Mari Bahagia Menulis (Sebuah Usaha Keluar dari Writer’s Block)
Rabu, 25 Januari 2023
Tema : Mengatasi Writer’s Block
Narasumber : Ditta Widya Utami, S. Pd., Gr.
Moderator : Raliyanti, S. Sos., M. Pd.
Salam sejahtera bagi kita semua. Semoga keselamatan dan kebahagiaan menaungi hidup kita semua.
Ada sebuah film India. Alurnya menceritakan seorang anak kecil yang dikucilkan oleh teman-temannya karena kesulitan dalam mengutarakan apa yang ada di kepalanya. Ia lebih banyak diam dan nampak kesulitan menangkap pelajaran di sekolah sehingga dianggap sebagai anak bodoh. Film itu sampai pada klimaksnya ketika sang anak bertemu dengan orang yang mencoba memahami kondisinya dan menemukan hambatannya, dan secara perlahan dia belajar mengekspresikan apa yang dia pikirkan sehingga pada akhirnya tumbuh menjadi orang yang cerdas dan periang.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan anak yang mungkin mirip dengan anak di film tersebut. Atau bahkan di antara kita mungkin ada yang mengalaminya sendiri. Dalam psikologi, terutama pada tahap-tahap awal perkembangan anak seperti pada tahap perkembangan fase oral, penanganan dengan tepat akan sangat menentukan perkembangan psikologis anak untuk fase-fase selanjutnya bahkan sampai dewasa nanti.
Salah satu hambatan yang umum dijumpai pada anak terutama pada anak-anak sekolah dasar adalah disgrafia. Yaitu anak mengalami gangguan dalam menulis. Anak dengan hambatan ini sering dianggap sebagai anak bodoh, malas dan nakal. Biasanya, anak-anak disgrafia punya kemampuan verbal kuat tapi sulit dalam menulis, dalam tulisannya banyak kesalahan tanda baca, ukuran hurufnya tidak teratur, tidak konsisten dalam spasi atau cara penulisan lainnya, dan lain sebagainya. Beberapa anjuran pakar psikologi dalam menyikapi anak disgrafia adalah jangan membandingkannya dengan anak lain, berikan kesempatan menulis sesederhana mungkin, tumbuhkankan rasa percaya diri dan berikan latihan menulis secara rutin.
Sampai disini, saya kira terlihat jelas benang merah antara film India dan anak disgrafia sebagai pendahuluan tulisan ini, serta apa hubungannya dengan pembahasan dalam pertemuan ke-7 dalam KBMN kemarin malam. Yups, yaitu membahas sebuah kondisi yang menghambat kita untuk menulis atau dalam bahasa ibu Ditta “sebuah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurang kemampuan menulisnya”. Kondisi ini lah yang dikenal dengan nama Writer’s Block (disingkat WB). Tepatnya, tema pertemuan ke-7 adalah Mengatasi Writer’s Block, dengan narasumber ibu Ditta Widya Utami, S. Pd., Gr. Sedangkan moderatornya ibu Raliyanti, S. Sos., M. Pd.
Sebagai orang yang sudah cukup berpengalaman membaca dan menulis, Ibu Ditta sepertinya sudah cukup kenal dengan WB, sehingga jika WB sedang mampir beliau tidak terlalu mempermasalahkannya karena ada segudang jurus yang akan disuguhkan untuk membuatnya tidak betah berlama-lama. Selain itu hal tersebut juga diakibatkan karena Ibu Ditta punya cerita panjang mengenai membaca dan menulis. Beliau sudah mulai membaca sejak SD, sudah mulai menulis sejak SMP dan bahkan pada masa sekolah beliau sudah menulis diary dengan menggunakan bahasa Inggris. Aktifitas masa pertumbuhan ini mempunyai pengaruh penting dalam manghadapi WB pada masa belakangan. WB merupakan gejala psikologis yang terkait dengan sebuah kebiasan, kebiasaan membentuk diri dan kebiasaan menghadapi WB itu sendiri.
Pada awal pertemuan Ibu Ditta memperkenalkan WB dengan “Istilah ’writer's block’ sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikolog-psikoanalis di Amerika”. Bergler menulis sebuah buku berjudul “Writer and Psychoanalysis (Penulis dan Psikoanalisa)” yang dengannya istilah WB kemudian menjadi dikenal banyak orang. Pada dasarnya WB yang dikemukakan Bergler merupakan sebuah bentuk self-sabotage (sabotase diri) dan psychic massochism (masokisme psikis) yang berakar dari pengalam hidup seseorang pada masa-masa awal pertumbuhan selama berlangsungnya fase oral. Pemahaman dasar inilah yang kini menjadi sebuah konsep yang cenderung dipahami dalam konteks yang lebih pragmatis. Yaitu konsep WB yang kita kenal sekarang. Walaupun demikian, sebenarnya pemahaman dasar dan pemahaman kekinian mengenai WB tersebut mempunyai korelasi yang kuat, yaitu sebuah fenomena psikologi yang ada kaitannya dengan kondisi sebelumnya dan sangat tergantung pada diri sendiri dalam mengatasinya pada kondisi kekinian.
Dengan pengertian yang cukup luas tadi, maka WB sebenarnya dialami oleh semua orang. Kadarnya bergantung pada proses masa sebelumnya dan apa yang dihadapi pada masa kekiniannya. Dalam aktifitas menulis yang memerlukan keluangan waktu, sedikit pemikiran dan bacaan, serta butuh keinginan yang kuat tentu WB hampir dipastikan akan mampir mendatangi kita. Bagi kita yang pemula dalam menulis, tentu akan geregatan dengan WB yang enggan pergi karena itu akan membuat kita bingung, malas, buntu dan gelisah bercampur menjadi satu. Dari pengalaman membaca dan menulisnyya, Ibu Ditta menawarkan beberapa solusi jika WB sedang melanda.
a. Free writing (menulis bebas). Kondisi untuk menulis sesuai target, sesuai aturan, dan sesuai keinginan tidak selalu berjalan mulus sehingga bisa memberi andil untuk WB. Menulis apa saja tanpa memikirkan ejaan, aturan dsb bisa menjadi solusi.
b. Membaca buku-buku ringan yang kita sukai. Dengan me-refresh kepala dengan bacaan ringan bisa membuat pikiran lebih riang.
c. Rehat sejenak dan lakukan apa yang disukai. Mengalihkan perhatian dengan menggerakkan tubuh bisa membuat badan dan otak terasa lebih segar
d. Mencoba hal baru dalam menulis. Menulis topik baru, cara menulis baru atau hal-hal lain yang terkait dengan menulis bisa juga menjadi alternatif untuk menghalau WB
Beberapa tawaran Ibu Ditta itu tentu berdasarkan pengalaman atau bacaan beliau yang tidak sebentar. Setiap orang punya cara berbeda-beda dalam menghalau WB, tergantung dasar atau sebab dari WB itu sendiri. Penyebab dari WB itu ternyata bermacam-macam, namun akarnya hanya satu yaitu ketidakbahagiaan. Sesederhana itu? Setidaknya itulah kesimpulan dari penelitian dua orang psikolog yang bernama Jerome Singer and Michael Barrios. Menurut mereka ketidakbahagian yang menjadi penyebab WB itu didasarkan pada empat hal: apatis, amarah, kegelisan dan bermasalah dengan orang lain. Penelitian ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari sebuah penelitian terhadap para penulis dengan latar belakang berbeda yang dilakukan Yale psychologists pada tahun 1970 dan 80-an yang akhir-akhir ini kembali ditinjau New Yorker. WB itu konkrit dan nyata, namun hal tersebut bisa diatasi.
Singkatnya, WB tidak perlu dikhawatirkan karena ia sebuah fenomena yang bisa dicarikan jalan keluar. Memang tidak bisa diremehkan karena hal tersebut kadang menjadi sangat mengganggu, namun akan sangat bergantung pada kuatnya tekad dan keinginan kita untuk terus menulis. Apapun kondisinya, menulis harus tetap jalan dan tetap diusahakan. Jika sebuah tulisan sudah selesai, berarti ada sebuah langkah yang terselesaikan. Sebagaimana yang dikatakan Ibu Ditta pada akhir pertemuan kemarin malam “Bukankah tulisan yang buruk jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai?”. Maka mari mulai dan mari selesaikan.
Menulis ya menulis saja. Biarkan tulisan itu sendiri yang menemukan takdirnya. Kata Ibu Ditta “Mari kita ingat bersama bahwa “menulis” adalah kata kerja. Artinya harus dilakukan baru ia akan bermakna”. Bismillah..







Mari melawan WB💪💪💪
BalasHapustak perlu kawatir...ok bun
BalasHapusSepertinya mamik gak pernah mengalami writer block.. tulisannya joss terus..
BalasHapusWB tak perlu dikhawatirkan, krn ada jln kluarnya, mantul😁
BalasHapus