Menulis Buku: CLBK Yuk! (2)

 Pertemuan ke: 15



Tema: Langkah Menyusun Buku secara Sistematis

Waktu: Jum’at, 10 Februari 2023

Narasumber: Yulius Roma Patandean, S. Pd

Moderator:Arofah Afifi, S. Pd


Salam sejahtera semuanya

Jika mendengar atau membaca sebuah nama, otak akan mencernanya dengan cepat sesuai dengan pemahaman umum kita. Apalagi jika nama tersebut baru pertama kita temui. Begitu juga dengan saya pada kali ini, bertemu dengan nama Yulius Roma Patandean. Hal yang terlintas di kepala saya adalah nama penyanyi Rhoma Irama, sang raja dangdut, karena mendengar nama Roma yang terlintas adalah Rhoma Irama. Namun syukurnya, ketersesatan saya ini tidak berlangsung terlalu lama karena setelah membaca profilnya ternyata tidak ada kaitan antara dua nama tersebut.

Yulius Roma Patandean, atau yang biasa dipanggil Pak Roma, berasal dari tanah Toraja Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang guru berprestasi yang telah menerbitkan belasan buku. Dan jika melihat tahun terbitnya, belasan buku tersebut terbit pada kurun waktu 2020 sampai 2022. Jadi, beliau sangat produktif dalam menulis sehingga menjadi pilihan tepat sebagai narasumber pada tema pertemuan ke-15 ini. Temanya adalah “Langkah Menyusun Buku Secara Sistmatis”

Menariknya, Pak Roma pada awal materinya memberikan dua manfaat menulis buku. Bagi beliau, menulis buku merupakan salah satu sarana untuk memberikan apresiasi pada diri sendiri atas hasil karya yang telah selesai dibuat. Artinya kita pantas menghargai diri kita sendiri. Dan yang kedua, buku sebagai personal branding, sehingga memberi motivasi diri untuk lebih berkarya. Dua hal ini sangat menarik bagi saya karena menulis buku ditarik menjadi proses diri untuk semakin baik dan dijadikan sebagai ajang untuk belajar menghargai diri kita sendiri. Menulis buku adalah proses untuk semakin mengenal dan merasa nyaman dengan diri sendiri. Pada posisi ini, menulis buku sama seperti mempelajari filsafat atau seperti seorang pelukis yang sedang masuk dalam proses kreatif melukisnya. Bagi saya, ini adalah sebuah pemahaman mendalam mengenai proses menulis.



Memang ada lagi yang disampaikan, bahwa menulis buku bisa memberi manfaat bagi orang lain. Memang, itu sudah lumrah untuk memahami menulis dengan setumpuk dampaknya terhadap orang lain. Menulis buku adalah aktifitas menyalurkan hal positif, adalah melukis di keabadian, adalah menyodorkan dunia, adalah jalan untuk dikenal orang dan lain sebagainya. Namun menulis itu bukan hanya masalah-masalah itu saja, tapi hal yang jauh lebih mahal dari itu. Karya-karya Karl Marx booming justru setelah beliau meninggal, karya-karya Imam Syafi’i tersebar ke seluruh penjuru dunia jauh setelah beliau wafat, dan karya-karya Pramoedia justru baru bisa dinikmatinya hanya beberapa tahun pada masa rentanya. Jika berbicara royalti, jika para penulis-penulis hebat itu masih hidup dan dengan hitungan yang layak, maka mereka akan menjadi orang yang sangat kaya. Dan jika mereka mengambil ketenaran, maka namanya hanya akan berakhir di obrolan-obrolan pojok kafe dan sekolah.



Dan yang lebih mahal dari itu adalah proses kreatif menulis itu sendiri. Inilah materi yang cukup menarik yang disampaikan Pak Roma. Beliau menggiring kita untuk terus dan terus semangat menjalani prosesnya, karena dengan itulah proses kreatif tersebut bekerja. Konsep yang beliau tawarkan adalah konsep CLBK.

Namun, sebelum berbicara mengenai CLBK, dibahas pula secara umum sejenis panduan untuk mensistematiskan tulisan dan sentuhan terakhirnya. Mengenai hal ini Pak Roma memberikan link you tube-nya agar bisa dijelaskan lebih lama dan detail serta tidak tergantung pada waktu. Misalnya:

- Cara membuat judul, bab, dan sub judul tulisan pada buku secara otomatis, bisa dilihat pada https://youtu.be/jXPr59aWJSc

- Cara membuat indeks pada tulisan, bisa dilihat pada https://youtu.be/mS8bfNZT-rA

- Cara memasukkan daftar isi, kutipan, indeks, dan daftar pustaka secara otomatis, dilihat pada https://youtu.be/eePQwyHAcjw

Link-link tersebut membahas secara tehnis agar bisa tulisannya menjadi lebih sistematis dan otomatis. Sebenarnya, panduan-panduan itu juga bisa diakses dan didownload serta bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan. Dan di internet panduan-panduan seperti itu pilihannya cukup banyak.



Kembali ke konsep CLBK. Berikut penjelasan mengenai konsep CLBK:

COBA. Menulis, menyusun dan mengedit naskah buku tidak bisa menjadi alah bisa karena biasa semata tanpa ada percobaan. Dengan mencoba, maka akan timbul rasa penasaran untuk menjalaninya. Ada pahit, manis, asam, asin, kecewa dan bahagia kala mencoba. Mencoba menjadi kata kunci untuk memulai, dan dengan memulai berarti langkah sudah semakin dekat untuk mempunyai buku.

Namun mencoba bukan jalan tol yang bebas hambatan. Mencoba adalah bagian awal dari proses kreatif sehingga dalam perjalannya akan selalu berhadapan dengan berbagai tantangan, baik yang datang dari siri sendiri atau faktor luar lainnya

LAKUKAN dengan segera. Praktikkan sekaligus, biarkan jari jemari mengalir. Melakukan proses yang ‘lebih’ dalam menulis membutuhkan dorongan yang ‘lebih’ pula. Tidak menunda menjadikan langkah yang sudah dimulai akan berjalan lebih cepat dan efektif. Artinya, menulis 10 kalimat setiap hari dengan tanpa menunda akan lebih baik dari pada menulis 70 kalimat seminggu. Secara kuantitas sama, sama-sama 70 kalimat, namun dalam prosesnya berbeda karena penundaan akan lebih mungkin terjadi selama seminggu tersebut.

BUDAYAKAN. Sebuah budaya mengandaikan ia adalah bagian tak terpisahkan atau satu kesatuan dari sebuah aktifitas. Misalnya, budaya tepat waktu orang Jepang. Maka, itu artinya tepat waktu merupakan bagian atau identik dengan orang Jepang. Orang Jepang selalu tepat waktu, dan tepat waktu adalah bagian hidup dari orang Jepang. Tidak ada paksaan untuk orang Jepang melakukan itu.

Menjadikan menulis sebagai budaya juga demikian. Ia harus menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita, dan diri kita adalah satu kesatuan dengan aktifitas menulis itu sendiri. Tidak ada yang memaksa kita menulis, namun jika tidak menulis seolah ada yang hilang dari diri kita. Begitu pula jika menulis, menyusun dan mengedit tulisan. Hasilnya akan sangat sulit akan maksimal jika didorong oleh paksaan. 

KONSISTEN. Istilah lain dari konsisten adalah ajeg atau tetap melakukan sesuatu. Dalam ajaran agama Islam dikenal dengan istilah istiqomah. Ada sebuah kutipan yang dikenal di dunia Islam: “Istiqomah lebih baik dari seribu karomah (kemuliaan)”. Ajeg dan tetap melakukan sesuatu lebih baik dari seribu kemuliaan. Sebagai langkah terakhir, harus diakui bahwa konsisten membutuhkan usaha lebih untuk menjadikannya sebagai bagian dari diri kita.

Namun tidak menCoba untuk meLakukannya agar bisa menjadi Budaya, maka tidak mungkin kita meraih Konsistensi. CLBK..


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer