Menjual Buku: Cara Unik Mempromosikan Produk

 14 Maret 2023



Pertemuan ke: 28

Tema: Teknik Promosi Buku

Narasumber: Akbar Zaenudin, MM., MNE

Moderator: Sim CHung Wae

Salam sejahtera dan salam keselamatan untuk kita semua

Narasumber pada pertemuan ke 28 ini adalah penulis buku Man Jadda Wajada. Buku laris yang sudah masuk cetakan ke 13. Selain itu, beliau juga menulis buku yang tidak kalah larisnya yaitu Ketika Sukses Berawal Dari Pesantren. Beliau adalah Akbar Zaenudin, seorang yang mem-brandingkan diri sebagai motivator dan penulis buku-buku motivasi. Selain dua buku tersebut, ada belasan buku yang sudah beliau tulis, dan untuk peserta beiau menganjurkan untuk membaca bukunya yang berjudul Uktub. Sebuah buku yang berisi panduan menulis dan terdapat 150-an alamat penerbit yang bisa dikirimi naskah, semuanya anggota IKAPI



Tema pertemuan ini adalah Teknik Promosi Buku. Yaitu cara untuk membuat buku yang dihasilkan menjadi dikenal orang dan laku di pasaran. Pak Akbar sebagai narasumber, menurut saya, berkompeten membawakan tema ini karena dua hal. Pertama, karena beliau bukan sekedar penulis tetapi penulis buku motivasi. Beliau adalah motivator. Artinya, beliau akan memompa semangat peserta. Kedua, beberapa bukunya bukan hanya laku tetapi laris. Jadi, apa yang akan beliau sampaikan berdasarkan pemahaman dan pengalaman sendiri. Dan seperti yang dikatakannya sendiri, beberapa bahan dalam pertemuan ini akan diambil dari bukunya “Uktub: Panduan Menulis Buku Dalam 180 hari.”

Ketika sebuah buku sudah jadi, sudah terbit, maka langkah selanjutnya adalah menyebarkan buku tersebut untuk dijual. Uniknya, dalam menjual buku yang dijual bukan hanya barang berupa kertas, huruf dan gambar, tetapi juga menjual ide dan gagasan. Jadi, diperlukan informasi lebih yang bisa membuat orang atau konsumen tertarik dengan buku yang ditawarkan. Di sinilah diperlukannya teknik dan cara promosi yang jitu agar orang/ konsumen mau untuk membeli buku yang dipromosikan itu. Oleh karena itu, perlu dipahami dasar-dasar dari konsep promosi tersebut.

Promosi merupakan cara memberikan informasi tentang produk (buku) kepada konsumen agar mereka tertarik dan mau membeli produk tersebut. Jadi, promosi buku adalah cara kita mengenalkan buku yang dimiliki kepada orang agar mereka tertarik dan mau membeli. 

Promosi buku itu penting karena sebagus apapun buku itu kalau konsumen tidak mengetahui produknya, maka mereka tidak akan tertarik, apalagi mau membeli bukunya. 

Beberapa tujuan dari promosi buku adalah:

1. Membuat konsumen mengenal (tahu) buku atau produk.

2. Membangkitkan kebutuhan konsumen untuk membeli buku yang ditawarkan. Bagaimana caranya yang tadinya mereka tidak butuh, tetapi setelah dipromosikan menjadi butuh. 

3. Meyakinkan konsumen untuk membeli buku. 

4. Mengharapkan konsumen agar mau merekomendasikan buku tersebut kepada orang lain.

TUJUH PROGRAM PROMOSI BUKU. 

Program promosi bisa dilakukan oleh penerbit maupun penulis. Beberapa program promosi yang bisa dilakukan, antara lain:

Pertama: Launching Buku. 

Yakni program untuk meluncurkan buku baru. Launching buku bisa diadakan di aula, masjid, lembaga pendidikan, hotel, atau di mana saja yang bisa menampung dan dijangkau banyak orang. Pelaksananya bisa diinisiasi oleh penerbit maupun penulis. Begitu juga biayanya, bisa oleh penerbit maupun penulis. Hal yang perlu dilakukan adalah meyakinkan penerbit kalau buku yang akan dilaunching akan laku, dan itulah mengapa penting dan perlu menyelenggarakan program launching buku.

Kalau di toko buku Gramedia, ada tempat khusus untuk launching buku. Ruang ini bisa dimanfaatkan. Dan terlepas dari masalah tempat, sekarang ini program launching buku sudah semakin mudah dilaksanakan. Dengan adanya perkembangan media sosial seperti sekarang, kita bisa melakukan program launching buku dari rumah masing-masing. Yakni bisa melalui Facebook, instagram, Youtube dan lain-lain. 

Dengan launching buku secara langsung (live) di FB, IG, atau Youtube misalnya, teman-teman diberbagai tempat bisa diundang dan diajak berpartisipasi secara bersama-sama. Launching buku tidak harus sekali, bisa saja dilakukan berkali-kali, dan bahkan ini akan semakin bagus untuk semakin sering melakukan promosi

Kedua: Bedah Buku 

Bedah buku adalah sebuah kegiatan untuk mendiskusikan dan membedah isi buku. Sekarang, bedah buku ini bisa dilakukan secara online maupun offline. Offline artinya menyelenggarakan bedah buku di suatu tempat atau bekerjasama dengan berbagai lembaga, seperti  lembaga pendidikan, perpustakaan,  masjid, atau lembaga-lembaga lainnya. 

intinya, semua tempat dan semua situasi yang dirasa memungkinkan bisa digunakan untuk mengadakan bedah buku. Sedikit atau banyak yang datang dalam mengadakan bedah buku, itu buka persoalan. Yang penting adalah seberapa banyak kegiatan tersebut diselenggarakan. Dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini, kegiatan yang diadakan bisa direkam lalu di-upload di media sosial. Dan itu efektif untuk membuat produk (buku) yang ditawarkan akan semakin dikenal. 

Ketiga: Seminar/ Pelatihan

Seminar atau pelatihan bisa juga menjadi ajang promosi buku. Caranya, tema dari buku yang ditawarkan bisa dijadikan sebagai tema dari seminar ataupun pelatihan yang akan diadakan. Jika buku tersebut temanya adalah sejarah misalnya, maka bisa diadakan seminar tentang sejarah. Seminar yang diadakan bisa saja gratis bagi siapapun karena targetnya adalah mengenalkan produk (buku) kepada peserta seminar.

Seminar atau pelatihan bisa dilakukan berkali-kali.  Media offline atau online juga bisa. Intinya adalah mengenalkan produk (buku) yang ada agar orang tertarik untuk membeli, yang dilakukan dengan jalan mengadakan seminar atau pelatihan tadi.

Keempat: Membangun Komunitas

Komunitas membuat seorang penulis dekat pembacanya. Komunitas merekatkan jalinan antara penulis dan pembacanya. Dan dengan hal tersebut akan bisa memudahkan untuk menawarkan buku, baik kepada anggota komunitas atau kepada teman dan jaringan dari anggota komunitas tersebut.



Sama seperti seminar atau pelatihan yang diadakan tadi, komunitas pun demikian, yakni menyesuaikan komunitas yang dibangun dengan tema buku yang dibuat. Misalnya tema bukunya adalah sejarah, maka komunitas yang dibuat adalah komunitas kesejarahan. Sejarah mempunyai cakupan yang luas, seperti mata pelajaran dan mata kuliah sejarah, sejarah lokal, wisata sejarah, sejarah reliji, guru/dosen sejarah, pecinta sejarah, sejarawan dan masih banyak lagi lainnya. Itu semua bisa menjadi jalan membangun komunitas tadi.

Berbagai informasi terkait kesejarahan bisa dibagikan secara rutin dalam komunitas. Berbagai isu-isu menarik dan kekinian juga bisa didiskusikan di komunitas. Begitu juga dengan materi-materi menarik di buku bisa dibincangkan dengan santai. Untuk menghindari kejenuhan, sesekali bisa membuat kegiatan dengan zoom atau bertemu langsung dengan suasana yang lebih hangat.

Kelima: Membangun Jaringan Reseller

Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku yang disodorkan dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual. 20-30 persen komisi dari harga jual adalah untuk reseller. Misalnya harga jual bukunya Rp 100.000, 20-30% diberika untuk mereka. Garis besar materi-materi yang terkait buku perlu diberikan kepada mereka, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menjual.

Reseller ini jumlahnya bisa banyak dan bisa membentuk sebuah jaringan. Jaringan reseller ini efektif untuk memasarkan buku akan dampaknya bisa saling menguntungkan antara penerbit, penulis dan mereka yang menjadi bagian dari jaringan reseller tersebut



Keenam: Menjual di Marketplace

marketplace seperti Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya merupakan pasar dunia maya. Tidak ubahnya seperti pasar tradisional, mall, square atau pusat-pusat perbelanjaan di dunia nyata, marketplace ramai pengunjung. Jumlah kunjungan dan transaksi yang berputar di marketplace terus meningkat. Oleh karena itu, membuka toko di marketplace akan membuka ruang dan meluaskan promosi dan distribusi buku yang ditawarkan.  

Ketujuh: Memanfaatkan Media Sosial Untuk Promosi Buku

Dengan membuat status terkait tema buku atau dengan membagikan hal-hal yang bermanfaat kepada follower dan subscriber, sesungguhnya juga merupakan bagian dari promosi. Promosi tidak harus langsung menawarkan produk. Dengan semakin seringnya berbagi, itu akan membuat mereka menjadi paham apa yang ditawarkan, akan semakin tertarik dengan tema yang diberikan dan yang pasti, akan bisa merasakan manfaat dari apa yang sering dibagikan. 

Tidak perlu terus menerus menawarkan produk (buku) atau setiap hari merubah status yang isinya menjual buku. Tetap menjaga kenyamanan dan ketertarikan para follower atau subscriber itu penting, sehingga perlu dijaga ritmenya agar mereka tetap berada pada jalur tersebut. Itulah pentingnya memvariasikan hal-hal yang dibagikan. Dengan menjaga ritme tersebut tentu akan mempermudah jalan untuk mempromosikan produk (buku) yang ditawarkan

Jadi, pada dasarnya promosi buku adalah upaya mempengaruhi orang agar mereka mau menjadikan produk (buku) sebagai kebutuhan utama. Dan memang, membaca akan banyak membuka wawasan, pengetahuan, dan pilihan dalam mengambil keputusan. Dan memang  pada dasarnya buku itu penting, membaca itu penting. Ia adalah kebutuhan rohani. Mempromosikan dan menjual buku itu adalah menawarkan kertas yang berisi oase kehidupan. Apa yang dilihat pada buku menjadi penting karena akan menjadi pintu masuk pada ide dan gagasan yang ditawarkan. Isi buku juga tidak kalah pentingnya karena ia adalah fondasi peradaban dan kebutuhan asasi manusia. Olahan beberapa hal tadi menjadi hal menarik dan unik.Dan memang itulah uniknya  buku dan mempromosikan buku.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer