Menulis di Majalah Perjuangan
Pertemuan ke: 22
Tema: Mengirim Tulisan ke Majalah Suara Guru
Waktu: 27 Februari 2023
Narasumber: Catur Nurrachman Oktavian, M. Pd
Moderator: Sim Chung Wei, S. P
Salam sejahtera dan salam keselamatan untuk kita semua
Bagi generasi di bawah tahun 2000 sampai dengan awal-awal 2000-an, kata ‘majalah’ tentu tidak asing. Pada masa itu, majalah hampir memenuhi setiap sudut penjualan koran dan majalah. Pilihannya juga banyak, mulai dari pertanian, pendidikan, makanan, olahraga, agama, politik dan sebagainya. Majalah bernuansa spritual dan kedigdayaan serta majalah yang berbau dewasa juga tidak kalah banyaknya.
Masa-masa itu mungkin periode akhir kejayaan majalah dalam bentuk cetak, termasuk di dalamnya seperti tabloid atau buletin. Dan setelahnya, bahkan sampai saat ini, majalah masih eksis, namun tidak seheboh dan sesukses periode-periode tersebut. Oleh karena itu, generasi sekarang tidak sefamiliar itu dengan media cetak seperti majalah karena mereka lebih dekat dengan media online yang serba digital.
Dua model media ini, media cetak dan media online, masih menjadi dilema bagi sebagian majalah. Dan salah satunyanya adalah majalah Suara Guru. Majalah Suara Guru merupakan salah satu majalah tertua di Indonesia. Dan bisa bertahan selama 70-an tahun serta masih eksis dengan sebarannya di hampir seluruh daerah di Indonesia, itu adalah hal yang luar biasa.
Dan pada kesempatan ini, pada pertemuan ke-22 ini, temanya terkait dengan majalah luar biasa tersebut. Temanya yaitu: “Mengirim Tulisan ke majalah Suara Guru”. Tema ini langsung dihantarkan oleh salah seorang pengurus majalah Suara Guru, yaitu bapak Catur Nurrachman Oktavian, M. Pd. Sementara moderatornya adalah bapak Sim Chung Wei, S. P.
Mengenai kelahiran majalah Suara Guru sepertinya terdapat beberapa pendapat yang mungkin didasari pada terbitan pertama, izin terbit, atau kondisi yang lain. Jika menelusuri di internet akan ditemukan bahwa majalah ini terbit pertama pada tahun 1950-an. Sementara pak Catur berpendapat bahwa majalah Suara Guru muncul pertama kali pada tahun 1949.
Terlepas dari adanya perbedaan itu, ada satu hal yang menarik. Majalah Suara Guru diterbitkan oleh Pengurus Besar PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), dan PGRI terbentuk kurang lebih 100 hari setelah hari kemerdekaan. Artinya, PGRI lahir pada akhir 1945. Jika demikian, sekalipun dengan tetap menampung perbedaan tadi, majalah Suara Guru telah mulai berkiprah di Indonesia sejak tahun-tahun pertama kemerdekaan (1949-1950). Bertahan dalam waktu yang begitu lama sudah menjadi prestasi tersendiri bagi majalah Suara Guru.
Menilik fungsi media cetak, terutama majalah, maka majalah Suara Guru telah menorehkan andil yang tidak kecil di Indonesia. Baik itu mengenai keberadaan guru, penyaluran aspirasi atau sosialisasi lembaga pendidikan di Indonesia. Mengutip situs Gramedia mengenai fungsi majalah, yang dikutipnya dari Tesis Devita Permatasari, dikatakan bahwa majalah mempunyai fungsi untuk penerbit dan berfungsi untuk pembaca. Fungsi majalah bagi pembaca, antara lain:
- Majalah sebagai sumber informasi
- Majalah sebagai media komunikasi
- Majalah sebagai penyalur aspirasi setiap orang
- Majalah sebagai penyemai demokrasi
- Majalah sebagai media promosi
- Majalah sebagai media pembelajaran
- Majalah sebagai peningkatan kreatifitas
- Majalah sebagai media penyaluran bakat
- Majalah sebagai hiburan
Melihat fungsi majalah di atas, tergambar jelas bagaimana perjalanan panjang majalah Suara Guru menebarkan fungsi-fungsi tersebut selama 70-an tahun di seantero Indonesia. Berbagai ide dan gagasan dalam majalah tersebut menyebar ke berbagai daerah dengan sekaligus dilandasi oleh nilai-nilai PGRI sebagai tempatnya bernaung. PGRI yang sedikit lebih tua dari majalah Suara Guru telah merentang sejarah dan menjadi saksi berbagai tahapan masa yang dialami bangsa Indonesia. PGRI bukan hanya sekedar organisasi tenaga kerja dan profesi yang dijadikan sebagai tempat bernanungnya para guru yang mengajar dan mencari nafkah, tetapi lebih dari itu PGRI merupakan organisasi perjuangan yang tidak tinggal diam ketika Indonesia mengalami saat-saat yang rawan dan krusial. Maka, kolaborasi antara nilai-nilai PGRI dengan fungsi majalah Suara Guru tadi bersinergi selama 70-an tahun memberikan edukasi nyata bagi masyarakat Indonesia, teruma insan-insan Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan.
Lalu bagaimana majalah Suara Guru tersebut? Sebagai salah satu majalah tertua, tentu majalah Suara Guru telah mengalami pasang surut baik dalam proses, tampilan atau pemasarannya. Namun yang akan dideskripsikan disini adalah kekinian majalah ini. Sekarang, majalah Suara Guru terbit dwi bulanan (dua bulanan) dengan 76 halaman full colour. Kertas yang dipakai adalah kertas glossy, yakni sejenis kertas photo yang bisa menampilkan warna bagus. Dari sini terlihat kualitas fisik majalah ini sangat bagus.
Dari beberapa sumber, sebagaimana sebagain besarnya dijelaskan oleh pak Catur, rubrik yang ada di majalah Suara Guru adalah rubrik Suara Utama, Opini, Organisasi, Edutainment, Oase, Percik, Liputan Sekolah, Praktik Baik, Inspiratif, Bahasa, sastra, dan destinasi. Dari rubrik-rubrik tersebut terlihat bagaimana majalah Suara Guru memberikan ruang ekspresi literasi dalam berbagai bidang, yaitu sejarah, wisata, sastra, organisasi, berbagai informasi dan juga terutama pendidikan.
Semua tulisan atau isi dari majalah tersebut tidak mungkin diisi atau ditulis oleh tim redaksi, sehingga diperlukan penulis atau mereka yang gemar menulis untuk mengirimkan tulisannya ke redaksi majalah Suara Guru. Majalah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Pak Catur tidak diperuntukkan oleh mereka yang bernaung di bawah kementrian Pendidikan dan Kebudayaan saja, guru atau tenaga pendidik yang berada di bawah naungan kementrian agama juga termasuk. Jadi, siapa saja bisa mengirimkan tulisannya. Tulisan tersebut bisa dikirim melalui email: majalah.suaraguru@gmail.com. Sedangkan bagi yang ingin memiliki dan berlangganan majalah Suara Guru bisa menghubungi Mbak Widya di nomor 087882289299, atau mas Tyas di nomor 085814213473.
Mengirim tulisan tersebut, yakni untuk rubrik Opini di majalah Suara Guru, disyaratkan harus:
- Tulisan asli. Yakni bukan tulisan orang lain yang diklaim sebagai tulisan diri sendiri.
- Tidak mengandung unsur SARA. Yaitu tidak menyinggung persoalan hal-hal sensitif yang bisa menyulut konflik atau ketersinggungan
- Bersifat aktual. Tulisan tersebut bersifat kekinian dan up to date
- Ditulis dengan bahasa populer, ringan, lugas dan enak dibaca
- Tulisan maksimal 700 kata dengan huruf TNR, font 12 dan spasi 1,5.
Sedangkan untuk rubrik-rubrik lainnya, siapapun juga mengirimkan tulisan atau laporannya namun jumlah katanya berkisar pada 400-500 kata.
Demikian sedikit informasi mengenai majalah Suara Guru dan syarat-syarat bagi yang ingin mengirimkan tulisannya. Tulisan yang dikirim tentunya akan mengalami proses seleksi dan akan sangat tergantung pada ketersediaan ruang pada majalah yang akan diterbitkan. Oleh karena itu, tulisan yang dikirim bisa saja akan diterbitkan pada edisi selanjutnya.
Kembali ke pengantar tulisan pertama di atas, bahwa kini majalah mengalami dilema antara media cetak dan media online. Bagi majalah yang fondasi dan pendanaannya kuat dilema tersebut tidak terlalu terasa karena hanya tergantung pada hasil pemetaan dan oplah yang dibutuhkan. Namun tidak demikian dengan majalah yang secara dukungan finansialnya pas-pasan, hal itulah yang sepertinya dialami oleh majalah Suara Guru. Selain itu, sumber daya yang terbatas juga mengakibatkan terbatasnya pengelolaan.
Majalah yang sudah sedemikian lama beroperasi dan masih eksis sampai kini, perlu terus berinovasi dan mendapatkan dukungan semua pihak, terutama para stakeholder, agar eksistensinya semakin kuat dan nyata. Bagaimanapun, perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat tidak bisa diimbangi dengan hanya mengandalkan media cetak. Media online harus dijelajahi.
Mari mendukung majalah Suara Guru agar terus bisa berkiprah di ruang Indonesia, dan ke depannya juga bisa semakin baik dan berkualitas. Selain itu, mengirimkan tulisan ke tim redaksi juga men






Komentar
Posting Komentar