melabuhkannya pada kondisi yang bersebrangan dan berubah seratus delapan puluh derajat ketika Harry Potter meledak di pasaran. Namun, inilah inti ceritanya, J. K Rowling membutuhkan 12 kali penolakan penerbit untuk bisa mencetak Harry potter dan sampai di tangan pembaca.

Mungkin banyak di antara kita belum pernah menulis serius atau mempunyai target tertentu dalam menulis. mungkin kita juga tidak pernah berencana untuk menawarkan tulisan ke penerbit. Atau mungkin kita, baru dua tiga kali di tolak penerbit dan setelah itu menguburkan rencana di dasar bumi. Begitu berbedanya kita dengan J. K Rowling. Jika kekayaannya dengan harta kita jelas jauh berbda, dan bahkan pengalaman pahit yang jelas mengantarkannya menjadi sukses pun belum mampu kita samakan.



“Untuk berprestasi harus berani bersusah-susah” begitu kata Ibu Rita Wati yang pada pertemuan ke 21 ini sebagai narasumber. Mungkin itu juga yang akan dikatakan J. K Rowling jika bertemu dan ditanyakan pertanyaan mengenai sukses dan berprestasi. Pada pertemuan ini mirip dengan alur hidup J. K Rowling tadi, yaitu bagaimana menjadi sukses dan berprestasi melalui menulis. atau tepatnya, temanya adalah “Melejitkan Prestasi Dengan Menulis”. yakni bagaimana menulis melahirkan berbagai capaian yang membanggakan.

Membaca profil singkat Ibu Rita, beliau sudah menorehkan berbagai prestasi dari tingkat bawah sampai nasional dan internasional yang semuanya melalui menulis. Dengan giat mengikuti berbagai lomba dan pelatihan di berbagai tempat, beliau sudah melanglang buana dengan segudang torehan pengalaman dan prestasi.

Menurut Ibu Rita, untuk sampai pada tujuan entah itu sukses atau berprestasi pada sebuah bidang, yang diperlukan adalah fokus. fokus saja dahulu. Dan begitu juga menulis, tidak perlu bernafsu dengan prestasi, tidak perlu terburu-buru dengan sebuah capaian. Cukup dengan fokus pada apa yang sedang dihadapai. Jadi, fokus saja menulis, fokus saja menjaga semangat menulis, lalu menulislah. Kemudian setelah itu, menulislah. Lalu, menulislah.

Apa yang ditulis tentu akan berbeda-beda pada tiap-tiap orang. Kecenderungan orang tidak semua sama. Ada yang senang fiksi, ada juga yang suka non fiksi. Ada yang suka novel dan ada yang condong pada tulisan ilmiah. Dan menulis biasanya akan diklasifikasikan bergantung pada tema yang akan diangkat tersebut. Jika menulis tentang tema pejalaran misalnya, tentu harus menggunakan bahasa baku sesuai dengan EYD. Dan kemudian jika menulis tentang tema sehari-hari atau fiksi bisa menggunakan bahasa bebas/gaul tapi masih dalam bahasa yang mudah dipahami. Ini hanya masalah pilihan atau kecenderungan. Dan yang pasti, tidak menulis bukan sebuah pilihan.

Jika sudah mulai fokus untuk menulis, dalam perjalanannya akan selalu ada rintangan. Ibarat mengendarai sepeda motor, jalannya tidak mungkin lurus terus, pasti ada turunan dan tanjakannya. Menulis pun demikian, akan ada saatnya semangat dan girah menulis itu naik turun, fluktuatif. Namun itu merupakan hal yang normal, dan jika sedang mengalaminya, penting sekali untuk mengingat kembali tujuan menulis, manfaat menulis atau kelebihan menulis. Selain itu, semangat juga bisa didapatkan kembali dengan memotivasi diri atau mendapatkan video-video pendek di media sosial, membaca buku favorit atau pun sekedar rehat sejenak dari aktifitas menulis itu sendiri. Pada saat seperti itu, bagus juga melecut diri dengan mengikuti kelas-kelas atau kegiatan-kegiatan pelatihan tentang menulis. Biasanya, di situ akan didapatkan pelajaran dan perasaan mengenai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan yang tidak kalah pentingnya, dengan mengikuti kegiatan seperti itu, dan semakin berinteraksi dengan banyak orang, kita tidak akan pernah merasa sudah cukup mampu, bahkan akan merasa semakin banyak yang tidak diketahui. Semakin kita mengikuti suatu kegiatan maka semakin kita menyadari bahwa ilmu kita sangat minim.



Dan selanjutnya, fokus menulis akan mengantarkan pada keinginan mempunyai banyak tulisan atau juga mempunyai sebuah hasil karya. Pada tahap ini, perlu sekali untuk terus mendapatkan pemahaman yang lebih detail dan rigid mengenai cara, metode dan tips-trik menulis itu sendiri. Hal tersebut bisa didapatkan dengan berinteraksi bersama para penulis yang jauh lebih berpengalaman, saling berbagi di ruang-ruang maya dengan orang-orang sefrekuensi dan /atau mengikuti kelas-kelas menulis yang tingkatannya lebih tinggi. Tentu harapannya adalah menjaga semangat dan perasaan dalam menulis, serta mempunyai konsep yang lebih matang baik secara konten atau proses dalam mencapai target tadi, yaitu mempunyai banyak tulisan atau mempunyai hasil karya.

Yang terakhir adalah waktu. Mengekseskusi tulisan dengan perencanaan matang akan menghasilkan kejelasan waktu sesuai target yang direncanakan. Dengan demikian, menulis menjadi sebuah aktifitas yang terlihat santai namun terarah. Waktu menulis mungkin akan sangat relatif, namun waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan capaian sesuai target akan sangat jelas.

Menulis adalah sebuah aktifitas yang unik. Serius namun tidak serius. Santai namun tidak santai. Disiplin namun tidak disiplin. Menulis seperti aliran air di sungai yang dalam, terlihat tenang namun menyimpan kekuatan yang dahsyat. Menuliskan melibatkan banyak potensi manusia dan menulis merupakan ramuan dari aktifitas fisik dan non fisik manusia. Tidak mengherankan jika menulis mempunyai banyak manfaat bagi manusia.



Menurut para ahli, menulis bermanfaat bagi menulis untuk:

- Meningkatkan kecerdasan

- Mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas

- Menumbuhkan keberanian

- Mendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi

Sedangkan dari sisi kesehatan, menulis bisa untuk:

- Meredakan stress

- Memecahkan masalah dengan lebih baik

- Menuangkan perasaan sesuai keinginan

- Memperbaiki suasana hati

- Meningkatkan daya ingiat

Dan manfaat menulis untuk prestasi sudah tidak diragukan lagi. Menulis bisa mendatangkan kekayaan, menulis bisa mengantarkan pada ketenaran, dan menulis bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Prestasi tidak seharusnya melulu masalah kekayaan, prestasi juga masalah prestise dan partisipasi, sehingga menulis bukan mengenai kemarin dan hari ini, namun merupakan masalah perjalanan sejarah sebuah peradaban.

Untuk berprestasi, baik dengan kekayaan, prestise dan partisipasi proses mendapatkannya sama. Inilah yang seperti disinggung pada awal tulisan ini mengenai apa yang dikatakan oleh Ibu Rita, untuk berprestasi harus berani bersusah-susah.  Jadi, menurut beliau beberapa hal perlu diperhatikan untuk berprestasi tadi, yaitu:

- Harus berani bersusah-susah. Proses itu tidak pernah membohongi hasil. Tidak perlu takut untuk bersusah-susah, karena seberat apa susah yang didapat, maka seberat itu pula sukses yang menantinya

- Terus mencoba walau gagal. Kisah J. K. Rowling di awal tulisan ini cukup menjadi bukti bahwa konsisten dalam berusaha walaupun menemui kegaglan dalah pelajaran yang sangat penting

- Aktif mencari informasi. Dunia maya sekarang ini menyediakan informasi yang begitu kaya. Terus mencari informasi akan memberikan bukan saja tambahan wawasan, tetapi juga tambahan ide dan gagasan

- Tetap up date pengetahuan dan informasi lainnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan perkembangan berbagai hal begitu cepat, salah satu cara untuk tetap selaras dengan perkembangan tersebut adalah dengan cara meng-up date pengetahuan dan informasi

- Jangan cepat berbangga dengan hasil. Apapun hasil yang didapat bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, namun justru menjadi awal untuk mencapai hasil-hasil lainnya. Kesombongan dan rasa puas diri hanyalah fatamorgana yang membawa pada jurang kepicikan dan kebodohan.

Semoga tulisan ini bisa memberikan air yang menjadi modal bagi esok hari menghadirkan matahari dan melahirkan embun.


Komentar

  1. Saya belum gagal. Saya baru saja menemukan 10.000 cara yang tidak akan berhasil. (Thomas Alva Edison)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer