Membuat Buku Dengan Mimpi

 Jumat, 20 Januari 2023



Tema : Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu

Narasumber : Prof. Richardus Eko Indrajid

Moderator : Aam Nurhasnah, S. Pd


Salam sejahtera. Semoga keselamatan tercurah untuk kita semua

Teknologi memberikan kita kesusahan dan penderitaan. Semua kita. Beberapa waktu kemarin, kita dipertontonkan Bjorka yang berlenggang membuka banyak informasi negara bahkan tokoh-tokoh negara. Setelah itu ada gadis berkebaya yang menghebohkan Indoensia. Selain itu, ada beberapa pemuda belia yang melakukan pecehan seksual terhadap gadis di bawah umur akibat menonton video-video syur di internet. Hal ini belum termasuk pemberitaan pembunuhan, perkelahian, korupsi, gaya hidup mewah dan naas, kegelamoran, dan segudang lainnya mengenai tontonan negatif yang sudah menjadi konsumsi umum kita sehari-hari.



Saya tidak menafikan dampak positif teknologi. Saya juga tidak mengabaikan gerakan moral yang terus disuarakan, begitu juga dengan pandangan yang mengembalikan kepada individu masing-masing. Saya hanya memaparkan kondisi umum sehari-hari kita. Kira-kira gambarannya seperti ini, dulu orang banyak yang tidak bisa membaca namun sekarang hampir semua orang sudah melek huruf. Namun di Indonesia kini, belum banyak yang sampai pada sadar huruf. Minat baca yang rendah, daya beli buku dan sejenisnya yang tidak kalah rendahnya, atau dukungan lingkungan terdekat yang kurang menunjukkan kita belum beranjak pada sadar huruf tersebut.



Nah, logikanya begitu. Gempuran teknologi membuat kita melek teknologi namun belum pada tahap sadar teknologi. Kita lepas kontrol dengan teknologi dalam artian belum memaksimalkannya pada kemajuan peradaban, menerimanya begitu saja, atau bahkan ikut tergerus dengan gelombang besar yang sedang berlangsung. Terkait dengan tema tadi malam, Menulis Buku Mayor Dalam Dua Minggu, yaitu untuk membaca banyak hal untuk bisa menulis agar menjadi sebuah buku dalam waktu dua minggu, tantangan di atas adalah suguhan nyata untuk memulai sesuatu dengan pola baru yang mengarah pada sadar teknologi tadi.

Temanya sangat menggelitik, Menulis Buku Mayor Dalam Dua Minggu. Ada dua kemungkinan dalam merespon tema tersebut, kalah sebelum berperang atau menerima tantangannya dengan rasa penasaran. Saya pribadi masih bertarung dengan dua kemungkinan tersebut.

Pembicaranya bukan tokoh sembarangan. Dari link yang dibagi oleh bu Aam selaku moderator, saya membaca bahwa pembicaranya adalah Prof. Richardus Eko Indrajid. Seorang tokoh pendidikan dan pakar teknologi informatika, menjabat sebagai Rektor Universitas Pradita. Dan sampai sekarang masih aktif di berbagai seminar, lokakarya dan penulis buku serta jurnal baik yang dipublikasikan dalam nasional atau internasional.



Beliau bukan berangkat dari ruang kosong untuk membawakan tema tadi malam. Beliau banyak belajar, banyak gelar, banyak jabatan, banyak menulis, banyak buku, banyak tulisan dan banyak berbagi mengenai hal-hal tadi. Saya ketokohan beliau tidak perlu diragukan. Dari link yang dibagikan bu Aam, nama beliau tertulis lengkap sebagai Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M. Sc., M. B. A., M. Phil., M. A. Buku yang sudah diterbitkan berjumlah kurang lebh 121 buku mayor (ditulis semenjak selesai kuliah), lebih dari 623 artikel (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Buku Mayor pertama beliau terbit tahun 2000, yaitu dua tahun setelah krisis dan reformasi. Sepuluh buku pertamanya berbentuk bunga rampai. 

Prof. Ekoji mulia senang menulis semenjak Sekolah Dasar. Dan pada akhirnya beliau sampai pada tahap pemikiran bahwa menulis itu dilandasi oleh keinginan membagi ide, pemikiran, gagasan, dan cerita kepada orang lain.

Kilasan hidup Prof. Ekoji dan kiprahnya di atas sudah cukup membuat saya gereget untuk menulis, namun entah menulis apa. Saya sangat tertarik dengan ucapan beliau bahwa menulis itu adalah berbagi dengan orang lain. Saya pernah membaca entah dimana, konon katanya, manusia memikirkan rata-rata 70. 000 hal dalam sehari, tentu termasuk pikiran sekilas, yang berseliweran, lamunan dan banyak hal lainnya. Jika memang demikian, membagi hal positif mengenai apa yang kita pikirkan tadi dalam bentuk tulisan menjadi hal yang luar biasa. Saya berpikir begini, mungkin saja yang kita tawarkan adalah sebatang bambu, namun orang lain bisa saja melihatnya sebagai sebuah rumah, jembatan, deretan kursi dan sebagainya. Apa yang menurut kita begini, belum tentu begitu menurut orang lain. Sederhana bagi kita, bisa saja tidak bagi orang lain. Kalau begitu, tulis saja. Wow..saya kira menarik sekali..

Hal lain yang membuat saya lebih gereget lagi adalah pola yang diterapkan. Mengutip kata-kata beliau sendiri, banyak orang lebih senang berdiskusi namun takut eksekusi, sementara beliau sendiri lebih senang eksekusi dulu baru setelah itu berdiskusi. Pola ini sudah beliau terapkan pada gelombang sebelumnya dan mampu menhasilkan belasan buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Bahkan salah satu dari buku yang terbit tersebut terpilih menjadi buku terbaik nasional versi Perpusnas.

Pada gelombang sebelumnya, setiap orang diminta membuka youtube beliau (EKOJI CHANNEL), untuk kemudian menuliskan apapun yang dibicarakan dalam channel tersebut. Hasilnya, dari 30 guru yang bergabung, 19 buku diterbitkan. Dan secara keseluruhan, hingga saat ini sudah lebih dari 60 buku yang berhasil diterbitkan oleh Penerbit ANDI.

Kondisi penerbit sekarang memang tidak terlalu berjalan mulus, namun peluang dan tantangan dari eksistensi penerbit dan buku ke depan harus menjadi acuan untuk terus semangat menerbitkan buku, bahkan buku apapun.

Mengambil informasi dari sebuah liputan berita pada pertengahan Februari 2022 kemarin, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mengungkapkan bahwa konisi penerbit buku di Indonesia sekarang makin memprihatinkan, terutama setelah diterjang pandemi. Yaitu, lebih dari setengah anggota Ikapi penjualan bukunya anjlok lebih dari 50%. Pada sebelum pandemi, memang sebenarnya kondisi bisnis para penerbit sudah mulai goyah. Hal itu disebabkan karena maraknya pembajakan dan banyaknya penerbit yang terdisrupsi oleh perkembangan teknologi karena belum bisa menyesuaikan diri dengan era digital. Namun, menurut ketua Ikapi DIY, Wawan Arif Rahmat, penerbit buku masih punya peluang di masa depan, dengan catatan bisa memahami pasar dan bisa mengikuti perkembangan teknologi.

Saya sendiri melihat kondisi di atas, seperti dikatakan Wawan Arif, merupakan persoalan sekaligus tantangan. Artinya, konsep berbagi melalui tulisan seperti dikatakan Prof. Ekoji tadi melampaui (beyond) dari persoalan itu sendiri. 



Kalau begitu, bagaimana caranya menulis menjadi buku itu? Prof. Ekoji mengarahkan kita untuk tidak perlu berfikir panjang-panjang dulu. Mulai dari satu hal yang sederhana. Untuk judulnya,  coba cari yang anti mainstream. Kalau yang biasa-biasa saja, biasanya penerbit mayor tidak tertarik menerbitkannya.

Untuk menuju kesana, pada gelombang sekarang ini berbeda dengan yang sebelumnya. Prof. Ekoji akan memberikan tema, baru kemudian dengan bimbingan beliau dan bu Aam tema yang dipilih akan didalami sampai nanti menjadi sebuah buku. Dengan cara ini, hasil-hasil tulisan tersebut akan menjadi buku dan sudah masuk ke penerbit sebelum Idul Fitri nanti.

Kegiatan KBMN ini menjadi salah satu oase di tengah berbagai dampak negatif teknologi yang menjadi realita sehari-hari kita. Tahapan estafet kegiatannya membuat kita menyisihkan kebiasan waktu kita untuk membaca, melihat dan memikirkan hal yang luar biasa positifnya. Bahkan kita diajak untuk melakukan hal yang sebelumnya tidak terbersit dalam benak kita, yaitu membuat buku sendiri. Dan prof. Ekoji mengajarkan kita untuk segera mengeksekusi mimpi, karena mimpi adalah kunci.






Komentar

  1. Mantap miq semoga bisa menerbitkan buku segera... semangat ...

    BalasHapus
  2. wah resumenya bagus sekali

    Jika berkenan silakan berkunjung di
    https://ragungps.blogspot.com/2023/01/eksekusi-mimpi-jangan-sekedar-teori.html

    BalasHapus
  3. Bahasanya mantap mengalir.

    Jika berkenan silakan mampir
    https://rambawani-menujucinta-nya.blogspot.com/2023/01/mari-terima-tantangan-menulis-buku-dua.html

    BalasHapus
  4. Luar biasa pak guru....
    Tulisannya selalu menarik dibaca...tetap semangat...

    BalasHapus
  5. Wow
    Amazing....mari mampir
    https://milmayasmi82.blogspot.com/2023/01/ohhhh-my-good-aku-berteriak-saat.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer