Dari Batukliang ke Mantang

 28 Maret 2023 M/ 06 Ramadhan 1444 H

Pada tahun-tahun terakhir sebelum pecahnya Congah Praya II atau Perang Lombok pada tahun 1891, kondisi dari hari ke hari semakin memanas dan tidak menentu di berbagai wilayah Lombok. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dan dilaksanakan pihak kerajaan Karang Asem terasa semakin menyudutkan dan memberatkan orang-orang Sasak. Namun, kuatnya cengkeraman kerajaan menyebabkan gejolak di bawah masih bisa diredam.

Pada pertengahan tahun 1891, terjadi beberapa insiden di Praya. Insiden tersebut menjadi pemicu semakin memanasnya kondisi sehingga terjadi pertemuan tokoh-tokoh Praya yang memutuskan untuk mengangkat senjata. Maka diputuskanlah tanggal 8 Agustus 1891 M bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1310 H sebagai waktu dimulainya peperangan.

Inisiatif Praya ini merupakan sebuah keputusan berani karena akan berhadapan bukan hanya dengan pihak kerajaan saja, tetapi juga dengan pihak di bawahnya yang justru adalah orang-orang Sasak sendiri. Benar saja, pada awal peperangan itu Praya benar-benar sendiri dan bahkan dikepung oleh kekuatan dari berbagai wilayah di Lombok dengan pihak kerajaan sebagai inisiatornya.

Namun sejarah berkata lain, ketika Praya dikepung dan diserang begitu hebatnya selama kurang lebih satu bulanan, tekad dan semangat mereka tidak pernah kendor. Praya tidak bisa ditaklukkan, dan ini yang akhirnya membalikkan alur sejarah, yaitu ketika kekuatan Sasak berbalik membela Praya dan bersatu melawan penguasa Bali. Terjadilah perang besar paling merepotkan pihak penguasa Bali, dan bahkan menjadi pemicu hilangnya kekuasaan Karang Asem di Lombok pada tahun 1894.

Dinamika yang terjadi antara tahun 1890 – 1894 cukup signifikan dalam perjalanan sejarah Mantang dan Batukliang. Keputusan penguasa-penguasa wilayah untuk bersatu dan melawan menjadi ancaman terbesar bagi penguasa Bali. Ketika peperangan berlangsung pihak Bali mulai curiga kepada pihak-pihak Sasak yang ikut menyerang Praya karena dianggap berperang setengah hati, maka dilancarkanlah beberapa propaganda. Propaganda ini untuk menghabiskan tokoh-tokoh Sasak yang dianggap membangkang. Salah satunya adalah pemuka Batukliang bernama Raden Buru atau Ilang Cakra. Dengan dalih adanya hal yang dibicarakan dengan penguasa Bali, beliau dan putranya Lalu Diwaje menjadi korban propaganda tersebut.

Raden Buru adalah pemimpin Batukliang saat itu. Beliau memimpin Batukliang setelah sebelumnya dipimpin oleh Jero Sriaji, orang yang membesarkannya sejak umur 2 tahun. Yaitu setelah meninggalnya ibu beliau. Pada waktu peristiwa propaganda tersebut beliau sudah berumur cukup sepuh. Sedangkan putra beliau Lalu Diwaje, adalah putra beliau yang paling besar. Lalu Diwaje mempunyai gangguan pada sebelah matanya, tapi beliau dikenal sebagai orang yang mempunyai ilmu tinggi. Beliau-beliau ini hidup pada masa perang, mempunyai ilmu untuk menjaga diri adalah sebuah keharusan, apalagi mereka yang nantinya diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat. Dan Lalu Diwaje dikenal mempunyai keahlian dalam hal tersebut. Jika beliau marah atau tersinggung, tidak ada yang berani berhadapan dengan beliau.

Diceritakan, ada seorang penjual pakis dari Subahnala (sekarang termasuk desa Peresak). Dia menjual pakisnya di Jelojok (dekat Kopang sekarang). Suatu waktu ada seorang menak (bangsawan)  Kopang datang membeli pakis. Saat terjadi transaksi si penjual tidak menggunakan bahasa halus Sasak dalam berkomunikasi sehingga pembeli tadi tersinggung. Waktu si penjual pulang, dia diikuti sampai ke rumahnya. Rumah-rumah waktu itu umumnya menggunakan dari pagar anyaman bambu. Sewaktu si penjual tadi berada di dalam rumahnya sedang berdiri di dekat pagar, dia ditusuk keris dari luar rumahnya. Keris yang ditusukkan itu lalu diputar dan dibiarkan lama. Mendengar hal tersebut Lalu Diwaje marah dan akan berangkat ke Kopang, tapi hal itu tidak terjadi karena menak Kopang lebih dahulu datang ke Lalu Diwaje untuk minta maaf. Mereka sudah mengenal siapa Lalu Diwaje dan tidak mau mencari masalah dengan beliau.

Ketika propaganda Bali dilancarkan, Raden Buru sebenarnya sudah diingatkan untuk tidak berangkat ke Puyung dan lalu ke Cakra saat itu. Hasil rembug tokoh-tokoh Batukliang menganjurkan agar tidak menerima undangan Bali karena dicurigai ada maksud terselubung, namun Raden Buru bersikeras untuk berangkat. Pertimbangan beliau, memang penguasa Bali punya rencana, jika tidak diterima mereka akan menyerang Batukliang dan itu akan mengorbankan banyak orang. Namun jika dia yang berangkat, hanya beberapa yang akan menjadi korban.

Berangkatlah Raden Buru bersama putranya Lalu Diwaje dan beberapa pengikutnya. Sebenarnya, kecurigaan yang sama juga dipikirkan oleh pemimpin yang lain hanya saja mereka ketika berangkat menghadiri undangan penguasa Bali membawa pasukan yang banyak. Dengan cara itu tipu muslihat Bali tidak bisa dilancarkan. Sementara Raden Buru datang hanya dengan beberapa orang. Pertama beliau datang ke markas penguasa Bali di Puyung, dari sana beliau diarahkan ke Cakra, tepatnya di sekitar Karang Jangkong sekarang. Di sanalah terjadi peristiwa penangkapan dan percobaan pembunuhan. Beberapa orang pengawal beliau melakukan perlawanan, tetapi tidak mungkin menang karena jumlah yang kalah jauh. Sebagian pengikut tersebut meninggal, sisanya diperintahkan untuk melarikan diri. Mereka yang selamat tersebut antara lain Tatiq Sepirah dan Amaq Sapar dari Batukliang, Rumasih dan Rumase dari Tanaq Embang, serta Maji dan Maje dari Labu Api.

Sementara itu, Raden Buru dan Putranya ditangkap. Ini terjadi pada sekitar pertengahan September 1891. Berbagai cara dilakukan untuk membunuh kedua tokoh tersebut, tapi selalu gagal. Akhirnya, Lalu Diwaje disiksa di depan ayahandanya yang, karena tidak tahan melihat putra beliau disiksa, memerintahkan putranya untuk membuka keilmuannya. Membuka rahasia agar bisa dibunuh. Perintah ayahandanya harus dilaksanakan. Lalu Diwaje lalu membuka dirinya dengan dicarikan daun Turi Merah dan ditusuk dengan kerisnya sendiri. Maka demikianlah, keduanya gugur di Cakra. Raden Buru nanti dikenal dengan nama Ilang Cakra.

Pada saat yang sangat genting itu, ketika peperangan masih berlangsung, Batukliang kehilangan pemimpinnya. Pergantian harus segera dilaksanakan untuk menghindari kekosongan kekuasaan. Pada saat seperti itu, kekosongan kekuasaan berarti sebuah kekacauan yang fatal. Maka atas kesepakatan bersama, diangkatlah Mamiq Ginawang sebagai pemimpin Batukliang. Mamiq Ginawang adalah adik dari Lalu Diwaje, putera dari Raden Buru.

Mamiq Ginawang merupakan tokoh kunci dari Batukliang Peresak sampai Batukliang Mantang. Beliaulah yang mengawal Batukliang melewati masa-masa terakhir penguasa Bali, pemindah pusat kekuasaan ke Mantang sampai berhadapan dengan Belanda. Beliau juga merupakan kepala Distrik pertama setelah keruntuhan penguasa Bali dan pembagian administrasi pemerintahan oleh Belanda pada tahun 1895.

Sepeninggal ayahandanya, Raden Buru, Mamiq Ginawang melakukan upaya koordinasi kekuasaan. Hal pertama yang dihadapinya adalah munculnya kebencian kolektif terhadap penguasa Bali setelah terjadinya propaganda terhadap tokoh-tokoh Sasak. Tidak hanya di Batukliang, di berbagai daerah muncul penyerangan terhadap orang-orang Bali secara sporadis sehingga terjadi kerusuhan dimana-mana. Di Batukliang bahkan terjadi perlawanan sengit dari orang-orang Bali sehingga terjadi congah (perang) di sana. Ini disebut dengan congah Batukliang.

Tidak lama berselang, dikabarkan akan ada utusan penguasa Bali ke Batukliang. Namun tokoh-tokoh Batukliang tidak mau hal yang sama akan terulang kedua kalinya. Mereka tidak mau kehilangan pemimpinnya kembali, sehingga disepakati untuk melarang Mamiq Ginawang untuk menemui penguasa Bali. Di lain sisi, koordinasi justru secara lebih intensif dilakukan bersama pemimpin-pemimpin wilayah lainnya di Lombok. Terjadi beberapa kali pertemuan dengan tokoh-tokoh tersebut hingga akhirnya disepakati untuk melakukan peperangan secara bersama-sama melawan penguasa Bali. Peristiwa bersejarah itu berlangsung pada hari Jumat 14 Jumadil Akhir1310 H/ awal Januari 1892 M. Selanjutnya, terjadi penyerangan ke berbagai pos-pos strategis penguasa Bali di bagian barat sebagaimana yang sudah direncanakan.

Tokoh Sasak Pimpinan Perang dari Batukliang, Praya, Kopang, Rarang

Peperangan yang melibatkan seluruh orang Sasak ini berlangsung sejak awal tahun 1892. Peperangan ini dipimpin secara kolektif oleh Mamiq Mustiaji dari Kopang, Mamiq ginawang dari Batukliang, Raden Ratmawe dari Rarang, Mamiq Nursasih dari Sakra, Raden Melaya Kusuma dari Masbagik dan Raden Wiranom dari Pringgabaya. Sementara pemimpin pertempuran diserahkan kepada Tuan Guru Haji Ali Batu dari Sakra.

Peperangan ini mampu memukul mundur penguasa Bali ke arah barat. Peperangan terus berlangsung namun dalam intensitas yang berkurang pada bulan-bulan selanjutnya. Lalu pada paruh akhir tahun tersebut pasukan Bali melakukan serangan balasan dengan langsung menuju titik yang dianggap strategis. Pada bulan September Batukliang diserang dengan kekuatan penuh, pasukan yang kalah secara jumlah tersebut menyisakan pembakaran dan perusakan berbagai fasilitas yang ada di Batukliang. Begitu juga yang dialami Kopang dan daerah-daerah lainnya.

Namun peperangan tidak berhenti. Para pemimpin pertempuran terus melakukan koordinasi untuk menentukan langkah selanjutnya. Pada tingkat lokal terjadi beberapa perubahan akibat dari kondisi tersebut sehingga diperlukan pengambilan kebijakan untuk mengantisipasi tidak terulangnya kejadian tersebut kembali. Hal ini sepertinya menjadi pola yang dilakukan beberapa tempat di Lombok. Yaitu melakukan perpindahan ke tempat yang dianggap lebih aman. Lokasi asal yang ditinggalkan tersebut disebut dengan nama Peresak, dan dinamakan demikian sampai sekarang baik sebagai nama kampung atau sebagai nama desa. Itulah sebabnya nama Peresak bisa ditemukan di Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Begitulah, sejarah baru Batukliang dimulai. Diputuskan untuk meninggalkan lokasi Batukliang lama untuk mencari tempat yang baru. Rombongan perpindahan ini dipimpin langsung oleh Mamiq Ginawang bersama dengan Mamiq Ratmaye dan Mamiq Maje serta yang lainnya. Perpindahan ini pertama-tama dilakukan ke arah barat daya mengikuti arah jalan Urung Lombok. Sekitar 3-5 Km ke arah barat daya dari Batukliang lama terdapat sebuah daerah dataran agak tinggi dengan wilayah perbukitan di sekitarnya. Tempat ini menjadi tempat pertama rombongan Batukliang bertempat tinggal. Nama tempat tersebut adalah Bantun (sekarang masuk wilayah desa Bujak). Hal yang paling mungkin dari pemilihan Bantun adalah lokasi yang aman karena letaknya yang banyak bukit.

Di tempat tersebut rombongan tinggal sekitar beberapa tahun. Pada masa di Bantun, menurut cerita turun temurun, lahir Baiq Suti atau Hj. Rakmah, Lalu Miraje (nanti menjadi kepala distrik Masbagik dan Batukliang) serta salah satu dari putera Mamiq Kertasih Bini. Beliau-beliau ini sering disebut generasi Bujak karena lahir di saat rombongan masih tinggal di Bujak. Sebagai sebuah bukti, sampai tahun 2000-an awal masih ada yang oleh masyarakat Bantun dikenal dengan Bale Bataran (bale: rumah, bataran: fondasi). Tempat tersebut merupakan sisa peninggalan ketika rombongan Batukliang masih di sana.

Setelah keadaan aman atau pertimbangan yang lain, rombongan bergerak ke barat dan menjajaki daerah Jurang Sate lalu kembali dan berpindah sedikit ke selatan, yaitu di Penyawisan (sekitar daerah Sade). Dua tempat ini sekedar persinggahan karena diputuskan untuk berpindah ke tempat yang lain. Baru setelah itu, sekitar 2-3 Km dari Penyawisan ke arah utara, ditempati lah sebuah tempat yang strategis dan bisa menjangkau semua tempat. Itulah awal mula dari ditempatinya sebuah tempat yang kemudian hari dinamakan dengan nama Mantang. Dengan ditempatinya tempat tersebut oleh rombongan Batukliang, yang kemudian bernama Mantang, hal tersebut tidak serta merta menghilangkan nama Batukliang. Daerah yang baru tersebut disebut dengan Mantang, sedangkan wilayah kekuasaannya tetap dinamakan sesuai masa-masa sebelumnya, yaitu Batukliang.


Komentar

Postingan Populer