Film Tentang Yesus dan Passion Menulis

 Kamis, 12 Januari 2023



Nara Sumber: Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd

Moderator: Widya Setianingsih, S. Ag

Tema: Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Semoga kita semua berada dalam keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan Sang Maha Esa

Saya akan memulai resume kedua ini dengan cerita sebuah film.

Sebuah film yang berkisah tentang sekilas perjalanan masa kecil Yesus, suka duka mengajar 12 murid setianya, serta jamuan terakhir yang kemudian berakhir pada penyaliban Yesus. Tiga poin ini merupakan garis besar alur film tersebut yang pada dasarnya menceritakan 12 jam terakhir kehidupan Yesus. Film yang cukup vulgar menggambarkan penderitaan Yesus ini menjadi cukup kontroversial karena ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan model penyampaian dan cara penyajian apa yang diderita Yesus dalam film tersebut. Film yang digawanig oleh si artis ganteng bermata biru, Mel Gibson, ini berjudul “The Passion of the Christ (Derita Yesus)

Begitulah, alur film tersebut membuat saya penasaran untuk segera menontonnya dan sekaligus membawa saya pada pemahaman baru mengenai beberapa hal. Pemahaman baru ini berakar dari apa yang disampaikan oleh ibu Sri Sugiastuti pada pertemuan ke 2 dari KBMN gelombang 28 kemarin malam (Rabu, 11 Januari 2023) dengan tema “Menjadikan Menulis Sebagai Passion”. Pada awal-awal penyampaian materi beliau mengatakan begini: “Passion atau renjana adalah satu gairah yang dimiliki semua orang. Bagaimana kita menjaga passion dan menyalurkannya menjadi sesuatu yang selalu ingin dan ingin lagi. Sehingga tidak pernah padam. Begitu juga dengan proses menulis. Ketika kita sudah menjadikan sebagai renjana, maka giat menulis tidak akan padam. Karena sudah menjadi kebutuhan bukan beban”.

Pertama, saya termenung dengan kata beliau “Passion atau renjana adalah..”. saya berhenti disana. Passion punya padanan kata dalam bahasa Indonesia? Kecil sekali rasanya diri ini tidak mengetahui hal tersebut, terlihat sekali saya tidak pernah up date informasi. Bahkan untuk sebuah padanan kata? Ah ibu Sri Sugiastuti, ibu sukses membuat saya tidak bisa tidur hanya dengan beberapa kata! Lalu saya melakukan beberapa penelusuran di Kompasiana, GoKampus, wikipedia dan beberapa tulisan serta beberapa website kamus. Hasilnya, semakin membuat saya tidak bisa tidur.

Begini, dari penelusuran tersebut saya menemukan benang merah beberapa kata yang hari ini terlihat bersebrangan maknanya. Ternyata, passion terhubung erat dengan ‘pasien’ di rumah sakit dan orang yang ‘sabar’. Dua kata dalam bahasa Indonesia: pasien dan sabar. Kata Inggris passion dibaca dengan ‘pasien’, sementara kata Inggris patient juga tidak jauh berbeda, yaitu dibaca ‘pasien’. Kata ini mempunya dua arti, yaitu si sakit dan sabar. Kata passion dan patient berakar dari kata yang sama, yaitu dari kata Latin ‘pati’ yang berarti penderitaan. Kata Latin ‘pati’ diambil Inggris untuk kata ‘patient’, sedangkan ‘pati’ oleh Perancis berubah menjadi kata ‘passio’, dan dari sinilah kata Inggris ‘passion’ diambil. Semuanya berarti sakit, sabar, penderitaan.

Baru pada abad XVI kata ‘passion’ yang awalnya berarti kemampuan menahan penderitaan bergeser menjadi berarti gairah, gairah seksual, hasrat besar, atau keinginan yang kuat. Oleh karena itu, kembali ke awal tulisan di atas, kata passion dalam film Mel Gibson, The Passion of the Christ, lebih pada makna kata sebelum abad XVI daripada sesudahnya. Film tersebut bukan tentang gairah dan hasrat, tetapi lebih pada penderitaan Yesus sebelum penyaliban.

Bagaimana dengan renjana? Kata renjana berasal dari Sanskerta, yakni raรฑjana yang berarti ‘tindakan yang menyenangkan; pemberian kesenangan’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi renjana adalah rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya). Ternyata benar, passion sama dengan renjana. Passion pada arti yang digunakan sejak abad XVI.

Jadi, jika menulis adalah passion, adalah renjana, seperti yang dikatakan ibu Sri Sugiastuti tadi, maka akan selalu ada rasa yang ingin dan ingin lagi. Ada gairah tinggi melakukannya. Ada hasrat yang tidak pernah padam. Maka menulis adalah kebutuhan, bukan menjadi beban. Terima kasih ibu Sri, walau baru sekedar memahami kata-kata ibu secara teoritis tapi ini adalah lentera bagi pemahaman saya yang masih pemula ini.

Jika sudah ‘ writing is my passion’, jadilah ibu Sri yang tidak berhenti-berhenti menulis, antologinya sudah menjadikannya ratu, dan puisinya terus mengalir. Bu Aam dan Pak Dail mampu menghasilkan lebih dari 60 buku antologi kurang dari setahun. Dan apalagi Om Jay, judul bukunya saja sudah berderet-deret seperti deretan semut yang terus berjalan. Namun saya yakin bahwa beliau-beliau, orang-orang hebat tersebut, yang sudah menjadikan aktifitas menulis sebagi passion tadi tidak hanya mempunyai hasrat, gairah dan keinginan yang kuat tetapi juga, merujuk pada arti kata passion sebelum abad XVI tadi, beliau-beliau juga merasakan penderitaan, sakit dan sabar. Penderitaan menyela waktu untuk menulis, susahnya membagi waktu, sabar dengan kendala yang ada, sabar begadang, sabar untuk konsisten di tengah kesibukan dan sebagainya. Om Jay kemarin pada pertemuan pertama bahkan dalam kondisi kurang sehat, tetapi tetap saja meluangkan waktu. Entah apa yang terjadi dengan HP beliau, beliau tetap melanjutkan dengan HP istri. Bukankah itu juga sebuah passion? Ah Bu Sri, ibu membuat saya berkelana

Dan kedua, sekaligus juga yang terakhir, sebuah kalimat Bu Sri yang membuat saya begitu adem sekaligus merinding. Sebuah kalimat yang pasti merupakan hasil perenungan mendalam dan lahir dari meditasi menulis yang panjang. Beliau mengatakan: “Kita konsultasi pada Allah lewat tulisan”. Saya jadi teringat penjelasan para ustadz yang mengatakan bahwa wahyu yang pertama turun adalah “iqro’”. Konon, asal kata iqro’ dalah bahasa Arab artinya membaca, namun membaca dalam pengertiannya yang sangat luas. Membaca alam, fenomena, huruf, pikiran, ilmu dan sebagainya. Jika menulis menjadi wahana untuk belajar, healing, merenung, menggapai asa, menambah wawasan dan sebagainya, berarti menulis juga adalah bagian dari iqro’ tersebut. Maka meminta harap, merajut asa, dan meluapkan gelisah melalui tulisan menjadi bagian dari cara kita untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan Sang Pencipta.

 “Kita konsultasi pada Allah melalui tulisan!”


Komentar

  1. Mantab, bacaan yang menggetarkan hati...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gi belajar untk menambah getaran bu ๐Ÿ™

      Hapus
  2. Baru dari satu kata saja "passion" sudah begitu luasnya pembahasan....keren Bu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg lain blm bisa dijangkau pak ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

      Hapus
  3. Tulisan jadi media komunikasi sepanjang sejarah.

    BalasHapus
  4. Selalu senang baca tulisan-tulisan pak guru ini, membuka wawasan baru.. sukses terus pak guru

    BalasHapus
  5. Membaca tulisan Pak Guru ini saya serasa sedang healing...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Brrrti luar biasa bu..bisa menjadikan tulisan sbg healing. Mntaaaap bu

      Hapus
  6. Tulisannya keren pak guru dan dapat menambah wawasan jg melalui tulisan yg tlah dibaca, untuk kata2 passion dan patient tdk asing jg kita dengar karena kata2 itu sering kita dengar lewat salah satu lagu grup band yg cukup penomenal yaitu gun and roses dgn lagunya yg brjudul patienc yg diartikan kesabaran...

    BalasHapus
  7. "Girl, I think about U every day now"
    Gitu salah satu lirikx lagu patience pak. Mari midang dan eksekusi hehe๐Ÿค
    Makasih comment x pak

    BalasHapus
  8. Masih belajar bu...๐Ÿ™ makasih dah mampiir. Sering2 bu hhee

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer