Menulis, Ya Menulis Aja! (2)
Sabtu, 28 Januari 2023
Pertemuan ke : 9
Tema : Menulis Itu Mudah
Narasumber : Prof. Dr. Ngainun Naim
Moderator : Lely Suryani, S. Pd. Sd
Jika ada orang beralasan sibuk lalu tidak menulis, saya hampir yakin ketika banyak waktu luang pun ia juga tetap tidak menulis
(Prof. Dr. Ngainun Naim)
Salam sejahtera dan semoga hari ini dan nanti keselamatan menyelimuti kita selalu.
Kutipan di atas merupakan bagian dari jawaban narasumber pada pertemuan ke-9 mengenai bagaimana mengatur waktu dalam menulis. Sebelum membahas lebih jauh kutipan itu, saya sendiri terpaku dan terpana dengan kata “beralasan”. Kata “alasan’ seperti menjelma menjadi sebuah kosakata yang hampir berkonotasi negatif, kata tersebut dalam benak saya seperti sedang bekerja untuk menegasikan kejujuran. Dan bahwa, dengan kata itu, ada sesuatu yang harus dilindungi dan diberikan bumbu agar menjadi terlindungi dan sedap dipandang.
“Alasan” tidak lagi hanya sebuah kata, tetapi juga menjadi sebuah cara untuk memuluskan sesuatu yang kita senangi atau tidak senangi. Saya hanya sedang mencoba menelusuri rangkaian hidup sendiri ketika harus menggunakan kata “alasan”, atau mungkin teman-teman pembaca juga pernah mengalami atau mengamati orang-orang di sekitar kita mengenai penggunakan kata “alasan”.
Saya punya sebuah pertanyaan. Siapakah yang sering menggunakan kata “alasan” dalam artinya yang luas? Atau dalam arti yang sepadan, siapakah yang sering “beralasan” dalam kesehariannya? Inilah yang menyebabkan saya hampir memasukkan kata “alasan” menjadi konotasi negatif.
Mari membayangkan beberapa fenomena ini: siswa yang telat masuk sekolah, murid yang tidak mengerjakan tugas, orang yang belum selesai kuliah, orang yang terlewatkan sholatnya, guru yang tidak masuk kelas, dosen yang bertumpuk kegiatan, wanita atau ibu yang tidak bisa lepas dari HP dan lain sebagainya. Fenomena-fenomena tersebut sangat lekat dengan kata “alasan”. Yaitu selalu ada alasan orang untuk menghindarkan dirinya agar tidak terlihat melakukan sesuatu yang negatif. Dan dalam pemahaman yang terbalik, kita bisa mengatakan bahwa orang-orang tersebut sebenarnya mengetahui hal yang sebenarnya baik dan benar, namun kemudian membentengi diri dengan “alasan” agar hal kurang baik yang mereka lakukan menjadi terlihat “baik-baik saja”.
Nah, saya rasa tidak terlalu berlebihan jika saya seperti terhipnotis untuk mengatakan bahwa kata tersebut menjadi cenderung negatif. Apalagi, menurut saya, hal tersebut akan berbanding terbalik jika kita benturkan dengan hal sebaliknya. Kata “alasan” seperti menjauh dan enggan untuk merapat.
Coba kita perhatikan. Siswa yang rajin, ya rajin aja. Murid yang mengerjakan tugas, ya mengerjakan tugas aja. Pengusaha sukses bekerja, ya bekerja aja. Guru teladan mengajar, ya mengajar aja. Seseorang mencintai lawan jenisnya, ya mencintai aja. Dan seperti juga diajarkan oleh beberapa narasumber dalam KBMN 28 ini, menulis, ya menulis aja. Ini adalah poin penting, ini adalah benang merah dari beberapa aktifitas tadi. Alasan itu berbeda dengan niat, prinsip atau tujuan. Pada fenomena yang sama dalam ketulusan, tentu kita sering mendengar seseorang yang mencintai lawan jenisnya namun bingung jika diminta menjelaskan alasannya.
Cara pandang tadi seiring dengan kutipan narasumber di atas. Jika diperkenankan menjelaskan lebih detail mengenai kutipan tersebut, semoga senada dengan pemikiran narasumber, bahwa ketika seseorang masih beralasan untuk tidak menulis, berarti memang belum mau menulis. Masalah orang tidak menulis itu bukan pada kesibukannya, orang di sekitarnya, fasilitasnya atau tempat tinggalnya. Masalahnya terletak pada kemauan, girah, semangat, tekad, dan lagi-lagi, kecintaannya pada menulis itu sendiri. Atau jika meminjam istilahnya Ibu Suhartini, masalahnya ada pada diri kita (sambil menepuk dada} hehe..
Jadi, tidak perlu alasan untuk tidak menulis, sebagaimana juga tidak perlu alasan untuk menulis. jika kita belum (bisa) menulis, bangkitkan kemauan dari dalam diri kita. Dan jika (mau) menulis, ya menulis aja.
Kembali ke kutipan narasumber tadi. Kutipan tersebut terangkai dalam deretan jawaban dari begitu banyak pertanyaan peserta tadi malam. Pertemuan ke-9 itu, temanya memang menarik, “Menulis Itu Mudah”, mirip sekali dengan judul sebuah buku terjemahan, yaitu “Menulis Itu Indah”. Saya pernah membacanya namun lupa bukunya sekarang entah dimana. Tema tersebut dibawakan oleh Prof. Dr. Ngainun Naim, dengan Ibu Lely Suryani sebagai moderatornya.
Tidak banyak materi yang diberikan Pak Prof, hanya memberikan empat tips dalam menulis. Selebihnya beliau lebih banyak menjelaskan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para peserta, bahkan disela-sela jawaban tersebut beliau memberikan link tulisan beliau yang terkait agar penjelasannya menjadi lebih panjang dan mengena.
Saya akan membagi materi tadi malam dalam tiga jawaban besar, yang didasarkan pada tiga pertanyaan besar. Tiga jawaban besar ini sangat mudah dicerna, mudah karena diramu oleh seorang guru besar. Kata teman saya, perbedaan orang yang ahli dan tidak ahli itu seperti seorang tukang rumput penggembala sapi dan seorang tukang kayu yang kreatif. Tukang rumput tadi hanya memotong rumput untuk sapinya, tidak bisa untuk yang lain. Sedangkan si tukang kayu beda, dia menjadikan kayunya kusen untuk orang yang sedang membangun rumah, dia berikan untuk nenek-nenek yang masih menggunakan tungku manual, berubah menjadi mainan-mainan di taman kanak-kanak, dan bahkan dia bawa satu truk kayu untuk dijual dan kemudian hasilnya untuk beli tiket pesawat. Jadi, jangan heran jika seorang guru besar bisa meramu materi luas dan rumit dengan bahasa sederhana dan mudah dicerna. Namanya saja guru besar.
Tiga jawaban besar yang didasarkan pada tiga pertanyaan besar tersebut adalah:
Satu. Bagaimana caranya untuk bisa menulis? Caranya hanya satu, yaitu menulis. Tidak perlu berpikir panjang. Jika mau menulis, menulis aja. Tidak ada cara yang lain. Apalagi alasan yang lain
Dua. Apa saja kuncinya agar menulis itu menjadi mudah? Tipsnya ada empat:
1. Menulislah hal-hal sederhana yang kita alami. Pengalaman hidup sehari-hari itu sumber tulisan yang subur. Aktifitas kita dan orang lain, pemandangan, berkomunikasi, mendengarkan dan/ atau merenungi apa saja yang kita temukan, semuanya bisa menjadi sumber tulisan yang sangat kaya dan kreatif
2. Jangan menulis sambil dibaca lalu diedit. Menulis sambil mengolah kata, membongkar ide, memikirkan aturan menulis, merapikan alur tulisan dan membetulkan kesalahan-kesalahan tekhnis akan menjadikan aktifitas menulis itu begitu complicated. Hal itu justru bisa menjadi hambatan psikologis dalam menuangkan pikiran. Kalau mau menulis, ya menulis aja. Keluarkan saja apa yang ada dalam pikiran secara bebas.
Jika sudah selesai menulis, tinggalkan dulu. Biarkan semua mengendap. Beri waktu beberapa lama, baru kemudian dibaca, dicermati kalimatnya dan dibetulkan jika ada salah penulisan atau sejenisnya
3. Menulis tentang perjalanan. Melakukan perjalanan itu selalu menghadirkan sebuah suasana. Teman duduk, teman seperjalanan, orang-orang hilir mudik, aktifitas begitu banyak orang, pemandangan selama perjalanan, nuansa setelah sampai tujuan, cerita orang sekitar, tulisan di sepanjang begitu banyak tempat dan banyak lagi lainnya. Semuanya adalah sumber tulisan, mereka itu berbicara, mereka itu bercerita, mereka itu menanti untuk dituangkan menjadi kata dan kalimat yang menarik. Yuk backpacker-an..
Model ini, menurut Pak Prof, terbilang mudah dibuat. Mungkin salah satunya karena sumber tulisannya begitu dekat dengan kita sendiri
4. Menulis secara “ngemil”. Sedikit demi sedikit. Narasumber sendiri memberikan contoh pada diri beliau sendiri yang dalam sehari bisa menulis beberapa tema. Ketika di rumah menulis jurnal, di kantor menulis di blog, di waktu senggang me-review hasil penelitian dan sebagainya. Tidak semua harus jadi dalam sekali duduk. Satu dua alinea, nanti disambung lagi. Memang untuk mengantisipasi keliaran dalam menulis, diperlukan sedikit garis besar dan poin-poin yang akan ditulis
Tiga. Bagaimana cara memulai menulis dan menerapkan empat tips di atas? Lakukan! Tidak ada yang lain!
Sederhana bukan? Itulah bedanya kita dan seorang guru besar. Semoga langit mendengarkan dan mengabulkan, untuk kita juga menjadi seorang guru besar.
Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk bisa dan mahir menulis.
Takutlah jika tidak menulis
(Prof. Dr. Ngainun Naim)






Dan takutlah jika tidak menulis komentar 😁
BalasHapusgood job! keren tulisannya
BalasHapusTiada alasan untuk tidak menulis, yg penting kemauan menulis ya menulis saja👍
BalasHapusMantap resumenya !
BalasHapusJika berkenan silahkan mampir ke lilik-kistiana.blogspot.com
Ayo menulis saja
BalasHapusKereeen.
BalasHapusMasya Allah ulasan yang mumpuni sangat mengingirasi mantap
BalasHapusWah..
BalasHapusTulisan yang enak sekali dibaca...
Terimakasih Pak La...
Oiya sedikit koreksi sedikit ya...
Penulisan gelar yang benaradalah
S.Pd.SD.
Itu saja..
"beralasan" alias ngeles...
BalasHapusKeren, mampir juga ya
BalasHapushttps://www.kompasiana.com/christineshoe/63d4adcb04dff024b8012c83/menulis-itu-mudah
Mulen maiq, meton😁
BalasHapusLuar biasa
BalasHapusayuk menulis
BalasHapusBagus sekali diksi tulisannya. Ijin mengambil ilmunya, ya, rekan literasi
BalasHapusTerimakasih