Mengoreksi itu Kerikil Tajam
Senen, 06 Februari 2023
Pertemuan ke : 12
Tema: Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan
Narasumber: Susanto, S. Pd
Moderator: Helwiyah, S. Pd., M. M
Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga keselamatan ada dan selalu ada bersama kita
Banyak pakar dan penulis mengatakan bahwa aktifitas menulis bisa menjadi healing, proses penyembuhan. Menulis sendiri merupakan sebuah aktifitas multi yang melibatkan banyak hal. Bukan hanya jari jemari yang digerakkan, bukan hanya mata yang difokuskan untuk melihat tombol dan layar, tetapi juga melibatkan olah pikir, konsentrasi, imajinasi, kondisi hati, dan kreatifitas. Kreatifitas dibutuhkan bukan hanya pada olah kata dan olah ide, tetapi juga kreatif menjaga stabilitas tubuh, menyiasati kejenuhan, dan membangkitkan semangat.
Artinya, dalam menulis sebenarnya kita sedang mengerahkan dan mengarahkan segenap modal lahir batin kita pada satu hal. Ini sama seperti sebuah pengalihan dari sebuah kondisi ke kondisi lainnya. Dalam gambaran sederhananya, mungkin tidak ubahnya seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan mainan teropong yang kemudian larut dengan mobil-mobilan lamanya, yang lama tak pernah pernah dilihatnya. Pengalihan seperti ini efektif untuk memaksimalkan sebuah potensi, dan efektif untuk pemulihan potensi yang lain. Nah, menurut saya, kira-kira begitulah aktifitas menulis itu bekerja sebagai healing.
Pada prosesnya yang multi tadi, tidak semuanya berjalan mulus dan tidak seluruhnya dilakukan dengan benar. Pada tahap ini kesalahan menjadi sesuatu yang sangat biasa, lumrah dan bisa dipahami. Oleh karena itu ada tahapan yang memang dikhususkan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Tahapan ini disebut dengan proofreading, yang sekaligus juga menjadi tema pada pertemuan ke-12 ini. Tepatnya, temanya adalah “Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan”. Narasumbernya, Pak Susanto. Beliau mempunyai pengalaman dalam proofreading dan dengan senang hati membagikan pengalaman tersebut kepada kita semua.
Proofreading, menurut Pak Susanto, merupakan tahap terakhir dari proses editorial dan tujuannya adalah untuk menemukan kesalahan yang terlewatkan oleh penulis, editor, dan perancang buku atau formatter. Oleh karena aktifitas ini mengandaikan adanya kesalahan pada naskah, maka naskah harus sudah jadi lebih dahulu baru kemudian dilakukan proses proofreading. Proses ini memang mempunyai kesamaan dengan editing, tapi sebenarnya merupakan hal yang jauh berbeda. Paling tidak ada dua perbedaan antara proofreading dan editting:
1. Pada Kamus bahasa Inggris, kata proofreading diartikan dengan ‘mengoreksi’. Sedang editting dengan ‘mengedit’, yaitu proses memperhatikan diksi dan struktur kalimat, mengarahkan dan menyusun, serta memotong dan memadukan kembali susunan naskah.
2. Proofreading lebih terfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi. Sedangkan editting bisa melibatkan perubahan besar pada isi, struktur atau bahasa naskah
Dengan demikian, terlihat jelas perbedaan dua hal tersebut. Proofreading dilakukan setelah editting, karena proofreading adalah langkap menyisir kesalahan-kesalahan kecil sebelum akhirnya naskah atau tulisan tersebut dianggap selesai dan bisa dipublikasikan. Untuk lebih jelasnya bisa digambarkan sebagai berikut: jika sebuah naskah atau tulisan sudah selesai ditulis, maka tulisan tersebut akan masuk tahap pengeditan. Pengeditan ini bisa berupa pengeditan konten dan pengeditan teks. Pengeditan konten atau dikenal juga dengan pengeditan substantif akan berupa perubahan penting pada isi tulisan baik dengan memindahkan, menambahkan atau menghapus bagian-bagian teks. Sedangkan pada pengeditan teks hanya berupa perubahan kata atau frase, atau penyusunan ulang paragraf.
Jika proses pengeditan ini selesai, barulah masuk pada tahap proofreading. Yakni memeriksa kesalahan tersisa seperti salah eja, tanda baca yang salah penempatan, penggunaan huruf kapital yang tidak tepat atau inkonsistensi penulisan. Dalam hal ini Pak Susanto menawarkan beberapa trik dalam melakukan proofreading. Yaitu:
a. Jika pengeditan sudah dirasa cukup, maka tulisan tersebut diendapkan beberapa waktu. Biarkan teks tersebut sibuk dengan dirinya, dan kita berhenti membaca dan melihatnya. Sebenarnya sederhana, proses pengendapan ini penting untuk mengembalikan daya konsentrasi dan fokus dalam melakukan proofreading. Setelah pengeditan berjam-jam, membaca dan memperbaiki kata atau kalimat yang begitu banyak, atau mengulang-ulang banyak kata, akan menghambat kita untuk menyadari dan menemukan kesalahan-kesalahan kecil
b. Meminta orang lain untuk membaca tulisan atau naskah kita. Ada hal-hal yang luput dari kita, dan bisa menjadi perhatian orang lain. Tulisan pun begitu. Orang lain seringkali lebih mudah menunjukkan kesalahan yang kita lakukan daripada kita sendiri yang melakukannya. Namun menurut saya, proses ini bisa dilakukan untuk diri sendiri dan dalam skala yang lebih kecil. Pak Susanto mengistilahkannya dengan swasunting atau self editting. Tentu akan berbeda jika sebuah naskah ada di penerbit buku atau jurnal
c. Melakukan proofreading. Pada tahap inilah, setelah draft naskah selesai diedit, mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang masih tersisa atau terlewatkan dilakukan
d. Untuk memperkecil kesalahan-kesalahan kecil tersebut, yang mungkin terlewatkan untuk kita perbaiki, kita bisa menggunakan perangkat lunak pengolah kata. Walaupun demikian, menggunakan aplikasi perangkat lunak tidak dianjurkan untuk selalu digunakan.
Pekerjaan kecil dan detail bukanlah pekerjaan mudah, diperlukan keinginan kuat dan fokus yang tetap untuk melakukannya. Proofreading pun demikian, membutuhkan keahlian dan kejelian untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang tidak semuanya mudah ditemukan. Untuk meminimalisir hal tersebut, menurut Pak Susanto, perlu diperhatikan beberapa hal berikut dalam melakukan proses proofreading.
1. Perhatikan detail. Oleh karena proofreading berupaya menemukan kesalahan-kesalahan kecil, maka spasi, tanda baca, atau kesalahan penulisan harus lebih detail diperhatikan
2. Membaca dengan lantang. Mendengar orang membaca atau kita yang membacanya secara lantang, akan memaksimalkan fungsi telinga untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang kadang terlewatkan oleh mata.
3. Baca perlahan. Jika pernah melihat orang membaca puisi atau bermain teater, tentu tidak asing melihat orang yang menurunkan nada dan suaranya sebagai caranya untuk menitikberatkan ucapannya karena yang disampaikannya penting. Begitu juga dengan membaca perlahan, hal tersebut akan membuat konsentrasi dan perhatian kita lebih terarah pada apa yang kita baca
4. Beristirahat dan berbuat baik pada diri sendiri. Memahami kondisi diri tidak selalu mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya. Perlu kontrol dan disiplin untuk mengerti sinyal dan potensi yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Walaupun demikian, kondisi fluktuatif diri selalu menjadi tantangan bagi semua orang. Orang yang sedang jenuh, sulit konsentrasi. Orang malas sulit mencari motivasi. Dan pada tahap tertentu, dan memang diperlukan, sangat penting untuk memanjakan tubuh dan pikiran kita untuk keluar dari rutinitasnya. Jika memang fokus itu sedang sulit diusahakan, perlu untuk melepas sejenak diri kita dari fokus itu. Setelah beberapa lama, tentu kondisi kita akan menjadi lebih kondusif untuk melanjutkan aktifitas.
Beberapa penjelasan mengenai trik dan tips proofreading dari Pak Susanto ini cukup menjadi modal pemahaman dan langkah kita untuk memberikan polesan akhir dari naskah atau tulisan kita sebelum dipublikasikan. Proofreading memang bukan batu besar yang menghalangi kita di jalan raya, tapi ia adalah kerikil-kerikil bertebaran yang membuat langkah kita tersendat dan bisa merusak arah tujuan awal kita. Memang, seperti kata orang tua, orang tidak terjatuh dengan batu yang besar tetapi tergelincir dengan kerikil kecil.
Wallahua’lam





Resumenya disimpan di wird juga ya pak..biar suatu saat dibutuhkan sudah ada..
BalasHapusSemangat mik..
BalasHapusAnggap saja kerikil kerikil itu sbg penghantar kesuksesanš
BalasHapus