Era Tiga Bersaudara

 27 Maret 2023 M/ 05 Ramadhan 1444 H

Wilayah sekitar Panti merupakan wilayah bersejarah bagi anak keturunan Raden Juruh. Dari sinilah awal mula perjalanan dan penyebaran anak cucu mereka yang kini menempati berbagai wilayah seperti Panti, Puyung, Kopang, Mantang dan beberapa wilayah yang lebih kecil lainnya.

Penyebaran ini tentunya sangat bergantung pada kondisi sosial, ekonomi dan politik saat itu. Mereka memutuskan untuk berpindah atau bertempat tinggal di tempat yang lebih aman, kondusif dan stategis untuk kepentingan eksistensi mereka lebih lanjut. Itulah yang dialami oleh cucu dari Raden Sabit. Cucu-cucunya tersebut memindahkan tempat tinggal ke tempat agak jauh dari tempat semula di wilayah sekitar Panti. Yaitu sedikit ke utara dari wilayah Kopang. Daerah ini nantinya dikenal dengan nama Batukliang.

Cucu Raden Sabit berjumlah tiga, yaitu Raden Pakah, Raden Lage dan Raden Egum. Dua yang pertama merupakan inisiator perpindahan ke daerah Batukliang dan selanjutnya memimpin wilayah tersebut. Sedangkan Raden Egum lebih memilih menyendiri di sekitar Genteng dan kemudian berpindah atau lebih sering bolak balik ke wilayah Lantan.

Raden Egum adalah yang bungsu dari saudara-saudaranya. Beliau mempunyai sifat yang pendiam dan tidak banyak bicara, serta tidak terlalu suka dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan orang banyak. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan sedikit gempal berkesesuaian dengan sifat beliau yang kalem. Konon beliau mempunyai hobi berburu ke hutan bagian utara dan banyak menghabiskan waktu di sana. Inilah juga yang menyebabkan beliau membuat tempat beristirahat atau tinggal sementara di daerah lantan. Sifat lain dari Raden Egum adalah menyukai anak-anak. Beliau tidak segan untuk ikut bermain dengan anak-anak bahkan ketika sedang berada dalam waktu-waktu yang formal. Ada sebuah cerita, ketika dalam sebuah rapat dengan agenda memutuskan hal yang penting beliau bahkan menyempatkan diri bermain-main dengan anak-anak yang sedang bermain di luar tempat rapat, padahal waktu itu rapat sudah dimulai.

Hal lain yang menonjol dari Raden Egum adalah ilmu kedigdayaannya. Walaupun kadang bersifat kekanakan dengan bemain bersama anak-anak, atau lebih sering pendiam, tapi beliau mempunyai ilmu yang tinggi. Menurut cerita, setelah perpindahan ke Batukliang, beberapa kali terjadi kegentingan yang menyebabkan hampir terjadi peperangan atau penyerangan dari pihak lain. Pada saat itu Raden Egum berperan penting meredam peristiwa tersebut. Ketinggian ilmu kedigdayaan ini nantinya diwariskan oleh putra dan cucu beliau, Jero Sungkawe dan Jero Suraje, yang juga beberapa kali mempunyai peran penting dalam menjaga keamanan.

Terakhir, Raden Egum dikenal mempunyai tingkat spiritualitas yang tinggi. Banyak cerita mengenai hal ini tapi bukan tempatnya untuk menceritakannya secara lebih detail. Hanya saja, sebagai gambaran tingkat spritualitas beliau, konon ketika meliau meninggal di sekitar Genteng sekarang terjadi pembicaraan mengenai tempat beliau akan dimakamkan. Memang beliau berwasiat untuk dimakamkan di bagian Lantan, di sebuah tempat yang sudah beliau tunjuk, namun untuk membawa jenazah ke wilayah tersebut tentu sangat sulit. Pada waktu itu, Lantan adalah pinggiran hutan yang lebat, jalan menuju ke sana juga sangat terjal dan sulit, belum lagi harus melewati sungai Babak yang terkenal besar dan berarus deras. Seusai pembicaraan keluarga, diputuskan untuk menjalankan wasiat beliau untuk dimakamkan di tempat yang beliau inginkan.

Tempat yang diwasiatkan oleh Raden Egum itu adalah tempat datar yang berada di tempat ketinggian. Lantan memang wilayah yang berada di dataran tinggi. Ke arah timur, tempat tersebut terus menurun dan berujung pada sungai Babak di bawahnya. Setelahnya, daerah tersebut kemudian menanjak tinggi dan berujung pada deretan perbukitan di atasnya. Di tempat tersebutlah terdapat sebuah kompleks makam yang disebut kompleks makam Datu Benua. Makam dari turunan kerajaan Benua, sebuah kerajaan yang juga banyak disebut dalam cerita-cerita babad atau cerita turun temurun di masyarakat. Diceritakan wasiat Raden Egum yang ingin dimakamkan ditempat tersebut agar tetap bisa saling lihat (bahasa Sasak: saling tanggaq) dengan Datu Benua.

(Kompleks Makam Datu Benua)

Singkat cerita, ketika jenazah Raden Egum dibawa ke Lantan, tempat tersulit adalah menyeberangi sungai Babak. Hampir tidak mungkin untuk menyeberangi sungai tersebut untuk membawa jenazah. Setelah ditunggu beberapa lama, dan keluarga sudah hampir putus asa, konon datanglah semut yang begitu banyak. Semut-semut itu mengangkut dedaunan, ranting pohon dan bahkan batang-batang pohon membuat jalan agar jenazah Raden Egum bisa diseberangkan. Dan dengan cara itulah jenazah Raden Egum diseberangkan dan dimakamkan di tempat sesuai wasiat beliau ketika masih hidup. Tempat tersebut, seiring berjalannya waktu dan populasi yang terus bertambah, kini menjadi sebuah kampung yang termasuk wilayah desa Lantan. Kampung tersebut bernama Gubuk Makam (gubuk: kampung). Disebut demikian karena di tempat tersebut ada sebuah makam, yaitu makam Raden Egum. Hari ini makam Raden Egum sudah menjadi pemakaman umum, namun makam beliau masih ada dan terjaga. Kompleks makam tersebut berada di pinggir jalan menuju Sirkuit Motor Cross Internasional Lantan yang sudah mulai beroperasi 2/3 tahun terakhir. Dulu, jalan tersebut awal mulanya adalah jalan setapak menuju ke dalam hutan. Orang-orang yang lewat di jalan samping makam tersebut, menurut cerita turun temurun di Lantan, harus menunduk dan yang menunggang kuda harus menuntun kudanya. Pernah terjadi beberapa kali kuda dari orang yang lewat mati langsung di tempat tersebut karena penunggangnya tidak turun melewati makam tersebut.

Demikian sekilas mengenai Raden Egum. Sementara itu, dua saudara beliau Raden Pakah dan Raden Lage berada di Batikliang. Masa-masa tersebut termasuk masa damai dalam sejarah Lombok. yakni dalam arti tidak terjadi banyak pergolakan baik di tingkat atas, yaitu pemuka Sasak dan penguasa Bali, ataupun di tingkat bawah, di masyarakat. Masa ini tidak banyak diceritakan, tapi tentunya masa ini adalah awal berbenah karena baru menempati daerah baru. Secara jumlah, penduduk Sasak belum begitu banyak masa itu, apalagi untuk ukuran sebuah wilayah seperti Batukliang yang baru melakukan perpindahan. Secara politik juga demikian, sebagai daerah baru maka yang dilakukan adalah perluasan wilayah dan menentukan batas-batas wilayah. Perluasan wilayah artinya membuka wilayah-wilayah baru dengan cara membuka tempat tersebut sebagai tempat tinggal. Lazim waktu itu sebuah aturan tidak tertulis mengenai pembukaan wilayah yang akan dimiliki oleh mereka yang membukanya atau oleh mereka yang menyuruh membukanya. Tradisi ini bahkan berlaku dan berjalan jauh setelah itu, hal ini disebabkan karena Lombok saat itu masih sangat luas dengan penduduknya yang masih sangat sedikit.

Menentukan batas wilayah juga tidak kalah pentingnya, walaupun pada awalnya pola yang digunakan masih sangat longgar namun tetap saja mengetahui dan menentukan batas wilayah sangat penting secara politik. Penentuan batas wilayah ini mengharuskan adanya komunikasi dengan pihak lain, yaitu penguasa yang wilayahnya berbatasan langsung. Namun saat itu, komunikasi antar penguasa masih terjalin dengan baik apalagi ditambah lagi dengan sering terjadinya pernikahan silang yang menyebabkan tersambungnya ikatan kekeluargaan antar wilayah. Maka tidak mengherankan jika pola komunikasinya masih sangat cair dan relatif tidak memunculkan masalah pada batas-batas wilayah. Hal ini berbeda dengan 5-7 generasi setelahnya, yaitu ketika Belanda datang ke Lombok. Wilayah perbatasan menjadi isu hangat dan bahkan secara formal diadakan pertemuan yang juga dihadiri dan ditengahi oleh pihak Belanda. Nantinya, pertemuan ini menghasilkan kesepakatan wilayah timur (Timuq Juring) menjadi delapan wilayah dengan batas-batas yang ditentukan. Hal tersebut, pertemuan yang dihadiri Belanda itu,  terjadi karena pola komunikasi yang cair dan ikatan kekeluargaan yang sebelumnya begitu erat sudah mulai semakin pudar. Selain itu, populasi yang semakin meningkat ditambah dengan kompleksnya kepentingan masing-masing wilayah juga semakin mengemuka.

Masa awal Batukliang dipimpin oleh Raden Pakah sebagai saudara tertua. Sedangkan dua saudaranya, Raden Lage dan Raden Egum, tetap mendampingi. Pengangkatan Raden Pakah sebagai pemimpin didasarkan pada aturan tradisi bahwa yang tertua yang paling berhak menempati posisi itu. Konsep ‘tertua’ dalam budaya Sasak mempunyai beberapa kelebihan. Konsep ini berlaku di banyak tempat dan banyak sisi sampai hari ini, walaupun sudah mengalami keterkikisan. Yang tertua lebih berhak mengambil keputusan-keputusan penting, yang lebih tua mempunyai tanggung jawab lebih besar, yang lebih tua lebih berhak dihormati, dan/ atau yang lebih tua lebih berhak mendapatkan lebih dalam hal-hal tertentu. Namun hal yang perlu disadari dan dipahami adalah bahwa konsep tersebut dan konsep-konsep budaya lainnya dalam budaya Sasak harus dilambari oleh nilai Tindih. Nilai Tindih merupakan inti (core) budaya yang menurunkan konsep-konsep budaya lainnya, oleh karena itu jika budaya ini tidak dipegang teguh maka akan mengganggu konsep yang lainnya.

Konsep tindih itu mengandaikan adanya sikap ‘saling’ sehingga akan terbentuk rasa saling menghargai. Raden Pakah memegang tampuk kepemimpinan karena beliau yang tertua di antara saudaranya, saudara yang lain harus menghargai dan menjalankan hal tersebut. Sedangkan bagi Raden Pakah harus menjalani hal tersebut dengan penuh tanggung jawab dan tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada kedua saudaranya. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kepemimpinan masa Raden Pakah ini mempertontonkan pola kepemimpinan yang begitu egaliter dan demokratis, terutama terkait dengan saudara-saudaranya. Kebijakan apapun tidak pernah lepas dari berdiskusi dan melibatkan dua saudaranya. Dalam mengambil kebijakan atau dalam acara-acara penting lainnya, acara tersebut tidak akan dimulai jika belum dihadiri oleh saudara lainnya. Diceritakan, bahkan beliau-beliau rela menunggu kedatangan Raden Egum yang bertempat tinggal jauh dari Batukliang untuk memulai rapat. Beliau-beliau juga tahu jika Raden Egum tidak terlalu suka berhadapan dengan orang banyak atau dalam kegiatan-kegiatan seperti itu, atau bahkan jika beliau hadir pun acuh dengan hal tersebut. Namun, itulah arti nilai tindih. Raden Egum perlu menghadiri kegiatan tersebut walaupun beliau tidak terlalu peduli dengan pemerintahan, sedangkan dua saudara lainnya perlu menunggu kehadiran saudara beliau yang bungsu walaupun beliau tahu hasil akhirnya.

Itu hanya secuil dari contoh mengenai nilai tindih. Dan bisa dibayangkan jika pola tersebut diterapkan dalam sistem pemerintahan yang lebih luas, dalam berkeluarga, dalam berkegiatan di masyarakat, dalam beragama, dalam bertingkah laku, atau dalam berbahasa. Maka tidak mengherankan jika nilai tindih ini terganggu, akan mengganggu tatanan nilai lainnya.

Begitulah era tiga bersaudara di Batukliang yang berlangsung sekitar pada paruh akhir abad XVIII. Beberapa generasi selanjutnya meneruskan fondasi yang sudah diletakkan oleh tiga bersaudara baik dalam pemerintahan atau dalam hal yang lain selama di Batukliang. Nantinya, tiga bersaudara tersebut merupakan tokoh yang menurunkan keluarga menak yang utamanya berada di tiga tempat di Mantang kini atau wilayah-wilayah lain dari cakupan Sidikare Batukliang sekarang. Raden Pakah menurunkan keluarga Pedaleman/ Mantang I, Raden Lage menurunkan Rajumas/ Mantang II, dan Raden Egum menurunkan Gunung-Tempo/ Mantang III.


Komentar

Postingan Populer