Menerbitkan Buku Ber-ISBN

 05, Maret 2023



Pertemuan ke: 23

Tema: Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indi

Waktu: Rabu, 01 Maret 2023

Narasumber: Raimundus Brian Prasetyawan, S. Pd

Moderator: Nur Dwi Yanti, S. Pd


Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga kita semua mendapatkan keselamatan

Tinggal selangkah lagi Pelatihan ini akan sampai pada ujung akhirnya. Sekarang sudah pertemuan ke 23, artinya tinggal 7 pertemuan lagi. Namun sebenarnya, semuanya belum benar-benar berakhir karena ada satu hal yang tersisa setelah Materi ke 30, yaitu menerbitkan buku. Dan peserta akan dianggap mengikuti Pelatihan dan layak mendapatkan sertifikat, akan sangat bergantung pada terbitnya buku tersebut. Yaitu buku solo.

Bagi yang sebelumnya pernah menerbitkan buku, syarat menerbitkan buku solo sebagai syarat mungkin tidak terlalu berat. Naskah yang ada tinggal ditawarkan ke penerbit dengan cara atau langkah yang pernah dilakukan sebelumnya. Namun tidak demikian dengan kita yang sama sekali belum pernah menerbitkan buku, perlu informasi dan petunjuk serta hal-hal penting lainnya agar bisa menerbitkan buku dengan baik. Nah, itulah yang kemudian menjadi tema pertemuan ke 23 ini, yakni mengenai penerbitan buku.

Temanya adalah Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indi. Narasumbernya bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S. Pd, sedangkan moderatornya ibu Nur Dwi Yanti, S. Pd. Dua orang yang sudah tidak asing lagi karena sering bertemu pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Menerbitkan buku tentu menjadi impian banyak orang, terutama bagi mereka yang suka atau sering menulis. Dengan menerbitkan buku, ide dan gagasan akan tersimpan dengan cara yang lebih baik dan terjaga. Dan dengan menerbitkan buku, ide dan gagasan yang ada akan lebih mudah dibaca, dibagi dan didiskusikan oleh orang lain. Oleh karena itu, menerbitkan buku merupakan salah satu cara efektif untuk menawarkan apa yang kita pikirkan atau kita gelisahkan agar bisa berkembang dan berproses dengan cara yang lebih dinamis.

Menerbitkan buku sekarang ini tidak sesulit sebelumnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat memungkin untuk terbukanya ruang-ruang penerbitan buku bahkan bagi siapa saja yang menginginkannya, hanya saja unsur legalitas agar buku yang diterbitkan diakui maka perlu ada pengakuan dari pemerintah. Pada penerbitan buku, pengakuan oleh negara disebut dengan ISBN (International Standart Book Number/ Nomor Buku Standar Internasional), sedangkan untuk publikasi periodik seperti majalah dikenal dengan nama ISSN (Internatioan Standart Serial Number/ Nomor Seri Standar Nasional).

ISBN bukanlah sekedar penomoran buku saja. Sistem ini sudah diakui secara internasional sebagai standar dan dikelola secara internasional juga. Dulu, sistem ini diciptakan di Ingggris tahun 1966 oleh seorang pedagang buku bernama W. H. Smith. Sejak tahun 1970 sistem pengidentifikasin ini diadopsi sebagai standar internasioan, dan Sampai tahun 1974 lebih dikenal dengan nama SBN (Standart Book Numbering/ Standar Penomoran Buku). Lembaga internasional yang mengurus ISBN berkedudukan di Berlin Jerman, namun untuk mengurus ISBN tidak perlu ke Jerman dan cukup menghubungi perwakilan lembaga di masing-masing negara yang sudah ditunjuk oleh lembaga internasional tersebut. Dan untuk Indonesia, lembaga yang ditunjuk sejak tahun 1986 adalah Perpusnas (Perpustakaan Nasional).

Buku yang terbit harus mempunyai ISBN agar diakui, dan inilah yang harus ada ketika menerbitkan buku. Pada masa sebelumnya, mengurus ISBN tidak mudah dan penerbitan buku dilakukan hanya oleh penerbit-penerbit mayor saja, namun pada masa belakangan bermunculan penerbit-penerbit independen yang membuat penerbitan buku menjadi hal yang lebih mudah dan terjangkau.



Secara umum, penerbit buku bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

- Penerbit mayor

- Penerbit indi dan 

- Self publishing

Pertama, penerbit mayor adalah penerbit besar. Nama-nama penerbit yang banyak dikenal seperti Gramedia, Grasindo, Erlangga, Andi dan lain-lain, semuanya adalah penerbit mayor. Penerbit mayor mempunyai modal yang besar sehingga semua proses penerbitan buku mereka yang tanggung, untuk kemudian nanti mereka yang akan pasarkan. Oleh karena itu, penerbit mayor menerapkan seleksi naskah, sehingga belum tentu semua naskah akan diterima. Mereka perlu menyaring naskah agar naskah yang diterbitkan akan menjadi buku yang berkualitas dan laku di pasaran. Penerbit mayor juga sudah mempunyai jaringan pemasaran yang kuat sehingga mereka memasarkan terbitan buku ke banyak tempat dan ruang.

Kedua, penerbit indi. Penerbit independen atau yang lebih dikenal dengan penerbit indi lahir sebagai alternatif bagi mereka yang ingin bukunya terbit dengan cara yang lebih mudah dan lebih mungkin. Beberapa kendala yang biasa ditemukan dalam penerbit mayor bisa diberikan solusi oleh penerbit indi. Beberapa di antaranya adalah:

- Jika pada penerbit mayor tahap seleksi naskah menjadi tantangan untuk bisa menerbitkan buku, tidak demikian dengan penerbit indi. Naskah hampir pasti bisa diterbitkan. 

- Waktu yang dibutuhkan pun demikian. Pada penerbit mayor waktu yang dibutuhkan bisa sampe hitungan tahun, itupun belum tentu diterima, sedangkan pada penerbit indi hanya dalam hitungan bulan saja. 

- Proses penerbitan mudah dan cepat. Jumlah buku yang akan dicetak pada penerbitan indi terbatas, tidak seperti pada penerbit mayor yang akan mempertimbangkan jumlah cetak minimal dan keuntungan yang akan didapat.



Ketiga, self publising atau menerbitkan sendiri. Penerbitan buku model yang terakhir ini kerapkali disamakan dengan penerbit indi karena sama-sama penerbit independen. Walau terlihat sama, sebenarnya dua model ini punya beberapa perbedaan. Pada self publishing semuanya dikerjakan sendiri mulai dari pengadaan naskah, proses pengeditan, lay out, sampai penerbitan. Bahkan untuk mengurus ISBN juga dilakukan sendiri. Sedangkan pada penerbit indi, prosesnya hampir sama dengan penerbit mayor hanya saja untuk proses pengeditan, lay out dan pengurusan ISBN dikenakan biaya.

Ketiga model penerbitan di atas tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang jelas, bagi penulis pemula sebaiknya menempuh jalur penerbit indi karena akan lebih jelas waktu penerbitannya dan tentu itu akan berpengaruh secara psikologis terhadap semangat kepenulisannya. Menjaga semangat ini sangat penting terutama untuk kestabilan dan konsistensi. Jika sudah lebih mapan, atau membutuhkan tantangan lebih, baru mencoba di penerbit mayor.


Pada penerbit indi memang diperlukan biaya-biaya untuk mendapat fasilitas  penerbitan, atau jika ingin cetak ulang. Tapi itu memang konsekuensi dari penerbitan tanpa seleksi, sehingga biaya penerbitan menjadi tanggung jawab penulis untuk mendapat fasilitas penerbitan yang memuaskan. Saat ini, bahkan melalui media sosial, banyak sekali penerbit-penerbit indi yang menawarkan jasanya. Namun perlu berhati-hati karena tidak semua iklan penerbit itu kejujuran dan kepentingannya sama, niat menerbitkan buku malah mendapatkan kerugian finansial. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut perlu memperhatikan beberapa hal berikut dalam menentukan penerbit indi yang akan dipilih. Yaitu:

Biaya penerbitan

Fasilitas penerbitan yang didapat penulis

Batas maksimal jumlah halaman

Ketentuan dan Biaya cetak ulang

Apakah dapat Master PDF

Jumlah buku yang didapat penulis

Hal-hal tersebut harus didapatkan informasinya secara jelas, karena banyak kasus yang terjadi informasi awal yang didapatkan justru berbanding terbalik ketika rencana penerbitan sudah setengah jalan. Tidak sedikit, misalnya, yang menemukan kasus seperti:

- Biaya murah bahkan gratis diawal, namun jadi mahal akhirnya

- Ketidakjelasan nasib naskah setelah berbulan-bulan 

- Ketentuan berubah-ubah tidak sesuai dengan di awal.

- Ada ketentuan yang tidak disampaikan di awal

Komunikasi dan kesepakatan yang jelas di awal sangat penting diperhatikan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mari menerbitkan buku sebanyak-banyak. Sangat tidak persoalan menerbitkan buku di penerbit indi karena, jika kembali pada prinsip konsistensi, hal tersebut baru awal melangkah. Menulis itu seharusnya adalah persoalan passion, bukan ranah prestise. Namun jika dengan passion kemudian mendapatkan prestise, itu sama sekali bukan persoalan. Dengan penerbit indi menyalurkan passion menulis, yang mungkin saja nanti mengantarkan pada prestise pada penerbit mayor.

semoga


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer