Majalah Sekolah Itu Tidak Mungkin!

 Jumat, 03 Januari 2023



Pertemuan ke: 11

Tema: Mengelola Majalah Sekolah

Narasumber: Widya Setianingsih, S. Ag

Moderator: Mutmainah, M. Pd


Salam sejahtera bagi kita semua. Salam Jumat berkah. Semoga kita dipenuhi anugerah..

“Bayangkan sekolah masing-masing. Setiap sudut kelasnya, siswanya, pimpinan, teman-teman seperjuangan. Banyak kisah, berita, prestasi yang bertebaran setiap hari (disana)”

Begitu salah satu arahan narasumber pada pertemuan ke-11 ini. Arahan itu sebagai langkah kecil membuat coretan untuk menggambarkan luasnya ide dan kreasi yang berserakan di sekolah, dan itu adalah modal berlimpah untuk membuat majalah sekolah. Kira-kira itu yang saya tangkap. Jadi, membuat majalah sekolah itu sangat mungkin bagi yang mau melakukannya.



Resume saya sekarang ini akan berawal dari salah satu arahan narasumber tadi dan ditambah dengan file powerpoint yang dikirim beliau mengenai mengelola majalah sekolah. Keduanya diramu dengan membumikannya di sekolah dalam bentuk imajinasi.

Membuat dan menerbitkan sebuah majalah bukanlah hal yang mustahil, apalagi dengan melimpahnya sumber daya, biaya dan sumber informasi seperti yang ada di lembaga pendidikan (terutama sekolah negeri dengan murid melimpah), baik di jenjang sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas. Terkadang kita terbiasa mengkerdilkan diri kita sendiri dengan membentuk pola pikir pesimis dalam melakukan hal positif, sehingga ide-ide brilian dan bernas banyak yang menguap dan tidak pernah menyentuh realitas. Memang, kesadaran dan pemahaman menjadi dasar untuk memulai melakukan sesuatu, namun hal tersebut bisa dimulai dengan keinginan dan tekad kuat dalam belajar dan mendapatkan pengetahuan. Membuat majalah menjadi salah satu contoh, mungkin tidak banyak dari kita yang berada di wilayah yang bukan perkotaan mempunyai ide atau keinginan untuk membuat majalah. Dan kalau pun ada, itupun sebatas di kepala dan menjadi curhatan pojok antar teman yang jarang diwujudkan. Pada ranah ini, membuat dan menerbitkan majalah itu menjadi mustahil. Jika tokoh, pemimpin, atau guru di sebuah lingkungan atau sekolah saja sudah kalah sebelum bertarung, maka membuat dan menerbitkan majalah itu adalah pekerjaan malaikat. Hal yang sulit dijangkau.



Dan tema kali ini adalah mengenai membuat majalah, terutama di sekolah. Yakni menjadikan penerbitan majalah tersebut menjadi mungkin dan terjangkau. Sebenarnya, membuat majalah itu bisa siapa saja dan komunitas apa saja, namun jika sekolah yang menginisiasi akan menjadi lebih mungkin karena secara SDM, bahan, dan biaya jauh lebih potensial. Lalu bagaimana membuat majalah tersebut? Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dimatangkan dalam memulai, merancang dan membuat majalah.

Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM). Yaitu mengajak dan menggandeng  berbagai unsur yang akan menjadi tulang punggung dari majalah tersebut. Mereka lah yang akan menjadi motor dan penentu dari lahir dan berjalannya majalah. Pada lembaga pendidikan seperti sekolah, SDM seharusnya bukan menjadi masalah. Sekolah adalah tempat orang belajar dan mendapatkan ilmu dengan segala prosesnya, sehingga dalam membuat majalah berbagai pihak di sekolah merupakan bagian tak terpisahkan yang bisa bergabung untuk memberikan andil take and give keilmuan. Beberapa di antaranya, misalnya:

- Para guru berasal dari berbagai disiplin keilmuan dan latar belakang kehidupan yang beragam. Wawasan kelimuan mereka rata-rata sudah lebih dari cukup untuk mengisi konten majalah

- Para pejabat sekolah (Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Waka Kesiswaan, Waka Sarana, Waka Humas dan sebagainya) bisa menjadi sumber, subyek dan sekaligus obyek dari majalah. Bagaimanapun beliau-beliau adalah penentu kebijakan, perancang program, dan sumber informasi terkait apapun mengenai sekolah.

- Siswa-siswa. Setiap siswa punya keunikan dan kelebihan masing-masing, akan sangat tergantung pada bagaimana mereka diisi dan diarahkan; Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) biasanya berisi mereka yang punya insting keorganisasian tinggi sehingga potensial untuk dilibatkan dalam menjalankan majalah; kegiatan ekstra sekolah, apalagi jika di sekolah tersebut ada ekstra jurnalistik, tentu akan mempermudah terwujudnya majalah.



Kedua, sumber dana. Jika dalam komunitas yang sumber dananya bersifat swadaya tentu harus berpikir keras untuk memastikan tersedianya modal untuk menjalankan rencana pembuatan majalah. Namun bagi sekolah, persoalannya tidak serumit itu. Anggaran BOS memungkinkan untuk menjadi bumper dari segi finansial. Bahkan jika memang sangat tidak memungkinkan, iuran dari para guru dan pejabat sekolah sekali saja sudah bisa menjadi dana talangan awal dalam menerbitkan majalah. Dan layaknya kegiatan lain, untuk lebih terarah dan lebih jelasnya alokasi dana, maka diperlukan list anggaran biaya yang diperlukan. 

Memanfaatkan iklan juga tidak kalah menariknya untun dijadikan sumber dana sekolah. Tentunya dengan mempertimbangkan unsur edukasi dan manfaatnya bagi sekolah. Sebagai gambaran, misalnya:

- Kegiatan bazar setiap Sabtu keempat setiap bulan dalam kegiatan Sabtu Budaya sebagai contoh (di tempat kami ada program Sabtu Budaya yang berisi beragam kegiatan yang diarahkan langsung oleh Kanwil NTB).

- Usaha online siswa juga bisa dilirik, yang sekaligus menjadi ladang praktik mereka dalam mengembangkan jiwa interpreneurshipnya.

- Begitu juga dengan ibu/bapak guru, wali siswa, kantin sekolah dan warga sekitar bisa menjadikan majalah sebagai lapangan promosi

- Instansi-instansi terkait

- Dan lain sebagainya

Ketiga, dukungan sekolah. Sekolah disini dalam arti ia sebagai kumpulan berbagai komponen di dalamnya. Oleh karena itu, dukungan sekolah tidak cukup hanya para gurunya saja, tetapi juga oleh para stake holder dan para siswa secara keseluruhan. Proposal ke pejabat sekolah, dukungan nyata para guru dan sosialisasi ke semua siswa sama pentingnya untuk berjalannya majalah tersebut ke depan

Keempat, dukungan stake holder. Dukungan dari mereka sebagai decision maker punya peran penting dalam menentukan eksistensi majalah yang akan dibuat. Oleh karena itu komunikasi efektif-efisien kepada pejabat sekolah, UPT dan dinas, wali siswa, komite, dan tokoh masyarakat sekitar akan memberikan ruang tumbuh yang potensial bagi terbitnya majalah yang repsesentatif secara keilmuan, edukatif secara proses dan rekreatif secara isi.

Setelah beberapa hal di atas memberikan sinyal hijau, maka langkah selanjutnya adalah langkah konkrit merencanakan dan melaksanakan tahapan-tahapan penerbitan majalah. Sekelompok orang yang menyusun dan menjalankan rencana ini disebut dengan redaksi. Untuk majalah sekolah, sebagai salah satu tawaran, susunan redaksinya terdiri dari:

- Pelindung/penasehat adalah kepala sekolah, karena beliau yang akan bertanggung penuh atas majalah tersebut.

- Pembina. Adalah wakil kepala sekolah atau guru yang ditunjuk untuk memberikan arahan, masukan dan petunjuk agar majalahnya berjalan dengan baik

- Pemimpin redaksi. Ini adalah ruh dari majalah tersebut. Dialah yang akan bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktifitas kerja keredaksian. Artinya, dia yang harus memastikan berbagai unsur dalam redaksi pelaksana menjalankan tugasnya masing-masing

- Redaksi pelaksana (tim redaksi, fotografer, lay-outer, editor, sekretaris, bendahara, pemasaran). Inilah tulang punggung majalah. Mereka di bagian ini yang bekerja langsung dari proses awal penerbitan majalah sampai majalah tersebut berada di tangan pembaca

Saya kira itu beberapa hal penting terkait dengan pembuatan dan penerbitan majalah (sekolah). Jika hal-hal tersebut sudah terlaksana, maka langkah terakhirnya adalah memastikan semua berjalan lancar dan sesuai dengan bagian masing-masing. Disinilah konsistensi dan kekompakan diuji. Mari mencoba..


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer