Menyusun Diksi Dengan Pancaindra
19 Februari 2023
Pertemuan ke: 18
Tema: Diksi dan Seni Bahasa
Waktu: Juam’at, 17 Februari 2023
Narasumber: Maydearly
Moderator: Widya Arema
Salam sejahtera dan salam keselamatan bagi kita semua
Tema dalam dua pertemuan terakhir ini sangat berkaitan sekali. Pada pertemuan ke 17 membahas mengenai puisi dan pada pertemuan yang ke 18 ini membicarakan diksi. Puisi dan diksi tidak terpisahkan karena sebagai perasan waktu dan perjalanan, puisi sangat membutuhkan diksi-diksi yang mewakili rangkaian ide panjang. Jika sebelumnya puisi dibicarakan dengan cukup panjang lebar, sekarang diksi akan dipaparkan secara sederhana untuk memberikan pemahaman dasar mengenai pengertian, jenis dan penggunaannya secara umum dan penggunaannya dalam puisi.
Narasumber dalam pertemuan ini adalah Ibu Maydearly, dan moderatornya adalah Ibu Widya Arema. Menurut saya, nama dari kedua beliau ini juga bagian dari diksi yang ingin menyampaian pesan yang cukup panjang di belakangnya. Sebagai narasumber, Ibu Maydearly cukup konsen dalam ranah diksi serta menerbitkan beberapa buku mengenai hal tersebut. Selain itu, bahasa yang digunakannya dalam penyampaian materi serta tanggapan yang dilemparkan moderator, sekaligus menunjukkan pemakaian diksi-diksi yang menarik dan indah.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai diksi, seperti disampaikan Ibu Maydearly, dijelaskan dulu perjalanan kata ‘diksi’ sebelum sampai dan digunakan dalam bahasa Indonesia. Akar kata ‘diksi’ berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘dictionem’. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘diction’. Artinya, pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.
Dalam sejarah bahasa, Aristoteles , seorang filsuf dan ilmuwan Yunani, yang awalnya memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis, ditulisnya dalam salah satu buku karyanya berjudul ‘Poetics’. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, dan dalam perjalanannya penggunaan ‘diksi’ tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya. Dan lebih umum lagi, diksi diperlukan untuk ketetapan pengungkapan gagasan. Hal ini terlihat dalam definis KBBI mengenai diksi. Yaitu pilihan kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu.
Jadi, diksi itu lebih pada memilih kata yang akan digunakan untuk menyatakan sesuatu agar orang yang mendengar mudah memahami apa yang disampaikan. Nah, itulah sebabnya di dalam dunia sastra penggunaan diksi menjadi penting. Pemilihan diksi yang tepat bisa menyampaikan banyak hal dan bisa memperindah kata itu sendiri. Itu juga sebabnya, banyak digunakan diksi-diksi unik dan tidak biasa dalam dunia sastra. Atau dalam bahasa narasumber, diksi penting di dunia sastra karena ‘banyak keindahan atas sebuah kata yang tak tereja oleh bibir’, ‘diksi bak pijar bintang di angkasa yang menunjukan dirinya dengan kilauan, mempesona dan tak membosankan’.
Sebabagi contoh, narasumber menyebut William Shakespeare. Seorang sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipandu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman. Dan menurut saya, selain karya-karya Shakespeare ada juga karya-karya sastra Timur Tengah, terutama pada masa kejayaan Islam.
Namun secara umum diksi merupakan ketepatan pemilihan kata dalam aktifitas keseharian manusia, baik dalam berbicara atau dalam menulis. Ciri-cirinya adalah:
- Sesuai dengan konteks kalimat yang akan diungkapkan
- Mampu membedakan suasana, makna dan bentuk kalimat
- Menggunakan kosakata yang dipahami
- Menyatu dengan kata lain sehingga melahirkan makna yang tepat
Jadi, selama kata tersebut mencakup ciri-ciri tersebut, maka ia adalah diksi. Jenisnya banyak sekali, ada yang denotatif (kerja keras), konotatif (membanting tulang), sinonim (lezat-enak-sedap), antonim (besar-kecil), homonim (tanggal berapa-gigi tanggal), homofon (Bank BRI-Bang Zul), momograf (penjual tahu-tidak tahu) dan lain sebagainya.
Dan dalam dunia sastra, diksi yang digunakan harus lebih rigid, lebih unik dan lebih mampu menampung makna puisi yang diselaraskan dengan konteks puisi. Ada beberapa cara yang bisa diasah, yaitu:
- Memperbanyak kosakata baru
- Meningkatkan imajinasi
- Menyusaikan dengan realita
Beberapa hal ini perlu terus dilakukan agar diksi yang dipilih tepat makna dan selaras dengan makna puisi yang ingin disampaikan, jadi puisi tersebut tidak gagal makna. Menariknya, ada tips yang diberikan narasumber agar diksi yang kita punya dan kita gunakan selaras, unik, indah dan bermakna. Sebelum menjelaskan tips tersebut, narasumber mengajak kita membayangkan bahwa menulis itu sederhana, sesederhana mengaduk gula dalam gelas kopi. Hal yang dilakukan sehari-hari. Oleh karena menulis itu sederhana dan keseharian, maka menulis itu bisa dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan apa yang kita dengarkan. Dan dari sinilah tips itu mengalir. Yaitu melibatkan 5 macam panca indera kita.
1. Sense of Touch. Menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yang kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya. Contoh: ‘Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi’
2. Sense of Smell. Adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman. Hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan. Contoh: ‘Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan dilangit harapan’
3. Sense of Taste. Adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yang tercecap di lidah. Contoh: ‘Ku kecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari ku genggam Hp tangan kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu’.
4. Sense of Sight. Adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan. Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya. Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah detail. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya. Contoh: ‘Derit daun pintu mencekik udara ditengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu hanya sebagai lamunan’.
5. Sense of hearing. Adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar. Contoh: ‘Derum kejahatan yang mendekat terasa begitu kencang. Udara hening, tetapi terasa berat oleh jerit keputusasaan yang dikumandangkan bebatuan, sebuah keputusan yang menghakimiku untuk tak lagi merinduimu’
Dalam menulis kita seringkali hanya melibatkan otak sebagai muara untuk berpikir. Perlu terus diasah untuk pendengaran, perasaan, rabaan, dan penglihatan mata agar bisa menjadi rongga untuk mencumbu tulisan kita. Dengan itu, harapannya tulisan kita lebih menampung makna, lebih indah dalam susunannya dan lebih mudah dipahami.






Luar biasa pak Lazendra...
BalasHapusAyooo menulis lagi d Portal Literasi sekolah kita, sepi ni😔
BalasHapusSemangat kawan..
BalasHapusSemangat berdiksi... semoga menjadi sprti diksi bak bintang diangkasa yang berkilauan😁
BalasHapusSemangat terus menuju garis finish
BalasHapus