Menulis, Ya Menulis Aja! (1)
Kamis, 26 Januari 2023
Pertemuan ke : 8
Tema: Komitmen Menulis di Blog
Narasumber: Drs., Dedi Dwitagama, M. Si
Salam sejahtera semuanya dan mari berdoa semoga keselamatan berlimpah untuk kita semua
Pada pertemuan yang ke 8 ini saya akan mencoba menulis secara lebih mengalir untuk mempraktekkan inti poin yang saya tangkap dari narasumber tadi malam. Sebuah poin yang tidak sekali melintas di kepala saya, yaitu: kalau menulis..ya menulis saja.
Narasumber tadi malam namanya Pak Dedi. Tidak seperti materi sebelumnya yang disampaikan melalui WAG, kali ini menggunakan Zoom. Saya sendiri hanya beberapa kali menggunakan Zoom, dan sering mulai merasa tidak menikmati jika mulai banyak suara berseliweran dan mengganggu konsentrasi. Dalam penyampaian materinya, Pak Dedi menjelaskan secara mengalir saja dan tidak terlalu terpaku dengan tulisan atau outline sehingga materinya terkesan ringan dan menggelitik.
Tema yang beliau bawakan adalah “Komitmen Menulis di Blog”. Tim Solid benar-benar berusaha melaksakanakan KBMN ini dengan sangat serius, salah satu buktinya adalah dengan mendatangkan narasumber-narasumber yang memang berkompeten di bidangnya. Pada tema tentang blog ini, narasumbernya adalah Pak Dedi. Seorang yang berkecimpung lama di blog dan sampai sekarang masih mengelola 14 blog, seorang narasumber yang sangat menguasai apa yang beliau sampaikan. Pak Dedi sendiri bercerita bahwa perkenalannya dengan blog terjadi sekitar tahun 2005. Adiknya yang kuliah di ISI Yogyakarta menceritakan dengan blog yang saat itu sedang viral di Amerika Serikat. Mulai saat itu beliau berkunjung dan akhirnya ketagihan di dunia blog.
Setelah beberapa tahun serius di blog beliau mulai bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Seluruh Indonesia kecuali Manado pernah didatangi, beberapa negara dunia juga lumayan sering dikunjungi. Dan semuanya karena blog. Selain itu beliau juga banyak kegiatan lainnya, karya-karyanya juga banyak, penghargaannya juga tidak sedikit. Nah, kalau kita bicarakan dan intip riwayat hidup Pak Dedi, nanti terkesan seperti mau menulis biografi karena informasi mengenai beliau begitu banyak berebaran di intenet. Jika kita menulis nama beliau pada mesin pencari, nanti akan muncul di deretan atas sehingga untuk menelisik beliau tidak terlalu sulit. Dan kalau itu yang kita bicarakan, nanti jadinya panjang sekali karena apa yang beliau lakukan dan hasilkan berderet-deret untuk dituliskan. Jadi, perkenalannya sekilas aja. Dan yang penasaran, silahkan cari dan baca di internet.
Sebelum membicarakan blog, Pak Dedi, menurut saya, mencoba menggiring kita untuk menyadari pentingnya menulis, beraktifitas dan mengabadikannya di dunia maya. Menurut beliau, apa yang kita lihat, kita lakukan, bangunan-bangunan, momen-momen, apa yang terlintas, harapan yang tertunda, orang sekitar kita dan apapun yang kita temui di dunia ini tidak akan selamanya akan begitu dan disitu. Apa yang kita lihat akan berlalu, yang kita lakukan akan terlewati, bangunan-bangunan akan kusam, momen-momen akan menguap, apa yang terlintas seketika bisa hilang, harapan yang tertunda tak selamanya ada, dan orang di sekitar kita pasti berlalu dan pergi. Menuliskannya adalah cara tercepat, terefektif dan terlama untuk mengabadikan hal-hal tersebut, bahkan setelah kita, yang menuliskannya, mati, tulisan tersebut tetap hidup dan tetap dapat menginspirasi dan mempengaruhi orang yang membacanya.
Terkait dengan pentingnya menulis itu, Pak Dedi menceritakan dua fenomena yang seharusnya akan membuat kita berpikir dan tersadar. Logika sangat sederhana sekali dan bahkan mungkin banyak terjadi di sekitar kita.
Pertama, cerita mengenai seorang guru besar yang menjadi favorit banyak orang. Mungkin karena cara penyampaiannya, kecerdasannya, gaya bicaranya, wawasannya dan lain sebagainya, ada seorang guru besar menjadi favorit mahasiswa atau orang yang pernah bertemu dengan beliau. Namun ketika dicari di google, dituliskan namanya di mesin pencari, tidak ada yang muncul. Maka tokoh tadi akan hilang seiring umurnya yang kian renta dan usianya yang tak seberapa. Dan ketika menulis kata kunci “sandal jepit”, informasinya sangat banyak sekali. Berbanding terbalik dengan sang guru besar.
Stop! Sampai di sini saja membahas hal tersebut, nanti banyak yang merasa.
Hal kedua yang dipaparkan Pak Dedi adalah guru di Indonesia. Menurut beliau, jumlah guru sekarang sekitar 3, 31 juta orang. Dan dari jumlah tersebut sangat sedikit yang berani menerima tantangan untuk keluar dari zona nyamannya. Lebih banyak guru yang hanya mengikuti arus rutinitasnya dan akhirnya tidak banyak berkembang. Hal ini disebabkan karena, pertama, orang berpikir instan tentang hasil, jarang yang mau menjalani prosesnya. Akibatnya, jalan di tempat dan tidak kemana-mana. Kedua, guru banyak yang berpikir minimalis. Cukup dengan seragam, gaji tetap, kenaikan pangkat, rapat dinas dan rutinitas sekolah tiap hari lainnya. Saya sendiri, waktu mendengar materi Pak Dedi, membayangkan hal tersebut akan sangat membosankan. Hidup yang tak berwarna, atau mungkin hanya satu warna. Padahal, bukankah kita suka pelangi?. Ketiga, terlalu serius. Aturan yang dibuat pemerintah tentu bagus, tujuannya juga tentu bagus juga, namun dengan kondisi sekarang ini, untuk menjadi guru ideal secara administratif dan mengikuti detailnya akan menjadikan guru tidak terlalu produktif secara nilai dan kualitas. Sibuk dengan perangkat dan penilaian, jika ditambah dengan membuat outline materi mapel dan proyek saja, itu sudah cukup menjadikan guru tidak punya waktu untuk melakukan hal selain urusan sekolah. Kondisi ini menjadi kontra-produktif jika disandingkan dengan sosok ideal guru yang harus punya kualitas dan kemampuan mumpuni untuk mencetak generasi yang lebih baik.
Stop! Sampai disini aja membahas hal tersebut, nanti banyak yang merasa.
Lalu, bagaimana untuk bisa menjadi hebat dan keluar dari zona nyaman? Pertama, kita harus percaya diri. Dan kedua, harus produktif.
Pak Dedi menampilkan gambar ilustrasi seekor kucing yang berjalan berlenggok di antara sekumpulan anjing yang berbaris untuk menggambarkan rasa percaya diri. Para anjing itu terfokus pada si kucing yang sedang berjalan. Saya membayangkan seandainya kucing tadi berjalan dengan gontai atau, seperti pemandangan umum yang kita lihat, berjalan normal, maka para anjing akan mengejar, menerkam, dan bahkan membunuhnya. Berarti percaya diri itu membentengi kita? Ya, mungkin saja. Yang jelas, percaya diri adalah modal. Percaya diri membimbing kita pada hal yang positif. Membimbing kita untuk melihat sisi hidup ini yang lebih terang dan jelas.
Setelah percaya diri adalah produktif. Menurut saya, produktif disini lebih dimaksudkan pada tataran menunjukkan eksistensi di dunia maya, terutama media sosial. Sekarang ini sudah era digital. Seperti yang diilustrasikan Pak Dedi di awal pertemuan, jika kita mempunyai banyak piala, maka mempublikasikannya tidak cukup dengan hanya memajangnya di rak atau lemari rumah. Piala itu harus berbicara di dunia maya agar nilainya menjadi lebih lama dan abadi. Beberapa tahun terakhir, termasuk selama 2022 dan awal 2023 sekarang, kita menyaksikan media-media berbondong untuk hijrah ke dunia maya dan meninggalkan dunia cetak dan dunia manual. Jika teman-teman mengikuti perkembangan terakhir, sedih juga ditinggalkan secara manual oleh beberapa media cetak nasional. Beberapa toko-toko buku besar sudah mulai gulung tikar.
Kembali pada tema awal terkait dengan blog. Setelah memaparkan pentingnya menulis dan pentingnya mengabadikannya di dunia maya, Pak Dedi memberikan beberapa langkah dasar untuk belajar secara konsisten di blog. Konsisten di sini dalam arti dasarnya, yaitu tetap melakukan. Konsisten tidak harus dengan tulisan panjang dan bagus. Cukup dengan beberapa alinea. Konsisten juga cukup dengan sebuah photo dan sedikit penjelasan.
Beberapa tips tersebut adalah a). Menentukan tujuan. b). Fokus. c). Membuat outline. d). Memulai menulis. e) Selesaikan tulisan, setelah itu di up load dan dipublikasikan.
Tetapi menurut saya, beberapa langkah itu hanya sekedar untuk mensistematiskan cara untuk menulis dan mempublikasikannya. Di luar itu, dalam arti jika tidak ingin menggunakan cara itu, menurut pak Dedi sendiri, sangat tidak apa-apa. Menulis, ya menulis aja. Tulis, ya tulis apa aja. Tidak perlu terlalu terpaku pada yang terlalu sempurna, yang terlalu kaku pada aturan penulisan, yang terlalu mengikuti trend atau yang terlalu teoritis.
Kesimpulannya, tidak ada keringat yang percuma. Mari memulai..
Terima kasih Pak Dedi. Bapak memberikan jejak untuk air yang ingin mengalir.
Menulis, ya menulis aja





Sepakat dengan kesimpulannya tidak ada yang percuma
BalasHapusMenulis sajalah, siapa tau tulisan kita hari ini menemui takdir baiknya. Lanjuuut...
BalasHapusMantap, luar biasa resumenya
BalasHapusWah...
BalasHapusKeren sekali..