Batukliang: Batu Berbentuk Elang
24 Maret 2023 M/ 02 Ramadhan 1444 H
Desa Mantang terletak di kecamatan Batukliang. Batukliang sebagai nama jauh lebih tua dari Mantang. Pada masa sebelumnya, terutama pada penguasaan Bali yang berakhir tahun 1894, nama Mantang belum lah muncul. Bahkan pada peta-peta yang dibuat Belanda pada paruh awal penjajahannya di Lombok (1894-1942) nama Mantang belum muncul, dan yang muncul adalah Batukliang. Mantang itu identik dengan Batukliang karena faktor sejarahnya.
Batukliang awal mulanya berada di wilayah yang sekarang bernama Peresak. Sekarang menjadi bagian dari desa Peresak kecamatan Batukliang. Peresak berada ± 4/5 Km ke arah timur dari letak Mantang yang sekarang. Pada masa itu belum dikenal istilah desa dalam pemahaman sekarang, tidak dikenal juga istilah distrik atau kecamatan, jadi Batukliang merupakan sebuah wilayah kekuasaan yang membawahi beberapa wilayah yang lebih kecil di bawahnya. Pada saat itu, wilayah Batukliang berbatasan dengan wilayah Kopang di sebelah timur, wilayah Praya di sebelah selatan, wilayah Narmada di sebelah barat dan dengan gunung Rinjani di sebelah utara. Jadi, Batuklang merupakan salah satu pusat kekuasaan yang jumlahnya tidak banyak di Lombok pada saat penguasaan Bali.
Untuk memberikan gambaran mengenai hal ini, perlu sedikit dijelaskan mengenai gambaran pembagian kekuasaan pada saat itu, yaitu paling tidak sampai sebelum penjajahan Belanda tahun 1894. Lazim dikenal saat itu ada istilah Timuq Juring (wilayah timur) dan Bat Juring (wilayah barat). Bat Juring merupakan wilayah kekuasaan Bali, dan Timuq Juring adalah wilayah kekuasaan Sasak Lombok. Di Timuq Juring sendiri pusat kekuasaan hanya bertumpu pada beberapa titik, di antaranya seperti Praya, Jonggat, Kopang, Batukliang, Masbagik, Pringgabaya, Rarang, dan Sakra. Beberapa titik ini yang kini menjadi dua kabupaten yaitu Lombok Tengah dan Lombok Timur. Bisa dibayangkan bagaimana luas wilayah dari masing-masing titik tersebut.
Kekuasaan pada masa itu hanya bertumpu pada bangsawan (dikenal dengan istilah ‘menak’ di kalangan masyarakat Sasak). Maka titik-titik simpul kekuasaan tadi biasanya dikuasai dan diperintah oleh keluarga menak di masing-masing wilayah tersebut. Begitu juga dengan Batukliang, keluarga menak menguasai semua wilayah Batukliang dan pusat kekuasaannya ada di Batukliang.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai kondisi Batukliang, ada baiknya dibicarakan mengenai istilah Batukliang itu sendiri. Batukliang berasal dari kata ‘batu’ yang berarti batu, dan ‘kliang’ yang berarti elang. Jadi batukliang berarti batu yang berbentuk kliang. Batu tersebut berada di persawahan dekat sungai di Batukliang (Peresak sekarang). Sayangnya batu tersebut kini sudah tidak dijumpai lagi dan sudah terkubur di sebelah barat sungai yang kini sudah menjadi perkampungan (wilayang Peresak Tengaq).
Batu tersebut ukuranya besar, kurang lebih seperti ukuran sebuah rumah. batu tersebut berbentuk miniatur seekor burung elang yang sedang berdiri melihat ke sebuah arah. Batunya memanjang dengan sayap yang terlihat jelas di sisi kiri dan kanan. Di bawah sayap ini orang bisa duduk berteduh dari panas atau dari hujan. Dan pada badan bagian atas, terutama di bagian kepala, orang-orang biasa menggunakannya sesekali waktu untuk menumbuk padi pada saat musim panen. Bekas tumbukan padi ini jelas terlihat bahkan ketika batu tersebut sudah berada di sekitar pemukiman, sebelum akhirnya terkubur. Ada beberapa keterangan berbeda mengenai letak batu tersebut, ada yang mengatakannya di tengah sawah dan ada yang yang menyebutnya dekat rumah warga. Ternyata, keduanya tidak salah karena wilayah barat sungai di Peresak dulunya adalah sawah semua, dan seiring bertambahnya jumlah populasi maka sawah tersebut menjadi pemukiman penduduk.
Seiring dengan terkuburnya batu tersebut, muncul cerita-cerita mistis. Ada yang mengatakan bahwa batu tersebut sebenarnya di-ghaibkan agar tetap terpelihara dan akan muncul suatu saat nanti. Ada juga yang mengatakan bahwa batu tersebut dipindahkan ke alam lain dan kini berada di sekitar gunung Selojan (bukit di sebelah utara Peresak), dan bagi yang ingin menyaksikannya agar pergi ke bukit tersebut dan bertapa.
Menurut cerita, ketika daerah Batukliang ini pertama kali ditempati oleh para menak, bangunan pertama yang dibangun adalah masjid. Yaitu masjid sangat sederhana berukuran 7 meter persegi yang beratap ilalang. Masjid dibatasi dengan pembatas tanaman dan di depannya ada tempat pemakaman keluarga menak. Sebagai sebuah pusat kekuasaan waktu itu, maka masjid yang dibangun tersebut juga menjadi masjid induk untuk wilayah Batukliang dan bahkan untuk daerah-daerah sekitarnya. Orang-orang dari tempat yang jauh seperti Petikus, Gawah Batu Mete, atau Langgalawe datang ke masjid ini untuk melaksanakan shilat Jum’at. Selain itu, daerah-daerah seperti sebian Kopang, Darmaji atau Montong Gamang juga datang kesana untuk sholat. Oleh karena jarak yang begitu jauh, maka pada waktu itu orang-orang yang melaksanakan sholat Jumat berangkat hari Kamis dengan membawa bekal dengan berjalan kaki agar bisa tepat waktu esok harinya. Kuda adalah alat transportasi mahal dan tidak semua orang mampu membelinya.
Lokasi masjid ini berada di masjid Peresak sekarang namun bentuk masjid tentu sudah berubah, hanya pemakaman keluarga menak yang masih tersisa dan itupun tidak terlalu dirawat dengan baik. Sama seperti di Mantang, masjid Batukliang berada di pinggir jalan strategis yang menuju ke arah Kotaraja, sebuah daerah yang digunakan oleh keluarga kerajaan untuk beristirahat sekaligus untuk memantau kekuasaannya di wilayah timur.
Demikianlah, Batukliang seiring berjalannya waktu menjadi tempat yang ramai dikunjungi dan menjadi tempat menetap bagi sebagian orang dengan berbagai kepentingannya. Sisi ekonomi dan keagamaannya berkembang cukup menonjol, hal ini ditandai dengan hasil alam yang melimpah serta keberadaan beberapa pendatang yang melakukan transaksi ekonomi. Di sisi lain, sisi keagamaan diinisiasi oleh keluarga menak yang terus belajar, memberikan pemahaman dan mendatangkan tokoh-tokoh agama dari berbagai tempat. Lalu yang lain adalah faktor politik, sebagai pusat kekuasaan wilayah tentu Batukliang menjadi barometer penting sehingga menarik berbagai kepentingan saat itu. Penguasa Bali, pendukung Bali, pejuang melawan Bali dan pihak-pihak yang juga turut berkepentingan turut meramaikan kondisi perpolitikan Batukliang. Dan sepertinya, faktor politik ini pula yang akhirnya menyebabkan Batukliang dengan keluarga menaknya memutuskan untuk memindahkan pusat kekuasaan ke bagian barat, itulah Mantang.
Pada waktu itu, selain keluarga menak dan penduduk sekitar, ada juga warga pendatang yang berasal dari Kembang Kerang dan Karang Tatah serta Kraning. Nama daerah asal ini diabadikan oleh mereka pada tempat baru mereka di Batukliang dengan tetap menggunakan nama daerah asal. Inilah sebabnya kampung di Peresak ada yang disebut Peresak Kraning, Peresak Karang Tatah dan Peresak Kembang Kerang.
Selain itu ada juga warga Bali yang tinggal disana. Beberapa petunjuk menunjukkan hal tersebut. Pertama, beberapa penduduk yang membuat fondasi bangunan sering menemukan bekas fondasi dan pecahan peralatan yang diduga adalah tempat pembakaran mayat (Ngaben) atau alat-alat yang identik digunakan orang Bali. Kedua, pada masa yang lebih belakang, para generasi tua di Peresak masih bertemu dengan generasi terakhir orang Bali. Diceritakan, sepasang Orang Bali yang tinggal disekitar bukit Selojan. Mereka hidup terpisah dari penduduk dan hanya sibuk mengurus sawah dan kebunnya saja. Anak-anak mereka hidup di Lombok Barat. Ketiga, pernah terjadi sebuah peristiwa ada orang Bali yang mau membakar masjid namun akhirnya bisa digagalkan dan orang Bali tersebut dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di pojok selatan masjid, yaitu tepatnya di dekat tembok pembatas bagian selatan dari masjid yang sekarang.
Keluarga menak juga ada yang masih disana. Ketika perpindahan pusat kekuasaan terjadi, tidak semua keluarga menak yang ikut. Mereka yang tinggal tersebut yang sampai sekarang anak cucunya masih di Peresak, dan biasanya dimakamkan di depan masjid.
Selain beberapa penjelasan di atas, tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai Batukliang di Peresak. Hanya saja ada beberapa hal yang memperkuat eksistensi dan menggambarkan kondisi pada saat itu sehingga bisa sedikit memperjelas keadaan di Batukliang saat itu.
Pertama, beberapa cerita babad menceritakan congah Batukliang (perang Batukliang) melawan penguasa Bali yang selanjutnya menyebabkan terjadinya perlawanan besar-besaran terhadap pihak kerajaan. Pada saat bersamaan, pola yang sama digunakan pada pusat-pusat kekuasaan penguasa Sasak oleh kerajaan sehingga hal tersebut mempermudah koordinasi antar pusat wilayah kekuasaan Sasak. Cerita babad ini merupakan masa akhir dari Batukliang sebelum akhirnya memutuskan berpindah ke arah barat, wilayah Mantang sekarang.
Kedua, Lendang Re dan Montong Paoq. Tempat ini berada di sebelah selatan pemukiman Batukliang (sekarang bersebelahan dengan sungai dekat SMA I Kopang), yaitu berupa bukit kecil yang ditumbuhi ilalang (bahasa Sasak: re). Bukit ini digunakan untuk melihat dan mengintai kedatangan orang dari arah Kopang di sebelah selatan dan dari arah jalan sebelah barat.atau juga digunakan untuk menyergap musuh. Suatu waktu pernah terjadi peperangan di bukit ini antara Batukliang dan penguasa Bali, orang-orang Sasak yang meninggal langsung dimakamkan disana tanpa dimandikan karena diyakini mati syahid, sedangkan orang-orang Bali di makamkan biasa (tukaq pelet). Di tempat ini masih ada batu-batu nisan penanda mereka yang gugur dalam peperangan tersebut. Tempat ini dikenal dengan nama Montong Paoq {montong: gundukan, paoq: mangga), sedangkan sebelahnya yang masih ditumbuhi ilalang tetep disebut dengan Lendang Re (padang ilalang).
Ketiga, jika Montong Paoq ada di sebelah selatan, di sebelah utara ada tempat bernama Penyengak. Sampai sekarang tempat ini masih bernama Penyengak dan sudah menjadi kampung yang cukup padat. Penyengak berada di tempat yang lebih tinggi dari Montong Paoq dan Lendang Re. Tempat ini secara khusus digunakan sebagai tempat mengintai kedatangan Bali dari arah barat, sampai sekarang pemandangan di tempat ini masih luas membentang terutama ke arah selatan di mana ada jalan masuk menuju Batukliang. Penyengak dari kata ‘penyingak’ yang asal katanya adalah ‘cingak’, artinya melihat.
Keempat, Makam Montong Batu. Ini adalah kompleks pemakaman keluarga menak Batukliang. Menurut cerita para sesepuh dan ada juga mantan Sedahan Batukliang tahun 1970/1980-an, bahwa luas wilayah makam adalah ± 3 Ha. Dan kini setelah diukur dan dibuatkan sertifikat atas nama wakaf masjid, jumlahnya hanya sekitar ± 1, 80 Ha. Walaupun kurang dirawat, nisan-nisan di kompleks makam ini masih tegak berdiri dan menjadi saksi perjalanan Batukliang ratusan tahun silam.
Kelima, sawah dan sumur Urung Lombok. Hari ini di bentangan sawah yang cukup luas di sebelah barat masjid Peresak, ada sawah yang disebut sawah Urung Lombok (urung: jalan). Saat ini sawah tersebut mempunyai lebar sekitar 7-9 meter, dan memanjang dari timur ke barat. Jika melihatnya dari timur atau barat akan terlihat sawah ini seperti sebuah jalan. Menurut cerita penduduk setempat, disebut sebagai sawah Urung Lombok karena dulunya sawah tersebut merupakan jalan ke arah Batukliang dan terus sampai Kotaraja. Melihat photo-photo dokumentasi Belanda, terlihat jalan-jalan pada saat itu memang rata-rata cukup lebar menurut ukuran yang sekarang.
Pada sepanjang sawah Urung Lombok, masih tersisa sebuah sumur kecil yang diameternya tidak lebih dari 80-90 Cm. Sumur itu juga tidak dalam, dasarnya masih bisa terlihat jelas. Diceritakan bahwa dulunya sumur tersebut cukup besar dan sering digunakan sebagai tempat mengambil air para pejalan kaki atau penunggang kuda sebagai bekal perjalanan. Letaknya persis di sebelah sawah Urung Lombok.
Begitu penjelasan singkat mengenai Batukliang saat masih berada di Peresak. Saat keluarga menak meninggalkan tempat tersebut dan akhirnya memutuskan berdomisili di Mantang, maka tempat tersebut menjadi lebih sepi. Hal ini terutama disebabkan karena pusat kekuasaannya sudah berpindang ke Mantang. Tempat tersebut lalu disebut sebagai Peresak. Menurut beberapa sumber, ada yang mengartikan ‘peresak’ sebagai tempat yang ditinggalkan, dan ada juga yang mengartikannya sebagai tempat yang dibakar dan kemudian ditinggalkan oleh penduduknya. Yang jelas, dilandasi pertimbangan perkembangan terakhir saat itu tempat tersebut ditinggalkan dan dissebutlah tempat tersebut dengan ‘peresak’. Istilah ini bukan hanya di Batukliang, di tempat-tempat lain juga ada yang namanya Peresak, yang tentunya dulunya pernah ditinggali dan kemudian ditinggalkan ke tempat yang lain.



Komentar
Posting Komentar