Arya Banjar Getas dan Kontroversinya
25 Maret 2023 M/ 03 Ramadhan 1444 H
Di dalam sejarah, menjadi perdebatan klasik untuk membahas peran tokoh dalam peristiwa sejarah. Ada pemikiran bahwa peristiwa sejarah terjadi dengan keterlibatan banyak orang tanpa melihat latar belakang sosial ekonominya. Sejarah seharusnya, mengangkat peran-peran mereka yang selama ini dimarginalkan dalam sejarah. Padahal, bagaimanapun, sejarah terbentuk akibat aksi dan interaksi banyak pihak.
Dalam sebuah peristiwa peperangan misalnya, peran mereka yang langsung berperang di garis depan tidak bisa disepelekan. Begitu juga dengan mereka yang sibuk mengurus logistik perang baik alat perang atau kebutuhan konsumsi. Mereka bahkan, sebenarnya, penentu dari peperangan itu sendiri. Sementara para panglima dan jajarannya, para pemikir dan perancangnya, tidak selalu berada di garis depan, namun pada kenyataannya mereklah yang mengisi dan mendapatkan manfaat dari sejarah.
Selain pemikiran tersebut, ada juga pemikiran yang lebih mengedepankan peran-peran tertentu dan melihat bahwa orang-orang dengan pemikiran besar dan keberanian tinggi serta visioner mempunyai tempat penting dalam sejarah. Hayam Wuruk dan Gadjah Mada misalnya, membentangkan karya hidup yang memunculkan nusantara, tumbuhnya berbagai karya naskah, dan juga peperangan. Terlepas dari kekurangan mereka harus diakui bahwa inisiasi mereka membuat runtutan dalam sejarah yang membentuk kekinian.
Atau tokoh lain misalnya, dwi tunggal Soekarno Hatta. Dua orang yang begitu berbeda hampir dalam semua sisi namun mampu menundukkan ke-diri-annya untuk bersatu mengantarkan Indonesia bebas dari penjajahan yang begitu panjang, merugikan dan melelahkan. Dan harus diakui bahwa mereka lah yang membuka peluang terbentuknya kekinian Indonesia seperti yang dinikmati 200-an juta penduduknya.
Dua pendapat di atas tentu benar semuanya. Sebuah perang tidak terjadi tanpa ada perencanaan dan komando panglimanya, sebagaimana pula perang tidak ada tanpa mereka yang berada di medan perang beserta semua unsur yang terlibat di dalamnya. Peran keduanya penting dalam sejarah.
Peran-peran tadi tidak hanya terlihat dalam peristiwa-peristiwa sejarah besar. Hal yang sama juga terjadi dengan pola yang sama pada sejarah-sejarah yang lebih kecil atau sejarah-sejarah lokal. Pada dataran ini sejarah Mantang - Batukliang mendapatkan tempatnya ketika ia menyusun berbagai peristiwa untuk dirajut menjadi sejarah dalam cakupannya yang lebih. Untuk peran tokoh, maka ada seorang tokoh yang tidak bisa dilepaskan oleh Mantang – Batukliang bagi eksistensi kekiniannya. Yaitu tokoh Arya Banjar Getas.
Arya Banjar Getas (ABG) merupakan seorang tokoh kontroversial dalam sejarah Lombok. Seorang yang mempunyai keterlibatan di banyak wilayah dan banyak pihak di Lombok pada masanya. Berbicara mengenai tokoh ini mungkin tidak akan ada habisnya. Bagaimanapun, membicarakan perjalanan seorang tokoh sekitar 300-400 tahun lalu selalu akan menyisakan pro dan kontra apalagi ditambah dengan keterbatasan bukti-bukti sejarah dan berada di tengah kesadaran literasi yang masih belum terlalu baik saat itu.
Dalam ilmu sejarah, salah satu manfaat mempelajari sejarah adalah adanya unsur ekstrinsik yang membuat masa sekarang akan melihat sejarah sebagai sebuah pemahaman dan pelajaran. Tentunya dalam pemahaman dan pelajarannya yang baik dan positif. Artinya, obyektifitas sejarah harus digunakan untuk menata masa kini dan masa depan yang lebih baik dari umat manusia.
Dalam konteks itulah sejarah harus dipelajari, dituliskan dan dilestarikan. Jika tidak, maka akan ada kecenderungan menggunakan kepingan-kepingan sejarah untuk melakukan justifikasi terhadap kebenaran sejarah itu sendiri. Dan tentu hal tersebut merupakan sebuah penyalahgunaan sejarah.
ABG hidup pada masa kerajaan Selaparang dan kerajaan Pejanggik di Lombok. Dan pada kedua kerajaan tersebut beliau ikut terlibat dalam pemerintahan sebagai patih, sebelum akhirnya mendirikan kerajaan Memelak. Pada masa itu Islam sudah masuk di Lombok sehingga diceritakan ketika membangun kerajaan Memelak, ABG banyak berkonsentrasi menghidupkan Islam di wilayah kekuasaannya.
Kehidupan ABG sebelum terlibat di beberapa kerajaan di Lombok tidak diketahui secara pasti. Melihat dari namanya yang menggunakan nama ‘arya’, maka kemungkinannya adalah beliau berasal dari Bali atau Jawa. Abad ke XVI dan XVII merupakan abad transisi pengaruh Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Di Jawa, abad-abad tersebut ditandai dengan hilangnya pengaruh politik Hindu-Budha dan mulai berkembangnya Islam. Sedangkan di Bali, masa tersebut merupakan masa menguatnya kekuatan politik dan budaya sebagai kelanjutan dari Hindu-Budha yang ada di Jawa. Dengan kondisi tersebut, pola ekspansi dan eksodus menjadi hal yang biasa dan tentunya sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi di masing-masing wilayah, baik itu kondisi politik, ekonomi, atau agama.
Penjelasan di atas bisa dilihat dalam beberapa hal. Pertama, diceritakan bahwa ABG mempunyai seorang saudara bernama Arya Gajah Pare. Saudaranya ini tinggal di Bali, dan pada masa belakangan anak keturunannya banyak yang menetap di Lombok sampai sekarang. Menurut cerita ini, ABG berasal dari Bali dan berangkat ke Lombok kemungkinannya karena telah menganut agama Islam dan selanjutnya berkiprah di Lombok.
Kedua, beberapa silsilah yang beredar di Lombok memperlihatkan hubungan ABG dengan penguasa kerajaan di Jawa, dan bahkan tersambung sampai Tunggul Ametung di Tumapel yang notabene merupakan tokoh yang menurunkan penguasa Singasari dan Majapahit. Tidak hanya itu, silsilah tersebut juga memperlihatkan bahwa secara garis keturunan ABG masih tersambung dengan penguasa kerajaan Selaparang. Maka dengan sendirinya juga akan tersambung dengan kerajaan Pejanggik dan kerajaan Langko. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di Lombok. Hanya saja, melihat kiprahnya di Lombok, ABG dan keturunan-keturunannya yang lain berbeda masa kedatangan. Yaitu beliau datang justru sesudah kerajaan Selaparang dan kerajaan Pejanggik berdiri dan berkuasa.
Ketiga, ada riwayat yang menceritakan bahwa nama ABG itu menunjukkan perjalanannya sampai ke Lombok. ‘Arya’ adalah identitasnya, ‘Banjar’ diartikan sebagai kelompok atau rombongan, dan ‘Getas’ diartikan sebagai seberang atau lewat. Jadi ABG adalah seorang yang datang menyeberang bersama rombongannya. Beliau datang dengan 40/44 orang rombongan pengawal/ prajurit.
Jika merujuk pada pola ekspansi dan eksodus tadi, membawa rombongan pada masa itu adalah hal yang biasa. Diceritakan ketika Sunan Prapen datang membawa titah ayahandanya menyebarkan Islam ke Lombok juga membawa rombongan. Beliau bersama rombongan yang menyebarkan Islam ke masyarakat umum dan juga ke pusat-pusat kekuasaan pada saat itu. Di lain pihak, Gadjah Mada dengan misi politiknya ketika datang dari arah timur Lombok menuju kerajaan Selaparang juga datang bersama rombongan.
Keempat, agama. Hal ini jarang sekali ditelisik. Ada dua cerita mengenai keberagamaannya secara pribadi yang sering diceritakan. Pertama, yaitu ketika mendirikan kerajaan Memelak beliau giat menghidupkan agama di wilayahnya. Dan kedua, ketika sudah sepuh beliau memutuskan untuk memberikan kekuasaannya pada putranya yaitu Raden Ronton, sedangkan Raden Juruh diberikan di wilayah utara. Sementara beliau sendiri lebih berkonsentrasi pada agama dan tidak terlibat pada urusan politik.
Sejak kapan beliau Islam, bagaimana corak keislamannya, atau apakah ada relasi kedatangannya ke Lombok dengan agama Islam, tidak banyak dibahas. Hal tersebut mungkin terlihat sepele, namun mengingat Islam saat itu masih belum terlalu lama dikenal masyarakat dan masih terus disebarluaskan, maka hal tersebut menjadi menarik.
Sebagai seorang tokoh kontroversial, ABG mendapatkan tempat sendiri dalam sejarah Lombok. terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, harus diakui bahwa beliau memberikan warna dalam perjalanan sejarah tersebut. Banyak hal yang masih menjadi misteri, entah karena kekurangan referensi, entah karena masih tersimpan di potongan-potongan cerita yang tersebar di masyarakat, atau entah karena sakralitas yang menyempit sehingga enggan untuk dibuka dan ditawarkan sebagai alternatif pembacaan sejarah.
Ada beberapa hal yang menjadi awal kontroversi ABG yang bisa dilacak dalam babad atau yang masih diceritakan secara turun temurun:
Pertama, cerita mengenai lukisan. Diceritakan ketika ABG baru-baru berada di Lombok, beliau berada di sebuah kerajaan di Lombok bagian barat. Kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang konon istrinya terkenal cantik jelita. Seiring waktu berjalan, ABG menjalani kehidupannya di istana tersebut hingga suatu waktu raja mengetahui bahwa beliau bisa melukis. Raja kemudia meminta ABG untuk melukis istri yang sangat dicintainya. Singkat cerita, ketika lukisan tersebut sudah jadi sang raja awalnya sangat puas namun pada akhirnya kecewa. Diceritakan ada tetesan tinta dilukisan tersebut yang terlihat seperti tahi lalat, dan secara kebetulan memang sang istri raja benar mempunyai tahi lalat ditempat tersebut. Dan tempatnya di bagian yang agak tersembunyi.
Konon itulah yang membuat raja curiga bahwa ABG mempunyai hubungan terlarang dengan istrinya. Dan sebab itu pula yang akhirnya menjadikan ABG diminta keluar dari istana tersebut.
Kedua, cerita mengenai kedatangan ABG ke Selaparang. Pada waktu itu beliau datang bersama rombongan yang semuanya menggunakan pakaian putih. Sebagai penghormatan, dilakukan pula pelepasan burung (sawur paksi) untuk menghormati raja. Kedatangan rombongan ABG ini membuat penasaran banyak orang, termasuk putri sang raja. Dengan rasa penasarannya, sang putri memanjat tembok istana menggunakan tangga. Dan entah bagaimana, akhirnya sang putri jatuh ke arah rombongan. Dan diceritakan, itulah awal Selaparang memutuskan untuk mengangkat senjata melawan ABG. Perlawanan ABG yang diperangi Selaparang membawanya menyingkir dan berlabuh di kerajaan Pejanggik.
Ketiga, ketika berada di kerajaan Pejanggik ABG mempunyai seorang istri yang konon terkenal cantik jelita. Kecantikan ini yang menyebabkan sang raja membuat berbagai siasat agar ABG berada jauh dari istrinya. Ketika hal ini diketahui ABG, itulah yang menjadi dasar untuk meninggalkan Pejanggik. Memang ada beberapa versi mengenai hal ini, namun kesamaannya adalah bahwa ABG setelah itu dianggap berperan penting dalam mendatangkan kekuatan Bali yang akhirnya berujung pada kejatuhan Selaparang dan Pejanggik
Keempat, ketika menjadi patih di Pejanggik ABG menerapkan langkah-langkah politik yang dianggap membahayakan eksistensi kekuatan-kekuatan di bawah Pejanggik. Langkah tersebut adalah usaha untuk menyatukan kekuatan dan menyatakan kesetiaan pada Pejanggik. Rencana ABG ini membuat kekuatan-kekuatan di bawah Pejanggik merasa terusik dan terancam.
Selain beberapa hal di atas, mungkin ada juga hal lain yang dianggap menarik dari perjalanan ABG. Hal di atas dipaparkan hanya untuk memperlihatkan bahwa sisi-sisi tersebut merupakan bagian dari versi cerita yang ada dan beberapa bisa dilacak dalam sumber babad. Jika muncul alur yang lain mungkin hal tersebut sudah menjadi tafsir, dan tafsir selalu menjadi ranah rawan munculnya perbedaan.
Dari beberapa cerita di atas tersebut, jika dilihat secara alur ceritanya, bahwa kontroversi tersebut justru muncul dari faktor luar dan bukan dari diri ABG sendiri. Beberapa kejadian itu justru bermula dari hal-hal yang tidak terkait langsung dengan ABG namun berakibat fatal bagi dirinya. Dalam cerita lainnya, mungkin saja terdapat keterlibatan ABG dalam bentuk yang lain. Dua bandul ini terus bergerak, dan itulah dinamika sejarah. tidak ada yang salah dengan hal tersebut, sebagaimana juga tidak ada yang benar secara mutlak.
Tapi begitulah, perlu diwaspadai agar wacana tidak menjadi terpola dan persepsi tidak terlanjur mengkristal. Bagaimanapun, perdebatan tak berujung dan debat kusir hanya akan menyisakan konflik dan perpecahan. Diperlukan cara yang lebih bijaksana untuk melihat dan membaca sejarah agar benang kusutnya terurai dengan baik dan digunakan untuk merajut kebersamaan yang lebih baik.



Komentar
Posting Komentar