Darurat Buku Nasional!!

 Kamis,19 Januari 2023



Pertemuan  : 4

Tema            : Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Narasumber: Eko Daryono, S. pd

Moderator   : Nur Dwi Yanti, S. Pd


Salam sejahtera buat kita semua. Semoga indahnya buku Indonesia, seindah rahmat Yang Maha Esa!

Konon, buku adalah teman yang paling baik. Teman yang mendengarkan keluh kesah keilmuan kita. Teman yang tidak banyak bicara dan pendengar yang setia. Teman yang bisa menemani kita dalam segala situasi secara lahir batin. Buku sekaligus juga menjadi guru kita, guru yang sangat memahami dan paling pengertian. Ia tidak mempunyai kepentingan apapun menjadi teman dan guru kita. Ia menjadi yang paling ikhlas, setia dan selalu sanggup berada di samping kita, kapanpun. Aku merindukanmu..

Begitulah buku, ia menemani peradaban manusia seusia dengan huruf itu sendiri. Dan pada masa lebih belakang, menjadi salah satu tolak ukur tingkat peradaban manusia itu sendiri. Bagaimana masyarakat suatu bangsa menghargai buku berbanding lurus dengan tingkat kesadaran mereka dalam ilmu pengetahuan. Saya jadi teringat sebuah cerita, ketika pada puncak kemajuan peradaban Islam, konon para penguasa zaman tersebut memberikan kesejahteraan penulis nuku dengan memberi imbalan emas seberat buku yang mereka tulis.

Tema pada pertemuan yang ke-4 dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) gelombang 28 ini terkait dengan buku. Temanya, Menulis Buku dari Karya Ilmiah. Bapak Eko Daryono, S. Pd bertindak selaku narasumber dengan moderator ibu Nur Dwi Yanti, S. Pd. Tema yang sangat menarik karena membenturkan dua hal, yaitu menulis buku dan karya ilmiah. Dua hal ini terlihat mirip namun sebenarnya tidak sama. Tidak semua buku yang ditulis adalah karya ilmiah, dan tidak semua karya ilmiah menjadi buku. Semua orang berhak menulis buku, namun produsen yang paling diharapkan secara institusional tentunya mereka yang berkecimpung di dunia keilmuan, seperti para peneliti, para pendidik dan para dosen. Artinya, lembaga penelitian, sekolah dan kampus menjadi tempat ideal keluarnya buku. Nah, kalau begitu para peneliti, guru dan dosen adalah orang-orang yang berdiri paling depan dalam kancah kepenulisan.

Namun kadang dunia tidak seperti yang diharapkan, kenyataan tidak semulus seperti yang dipikirkan. Tidak semua mereka itu bisa menulis, sama juga bahwa tidak semua mereka punya keinginan untuk menulis. Sebagian ada yang menulis untuk dirinya saja, sebagian ada yang hanya untuk kalangan internal saja, dan bahkan ada yang menulis hanya untuk menjadi karya ilmiah an sich untuk kemudian dicerna dalam kalangan yang terbatas saja. Pada dataran ini, terutama yang terakhir, materi yang disampaikan Mr. Yons menjadi sangat menarik dan penting. Yaitu bagaimana karya ilmiah bisa dijadikan buku. Menarik bukan?



Dalam pertemuan ke 4 tersebut disampaikan oleh Mr. Yons bahwa karya tulis atau yang lebih tepatnya beliau menggunakan istilah Karya Tulis Ilmiah (KTI) ada beberapa macamnya. Ada KTI buku dan KTI non-buku. KTI buku termasuk di dalamnya buku bahan ajar (diktat, modul, buku ajar, buku referensi dsb), buku pengayaan (monografi, buku teks, buku pegangan, buku panduan), dan juga Buku kompilasi ( seperti bunga rampai). Sedangkan yang termasuk KTI non-buku adalah KTI bidang akademis (tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi dll), KTI hasil penelitian (PTK, PTS, makalah, artikel, jurnal dsb), KTI berupa ulasan atau resensi lainnya.

Semua jenis KTI tersebut bisa dijadikan buku, hanya saja perlu sedikit polesan agar buku yang dimunculkan menjadi lebih menarik dan enak dibaca. Namun sebelum memaparkan kembali apa yang disampaikan Mr. Yons mengenai bagaimana mengkonversi KTI menjadi buku, perlu sekali untuk mengingat kembali apa yang disampaikan beliau tentang beberapa hal sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi KTI tersebut menjadi buku. Beberapa hal tersebut adalah:

a) Keaslian laporan hasil penelitian. Harus dipastikan orisinalitas laporan tersebut

b) Menghindari kompilasi yang terlalu banyak. 

c) Memilah dan memilih data yang dipublikasikan. Yakni menyajikan data yang valid dan matang saja

d) Modifikasi bahasa buku 

e) Menghindari pengambilan sumber kutipan berantai atau pendapat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah

f) Menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk mendukung keabsahan buku 

g) Memperhatikan kaidah penyusunan buku ber-ISBN

Hal di atas adalah langkah pendahuluan sebelum dan selama proses menjadikan KTI menjadi buku. Sedangkan langkah selanjutnya bersifat lebih praktis dan terkait langsung dengan KTI yang akan dijadikan buku, inilah yang dimaksud dengan cara mengkonversi KTI menjadi buku. Mr. Yons menawarkan beberapa langkah, diantaranya:

1. Memodifikasi Judul. Judul KTI biasanya bersifat formal dan ilmiah sesuai kaidah penelitian namun akan  menjadi terlihat kering jika tetap dijadikan judul buku

2. Memodifikasi Sistematika dan Gaya Penulisan. Hal ini terutama pada KTI non-buku yang laporannya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku 

3. Modifikasi Bab I. Biasanya bab ini berisi pendahuluan. Pada bab ini diperlukan tampilan judul yang menarik

4. Modifikasi Bab II. Berbagai pembagian yang bersifat pointer menjadi bab dan sub bab tidak diperlukan lagi. Titik tekannya lebih pada bagaimana mengurai latar belakang menjadi lebih menarik

5. Modifikasi Bab III. Oleh karena bab ini biasanya fokus pada metode, maka bisa saja dimasukkan ke dalam bab II di atas atau bisa juga pada awal pembahasan. Jika memang begitu, bisa juga dihilangkan 

6. Modifikasi Bab IV. Ini adalah pembahasan inti. Walaupun demikian, tetap saja judulnya harus disesuaikan dengan konteks buku

7. Modifikasi Bab V. Merupakan penutup dari pembahasan, namun untuk menambah kualitas dan daya tarik, pada bab ini perlu juga ditambahkan dengan temuan yang terkait dengan hasil penelitian. 

8. Modifikasi Lampiran. Yaitu instrumen penelitian dan/ atau data valid yang mendukung. Jika ada data-data yang masih meragukan atau tidak terlalu jelas, lebih baik tidak perlu dicantumkan

Jika beberapa langkah yang dijelaskan Mr. Yons sudah dilalui berarti, bayangan saya, KTI tersebut sudah siap dijadikan dan diterbitkan menjadi buku. Langkah selanjutnya? Memikirkan, membongkar, memilah, menulis dan/ atau memulai untuk sampai pada langkah-langkah yang dijelaskan Mr. Yons. Memikirkan apa yang ditulis, membongkar KTI yang sudah ada, memilah beberapa yang ditemukan, atau mulai untuk menulisnya menjadi buku.

Terlepas dari itu semua, saya kira ini adalah materi yang luar biasa berguna untuk memberikan kita gambaran bagaimana menjadikan karya tulis  menjadi buku. Apa yang perlu dihindari, apa yang yang perlu dilakukan dan bagaimana langkah-langkahnya sudah dengan jelas dipaparkan. Terima kasih Mr. Yons

Mencerna materi Mr. Yons saya menjadi punya keinginan mempunyai buku sendiri. Alangkah senangnya jika buku kita akan terpajang di toko buku. Apakah buku kita tersebut akan laku, akan dibeli atau akan dibaca saya kira itu adalah persoalan yang berbeda. Apalagi kondisi sekarang perbukuan nasional masih terbilang lesu jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Artinya, menerbitkan buku sebanyak-banyaknya oleh sebanyak mungkin orang merupakan langkah untuk membantu kualitas perbukuan, penerbitan dan sekaligus memberikan alternatif buku dalam konteks nasional.

Terbitan buku di Indonesia saat ini hanya pada angka 18. 000 judul buku pertahun. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan jepang (40. 000), India (60. 000) atau Cina (140. 000) pertahunnya. Tentu akan semakin miris jika kondisi ini dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika. Saya jadi semangat untuk mempunyai buku karena dengan demikian saya akan memberi andil terbitan buku nasional menjadi 18.001, dan begitu seterusnya jika dijadikan sebagai sebuah gerakan yang massif.

Berbicara mengenai perbukuan di Indonesia memang cukup memprihatinkan dan cukup membuat kita sedih. Di sini saya akan memaparkan beberapa data mengenai hal tersebut. Per tahun 2015 saja penerbit di Indonesia jumlahnya ribuan, 1. 328 anggota Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) dan 109 non Ikapi. Sekarang sudah 2023, jumlahnya tentu akan bertambah. Dari jumlah tersebut, menurut VOA Indonesia, hanya 3 (tiga) persen yang benar-benar produktif mencetak lebih dari 200 judul pertahun. Hal ini memang faktornya tidak tunggal, selain terkait dengan tingginya dana operasional hal tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, daya beli masyarakat, minat baca masyarakat dan lain sebagainya.

Buku yang beredar di toko-toko buku juga menjadi persoalan karena jika dirata-ratakan  dengan jumlah penduduk Indonesia, masyarakat kita hanya membeli 2 judul buku pertahunnya. Dan itu, mirisnya, didominasi oleh buku-buku bertema pendidikan. Kalau begitu bagaimana dengan perpustakaan yang merupakan fasilitas pemerintah untuk menyediakan buku bagi masyarakat? Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan RI (Perpusnas), Deni Kurniadi, pada pertengahan tahun 2022 menyatakan bahwa jumlah capaian koleksi di perpustakaan daerah, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasionya adalah 1:90. Artinya, 1 buku ditunggu oleh 90 orang! Padahal menurut standar UNESCO 1 orang selayaknya membaca 3 buku baru pertahunnya



Buku yang diterbitkan minim. Buku yang disediakan pemerintah juga minim. Bagaimana dengan minat baca masyarakat? Memang semua ini saling terkait. Rendahnya daya beli dan daya kunjung akan berbanding lurus dengan minat baca masyarakat. Pada tahun 2016, UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indoneisa sangat rendah, yaitu 0,001 persen atau 1 dari 1. 000 orang yang rajin membaca. Dan menurut Uli Silalahi, Presiden Direktur Big Bad Wolf Indonesia, minat baca kita sejak tahun 2016 tersebut sampai sekarang belum beranjak jauh. Dan itu ia sampaikan di akhir 2022 kemarin.

Dan yang tidak kalah menyedihkan adalah hasil dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018. Mereka merilis laporan bahwa 70% siswa di Indonesia memiliki kemampuan baca rendah (di bawah level 2 dalam skala PISA).  Yang artinya, bahwa siswa tersebut bahkan belum mampu sekedar menemukan gagasan utama maupun informasi penting dalam sebuah teks.

Informasi-informasi di atas, menurut saya, tidak perlu disikapi reaktif. Alangkah lebih bijaknya kita gunakan sebagai cermin untuk melihat kembali kondisi sekitar kita, atau bahkan diri kita sendiri. Bagi saya, informasi tersebut mungkin tidak berlaku di semua tempat di Indonesia, namun sebagai sebuah fakta di banyak tempat saya kira hal tersebut tidak terlalu jauh meleset.

Oleh karena itu, kembali kepada materi Mr. Yons, buku kemudian menjadi penting untuk disuguhkan secara massif  sebagai bagian dari cara kita memberikan kontribusi dalam keterpurukan buku di Indonesia. Mengutip tema sebuah kegiatan yang dilakukan secara virtual pada tahun 2022 kemarin, kita berada dalam darurat buku secara nasional!

Terima kasih Mr. Yons. Tema dan materinya membuat saya mempunyai gambaran cara menjadikan KTI untuk dijadikan buku, dan juga membuat saya berkelana ke berbagai tempat di dunia maya


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer