Arya Banjar Getas dan Eksistensi Mantang
25 Maret 2023 M/ 04 Ramadhan 1444 H
Arya Banjar Getas (ABG) adalah pendiri kerajaan Memelak. Sebuah kerajaan yang eksis pada masa Lombok dalam persimpangan sejarah. yaitu pada masa akhir era kerajaan-kerajaan Lombok dan dilanjutkan dengan penguasaan Bali untuk ratusan tahun setelahnya. Sama seperti kondisi sebagian besar kerajaan-kerajaan di Lombok, tidak banyak diketahui mengenai kerajaan Memelak ini selain beberapa cerita turun temurun yang masih beredar di masyarakat.
ABG mempunyai tiga orang anak, dua putra dan satu putri. Raden Ronton, Raden Juruh dan Denda Wirecandra. Pada masa beliau, kerajaan Langko masih ada dan sepertinya sedang berada di masa-masa akhir. ABG menikahkan Dende Wiracandra dengan raja Langko yang wilayahnya membentang memanjang dari Kopang sekarang ke arah selatan. Keluarga menak dari kerajaan Langko nantinya yang akan menurunkan keluarga menak di Pedaleman Kopang sekarang.
Sementara dua putera ABG lainnya diberikan wilayah kekuasaan. Raden Ronton sebagai yang tertua diberikan di wilayah pusat kekuasaan. Nantinya beliaulah yang menempati Gawah Berora dan mengubahnya menjadi pemukiman, lalu diberikan nama Praya. Sedangkan Raden Juruh diberikan wilayah sebelah utara, sampai lereng gunung Rinjani.
Pada awal mulanya, dua bersaudara ini tetap tidak berjauhan. Raden Juruh bertempat tinggal hanya sedikit ke utara. Berdua mereka bahu membahu menjalankan dan mengembangkan wilayah masing-masing, dan selalu bermufakat terutama dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting yang terkait dengan hajat orang banyak. Hal yang paling menonjol masa itu, dan begitu yang terus dihadapi oleh beberapa generasi keturunan mereka, adalah penguasaan Bali. Sepanjang keberadaan Bali terus terjadi gesekan yang tensinya fluktuatif seiring dengan perkembangan kondisi yang ada, ada yang datar, ada yang bergejolak, ada yang aman dan sebagainya.
Pada masa sebelumnya, yang konon didasari dari pembagian kekuasaan zaman ABG dengan penguasa Bali, dibagilah Lombok ini menjadi Timuq Juring (wilayah timur) dan Bat Juring (wilayah barat), atau dalam referensi barat diterjemahkan menjadi west border dan east border. Akibat dari pembagian ini wilayah timur dan barat di sepanjang pertengahan abad XVIII sampai penghujung abad XIX menjadi zona yang dinamis dengan dinamikanya masing-masing. Wilayah barat sebagai wilayah kekuasaan Bali terus berbenah dan berusaha memperluas wilayahnya ke arah timur, sedangkan wilayah timur merupakan kekuasaan Sasak yang belum mendapatkan momentumnya untuk bisa bergandeng tangan bersama menghadapi kekuatan Bali. Akibatnya, Sasak selalu menghadapi dua mata pisau dalam hampir setiap momentum politik, yaitu konflik internal Sasak dan penguasa Bali sendiri. Oleh karena itu, sangat mudah terbaca jika kemudian penguasa Bali mendapatkan keuntungan yang begitu besar selama fase-fase tersebut.
Pembagian wilayah ini yang nampaknya juga menjadi landasan untuk pembagian wilayah pada masa selanjutnya. Belanda seusai menaklukkan Karang Asem dan mengakhiri penguasaan Bali atas Lombok membagi Lombok menjadi dua, yaitu Lombok Barat dan Lombok Timur. Sederhananya, memang hanya ada dua kekuatan saat itu yaitu Sasak dan Bali yang secara wilayah terkonsentrasi di bagian barat dan bagian timur. Namun beberapa tahun kemudian Belanda membagi Lombok Timur menjadi dua, yaitu Lombok Tengah dan Lombok Timur. Tentunya hal ini menunjukkan adanya pemahaman wilayah dan pemetaan kekuatan yang dilakukan oleh Belanda.
Begitulah, Raden Ronton dan Raden Juruh bergandengan menghadapi berbagai persoalan waktu itu. Keduanya bisa dengan cepat berkoordinasi dan mufakat karena tempatnya yang berdekatan. Beliau berdua dimakamkan di sebuah tempat yang dikenal dengan nama makam Bunut Telu (tiga beringin) yang berada di sekitar wilayah Panti sekarang.
Sepeninggal mereka berdua, hanya 2 sampai 4 generasi saja yang masih menetap di tempat Raden Juruh tersebut, kecuali keturunan dari putranya yang bernama Raden Depang yang tetap menetap di sana. Lalu selanjutnya cicit buyutnya sudah menempati berbagai wilayah di seantero bagian utara. Dari cucunya yang bernama Raden Puguh anak turunannya ada yang menempati Puyung (Raden Kiling) dan ada yang menempati Kopang Pulembang (Raden Sampar). Raden Kiling inilah yang menurunkan keluarga menak di Pedaleman Puyung sekarang, sementara Raden Sampar merupakan nenek moyang dari keluarga menak yang ada di Kopang Pulembang.
Dari runtutan cerita di atas terlihat jelas pola sebaran yang kemudian membentuk kantong-kantong masyarakat di berbagai tempat tersebut. Hal ini tentunya bukan dominasi turunan Raden Juruh saja karena kelompok masyarakat yang lain terbentuk dengan pola yang hampir sama. Adanya persoalan internal atau disebabkan karena perkembangan sosial politik saat itu menyebabkan mereka menempati wilayah-wilayah yang dianggap aman dan minim konflik. Selain itu, keluarga menak yang saat itu masih mempunyai hak lebih dan akses istimewa memudahkan mereka untuk melakukan hal tersebut. Maka tidak heran jika pola menyebar ini dilakukan hanya beberapa generasi setelah Raden Juruh.
Jika Raden Depang memutuskan tetap berada di tempat ayahandanya, saudaranya yang bernama Raden Ayot berpindah hanya sedikit ke utara. Dengan berada di sekitar Genteng sekarang tempat awal masih cukup terjangkau. Beliau inilah yang menurunkan keluarga menak Pesinggrahan. Sementara anak turunan dari Raden Okat, beliaulah ayahanda dari Raden Puguh yang menurunkan Pedaleman Puyung dan Kopang Pulembang tadi. Selain Raden Puguh, Raden Okat juga mempunyai putera bernama Raden Sabit.
Sebenarnya Raden Okat sendiri dan anak cucunya tetap berada di tempat Raden Juruh dulu, mereka tetap menetap di sana bersama dengan anak turunan Raden Depang. Namun terkadang seiring berjalannya waktu rasa ikatan kekerabatan akan semakin menipis seiring dengan anak turunannya ke bawah. Dalam konteks Sasak, menurut cerita para sepuh, ikatan itu akan semakin nampak pudar pada keluarga misan ketiga (bahasa Sasak: sampu kedue). Ini adalah ikatan yang harus mendapatkan usaha ekstra agar ikatan kekeluargaan itu tetap erat. Ikatan yang dimaksudkan disini adalah lebih mirip dengan ikatan saudara, yaitu ikatan yang rasa tenggang rasa, berbagi, dan rasa sepenanggungannya seperti saudara. Sedangkan pada ikatan keluarga misan ketiga ke bawah sudah semakin pudar. Tentunya yang dimaksudkan di sini hanyalah pada persoalan seperti saudara tadi, sedangkan pada urusan yang lebih luas seperti upacara adat, harga diri keluarga atau kepentingan keluarga secara keseluruhan, ikatan tersebut tentu masih kuat.
Persoalan-persoalan sejenis dialami oleh cucu dari Raden Sabit atau cicit dari Raden Okat di tempat tersebut. Hal ini diperuncing oleh kondisi sosial politik yang terus dioles oleh penguasa Bali sehingga kondisi semakin hari semakin tidak kondusif. Oleh karena itu, dengan pertimbangan agar tetap terjaganya ikatan kekeluargaan dan tercapainya kepentingan bersama, diputuskanlah anak turunan Raden Okat ini untuk meninggalkan tempat yang dulu merupakan tempat dari kakek buyutnya.
Tempat yang kemudian diputuskan untuk ditinggali terletak cukup jauh dari asalnya di wilayah Panti. Yaitu sebuah tempat yang berada di utara Kopang, yang kemudian nantinya lebih dikenal dengan nama Batukliang. Di tempat ini selama hampir 5-6 generasi anak keturunan ABG yang menguasai wilayah paling utara ini bertempat tinggal. Pada fase ini kekuasaan awal yang sudah terbagi sejak ABG membagi wilayah kekuasaan pada putra-putranya, kemudian kembali dibagi dengan menyebarnya anak turunan Raden Juruh, mendapatkan fondasinya yang lebih kuat. Berbagai konflik dengan penguasa Bali dan berbagai persoalan di internal serta di masyarakat justru mengokohkan eksistensi mereka untuk terus mengembangkan wilayah dan memperjuangkan hak yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat Sasak.
Setelah 5-6 generasi tadi terlewati di Batukliang, sejarah terulang kembali, sejarah menunjukkan kekuatannya dengan pola yang berulang walaupun pemantiknya selalu berbeda-beda. Kondisi yang dihadapi mungkin berbeda, persoalannya mungkin tidak sama, dan cara pikir juga bisa saja berbeda dengan beberapa generasi beberapa di atasnya ketika masih berada di wilayah Panti. Namun akhirnya keputusan yang diambil tidak jauh berbeda, yaitu meninggalkan tempat tersebut untuk mencari daerah lain yang lebih kondusif dan strategis. Tempat yang diharapkan menjadi pelabuhan terakhir bagi generasi-generasi berikutnya, dan salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan tetap memperjuangkan hak dan sesuatu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran. Yaitu melawan penguasa Bali.
Perpindahan ini di awali dengan menempati beberapa tempat sebagai alternatif, dan akhirnya memutuskan untuk memilih sebuah tempat yang berjarak sekitar 4-5 Km dari tempat semula. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan nama Mantang. Dan mulai saat itu dimulailah sejarah Mantang.
Bagi anak turunan ABG ini, Mantang adalah ujung perjalanan panjang yang begitu berliku. Kini, setelah 200-an tahun, Mantang menyaksikan keruntuhan penguasa Bali, merasakan penjajahan Belanda, menderitanya dikuasai Jepang dan juga sekaligus menjadi saksi dari kemerdekaan dan prosesnya sampai kini. Mantang tentu bukan milik segelintir orang atau pihak-pihak tertentu. Berbagai unsur yang turut serta membentuk dan membentangkan kekinian Mantang selama lebih dari dua abad semuanya adalah orang Mantang.



Wah... luar biasa..
BalasHapusIni termasuk sejarah ?
Rencananya sejenis sejarah lokal desa bu...mudahan bisa runtut
Hapus