Pertemuan Mark Zuckerberg dan Bu Aam
Sabtu, 14 Januari 2023
Narasumber: Aam Nurhasanah, S. Pd
Moderator: Arofah Afifi, S. Pd
Tema: Gali Potensi Ukir Prestasi
“Kuberitahukan sebuah rahasia. Ide tidak keluar dalam bentuk sempurna. Ide akan menjadi lebih jelas saat anda mengerjakannya. Kamu hanya perlu memulainya. Facebook bukan hal pertama yang saya bangun, saya juga membangun sistem chat, game, alat untuk bekerja dan music player. Dan saya tidak sendiri. JK Rowling harus ditolak 12 kali (oleh penerbit) sebelum akhirnya menyebarkan Harry Potter. Bahkan (penyanyi) Beyonce harus membuat ratusan lagu untuk mendapat ucapan ”Hello”. Kesuksesan terbaik datang dari kebebasan dalam melakukan kegagalan”, begitu ungkap Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook pada suatu kesempatan. Ungkapan Mark Zuckerberg ini sepertinya berkait kelindan dengan apa yang menjadi materi Bu Aam pada pertemuan ketiga kemarin.
Mari memulai menuliskannya
Salam damai semuanya! Semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpah bagi kita semua dari Tuhan Yang Maha Tahu Segala
Tuhan adalah Dzat Yang Maha Tahu, dan kita, manusia, adalah makhluk yang sangat banyak tidak tahu. Namun sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna, kita disiapkan dengan kemampuan berpikir dan bertindak untuk dijadikan sebagai senjata meningkatkan berbagai potensi dari berpikir dan bertindak itu sendiri. Untuk menjadikan potensi tersebut sebagai sebuah kekuatan, dua kemampuan ini tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri, ia harus berjalan beriring dan seimbang. Berpikir saja cenderung menggiring kita pada imajinasi dan ilusi, sedangkan jika hanya bertindak akan menjerumuskan kita pada kecerobohan dan hasil tak berdasar.
Lalu bagaimana menggali potensi? Mengutip Bu Aam pada awal pertemuan ketiga kemarin malam, “Jawabannya sederhana: Kita bisa mulai dengan apa yang kita sukai”. Begitulah pertemuan tersebut dibuka, langsung pada jawaban inti dari persoalan besar mengenai menggali potensi.
Pertemuan tadi malam tersebut membawa tema “ Gali Potensi Ukir Prestasi”. Narasumbernya, seorang guru Mapel Bahasa Indonesia pada sebuah SMP Satap di Banten dengan dimoderatori oleh Ibu Arofah Afifi. Namanya Ibu Aam Nurhasanah. Kesan pertama saya dari membaca materi-materinya, beliau adalah orang yang tidak terlalu banyak berbicara namun aktif dan gesit dalam berpikir dan bertindak. Mohon maaf jika salah Bu, ini hanya sekedar pembacaan subyektif saya saja.
Melanjutkan apa yang dikatakan Bu Aam pada awal pertemuan, “setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk menggali segala potensi yang dimiliki untuk meraih prestasi” artinya, sebenarnya kita semua adalah sama. Sama-sama punya kesempatan, ditambah lagi dengan sama-sama mampu berpikir dan bertindak. Seperti yang beliau katakan, mulai saja dari apa yang kita sukai. Hal ini dibuktikan sendiri oleh Bu Aam dimana beliau, sesudah mulai dengan apa yang disukai, akhirnya ajeg dengan potensi menulis beliau dan mengantarkannya menjadi penulis berprestasi, produktif dan berkualitas. Sekian puluh buku dihasilkannya, bahkan ada yang diterbitkan penerbit bergengsi, Gramedia.
Namun tentu sekali semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Beliau sendiri mengakui itu, apalagi bagi penulis pemula seperti sebagian dari kita ini, pasti ada kendalanya. “Untuk penulis pemula banyak sekali kendala untuk memulai tulisan (seperti) takut tulisan jelek, takut dibuli, tidak percaya diri, takut tulisan tidak sempurna, dan keraguan dalam mempublikasi tulisan sehingga tulisannya hanya disimpan di dalam draf dan membiarkan ide itu menguap hingga berlalu begitu saja”. Tapi kita tidak perlu berkecil hati, dulu bahkan Bu Aam sendiri tidak lulus pada gelombang 8, dan baru lulus di gelombang 12, namun justru itulah yang memecutnya menjadi penulis seperti sekarang. Jadi, mari mulai menulis!
Tapi apa yang akan kita tulis? Menurut saya, disinilah bertemunya Mark Zuckerberg dan Bu Aam. Untuk menggali potensi agar bisa mengukir prestasi, pijakannya adalah apa yang kita sukai, kata Bu Aam. Jika yang kita sukai itu adalah menulis, saya yakin teman-teman peserta KBMN Gelombang 28 banyak yang suka menulis, maka mulai saja menulis. “Kamu hanya perlu memulainya” kata Mark Zuckerberg. Jangan menunggu ide tulisannya jadi di kepala baru menulis. “Ide tidak keluar dalam bentuk yang sempurna. Ide akan menjadi lebih jelas saat anda mengerjakannya” begitu lanjutnya.
Sebagai sebuah contoh kombinasi dari pemikiran Bu Aam dan Mark di atas adalah buku Bu Aam sendiri yang ditulis hanya dalam waktu seminggu. Caranya adalah dengan menulis 1 minggu, sehari menulis 10 halaman A4. Jadi dalam 5 hari akan menjadi 50 halaman. 50 halamanA4 jika dibuat A5 akan jadi 100 halaman. 2 hari berikutnya adalah untuk mengedit dan layout jika ada yang perlu diperbaiki. Saya yakin seratus persen bahwa Bu Aam tidak mempunyai “kerangka jadi” dalam menulis buku tersebut, bahkan mungkin ide-ide banyak keluar justru dalam proses penulisannya. Artinya, jika sudah suka menulis, ya tulis saja
Klop sudah Bu Aam dan Mark Zuckerberg. Tinggallah saya, dan mungkin teman-teman lain yang pemula seperti saya, yang kini harus memacu diri dalam menulis. Mulai menulis walaupun dalam bentuk ide yang belum lengkap. Menulis, ya tulis aja.
Semoga bumi menghantarkan dan langit mengabulkan. Amiin





Mudah-mudahan berawal dari bu Aam dan Mark Z memberi inpirasi akhirnya bisa menulis jadi penulis beneran seperti bu Aam aamiin
BalasHapusMenyandingkan dua tokoh yang sangat inspiratif...
BalasHapussip..tulis apa yang kita suka
BalasHapusMiq, Bu Aam lulus angkatan 12, beliau ndk lulus di angkatan 8, semangat!
BalasHapusSetiap membaca tulisan mamiq yang satu ini penuh inspirasi, semangat !
BalasHapusMemang top margotop Pak guru satu ini. Tulisannya selalu "sesuatu" 👍👍👍
BalasHapusMantap betul, semangat !!
BalasHapusTulisan yang menyentuh kalbu....
BalasHapusSemangat pak La...
BalasHapusSemua berawal dari pemula