Si Udin dan Merdeka Menulis (Fiksi)

 Kamis, 02 Januari 2023



Pertemuan ke : 10

Tema: Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber: Sudomo, S. Pt

Moderator: Bambang Purwanto, S. Kom. Gr


Salam sejahtera bagi kita semua

Ada sebuah cerita. Cerita ini merupakan sebuah ilustrasi alur resume dari tema dalam pertemuan 10 ini. Cerita tentang makna bebas atau merdeka.

Sejak SD Udin sudah sangat memimpikan mempunyai seperangkat sound system di kamarnya. Dengan alat itu ia akan bebas mengekspresikan diri, terutama menyalurkan bakat bernyanyinya yang dirasanya adalah sebuah anugerah dari tuhan. Paling tidak, begitulah pendapatnya sendiri. Selama ini, suaranya hanya membentur tembok-tembok kamar mandi yang ditemani guyuran air dan busa sabun. Tak pernah suaranya itu melompat ke lomba maulidan atau panggung 17an.

Tapi tidak jadi masalah. Dirinya yang kini masih di bangku sekolah punya waktu panjang untuk mempersiapkan diri, salah satunya adalah menabung untuk bisa mempunyai seperangkat sound system tadi. Tabungannya seusia dengan cita-cita dan keinginannya. Ia mulai menyisihkan uang belanja sejak di Sekolah Dasar.

Waktu pun terus berjalan. Tak terasa jumlah tabungan Udin sudah mendekati harga alat impiannya, dan jika tak ada aral melintang, bulan depan sound system itu akan bisa bertengger di kamarnya. Udin serasa ingin melipat waktu. Dan perlahan namun pasti, waktu itupun tiba.

Siang itu Udin rebahan dengan puas, memandangi seperangkat sound system yang dengan sombong memandangnya dan menantangnya untuk disentuh, dipegang, dinyalakan dan dipakai sampai puas. Alat itu kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perabot kamarnya. Dan Udin, dengan lembut mulai memegang mikropon, menyentuh dan mengelus box sound-nya, menghidupkan tombol on/off, dan sangat terasa penutup box sound depan bagian bawah mulai bergetar. Ada warna-warni dari lampu hiasan di pinggirnya yang semakin menghangatkan suasana. Udin mulai mengeluarkan suara, yang menurutnya, emas.

Seminggu sejak Udin mulai menyalurkan hasrat bernyanyi di kamarnya, rumahnya mulai kedatangan tamu. Tamunya itu tidak jauh dari rumahnya. Pertama, Bu Susi. Dilanjutkan dengan Bapak Arman pada hari setelahnya. Dan beberapa tetangga lainnya setelah itu, dan akhirnya dipamungkasi oleh Pak RT. Sama seperti Udin, mereka semua datang untuk menyalurkan suaranya. Hanya saja, suara yang mereka salurkan itu adalah suara kekecewaan dan harapan agar Udin tidak lagi bernyanyi dengan sekeras-kerasnya, bersuara tak tentu waktunya. Dan kalau bisa, lebih baik belajar menyanyi dengan mendatangkan guru vocal saja, karena bakatnya sepertinya semakin tumpul jika terus dihambur-hamburkan tidak menentu seperti kemarin-kemarin.

Begitulah, Udin akhirnya harus merelakan saluran bakatnya tersumbat karena protes para tetangga. Menurut Pak RT, warga keberatan karena ada tetangga sebelah yang sakit jika tidak tidur siang. Sebelahnya lagi, sedang merawat bayi yang baru berumur 4 bulan. Dan sebelahnya lagi, sedang merawat mertuanya yang sepuh dan sakit-sakitan. Ternyata sound system yang dibeli dari uang tabungannya sendiri, ditaruh di kamarnya sendiri, dan mengeluarkan suaranya sendiri harus dibatasi dengan kondisi para tetangganya.

Begitulah...

Cerita di atas adalah cerita fiktif. Sebuah cerita yang ingin mengilustrasikan bahwa bebas dan merdeka itu ternyata bukan semau-maunya. Bebas itu bukan sewenang-wenang. Merdeka itu tidaklah menurut kehendak sendiri.



Dalam dunia pendidikan, Mas Menteri memperkenalkan konsep merdeka belajar. Kadang kita membayangkan konsep tersebut dengan angan-angan yang ditiup angin spoi. Merdeka itu seperti Udin tadi. Nyatanya, merdeka belajar memberikan perhatian pada esensi dan fleksibelitas sesuai dengan minat, bakat dan kebutuhan yang kemudian diejawantahkan dalam seperangkat alat dan kontrol agar konsep merdeka belajar itu bisa terlaksana. Jadi, bukan merdeka Udin.

Pada hampir semua pertemuan dalam KBMN 28 ini juga sangat menekankan konsep merdeka. Yaitu merdeka menulis. Menulislah apa yang disukai, tuangkan segala pemikiran dalam tulisan, mengadu kepada Tuhan melalui tulisan, menulis sebagai healing, biarkan tulisan menemukan takdirnya sendiri dan sebagainya; adalah beberapa hal yang sering didengungkan dalam KBMN sekarang ini. Artinya, mereka menulis. Menulislah sebelum menulis itu dilarang. Namun lagi-lagi, merdeka menulis itu bukan merdeka Udin karena menulis ada kaidah umunya sesuai dengan bidang yang ditulis. Menulis artikel berbeda dengan menulis diary, menulis blog tentu tidak sama dengan menulis di jurnal. Begitu juga, menulis tidak boleh menyentuh SARA dan menyentuh hal-hal sensitif lainnya.

Artinya, bebas atau merdeka itu ada batasnya. Secara konsep, perlu dibedakan antara kebebasan (freedom) dan kebebasan (liberty). Freedom itu kemampuan untuk melakukan apa yang diinginkan, sedangkan liberty adalah tidak ada batas namun dengan mempertimbangkan orang lain yang terlibat. Dengan demikian, kebebasan itu memerlukan rasa tanggung jawab dan dibatasi oleh aturan-aturan yang berlaku. Pada ranah ini merdeka Udin tadi berbeda dengan merdeka belajar dan merdeka menulis.



Pada pertemuan ke 10 KBMN gelombang 28 ini temanya adalah “Kiat Menulis Cerita Fiksi”. Narasumbernya Bapak Sudomo, S. Pt, seorang yang sudah menulis sekian banyak cerita fiksi. Pertemuan kemarin malam dimoderatori oleh Bapak Bambang Purwanto, S. Kom Gr. (Nama beliau ini mengingatkan saya pada seorang dosen yang sangat berkesan di bangku kuliah dulu. Dalam sebuah wawancara satu persatu mahasiswa setelah ujian semester, beliau seperti menggiring saya untuk mengakui, yang menurut pendapat beliau, plagiasi yang saya lakukan dalam tugas-tugas mata kuliah beliau. Beliau memberikan tugas mingguan untuk dikumpulkan. Saya tidak menjawab karena hampir di sepanjang hidup, saya termasuk idealis untuk tidak melakukan plagiat dalam hal apapun, termasuk dalam mengerjakan soal, menulis atau mengerjakan tugas yang lain. Sederhananya, saya lebih suka tampil bodoh apa adanya daripada menumpang pada anggapan kecerdasan orang lain yang sebenarnya belum tentu lebih cerdas dari kita. Hidup koq dibuat ribet..)

Kembali ke laptop. Dalam menulis cerita fiksi konsep merdeka menulis sangat berlaku. Tidak ada aturan baku dalam menulis cerita fiksi. Masing-masing orang mempunyai caranya sendiri dalam menuangkan ide dan imajinasinya. Cerita fiksi tidak mempunyai batasan, tembok pembatasnya adalah pikiran manusia itu sendiri. Sejauh mana pikiran mampu terbang, sejauh itu pula fiksi menyapa. Maka, tidak mengherankan jika gaya dan ciri khas dalam cerita fiksi itu sejumlah orang yang membuatnya. Orang bebas membaca cerita fiksi apa saja. Orang merdeka untuk membawanya kemana.

Namun dalam pertemuan ke 10 ini ada sedikit keunikan. Oleh Pak Sudomo merdeka menulis tadi tidak lagi berarti bebas yang bertanggung jawab. Ia mempunyai arti sendiri, dan itulah yang dibagikan kepada kami yang masih pemula dalam menulis, terutama menulis cerita fiksi. Menurut saya konsep merdeka Pak Sudomo itu akan memandu kita untuk membuat cerita yang tidak hanya cerita fiksi menjadi lebih terarah dan berkualitas. Konsep ‘merdeka’ Pak Sudomo adalah singkatan dari Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, dan Aksi Nyata. Dan ini yang menjadi inti materi dari pertemuan tersebut.



Berikut sedikit penjelasan mengenai hal tersebut yang sebagian besar merupakan sudut pandang pemahaman saya yang didasari dari uraian materi narasumber:

a. Mulai dari Diri. Minat dan keinginan, serta mengeksplorasi diri menjadi langkah pertama dalam konsep Pak Sudomo. Hal ini selain menambah fondasi dalam menancapkan tekad menulis cerita fiksi, juga bisa menjadi materi atau ide dari cerita fiksi itu sendiri

b. Eksplorasi Konsep. Berbagai hal yang dialami, pemikiran yang berlalu-lalang bisa menjadi lahan subur untuk menggali konsep cerita fiksi. Cerita pendek Pak Sudomo memberikan kita gambaran bagaimana sebuah konsep itu bekerja namun dengan cara terus mengasahnya. Oleh karena itu, membaca karya fiksi orang lain apalagi para penulis terkenal akan sangat penting untuk memperkaya konsep kita tersebut.

c. Ruang Kolaborasi. Sepertinya disini kita diminta untuk mengeksplor lebih jauh ruang-ruang dalam imajinasi dan ide kita. Pada bagian ini Pak Sudomo meminta kita meneruskan empat kalimat pertama beliau untuk diteruskan. Kira-kira jadinya akan seperti ini: 

“Perlahan suara-suara itu menghilang. Dalam gulita aku menggigil sendirian. Mendadak bulu kudukku meremang. Terdengar suara di kejauhan.... Semakin lama kian mendekat. Suara itu seperti suara kaki yang digeret gontai menuju ke arahku. Ada lagi suara ranting kayu yang dikibas-kibaskan seperti  suara sobekan kardus ibu kantin yang sedang menghalau lalat-lalat liar.

Aku dan teman kelasku, Nita, saling menatap dalam diam. Hanya mata kami yang menceritakan ketakutan dan keputusasaan apa yang harus kami lakukan. Namun tiba-tiba suara itu terhenti. Kami kembali saling tatap untuk kesekian kalinya, namun kali ini dengan tatapan keingintahuan dan rasa penasaran yang semakin memuncak. Ingin rasanya langsung meloncat dari rumah itu dan berlari sekuat tenaga sambil berteriak meminta tolong. Belum selesai aku memikirkannya. Belum selesai otakku mengambil keputusan. Nita sudah melompat keluar dan berlari bak seekor rusa betina terluka. Suaranya menggema begitu keras. Namun aku heran, mengapa suaranya semakin lama semakin mendayu-dayu. Dan semakin lama semakin jelas. Nita tidak meminta tolong. Dari kejauhan kulihat dia berlari sambil jingkrak-jingkrak, sesekali berhenti dan menghentakkan tubuhnya seperti sedang berada di dalam diskotik dengan alunan musik yang keras. Sayup kudengar dia sedang bernyanyi, menyanyikan lagu “Dibanding-bandingke”-nya Farel yang sedang viral.

Aku, sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum, terus mengejar Nita yang semakin lari kesetanan namun riang. Dan belum sempat kupanggil, tiba-tiba muncul bayangan hitam di belakang Nita yang sedang berlenggak-lenggok. Bayangan itu seperti sedang menyeret sebuah balokan kayu dan terus melangkah mendekati Nita. Aku kaget dan gugup. Tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong teman kelasku. Rasa takutku mencekik tenggorokanku, bahkan untuk bernafas saja semakin sulit. Namun aku tidak menyerah, rasa itu terus kulawan sekuat tenaga. Aku terus berusaha berteriak memanggil Nita. Dan ketika keringat dingin semakin deras berkucuran, tiba suaraku keluar dengan begitu keras: “Nitaaaaaaaaa”

“Apa sih, manggil ya manggil aja. Gak usah teriak-teriak juga kalii. Mimpi buruk ya?”. Terasa tubuhku diguncang-guncangkan, dan perlahan aku tersadar. Ternyata aku bermimpi.

d. Demonstrasi Kontekstual. Ada lima tema yang Pak Sudomo tuliskan. Walaupun belum pernah menuliskan cerita fiksi sampai tuntas, saya sendiri kadang menghabiskan waktu atau sengaja menghilangkan kesuntukan dengan membaca cerita fiksi. Cerita kolosal seperti Mahabharata atau cerita-cerita era kerajaan Majapahit menumbuhkan kecintaan saya membaca cerita fiksi sewaktu masih di sekolah dasar. Pada tahap selanjutnya, saya sering membaca cerita silat dan detektif. ‘ Karya Ko Ping Ho’, ‘Wiro Sableng’, dan cerita Conan adalah beberapa cerita terkenal yang masih saya ingat. Cerita sejenis ini pada masa belakangan kadang masih saya rindukan, dan detektif Poirot dalam Agatha Christie cukup menghilangkan dahaga. Selanjutnya, novel-novel lebih serius lebih menyita waktu dan mengasyikkan. Novel-novel sejarah seperti tetralogi Pramoedya atau seperti ‘Pacar Merah Indonesia’ lebih memberikan ruang untuk eksplorasi lebih yang dikombinasikan dan direlasikan dengan keilmuan di dunia kampus. Begitu juga novel yang lebih rumit ala novel klasik Barat, yang paling berkesan dari novel klasik terjemahan ini adalah judulnya selalu sederhana namun alur dan konflik di dalamnya selalu mengajak kita ikut masuk dalam emosi tokoh-tokohnya. Untuk menyebut beberapa yang terkenang adalah novel ‘Seratus Tahun Kesunyian’, ‘Ibunda’, atau ‘Si Bungkuk dari Notre Dame’. Novel-novel tema sejenis yang kekinian kadang tidak kalah menariknya juga.

e. Elaborasi Pemahaman. Disini kita diberikan beberapa langkah praktis-taktis untuk segera mulai menulis. Beberapa kendala yang sering dihadapai oleh kita sebagai pemula adalah langkah sederhana namun terarah yang belum bisa dikerangkakan secara lebih sistematis. Saya tertarik sekali dengan dua hal yang terkait menulis cerita fiksi. Dua hal ini adalah pertanyaan peserta yang kemudian dijawab dengan detail oleh Pak Sudomo. Pertama, tips menulis cerita fiksi. Tipsnya adalah sebagai berikut:

  • Menumbuhkan niat 
  • Menentukan ide dan genre yang disukai dan kuasai 
  • Membaca karya fiksi orang lain 
  • Membuat kerangka 
  • Dan mulailah menulis kemudian menyelesaikannya. 

Jika ini dipraktikkan, berarti kita mempunyai sebuah buku fiksi. Waaah. Lalu kedua, mengenai outline. outline sangat penting untuk menjaga kita on the right track, tidak bias, melenceng dan berkembang tak terarah. Menurut Pak Sudomo, beberapa hal yang terkait outline adalah: 

  • Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi
  • Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita 
  • Membuat premis sesuai tema
  • Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya
  • Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik
  • Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail
  • Memilih sudut pandang penceritaan yang unik

f. Koneksi Antarmateri. Beberapa poin di atas merupakan sebuah kesatuan utuh dalam membentuk sebuah tulisan. Sejauh apa koneksi tersebut terhubung, sejauh itu pula tulisan tersebut akan terbentuk.

g. Aksi Nyata. Jika semangatnya sudah ada, ide tertata rapi, arahnya jelas, maka langkah selanjutkan adalah: buka laptop, hidupkan, loading, pandangi deretan hurufnya, buka office, sentuh keyboard, lalu biarkan ide berhamburan itu bergumul dengan jari yang terus menempel dengan tombol-tombol huruf. Teruslah menulis

Lalu pertemuan pun berakhir. Lamat terdengar nada merendah pelan untuk menuntaskan materi yang membawa kita pada ujung waktu. Materi yang baik adalah materi yang membawa kita pada tanda tanya. Dan jawaban berkualitas adalah jawaban yang menyuguhkan kita pada tanda koma. Mari terus bertanya dan menaburkan koma..


Komentar

  1. Mantap..
    Ayo pak jika passionnya menulis Fiksi..
    Segera eksekusi...

    BalasHapus
  2. Udin... kebebasan mu dibatasi oleh kebebasan orang lain...

    BalasHapus
  3. Mantab...
    Plinggih memang suhu nya cerita fiksi👍👍👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer