Buku Ajar Versus Buku Teks
21 Februari 2023
Pertemuan ke: 19
Tema: Menulis Buku Ajar
Narasumber: Dr. Mudafiatun Isriyah, M. Pd
Moderator: Mutmainah
Salam sejahtera untuk kita semua dan semoga keselamatan selalu menyertai
Pada dasarnya semua orang dilengkapi dengan kemampuan dasar untuk menyerap ilmu dan menyalurkan ilmu. Panca indra dengan segala kemampuan perangkat manusia luar dan dalam membuka lebar kesempatan semua orang menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan mengaplikasikannya semaksimal mungkin. Pada tahap ini, manusia semuanya sama dan sederajat.
Salah satu cara untuk berkembang dan mendapatkan ilmu adalah dengan jalur sekolah dan membaca buku. Lembaga pendidikan ditempuh secara bertahap, sedangkan membaca buku tidak terikat dengan apa pun, kecuali bagi mereka yang di lembaga pendidikan. Pada pertemuan ke 20 ini temanya tidak jauh dengan pembahasan tadi, yaitu lembaga pendidikan, membaca, menulis dan buku. Temanya: Menulis Buku Ajar.
Bagi orang yang bergelut di dunia pendidikan, mereka pasti tahu pentingnya buku ajar. Buku ajar merupakan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Artinya, buku ajar berperan penting dalam proses transformasi pengetahuan dari guru ke siswa, dari siswa ke guru, dari siswa ke siswa, atau dari siswa dengan lingkungan sekitar. Perkembangan dunia pendidikan hari ini menunjukkan guru tidak harus lagi menjadi sentral penuh dalam proses pembelajaran. Siswa harus diberikan keluasaan untuk mengembangkan potensi masing-masing dengan cara memberikan ruang yang lebih luas bagi mereka mengeksplorasi potensi masing-masing. Guru tidak lagi harus menjadi kebenaran tunggal dalam proses belajar.
Dr. Mudafiatun Isriyah, M. Pd akan memberikan kita pemahaman dasar mengenai buku ajar, sehingga diharapkan buku ajar tidak bertumpu pada penerbit besar yang menyeragamkan materi di semua tempat. Buku ajar itu harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi lokalitas masing-masing, dan idealnya lahir dari lokal sesuai dengan keadaan dan kondisi masing-masing. Dalam hal ini, Bu Mudafiatun tentu sangat mempunyai kapabilitas untuk berbagi pengalaman panjang beliau mengenai menulis buku ajar. Dan pada pertemuan ini beliau membagi materi menjadi lima poin, yaitu: bahan ajar versus buku ajar, pentingnya buku ajar dalam pembelajaran, buku ajar dan buku hasil penelitian/hasil pemikiran, cara Penulisan buku ajar, dan prinsip-prinsip pemilihan materi buku ajar.
1. Bahan Ajar Versus Buku Ajar
Berikut beberapa hal mengenai bahan ajar:
a. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/dosen dan mahasiswa dalam kegiatan belajar-mengajar. Bahan ajar dapat berupa bahan tertulis atau pun tidak tertulis.
b. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga dapat tercipta lingkungan dan suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar.
c. Bahan ajar itu ada yang cetak dan non cetak. Bahan ajar cetak itu seperti: buku teks, buku referensi, dan monograf. Ada juga yang disebut sebagai bahan ajar mandiri (cetak), yaitu modul, panduan, atlas, poster, brosur dan lain sebagainya
d. Sedangkan bahan ajar non cetak itu seperti: internet, e-learning, CAI (Computer Assisted Instruction), Slide, video, audio / radio dan lain-lain.
e. Sedangkan buku ajar merupakan salah satu bentuk bahan ajar, yaitu bahan ajar cetak tadi. Dalam pengertian resminya, buku ajar adalah buku ilmiah berupa uraian materi pembelajaran yang disusun secara logis dan sistematis dengan bahasa yang lugas, digunakan dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran (Pannen & Purwanto, 2001)
2. Pentingnya Buku Ajar dalam Pembelajaran
Oleh karena posisi buku ajar sangat penting dalam proses pembelajaran, maka buku ajar harus disusun dengan secara cermat dan tepat. Arti penting dari buku ajar itu adalah:
1. Guru/ dosen lebih banyak waktu untuk memberi bimbingan kepada siswa/mahasiswa. Bahan penting yang sudah tersedia dalam buku ajar akan memberikan waktu guru/dosen untuk melakukan hal lain yang terkait erat dengan bidang studi. Penjelasan dan bimbingan, misalnya
2. Siswa dapat belajar sekalipun tidak ada guru. Keaktifan guru di sekolah tidak menjamin seorang guru akan menemani para siswa setiap waktu di sekolah. Sering ada kondisi mendadak, persoalan keluarga, rapat dinas dan lain sebagainya yang menyebabkan guru tidak berada di kelas. Adanya bahan ajar, justru menjadi solusi kelas yang bisa menjawab soal, merangkum, menganalisa dan sebagainya, walaupun guru tidak ada.
3. Siswa dapat belajar kapan dan di mana saja. Buku ajar adalah termasuk buku cetak sehingga mempelajarinya tidak tergantung pada tempat dan waktu. Ia bisa dipelajari dimanapun dan kapanpun di luar jam sekolah
4. Siswa tidak terlalu tergantung kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Jika konsep pendidikan sebelumnya, guru adalah tokoh yang dijadikan sebagai sumber tunggal dalam belajar. Sedangkan sekarang, guru selain sebagai salah satu sumber belajar, juga bisa sebagai pendamping atau fasilitator yang menggiring siswa sesuai dengan kemampuannya
5. Siswa bisa belajar dengan kecepatan masing-masing sesuai dengan potensi. Kemampuan orang berbeda-beda, daya serap dan daya tangkap tentu berlainan pula. Buku ajar memberikan setiap orang untuk berproses sesuai dengan kemampuan dan pemahaman masing-masing.
Bagi guru/dosen, selain berguna bagi guru/dosen dan siswa/mahasiswa seperti di atas. Adalah pula kegunaan atau keuntungan buku ajar bagi guru/dosen itu sendiri. Yaitu:
• Promosi & kenaikan pangkat
• Mendapatkan insentiff
• Finansialr royalti
• Eksistensi diri
• Media ekspresi
• Branding personal dan institusi
• Eksistensi diri
• Penguatan keilmuan; dll.
3. Buku Ajar dan Buku Hasil Penelitian/Hasil Pemikiran
Guru merupakan agen aktifitas pembelajaran. Artinya, guru sudah seharusnya memahami dan menguasai materi-materi pelajaran yang diampunya, serta sedianya harus mengikuti dan menyiasati perkembangan zaman yang terus berubah. Guru harus terus berusaha meningkatkan kemampuannya sebagai guru, dan juga harus mengikuti dan meng-up date perkembangan keilmuan. Inilah yang disebut guru pembelajar.
Dalam hal ini, guru bisa mengerahkan kemampuan, pengalaman dan penggunaan kurikulum sebagai jalannya untuk menulis buku ajar. Dan dengan RPS/silabus bisa menjadi dasar untuk mendesain pembelajaran. Proses ini nantinya akan menghasilkan buku ajar, buku modul, petunjuk praktikum, diktat, dan naskah tutorial
Pada sisi lain, guru melakukan observasi, pendataan, menganalisa dan melaporkan tentang berbagai hal terkait dengan siswa, guru dan sekolah. Pada tahap ini, guru adalah sebagai peneliti. Pada lingkup ini, guru seharusnya tidak hanya mensurvey dan membuat laporan mengenai kegiatan saja, tetapi juga perlu dibuka ruang yang luas untuk guru melakukan penelitian dalam hal-hal yang lain. Dari aktifitas meneliti ini nantinya akan bisa menghasilkan buku referensi, monograf, artikel ilmiah dan lain-lain.
Dari penjelasan di atas, dibedakan jenis naskah yang dihasilkan dari proses sebagai pembelajar dan proses sebagai peneliti. Naskah sebagai pembelajar akan menghasilkan beberapa jenis buku ajar. Yaitu:
1. Buku Ajar: buku pegangan suatu mata pelajaran/mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar bidang terkait dan memenuhi kaidah pembelajaran (sesuai Rencana Pembelajaran) serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan
2. Buku Modul: buku dalam bentuk modul-modul terpisah sesuai dengan pokok bahasan. Disusun berdasarkan rancangan pembelajaran, dan disebarluaskan kepada mahasiswa/siswa untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran
3. Diktat: buku untuk suatu mata pelajaran/mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pengajar, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta didik
4. Petunjuk Praktikum: buku pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara, persiapan, pelaksanaan, analisis data pelaporan, ditulis oleh dosen/guru atau tim dosen/tim guru yang menangani kegiatan praktikum dan ditulis dengan kaidah-kaidah tulisan ilmiah
5. Naskah Tutorial: bahan rujukan untuk kegiatan tutorial suatu mata pelajaran/mata kuliah yang disusun/ditulis dengan kaidah tulisan ilmiah
Sedangkan dari naskah sebagai peneliti akan menghasilkan buku-buku teks umum, sebagian antaranya:
1. Buku Referensi: hasil penelitian atau hasil pemikiran yang dipublikasikan dalam bentuk buku yang substansi, pembahasannya pada suatu bidang ilmu, ditulis dengan mengikuti kaidah ilmiah dan disebarluaskan secara resmi
2. Monograf: hasil penelitian atau hasil pemikiran yang dipublikasikan dalam bentuk buku yang membahas hanya pada satu hal saja dalam suatu bidang ilmu
Jadi secara umum, naskah atau buku dibedakan menjadi buku ajar dan buku teks. Untuk membedakan keduanya, berikut ciri-ciri umumnya:
Ciri-ciri buku ajar:
1. Ditulis dan dirancang untuk digunakan siswa/mahasiswa.
2. Menjelaskan tujuan pembelajaran.
3. Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel.
4. Strukturnya berdasarkan kompetensi yang akan dicapai.
5. Ada pemberian kesempatan latihan bagi mahasiswa.
6. Selalu memberikan rangkuman.
7. Kepadatan berdasarkan kebutuhan mahasiswa
8. Dikemas untuk digunakan dalam pembelajaran.
9. Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari mahasiswa.
10.Mencantumkan petunjuk penggunaan buku ajar.
Sedangkan buku Teks pada umumnya bercirikan:
1. Ditulis terutama untuk digunakan dosen atau pembaca umum, dipasarkan secara luas.
2. Tidak selalu menjelaskan tujuan pembelajaran.
3. Disusun secara linier.
4. Strukturnya berdasarkan logika bidang ilmu (content).
5. Belum tentu memberikan latihan bagi mahasiswa.
6. Belum tentu ada rangkuman.
7. Materi buku teks sangat luas
8. Dikemas untuk dijual secara umum.
9.Tidak ada mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pemakai.
10.Tidak memberikan petunjuk cara mempelajarinya.
4. Cara Penulisan Buku Ajar
Buku ajar dalam dunia pendidikan sangatlah penting karena akan menjadi suluh bagi guru/ dosen dan siswa/mahasiswa dalam melakukan proses pembelajaran. Setelah membahas mengenai pengertian, arti penting dan berbagai jenis buku ajar, sekarang akan diarahkan pada bagaimana menulis buku ajar. Di sini ada tiga model yang ditawarkan.
1. Penataan Informasi (compilation text)
Guru/Dosen melakukan kompilasi bahan dari berbagai sumber yang telah beredar di pasaran berdasarkan silabus/RPS yang telah disusun. Prosedur kompilasinya sebagai berikut:
1. Kumpulkan seluruh buku, artikel jurnal ilmiah, dan sumber acuan lain yang digunakan dalam mata pelajaran seperti yang tercantum dalam daftar pustaka di RPS.
2. Tentukan bagian-bagian buku, artikel jurnal ilmiah, dan bagian dari sumber acuan lain yang digunakan per Bahan Kajian sesuai dengan RPS.
3. Fotokopi seluruh bagian dari sumber yang digunakan per Bahan Kajian sesuai dengan RPS.
4. Pilahlah hasil fotocopy tersebut berdasarkan urutan Bahan Kajian yang sesuai dengan RPS.
5. Buatlah/tulislah halaman penyekat bahan untuk setiap Bahan Kajian/BAB.
6. Bahan-bahan yang sudah dilengkapi dengan halaman penyekat untuk setiap Bahan Kajian kemudian dijilid rapi (selanjutnya dicopy untuk dibagi kepada siswa/mahasiswa).
7. Buatlah/tulislah pedoman guru/dosen dan pedoman siswa/mahasiswa untuk mendampingi bahan yang sudah dikompilasi tersebut.
2. Pengemasan kembali (information repackaging)
Guru/Dosen melakukan pengemasan kembali dari sumber-sumber yang telah ada disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi yang ingin dicapai dalam silabus/RPS. Caranya, informasi yang sudah ada di pasaran dikumpulkan berdasarkan kebutuhan. Informasi tersebut disusun kembali/ditulis ulang dengan gaya bahasa dan strategi yang sesuai untuk menjadi buku ajar (digubah), kemudian ditambahkan:
- Kemampuan/kompetensi yang akan dicapai.
- Petunjuk belajar bagi siswa/mahasiswa.
- Latihan.
- Ringkasan.
- Umpan balik.
- Evaluasi formatif.
3. Menulis sendiri(starting from scratch)
Guru/Dosen menulis sendiri berdasarkan kepakaran atau keahliannya berdasarkan silabus/RPS mata pelajaran/ mata kuliah yang diampunya. Ada beberapa modal yang seharusnya dan sewajarnya dimiliki oleh guru/ dosen sehingga buku ajar itu perlu ditulis oleh guru/ dosen itu sendiri. Modal tersebut adalah:
- Guru merupakan pakar dalam bidangnya (menguasai bidang ilmu).
- Guru mempunyai kemampuan menulis.
- Guru memahami kebutuhan mahasiswa dalam bidang ilmu yang dibinanya.
- Guru memiliki kemampuan mendesain pembelajaran
5. Prinsip-Prinsip Pemilihan Materi Buku Ajar
Dalam penggunaan buku ajar sangat penting memperhatikan prinsip-prinsip dasar buku ajar. Yaitu:
1. Prinsip Relevansi
Materi pembelajaran hendaknya ada hubungannya dan memberikan kontribusi bagi upaya pencapaian capaian pembelajaran mata kuliah dan kemampuan akhir. Misalnya, jika kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa/mahasiswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta.
2. Prinsip Konsistensi/Keajegan
Materi pembelajaran harus konsisten dengan kemampuan akhir yang ingin dicapai, baik dari segi jumlah materi maupun dari taksonominya. Jika kemampuan akhir yang harus dikuasai mahasiswa empat macam, maka materi buku ajar yang harus dikembangkan juga harus meliputi empat macam
3. Prinsip Kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu mahasiswa menguasai kemampuan akhir yang diharapkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai capaian pembelajaran mata kuliah dan kemampuan akhir. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Demikian sedikit penjelasan mengenai materi buku ajar. Diharapkan penjelasan ini bisa memberikan gambaran langkah-langkah membuat buku ajar dengan berbagai jenis dan prinsip-prinsip dasarnya yang sudah dijelaskan di atas. Terakhir, sebagai penutup, dari berbagai informasi yang dijelaskan di atas mudah-mudahan bisa menjadi fondasi pemahaman para guru/ dosen untuk mempunyai buku ajar, baik dengan cara mengumpulkan dan meramu berbagai informasi sesuai kebutuhan, ataupun dengan cara membuat sendiri buku ajar yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan di masing-masing tempat. Bagaimanapun, guru/ dosen merupakan sebuah profesi yang mengandaikan adanya latar belakang pendidikan sehingga penguasaan materi, penguasaan tentang membaca dan penguasaan tentang menulis sudah include di dalam diri guru/ dosen itu sendiri. Oleh karena itu, menguasai bidang ilmu, membaca, dan menulis merupakan modal guru/ dosen dalam menjalankan profesinya. Toh, kalaupun ada kekurangan atau hal yang perlu ditingkatkan, hal itu merupakan sebuah kewajaran, karena proses pembelajaran itu dilakukan seumur hidup.
Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat, dan terus semangat bagi semua guru/ dosen yang ada di seluruh Indonesia. Terutama sekali bagi guru/ dosen yang ada di daerah-daerah yang agak jauh dari ketersediaan fasilitas memadai untuk melaksanakan sebuah proses pembelajaran. Tetap semangat!!!

.jpg)
.jpeg)


Ayo semangat mik. Plinggih cocok menerbitkan buku ajar.
BalasHapusMantap...
BalasHapusPaket komplit👍