Semua Bisa Baca Tulis. Menulislah!
Rabu, 11 Januari 2023. 01.13 Wita
Saya akan memulai tulisan ini dengan mengucap salam sejahtera untuk kita semua. Semoga perjumpaan pertama ini menjadi langkah pertama merajut jalinan silaturrahmi yang lebih erat, bermanfaat dan penuh rahmat. Amiin..
Resume pertama dari pertemuan pertama ini seperti sebuah pengalaman seseorang yang bertemu dan berhadapan dengan segala sesuatu yang baru. Semuanya adalah menarik, semuanya membuat saya seperti menghidupkan gelombang kemampuan berfikir saya yang tidak seberapa ini. Banyak hal yang ingin saya sampaikan pada resume ini, tapi ide-ide itu berjejalan dan berdesakan untuk keluar sehingga membuat saya bingung harus mulai dari mana dan mau menulis apa.
Om Jay yang amazing, Pak Dail yang luar biasa dan rekan-rekan peserta KBMN Gelombang 28 yang hebat, oleh karena ini merupakan resume pertama yang begitu complicated saya hanya akan mengulas beberapa poin penting dan luar biasa dari materi kemarin malam. Semoga panitia berkenan.
Ide dasar yang sangat menghentakkan adalah asumsi dasar Om Jay yang mengatakan bahwa “semua orang bisa menulis, karena sudah bisa membaca”. Sebuah kalimat sederhana yang begitu inspiratif. Kalimat itu begitu menampar cara berfikir saya yang primitif, dengan cara yang tidak kalah primitifnya. Siapa yang tidak bisa menulis? Siapa yang tidak bisa membaca? Jawabannya gampang, pada era sekarang kita justru kesulitan mencari orang yang tidak bisa menulis dan membaca di sekitar kita. Atau untuk lebih obyektifnya, sebagian besar orang-orang di sekitar kita adalah orang yang bisa membaca dan menulis. Lalu, mengapa tidak banyak orang yang menulis dan membaca? Entah apa jawabannya.
Dengan cara berfikir luar biasa Om Jay seperti itu, saya menjadi mengerti dengan jawaban Om Jay ketika di awal pertemuan pertama kemarin malam ditanya oleh Pak Dail: “Apa yang ada di benak Om Jay dengan peserta KBMN 28 yang ada 1. 000 peserta?”. Beliau menjawab: “Semoga semuanya bisa menerbitkan buku solo. Akan ada 1000 guru punya buku sendiri”. Terima kasih Om Jay, itu adalah kalimat yang menjadi tampran kedua bagi saya. Buku solo dan 1. 000 buku menjadi begitu kecil, sederhana dan terlihat sangat mungkin dengan cara berfikit Om Jay itu. Wow..
Setelah itu saya diajak berkelana dengan korelasi antara membaca dan menulis. Dua aktifitas yang seperti dua sisi dalam sekeping mata uang. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan itu, karena memang selama ini saya jarang membaca dan menulis..hehe. Disini Om Jay dan Pak Dail seirama. Om Jay mengatakan: “Bila anda rabun membaca, maka anda akan lumpuh menulis”. Kalau Pak Dail: “Ibarat dalam makan, baca tulisan orang lain itu makan dan minum, lalu menulis adalah energi yang dihasilkannya”. Saya jadi membayangkan jika menulis dan membaca ini seperti dua kaki, kita akan mampu berjalan jauh jika keduanya dalam kondisi seimbang. Saya sendiri menjadikan membaca hanya sekedar aktifitas sambil lalu, menulis pun demikian. Semoga dengan mengikuti kegiatan ini saya bisa membangun fondasi lebih kuat untuk membaca dan menulis. Dan satu lagi, kalau pun fondasi itu terbangun, ada lagi yang menjadi pelajaran lanjutannya, dan ini menurut saya cukup berat, yaitu melawan diri untuk tidak sombong. Kata Om Jay: “Kebanyakan orang tidak bisa menulis karena malas membaca tulisan orang lain. Atau merasa tulisannya yang paling hebat. Padahal di atas langit ada langit. Kita harus melepaskan baju kesombongan kita”. Merasa paling hebat ini penyakit yang mengerikan. Bukankah Iblis terlempar keluar dari syurga karena dia merasa sombong, merasa lebih hebat dari Adam?
Apa solusi dari penyakit merasa paling hebat ini? Saya tidak punya jawabannya karena menulis saja jarang, tapi menurut saya ada tawaran, walaupun secara tidak langsung, yang ditawarkan dalam pertemuan kemarin malam. Yaitu menulis itu, ya menulis aja. Ikhlas aja. Tidak perlu mengharap ini itu. Atau dalam bahasanya Om Jay: “Hanya memberi tak harap kembali”. Kalau begitu, baca ya baca aj, nulis ya nulis aj? mungkin, tapi yang jelas pertemuan ini membuatku ingin menumbuhkan benih membaca yang hasilnya adalah menulis.
Terakhir, saya menggaris bawahi apa yang disampaikan beliau ketika bertemu dengan Presiden Jokowi. Yakni bahwa “Seharusnya akses internet sudah ada di sekolah-sekolah kita”. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah. Hari ini, di sekolah kami memang ada Wifi namun hampir tidak terasa mempunyai jaringan internet karena kecepatannya tidak seberapa. Teman-teman guru lebih banyak tidak menggunakannya karena menguras emosi, membuka satu website ketika browsing aj sangat susah. Kondisi ini tentu kami syukuri karena bagaimana pun pihak sekolah sudah mengupayakannya secara maksimal, dengan menggunakan dana sekolah. Maksud saya, seandainya saran dan harapan Om Jay itu bisa terwujud seperti terwujudnya Mapel TIK yang kembali lahir setelah mati suri beberapa waktu, tentu akan sangat menggembirakan bagi sekolah-sekolah. Yaitu bahwa pemerintah betul-betul menyediakan internet sekolah dengan akses yang cepat dan stabil. Amiin
Cukup dulu. Terima kasih Om Jay dan Pak Dail. Semoga semua harapan menjadi nyata. Semua orang bisa membaca dan menulis. Menulislah!



Sip, pasti bisa, Semangat terus ๐
BalasHapusSiaap bu..terima kasih komentarx. U're my first commentator
HapusMari saling suport๐
BalasHapusSaling support untuk trus semakin giat bu๐
HapusBetul, Bu, sekarang ini akses internet sangat diperlukan.
BalasHapusMudahan aksesnya bisa dipermudah bu,biar mengurangi harga quota hee
HapusTulisannya sudah bagus sekali bu.
BalasHapusTerima kasih bu. Saya Masih belajar bu,semoga kita bisa terus mempraktekkan kemampuan menulis kita
Hapusluar biasa bun ,aktual sekali ..jangan lupa mampir ke blog ku ya bun
BalasHapusSiaaaap...nanti saya silaturrahmi pak๐
BalasHapusMari terus menulis dan tularkan ke peserta didik kita, demi literasi Indonesia yang lebih baik
BalasHapusMantap mik.. bahasa lugas, enak dibaca.. ๐๐๐
BalasHapusMakasih bu,masih sama sama belajar ni.ayooo
HapusMenginspirasi sekali pak, semua bisa baca tulis ☺
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMaaf Pak La..
BalasHapusIni memang pakai latar belakang gelap ya pak..